ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Salsa?


__ADS_3

Rudi berangkat kerja, dengan jajan cemilan ia berjalan dan naik angkot hingga terminal. Beberapa orang menatap dirinya yang tengah asik nyemil sambil berjalan menuju teeminal bagian dalam. Rudi tidak peduli dengan orang-orang yang menatapnya sebagai seorang bocah besar yang tengah asik nyemil sambil berjalan.


"Mau?" Rudi menawarkan jajannya kepada Erlang.


"Jajan apa itu?"


"Ohayo"


Erlang tersenyum, dia teringat dengan jajan masa kecilnya itu. Sebuah jajan yang dulu sering ia beli, namun sebelum membelinya kita perlu mengecek isi didalamnya. Biasanya ada hadiah berupa uang seribu hingga lima ribu rupiah.


Masih terlalu pagi untuk mulai bekerja, Rudi dan Erlang membeli kopi yang dibungkus agar bisa ia minum lebih lama.


Kopi hitam dan rokok yang sangat membantu pagi mereka menjadi lebih cerah dan indah. Kehidupan yang sudah mendara daging dan selalu nyaman dilakukan.


Gaji mereka memang lebih kecil dari kebanyakan orang lainnya, namun mereka mendapatkan kebebasan yang tidak didapatkan oleh kebanyakan orang lainnya.


"Rud lihatlah!" Ucap Erlang sambil menunjuk seorang wanita bule.


"Bule Londo"


"Hahaha, kamu bisa bahasa Inggris?"


"Bisa, kenapa?"


"Ajak dia bicara. Siapa tahu bisa kenalan sama bule"


"Hahaha, kamu mau kenalan sama bule? Teman-temanku banyak yang bule. Tinggal pilih bule Amerika atau bule konoha."


"Hahaha, Tsunade jadi bule"


Siapa sangka mereka berdua adalah pecinta acara televisi jepang yang hanya tayang setiap minggu pagi disalah satu stasiun televisi lokal.


Pak Darto sudah datang, dia langsung menyalakan mesin bus. Rudi dan Erlang juga langsung mulai bekerja seperti biasa.


Setelah beberapa saat, bus siap melanjutkan perjalanan. Pak Darto terlihat dalam suasana hati yang baik. Dia suka tersenyum pagi itu. Hal itu membuat Rudi dan Erlang semakin menikmati harinya dengan kopi dan rokoknya.


Setelah cukup lama bus berjalan, Rudi mulai menagih ongkos para penumpang.

__ADS_1


"Kemana?" Tanya Rudi.


"Depan kuburan Majapahit." Jawab penumpang.


"Dua puluh lima ribu"


Penumpang itu memberikan uangnya dan Rudi memberikan kembalian serta selembar tiket. Hal itu ia lakukan hingga semua penumpang membayar ongkos mereka.


Tiba dimana Rudi harus menagih seorang dengan wajah garang dan tubuh kekar yang terlihat menakutkan.


"Kemana?" Tanya Rudi.


"Pertigaan Senopati"


"Tiga belas ribu."


Orang kekar berwajah garang itu menyerahkan uangnya. Rudi menghitungnya, dua lima ribuan dan beberapa uang koin yang hanya berjumlah dua ribu lima ratus rupiah. Rudi menatap wajah orang itu dan dia mengangguk.


Orang itu cukup serang dan uangnya juga tidak terlihat ramah. Rudi tidak mempermasalahkan kekurangan ongkos orang itu dan langsung berganti ke penumpang lainya.


Beberapa wanita mudah menjadi salah satu hiburan tersendiri saat menagih ongkos. Rudi dan Erlang biasanya mengajak mereka berjanda dan bahkan ada yang hingga saling kenal karena terlalu sering bertemu dibus.


Bus melaju dengan kencang, angin-angin mulai masuk tak beraturan melalui kaca jendela yang terbuka.


Bus tanpa AC itu cukup tua sudah ada beberapa bagian bus yang butuh perbaikan rutin dan sangat beresiko paling parah jika terjadi kecelakaan.


