ABU-ABU MARNI

ABU-ABU MARNI
Pantai, Air Asin dan Matahari


__ADS_3

Sudah cukup lama Rudi yang menyopir mobil itu, Erlang meminta Rudi untuk berhenti dan menggantikannya menyetir mobil. Arga sudah tidur lelap di kursi belakang, sedangkan Laura, Andin dan Elsa masih asik bercanda dan saling bercerita.


Mobil terus melaju dengan Erlang sebagai supirnya. Erlang tidak kalah dengan Rudi dalam hal mengendarai mobil, ia cukup lihai dan terampil.


Sesekali Erlang menanyakan arah tujuannya kepada Laura. Rudi membuka jendela lebar-lebar dan menikmati angin yang berhembus ke dalam mobil.


"Boleh merokok tidak?" Tanya Rudi kepada para wanita.


"Tidak!" Serempak tiga wanita itu menjawab.


"Ini adalah bencana"


"Hahaha sabar, aku juga tertekan" ucap Erlang.


"Hahaha, mulutku sudah pahit"


"Sabar, dua jam lagi kita sampai" ucap Laura menenangkan.


"Oh iya Rud, rencananya kapan kamu mau balik ke rumahmu disana?" Tanya Elsa tiba-tiba.


"Entahlah, semakin lama disini;aku semakin nyaman"


"Hahaha, iya jangan balik. Disini aja nikah sama aku" celetuk Andin tiba-tiba.


"Nikah? Apaan itu menikah"


"Nikah adalah saat dimana kita serumah bersama dan cerai seketika" ucap Laura bercanda.


"Hahaha, nenek janda sedang curhat" cetus Erlang.


"Apaan sih papa duda nimbrung mulu"


"Hahaha, silahkan dinikmati status kalian masing-masing" kata Rudi.


"Eh nanti kita nyewa penginapan juga tidak?" Elsa bertanya.


"Terserah sih, kita kan bawa dua tenda. Bisa tidur disana juga tapi kalau kurang nyaman ya nyewa penginapan." Laura menjelaskan.


"Pasang tenda, buat api unggun sama masak-masak. Uhhh... Pasti asik" Andin.


"Hahaha jelas asiknya, entar Arga tinggalin aja di mobil" Elsa.


"Apa Sa? Coba ulangi sekali lagi?" Kata Arga dari belakang yang ternyata sudah bangun dan menyimak mereka.

__ADS_1


"Hahaha"


Mereka sangat menikmati perjalanan di dalam mobil putih itu. Erlang masih fokus menghadap ke depan dan membawa mobil dengan sangat berhati-hati.


Mereka sudah hampir memasuki wilayah perumahan yang juga merupakan sebuah penginapan pantai. Mereka keluar dari jalan raya dan memasuki sebuah jalan kecil yang diapit oleh rumah-rumah sederhana. Beberapa tulisan terpajang didepan rumah-rumah itu.


Penginapan khusus pria dan wanita, penginapan bebas dan ada juga sebuah penginapan yang siap menyajikan beberapa teman yang akan menemani mereka setiap malam.


Setelah cukup lama berada dijalan sempit itu, mereka masuk ke dalam gang lain yang hanya bisa dimasuki oleh satu mobil. Terlihat beberapa penjaga yang mengarahkan mobil mereka hingga ke sebuah parkiran.


Hanya ada tiga mobil termasuk mobil mereka dan beberapa motor yang terparkir disana. Sebuah tempat parkir yang sangat luas namun sangat sepi.


Setelah Erlang selesai memarkir mobil, mereka semua turun dan mengemasi barang-barang yang ada didalam mobil.


Erlang menghampiri seorang penjaga parkir dan mengobrol sebentar. Setelah ia selesai, Erlang langsung menuju ke teman-temannya.


"Tadi aku tanya ke mereka, katanya bisa bisa mendirikan tenda namun tetap harus menjaga kebersihan. Mereka juga bilang kalau ada tempat yang jarang didatangi orang dan kebetulan hari ini tidak ada yang ke-sana, namun harus nyewa penunjuk arah. Bagaimana?"


"Apa bedanya dengan pantai lainnya?" Tanya Laura.


"Mereka bilang, disana pemandangannya akan lebih bagus dan juga lebih spesial dari yang lain. Perjalanan menuju ke-sana membutuhkan waktu sekitar lima belas menitan"


"Aku ngikut aja" kata Andin.


