
Mereka melanjutkan mobilnya namun di tengah perjalanan mereka di hadang oleh sebuah motor.
"Turun kalian!!!"Teriak Bella sambil menunjuk ke arah mobil yang dinaiki oleh Wulan dan Ibrahim.
Wulan yang asyik duduk di dalam mobil seketika matanya melotot dan terkejut ternyata yang hadang mobil mereka adalah Indri dan juga Bella.
"Mau apa mereka mas?"Tanya Wulan mengerutkan dahi.
"Aku juga tidak tau."Ucap Ibrahim menaikan kedua tanggannya.
"Coba sebaiknya kita turun saja untuk tanya kepada mereka."Ucap Wulan sambil melirik ke arah Ibrahim.
Ibrahim menganguk saja, mereka turun dari mobil untuk menemui Bella dan juga Indri. Namun sebelum mereka turun kaca mereka di ketuk dengan keras oleh Bella.
Tok...Tok...Tok...
"Turun Kamu Banci!!!"Teriak Bella sambil nunjuk ke arah kaca mobil Ibrahim.
"Udah sanah mas turun!!"Ucap Wulan dengan mengeratkan bibirnya.
"Baiklah, kamu tunggu di dalam mobil saja."Ucap Ibrahim.
Wulan hanya menganguk dan melihat dari dalam mobil. Ibrahim keluar dari mobil dan diikuti oleh Bella marah-marah.
"Loh, ada apa ini?"Tanya Wulan melihat dari dalam mobil.
Wulan keluar mobil untuk mendengar lebih jelasnya.
"Eh kamu banci, tanggung jawab dong sebagai seorang pria sejati!!!"Ucap Bella emosi.
"Tanggung jawab apa ?"Tanya Ibrahim heran.
"Teman aku setiap hari dibikin kamu nangis!!!"Ucap bela dengan nada tinggi.
"Apa urusannya dengan saya mba?"Tanya Ibrahim penasaran.
"Iya adalah, kamu belum juga putus sama teman aku malah udah menjalin hubungan yang baru dengan perempuan lain. Dimana hati nurani kamu sebagai pria?"Tanya Bella sambil teriak.
"Loh, memangnya teman mba tidak kasih tau sebenarnya apa yang sudah terjadi?"Tanya Ibrahim heran.
"Itu tidak penting lah, yang harusnya sekarang kamu urusin itu adalah beri sedikit penjelasan kepada teman gue!!!"Teriak Bella kesal.
Wulan yang hanya melihat dan mendekati mereka.
"Ada apa ini ribut sekali?"Tanya Wulan heran.
"Oh jadi ini pelakornya?"Ucap Bella dengan menunjuk Wulan.
"Pelakor???" Maksud mba Bella gimana ya?"Tanya Wulan heran.
"Alah kamu tidak usah ngeles lagi deh, kamu sengaja ya mau merusak hubungan teman aku!!!"Ucap Bella mendorong Wulan kesal.
Wulan terjatuh karena kakinya masih sedikit sakit bekas kecelakaan itu.
"Aaauuuhhh!!!"Ucap Wulan sambil pegang kakinya.
"Kamu tidak apa-apa sayang?"Tanya Ibrahim sambil bangunkan Wulan.
"Aku tidak apa-apa mas, hanya saja kaki ku agak sakit."Ucap Wulan merinti kesakitan.
"Alah baru kaya gitu saja sudah kesakitan, dasar cewe manja."Ucap Bella emosi.
"Sudah Bell, ayo kita pulang malu tau kamu teriak seperti itu."Ucap Indri sambil menarik tanggan Bella untuk pergi.
"Iiihhh, tunggu sebentar sih aku belum buat perhitungan sama mereka."Ucap Bella emosi.
"Sudah Bell...Sudah aku sudah mengikhlaskannya."Ucap Bella.
"Apa kamu mengikhlaskan begitu saja?"Tanya Bella heran.
Wulan berteriak.
"Mba, tunggu!!!"Teriak Wulan.
Indri dan Bella berbalik badan.
"Mba lebih baik sekarang tanyakan saja semua sama Ibrahim agar semua masalahnya selesai!!!"Ucap Wulan kesal.
"Sayang kamu yakin mau aku bilang di tempat seperti ini sama mereka?"Tanya Ibrahim sambil pegang tanggan Wulan.
"Iya mas, agar supaya masalahnya segera selesai!!"Ucap Wulan sambil melepaskan tanggan Ibrahim.
"Baiklah, aku akan ngobrol sama mereka."Ucap Ibrahim menghelaikan napas panjang.