Setelah perjalanan yang memakan waktu hingga tiga jam, bus sampai diterminal pemberhentian. Para penumpang mulai turun dengan bergantian.


"Mas, bisa tolong bantu nurunin" seorang wanita memanggil Rudi.


Rudi mendatangi wanita itu dan kemudian menolongnya menurunkan sebuah tas besar yang dia tarus dikabin atas bus.


"Terimakasih"


"Sama-sama"


Wanita itu kemudian turun dan pergi menuju pangkalan dimana para tukang ojek berada.

__ADS_1


Rudi mengamati wanita itu dari kejauhan. Wanita itu seperti seorang wanita pekerja keras yang sangat giat. Terlihat bagaimana penampilannya yang tidak terlalu mewah dan simpel. Dengan tas seberat itu dia berjalan tanpa terlihat sempoyongan.


Kemudian Rudi ikut turun setelah semua penumpang turun. Dia merentangkan tangannya dan menghirup udara yang penuh dengan aroma asap kenalpot dari mesin bus.


"Ayo ngopi" ajak Erlang.


"Ayo"


Rudi berjalan dibelakang Erlang, ia melihat sekelilingnya. Terminal itu nampak lebih ramai dari hari-hari biasanya.


Seorang wanita yang berada diujung pandangan Rudi nampak sedang manatap Rudi dengan serius. Tidak terlalu jelas bagaimana wajah wanita itu, dia memakai cadar hitam dengan kerudung gamis berwarna abu-abu. Wanita itu menatap ke arah Rudi terus menerus hingga membuat Rudi penasaran.


"Lang aku pesenin kopi seperti biasa"


"Mau kemana?"


"Ada, sebentar saja"


"Baiklah"


Rudi berjalan menghampiri wanita yang menatapnya dari kejauhan itu. Wanita itu teteap diam di tempat dan tetap menatap ke arah Rudi.


Rudi mempercepat langkah kakinya, mencoba menghampiri wanita itu dan menanyakan kenapa dia menatap dirinya seperti itu.


Semakin dekat Rudi dengan wanita itu dan wanita itu tetap menatap ke arah Rudi. Hingga tinggal beberapa langkah antara Rudi dengan wanita. Tiba-tiba ada sekelompok orang yang beramai-ramai lewat didepan Rudi hingga membuat Rudi tidak bisa melihat wanita itu lagi.


Rudi mencoba menerobos kerumunan dan saat ia sudah melewatinya ternyata wanita itu sudah tidak ada. Rudi yang sudah berdiri di tempat dimana wanita tadi berdiri mencoba melihat sekitarnya dan mencari keberadaan wanita itu.


Bagai dihempas angin, wanita itu sudah hilang dan tak terlihat lagi. Namun Rudi menemukan sebuah hal yang sangat ia kenali. Itu adalah aroma parfum yang sangat ia sukai. Parfum seorang wanita yang pernah ia cintai.


Parfum khas yang tidak pernah tercium pada wanita lain, sebuah parfum dengan aroma manis yang sering dipakai oleh Salsa saat dulu.


Rudi kembali mencari keberadaan wanita itu. Hatinya berkata wanita adalah Salsa, namun akalnya berkata lain karena Salsa tidak pernah memakai hijab dan cadar, apalagi baju yang menutupi setiap tubuhnya. Rudi bertanya-tanya, apakah dia Salsa atau bukan. Jika itu Salsa lantas kenapa dia pergi dan tidak terlihat lagi.


Rudi hanya yakin bahwa yang ia cium adalah aroma parfum milik Salsa. Meskipun hanya sekilas, namun Rudi sangat yakin dengan indra penciumannya.


Rudi berdiri disana cukup lama dan kemudian memutuskan untuk kembali ke Erlang sudah memesankan kopi untuknya.

__ADS_1


Rudi tidak berani berpikiran macam-macam. Ia hanya menebak dan tebakannya tidak pasti benar. Dia kembali teringat Salsa setelah sekian lama ia melupakannya.


__ADS_2