
Setelah beberapa hari menunggu, pak Darto sudah secara resmi keluar dari terminal dan posisinya kini digantikan oleh Erlang. Hari ini adalah hari pertama Erlang menyetir bus secara sah. Ia sudah cukup berpengalaman dan sudah memiliki keberanian untuk sejak dulu. Hanya saja ia enggan untuk menggantikan pak Darto menyetir.
Kali ini Rudi menjadi kernet tunggal untuk sementara waktu. Erlang masih menemani Rudi untuk menjari penumpang seperti biasa. Setelah bus terlihat sudah terisi hampir penuh, Erlang mulai menyalakan mesin bus dan bersiap untuk berangkat.
Setelah bus masuk jalan raya, bus itu langsung melaju cukup kencang dengan sopir barunya. Meskipun tidak lebih kencang dari pak Darto, namun Erlang cukup lihai mengendarai bus itu.
Rudi mulai menagih ongkos penumpang, satu persatu dari kursi paling belakang hingga kursi paling depan. Setelah selesai menagih seluruh penumpang, Rudi berdiri di pintu depan dan mengobrol santai dengan Erlang yang sedang fokus menyetir. Wajah Erlang nampak santai meski ini adalah pertama kalinya ia menyetir bus.
"Rud, bagaimana pendapatmu?" Tanya Erlang dengan tetap menghadap ke depan.
"Bagus!" Jawab Rudi tanpa tahu maksud Erlang.
"Hahaha"
Tidak tahu dan tidak mengerti apa maksud mereka, mereka hanya tertawa seakan saling mengetahui isi otak masing-masing.
Bus melaju dalam perjalanan menuju terminal tujuannya. Rudi akan memberi aba-aba saat melihat ada penumpang yang akan naik bus dalam perjalanan dan Erlang akan meminggirkan bus dan menunggu penumpang baru itu naik.
Begitulah kini mereka bekerja. Setelah sampai di terminal tujuan, Rudi dan Erlang langsung menuju warung kopi bersama. Setelah duduk dan memesan mereka berdua mulai mengobrol.
"Kamu bisa nyetir bus darimana Lang?"
"Dulu di bus sebelumnya aku sering disuruh menggantikan sopir, jadi sudah sangat akrab dengan bus."
"Aku kira ini baru pertama kalinya kamu nyetir bus"
"Hahaha, gak bakal berani kalau belum terbiasa, apalagi ini menyangkut nyawa banyak orang."
"Hahaha, terus bagaimana dengan kernetnya?"
"Kamu saja cukup harusnya"
"Hahaha, tidak masalah yang penting doble!"
"Hahaha, aku mau nabung Rud!"
"Buat apa?"
"Biar bisa ngajak nikah Laura"
"Hahaha, memangnya kamu sudah siap punya tanggung jawab lagi?"
"Siap kalau ada uang banyak. Hahaha..."
"Mending buat buka usaha dulu aja"
"Usaha apa?"
"Yang ringan tapi cuan banyak!"
"Ajari aku guru"
"Hahaha, siap murid. Jadi begini..."
Rudi mulai menjelaskan beberapa hal dengan ucapan yang serius namun disampaikan dengan tingkah yang terlihat bercanda. Tangan rudi seakan sedang mengungkapkan atau menggambarkan ucapannya.
__ADS_1
Rudi menjelaskan sebuah rencana usaha kepada Erlang seperti saat dia sedang menjelaskan sesuatu kepada rekan bisnisnya dulu di kantor ayahnya.
Waktu berjalan dengan cepat. Kopi yang mereka pesan sudah sampai diujung cangkir tanda pekerjaan akan dimulai kembali.
Mereka langsung kembali menuju pangkalan bus dan mulai bekerja kembali.
...----------------...
"Tidak mampir dulu?" Tanya Rudi.
"Tidak aku langsung pulang" jawab Erlang saat berjalan beriringan dengan Rudi menuju pintu keluar terminal.
"Baiklah aku pulang dulu" ucap Rudi yang kemudian masuk ke dalam angkot dan lenyap dari pandangan Erlang.
Angkot hijau itu melaju kencang tanpa hambatan. Jalanan saat itu tidak terlalu ramai oleh truk besar seperti biasanya. Singkat perjalanan, Rudi sampai di depan kos dan langsung menuju kamarnya.
Ia berjalan menunduk menatap tanah tanpa menyadari bahwa di depan kamarnya ada seorang wanita yang sedang menunggu dirinya.
Wanita itu adalah Andin yang sepertinya baru sampai dan sengaja menunggu Rudi di depan kamarnya bukan mampir ke rumah Laura terlebih dahulu.
Rudi masih belum menyadari keberadaan Andin hingga ia menaiki tangga dan berbelok menuju pintu kamarnya.