Mereka semua memilih duduk di salah satu tempat di sekitar situ untuk menjelaskan semua permasalahannya.
"Ayo kita duduk di sebelah sanah."Ucap Ibrahim menunjuk salah satu kursi panjang.
Mereka semua hanya menganguk dan memilih duduk.
"Jadi apa yang harus aku pertangung jawabkan di sinih?"Tanya Ibrahim heran.
"Kamu ngapain ajak ini perempuan ke sinih?"Tanya Bella menatap sinis ke arah Wulan.
"Oh ini calon aku namanya Wulandari."Ucap Ibrahim mengandeng tanggan Wulan.
"Maksud kamu apa bang calon???"Tanya Indri kaget.
"Iya dia memang calon aku."Kata Ibrahim tersenyum.
"Loh bukannya kamu bilang sudah putus sama dia?"Tanya Indri sambil menunjuk Wulan.
"Iya itu karena aku dulu dekatin kamu hanya sebuah game dari teman aku."Ucap Ibrahim.
"Apa???" Hanya semua Game???"Ucap Indri terkejut sambil menutup mulutnya.
"Jadi pada saat itu teman aku menantang aku buat taklukin hati kamu, namun aku menolaknya karena bagi aku itu bukan lelucon. Dan akhirnya aku di paksa."Ucap Ibrahim.
"Kamu jahat bang...Kamu jahat bang!!!"Ucap Indri sambil menangis dan memukul dada Ibrahim.
"Maafkan aku."Ucap Ibrahim sedih.
Wulan dan Bella hanya melihat dan mendengat serta terkejut.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan bang."Ucap Indri.
"Lagi pula, pada saat aku mau akan jemput kamu di cirebon aku melihat kamu di jemput seorang pria membawa mobil."Ucap Ibrahim.
"Jadi kamu melihat aku?"Tanya Indri terkejut.
"Iya dengan jelas aku melihatnya, siapa pria itu?"Ucap Ibrahim.
"Eee...Eee..."Ucap Indri terbata-bata sambil mengeratkan bibirnya.
"Pacar kamukan???"Tanya Ibrahim.
__ADS_1
"Aku bisa jelasin semua itu bang."Ucap Indri sambil memohon dan mengegam tanggan Ibrahim.
"Lepasin tanggan aku, aku tidak suka punya wanita pembohong sepertimu!!!"Ucap Ibrahim kesal.
"Tunggu bang, percaya padaku kalau dia hanyalah teman."Ucap Indri melas.
"Teman???" Teman yang seperti apa setiap hari di jemput pakai mobil???"Ucap Ibrahim penuh emosi.
Indri menuju ke arah Wulan. Dan seketika tamparan mendarat di pipi Wulan.
Plak...Plak..Plak...
"Aauuhhh!!"Teriak Wulan memegang kedua pipinya.
Ibrahim mendekati Wulan.
"Apa-Apaan ini?"Kenapa kamu malah menampar dia?"Tanya Ibrahim emosi.
"Dialah orang yang merusak hubungan kita."Ucap Indri kesal.
Ibrahim menampar Indri.
Plak...
"Jaga itu ucapan, dia tidak pernah merusak hubungan kita. Namun aku yang sudah merusak hubungan karena wanita seperti kamu!!!"Ucap Ibrahim menunjuk Indri dan emosi.
"Jadi selama ini kamu tidak putus sama dia?"Tanya Indri sambil memegang pipinya.
"Aku tidak akan pernah putus dari dia."Ucap Ibrahim kesal.
"Apa bagusnya dia dari aku bang?" Dia hanya seorang SPG dan tidak mempunyai masa depan yang cerah, sedangkan aku telah bekerja di sebuah PT besar."Ucap Indri menyombongkan.
"Aku tidak pernah melihat seseorang dari pekerjaannya, dan aku melihat dia wanita tulus serta baik hati. Tidak seperti kamu yang keras kepala dan emosian."Ucap Ibrahim kesal.
"Oh jadi aku keras kepala bang???"Lalu kamu apa ???"Tanya Indri dengan nada tinggi.
Ibrahim hendak mau mukul Indri, namun di tahan oleh Wulan.
"Sudah cukup mas, tidak perlu dengan pakai tanggan seperti itu."Ucap Wulan kesal.
"Tapi sayang dia sudah mencelakai kamu."Ucap Ibrahim kesal.
"Sudah mas... Sudah, lebih baik kita pulang saja."Ucap Wulan menarik tanggan Ibrahim.
Wulan dan Ibrahim pergi meninggalkan Indri.