"Ngikut aja kita mah, yang penting cepat berangkat. Udah mau gelap"


"Baiklah, kita sewa penunjuk arah ke-sana"


"Baiklah aku bilang ke mereka" ucap Erlang dan pergi menghampiri beberapa orang yang ia temui tadi.


Setelah beberapa saat, Erlang kembali lagi bersama seorang bapak-bapak yang akan menunjukkan arah menuju pantai spesial itu.


Orang itu berjalan didepan mereka, Rudi dan Erlang berjalan paling belakang dan menyalakan sebatang rokok yang sudah dari tadi mereka tahan.


Arga berjalan bersama tiga wanita itu, sesekali mereka berempat mengajak bapak-bapak itu untuk berbincang dan bertanya-tanya tentang pantai yang akan mereka tuju.


Mereka mulai memasuki hutan belantara, beberapa pohon menjulang tinggi dan suara-suara hewan yang membuat perjalanan mereka semakin asri dan menyenangkan.


Laura dan Andin membawa sebuah kamera dan terkadang memotret yang lainya.


Lampu sang surya sudah mulai jatuh ke barat daya, tanda malam akan segera datang. Si penunjuk jalan mengatakan tujuan mereka sudah sangat dekat dan tinggal beberapa menit lagi untuk sampai disana.


"Pak De, bukannya pantai dan penginapan jaraknya terlalu jauh?" Tanya Arga.

__ADS_1


"Itu yang membuat pantai ini tetap terjaga." Jawaban yang singkat dari bapak itu.


"Oh jadi begitu, jadi kalau semisal ada yang ingin kembali ke penginapan saat malam hari bagaimana?"


"Disana ada beberapa penjaga yang bisa diminta bantuan untuk mengantarkan kalian, mereka semua orang baik-baik dan bisa dipercaya."


"Oh, jadi begitu"


"Iya"


Mereka melanjutkan perjalanan lagi hingga terlihat sebuah lorong yang tercipta dari pepohonan yang saling berpelukan. Air laut sudah mulai terlihat jelas dari tempat mereka berdiri.


Semakin mereka mendekat semakin terlihat jelas warna biru air laut dan putihnya pasir pantai. Deru ombak sudah mulai terdengar. Mereka sudah sangat dekat dan tinggal beberapa langkah lagi.


"Sudah, saya antar sampai disini saja. Tinggal beberapa langkah dan tolong untuk tetap menaati peraturan"


"Siap dan terimakasih"


Erlang berterimakasih kasih kepada bapak itu dan bersalaman dengannya. Ia menyelipkan beberapa uang didalam genggaman tangannya.


"Ini buat beli rokok pak"


"Loh, gak usah. Kan tadi sudah termasuk biaya antar saya saat mas-nya beli tiket"


"Hehehe, tidak apa-apa pak. Terima aja untuk beli rokok"


"Baiklah saya terima, selamat berlibur dan hati-hati"


"Siap pak"


Bapak itu pergi dan meninggalkan mereka yang sudah sangat dekat dengan pantai.


Arga berada dibarisan paling depan dan memimpin perjalanan yang tinggal beberapa langkah itu.


Setelah tiba di pantai, Arga meletakkan tas yang ia bawa dan duduk menghadap pantai dan matahari yang mulai memerah. Mereka semua mengikuti apa ya'g dilakukan Arga.


Pemandangan yang sangat indah. Merah merona mega di depan mereka seakan menghapus segala lelah perjalanan.


Mata mereka menatap lurus ke depan, menarik dalam-dalam angin kehidupan, bermain pasir dan saling memandang sesaat.


Rudi merebahkan badan di atas pasir yang bersih dan putih. Bapak tadi tidak berbohong dengan pemandangan pantai ini. Sangat indah.


Pohon-pohon kelapa yang berdiri rapih dan berirama, pohon-pohon yang menjulang tinggi meski tak sampai angkasa dan udara sejuk khas lautan yang membuat hidung mereka tidak bisa berhenti menghirupnya. Mereka semua larut dalam keindahan dan ketentraman. Melupakan setiap permasalahan dan pekerjaan.

__ADS_1


Mereka belum menyadari bahwa ditempat mereka tidak ada penjaganya.


__ADS_2