"Ehhh, sudah lama?" Tanya Rudi setelah melihat Andin.
"Baru sampai"
"Kenapa tidak menunggu di rumah Laura saja?"
"Tidak apa-apa, enak nunggu kamu disini"
"Ini aku bawain jajan"
"Hahaha, pengertian seperti biasa."
"Lihat dulu aja apa isinya."
"Emang apa isinya?"
Andin memberikan tas kertas yang ia bawa kepada Rudi untuk dibuka. Rudi membuka tas kertas berwarna coklat itu. Didalamnya ada sebuah wadah makanan berbentuk persegi empat yang cukup besar. Rudi membuka tutup makanan itu.
"Kamu yang buat?"
"Hehehe, iya."
"Nasi goreng ala Andin. Mari kita coba"
Setelah membuka tutup makanan itu dan melihat nasi goreng dengan dua telur mata sapi, perut Rudi langsung terasa kosong dan lapar. Iapun langsung melahap nasi goreng buatan kekasihnya itu tanpa menawari Andin terlebih dahulu.
Andin hanya tersenyum dan menatap senang Rudi yang sedang lahap memakan masakannya.
"Enak?" Tanya Andin.
"Tidak enak!" Jawab Rudi dengan mulut penuh nasi goreng.
Andin hanya tersenyum mendengar Rudi mengatakan nasi gorengnya itu tidak enak namun tetap lahap memakannya. Kemudian Andin berdiri dan mengambil segelas Air minum kekasihnya.
__ADS_1
"Terimakasih" ucap Rudi pelan.
Karena tidak ada yang bisa dilakukan oleh Andin, maka dia memutuskan untuk mengambil gitar dan menyandarkan punggungnya ke dinding.
Andin berusaha memainkan gitar yang ada di pangkuannya itu dengan pelan. Ia tidak bisa bermain gitar dan hanya memetik beberapa senar dan menekan beberapa senar lainnya tanpa mengetahui kunci irama.
Rudi menatap Andin yang sedang serius bermain gitar seakan dia sedang belajar. Rudi tersenyum ke arah Andin.
"Kamu tidak bisa main gitar?"
Andin menatap Rudi dan menggelengkan kepalanya.
"Mau aku ajari?"
Andin menggelengkan kepalanya lagi. Rudi mengeluarkan raut wajah heran dengan mata penasaran. Ia berharap Andin akan memberitahu apa yang ia inginkan.
Andin kemudian menolehkan wajahnya dan menyentuh pipinya dengan jari telunjuk sebagai isyarat ingin mendapatkan sebuah ciuman dari Rudi.
"Hahaha" Rudi tertawa dan buru-buru menghabiskan makanannya.
Setelah selesai makan dan minum, Rudi langsung duduk di sebelah Andin dan mengambil gitar yang ada ditangannya.
Rudi mulai memainkan irama yang menenangkan. Ia menyampaikan perasaannya melalui melodi-melodi yang indah. Andin luluh seketika, wanita itu kemudian menyandarkan kepalanya dipundak Rudi dan menikmati alunan musik darinya.
"Rud, misal aku mati lebih cepat. Apa yang akan kamu lakukan?"
"Cari yang lain."
"Serius?"
"Iya"
"Kamu jahat"
"Maka jangan mati dengan cepat"
Andin mengangkat kepalanya dan menatap Rudi yang baru saja mengatakan hal indah untuknya.
Andin menatap Rudi yang masih asik bernyanyi, wanita itu kemudian mendekatkan bibirnya ke arah pipi Rudi dan menciumnya.
"Uhhh... Asem" ucap Andin setelah mencium pipi yang masih penuh keringat.
"Hahaha, salah sendiri"
"Udah mandi dulu sana"
"Sebentar! Satu lagu lagi"
Andin mengambil posisi dan tidur di paha Rudi berdekatan dengan gitar yang dipegang olehnya. Andin memejamkan mata dan mendengarkan dengan seksama irama gitar yang ada tepat di samping telinganya.
Wanita itu melayang dalam dentingan suara senar. Ia merasakan sekali lagi sebuah suara yang membuatnya terpejam dan tertidur.
Suara yang biasanya ia dengar dari telepon genggam kini ia dengarkan secara langsung. Ia terlelap dalam sekejap dan tanpa ia sadari Rudi sedang mengamati wajahnya yang sangat mempesona meski tanpa arwah. Kecantikan Andin membuat Rudi semakin yakin dengan wanita pilihannya itu, ia semakin mantap untuk senantiasa menjaga hati untuknya.
Andin tertidur dan Rudi mulai memainkan melodi yang lebih ringan, menemani Andin dalam tidurnya dan membiarkannya tetap dalam pangkuan kakinya.
__ADS_1