"Bang, kamu jahat...Kamu jahat..."Gumam Indri kesal sambil mengangkat kedua tanggannya.
Tiba-Tiba Bella menghampiri Indri.
"kamu tidak apa-apa?"Tanya Bella sambil melihat temannya.
"Aku tidak apa-apa kok."Ucap Indri tersenyum.
"Tidak apa-apa gimana, tadi kamu di tampar oleh dia."Ucap Bella.
"Kamu tunggu di sinih, aku kan buat perhitungan sama dia."Ucap Bella meningalkan Indri.
"Tidak perlu Bell, ayo kita pulang."Ucap Indri menarik tanggan Bella.
Mereka semua akhirnya pergi dari lokasi kejadian.
"Mas, aku saja yang bawa mobilnya."Ucap Wulan.
"Biar aku saja lah, kamu duduk manis saja di sanah."Ucap Ibrahim mengerutkan dahi.
"Aku obatin dulu luka kamu ya."Ucap Ibrahim.
"Biar di rumah saja mas, ini sudah sangat larut malam."Ucap Wulan.
"Tidak nanti malah tambah bengkak."Ucap Ibrahim menarik napas panjang agar tidak emosi.
"Baiklah mas, apa katamu saja."Ucap Wulan melas.
Ibrahim mengambil kotak obat buat di obatin di kaki Wulan yang mengkak dan Ibrahim membeli Air dinggin untuk di kompres di pipi Wulan.
"Mas!!"Teriak Wulan.
"Apa sayang."Ucap Ibrahim tersenyum.
"Mau kemana?"Tanya Wulan heran.
"Mau ke warung sebentar, kamu tunggu saja di dalam mobil."Ucap Ibrahim sambil mengelus kepala Wulan.
"Mau beli apa?"Tanya Wulan heran.
"Mau beli air es, kamu mau aku beliin apa?"Tanya Ibrahim tersenyum.
"Tidak mas, aku tidak lapar."Ucap Wulan.
Ibrahim meninggalkan Wulan di dalam mobil dan menuju ke warung.
"Kok lama sekali beli air dinggin saja."Ucap Wulan sambil memegang kedua pipinya yang sedang sakit.
Wulan melihat ke arah sekitar namun tidak ada orang dan tidak ada tanda Ibrahim sampai. Wulan memainkan ponselnya. Beberapa menit kemudian Wulan yang asyik memainkan ponselnya Ibrahim sampai di mobil.
"Lama sekali mas belinya."Ucap Wulan kesal.
"Iya maaf, tadi Ibu warungnya tidak ada kembaliannya jadi aku harus menunggu."Ucap Ibrahim.
"Oh."Ucap Wulan melas.
"Sinih aku obatin dulu pipi kamu."Ucap Ibrahim mengambil air dinggin.
Wulan menganguk saja.
"Tahan ya, mungkin ini agak sakit."Ucap Ibrahim.
"Iya mas."Ucap Wulan tersenyum.
Ibrahim mengompres pipi Wulan dengan lembut dan telaten penuh sabar.
"Terimakasih mas."Ucap Wulan tersenyum.
"Iya."Ucap Ibrahim tersenyum.
"Mas pulang yuk."Ucap Wulan mengegam tanggan Ibrahim.
"Iya ayo."Ucap Ibrahim tersenyum dan mengecup kening Wulan.
Mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Wulan memegang pipinya sambil senyam senyum sendiri.
"Ternyata kamu perhatian sekali sama aku."Batin Wulan tersenyum.
__ADS_1
"Eeehhhmmm."Berdehem Ibrahim.
"Iya mas."Ucap Wulan tersadar.
"Aku perhatikan kamu, dari tadi kamu senyam senyum sendiri kenapa?"Tanya Ibrahim.
"Tidak apa-apa mas."Ucap Wulan.
Ibrahim pun mengacak rambut Wulan dan tersenyum.
"Gemas deh sama kamu."Ucap Ibrahim memegang pipinya Wulan.
Wulan hanya tersenyum saja. Tiba-Tiba perut Wulan berbunyi.
Kruyuk...Kruyuk...Kruyuk...
"Lapar ya?"Tanya Ibrahim tersenyum.
"Tidak kok mas, kamu salah dengar."Ucap Wulan tersenyum.
"Yasudah kamu makan dulu, di sanah di plastik hitam ada roti."Ucap Ibrahim menunjuk ke arah plastik hitam.
"Iya mas, terimakasih."Ucap Wulan sambil mengambil plastik hitam.
"Yasudah di makan."Ucap Ibrahim tersenyum.
"Kamu mau tidak mas?"Tanya Wulan.
"Tidak sayang, aku sedang menyetir."Ucap Ibrahim.
Wulan membuka bungkus roti dan langsung menyodori roti ke mulut Ibrahim.
"Buka mulutnya mas, cobain ini roti enak rasanya."Ucap Wulan maksa.
"Baiklah, aku coba."Ucap Ibrahim.
Ibrahim dan Wulan makan roti untuk menganjal perut mereka sampai tiba di rumah. Kini mereka tiba di rumah Wulan.
"Terimakasih ya mas untuk hari ini."Ucap Wulan tersenyum.
"Iya sayang, sudah sanah kamu masuk ke dalam rumah."Ucap Ibrahim mengecup kening Wulan.
"Iya mas, aku masuk dahulu ya."Ucap Wulan tersenyum.
Ibrahim hanya menganguk dan Wulan turun dari mobil menuju ke dalam rumahnya dan melihat ke belakang, ternyata Ibrahim sudah pergi dari penglihatan matanya.
Wulan masuk ke dalam rumahnya, dilihat semua orang di dalam rumah sudah pada tidur. Wulan langsung menuju ke dalam kamarnya. Wulan sudah di dalam kamarnya.
Wulan langsung mandi dan berganti pakaian, setelah selesai mandi Wulan melihat ke arah cermin.
"Astagfirullohalazim mukaku."Ucap Wulan kaget dan memegang mukanya.
"Pantas saja sedikit sakit."Ucap Wulan melihat muka di cermin.
Wulan akhirnya mengompres kembali mukanya pakai es batu di rumahnya. Kini Wulan mengompres pipinya sebelum tertidur.
Suara ponsel Wulan bergetar.
Kring...Kring...Kring...
"Hallo mas."Ucap Wulan.
"Iya sayang."Ucap Ibrahim.
"Kamu sudah sampai?"Tanya Wulan.
"Sudah ini baru sampai, pipi kamu gimana sudah mendingan?."Tanya Ibrahim.
"Sudah mas."Kata Wulan.
"Alhamdulillah."Kata Ibrahim.
"Mas boleh tanya tidak?"Tanya Wulan.
"Mau tanya apa?"Ucap Ibrahim.
"Mas, kamu sudah benar-benar tidak ada hubungan sama Indri lagi?"Tanya Wulan.
"Loh kamu masih tanya soal itu."Ucap Ibrahim kesal.
"Aku hanya pastikan saja mas."Ucap Wulan.
"Aku sudah tidak ada hubungan apa pun lagi."Ucap Ibrahim dengan nada tinggi.
"Tidak usah pakai emosi mas, aku tanya baik-baik."Ucap Wulan kesal.
"Iya mas, aku terbawa suasana tadi."Kata Ibrahim.
"Iya mas tidak apa-apa."Ucap Wulan.
"Yakin kamu sudah tidak ada hubungan apa pun?"Tanya Wulan.
"Iya sayang."Kata Ibrahim.
"Mas janji ya tidak akan berhubungan lagi sama dia."Ucap Wulan.
"Iya sayang aku janji."Kata Ibrahim.
"Demi apa mas?"Tanya Wulan.
"Demi Allah sayangku."Ucap Ibrahim.
"Sudah sanah kamu tidur, sudah malam."Kata Ibrahim.
"Iya, aku tidur dulu mas. Kamu jangan tidur malam-malam ya mas."Ucap Wulan.
"Iya sayang."Ucap Ibrahim.
"Love you mas."Ucap Wulan.
"Love too."Ucap Ibrahim.
"Selamat malam mas."Ucap Wulan.
"Iya malam sayang."Ucap Ibrahim.
Pangilan telpon berakhir dan Wulan menaruh ponsel di laci. Lalu Wulan menaruh kompresan bekas pipinya di meja.
Wulan yang sedari tadi senyam senyum sendiri melihat perhatian Ibrahim yang tidak pernah ia dapatkan dari Ibrahim karena mereka masing-masing yang sibuk bekerja dan mereka hanya ketemu kalau ada waktu sempat saja.
"Yaallah aku senang banget hari ini, walaupun harus ada dramanya."Ucap Wulan senyum sendiri di kamar sambil memeluk guling.
"Terimakasih untuk hari ini mas, aku bahagia."Gumam Wulan tersenyum sendiri sambil melihat foto mereka berdua di samping kasurnya dan mencium fotonya.
Wulan merebahkan badannya di atas kasur, kini Wulan tertidur dengan lelap karena seharian beraktivitas di luar rumah.
__ADS_1
Bersambung,,,