Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
67.ANDK


__ADS_3

Sampailah Ayu di rumahnya, Ayu merebahkan badan di atas kasur sambil mengigat kembali kejadian di mall itu.


"Siapa wanita itu, kenapa begitu dekat sekali sama Ibrahim sampai-sampai Ibrahim begitu sayang dan cinta."Batin Ayu.


"Apa jangan-jangan Wulan adalah pacar Ibrahim dan Aku yang sudah merusak hubungan mereka?"Tanya Ayu di dalam hati.


Ayu gelisah tak menentu dan sambil mengacak-acak rambutnya yang tidak gatal.


"Aaaahhh!!!"Teriak Ayu di dalam bantalnya karena kesal atas video tadi.


Ayu melamun dan memikirkan semuanya, kini Ayu tertidur.


Pagi hari sinar matahari sudah menyinari bumi dengan indah.


Ayu terbangun dan memikirkan atas kejadian semalam sambil ia mempersiapkan bekerja di puskesmas, setelah selesai Ayu bersiap untuk berangkat kerja.


Kini Ayu telah sampai di puskesmas, seperti biasa ia melayani pasien dengan rajin dan giat. Namun kali ini Ayu banyak melamun karena masih memikirkan video semalam.


"Bu, jadi gimana hasil tensi saya?"Tanya Pasien.


Ayu hanya diem saja tanpa menjawab, lalu pasien itu menanyakan kembali.


"Bu, gimana hasilnya?"Tanya Pasien kesal sambil menepuk bahu Ayu.


Ayu langsung tersadar oleh tepukan pasien.


"Oh iya maaf, hasilnya bagus bu."Ucap Ayu.


"Lain kali kalau sedang bekerja jangan melamun bu, jadi tidak focus dan jadi saya kecewa sama hasil ibu."Ucap Pasien meninggalkan ruangan Ayu.


"Iya maaf bu."Kata Ayu menarik napas panjang.


"Saya bisa laporkan kepada atasan ibu, jika banyak melamun dalam melayanin pasien."Ujar Pasien di depan pintu.


"Tunggu bu, saya bisa jelaskan kepada ibu."Ucap Ayu mengejar pasien.


Tidak lama kemudian Pasien memasukan kertas di dalam kota suara keluhan, pasien tadi menulis tentang apa yang dia alami atas prilaku Ayu yang banyak melamun dan tidak focus.


Ayu hanya melihat saja dan Ayu menyesali perbuatannya.


"Yah sudah masuk lagi ke dalam kotak suara, gimana ini aku bisa jelasin kepada kepala puskesmas."Batin Ayu geram.


Ayu kembali ke ruangannya sambil mengeluarkan ponselnya dan mengetik untuk mengirim pesan kepada Ningsih.


Ayu mengirim pesan kepada Ningsih.


"Assalamuallaikum mba, aku sepertinya ikut menyelidiki video itu sama mba."


Setelah selesai Ayu mengirim pesan kepada Ningsih, Ayu kembali bekerja.


Di sisi Lain Ningsih sedang sibuk beres-beres rumah sebelum ia mengantar Adit ke sekolah.


"Adit sayang ayo bangun sudah siang, kita harus sekolah."Ucap Ningsih membangunkan Adit.


"Iya ma sebentar, Adit kumpulin nyawa dulu."Ucap Adit.


"Baiklah, mama tunggu di bawah ya."Kata Ningsih meninggalkan kamar Adit.


Ningsih sampai di dapur dan menyediakan sarapan kepada Adit, setelah selesai Ningsih duduk di meja makan sambil menunggu Adit.


"Adit lama sekali turunnya, apa aku cek saja ya di kamarnya."Batin Ningsih.


Namun kemudian ponsel Ningsih berbunyi tanda pesan masuk dari Ayu, Ningsih langsung membuka pesan.


Ningsih seketika membuka matanya dengan tercengah atas isi pesan dari Ayu.


"Sejak kapan Ayu jadi setuju sama Aku?"Tanya Ningsih di dalam hati.


"Video apa yang Ayu maksud."Batin Ningsih heran.


"Lalu kedua wanita itu bilang apa saja sama Ayu ya, sampai Ayu secepat itu berubah pikiran."Gumam Ningsih.


Ningsih masih melamun dan berpikir sejenak, sampai melupakan untuk mengecek Adit di dalam kamar. Beberapa menit kemudian Adit turun dari kamarnya dan sudah mengenakan pakaian sekolah dan mendekati Ningsih.


"Ma."Ucap Adit menepuk bahu Ningsih.


Ningsih tidak menjawab sapaan Adit, lalu Adit memangil lagi.


"Ma...Mama!!!"Teriak Adit sambil mengoyangkan badan Ningsih.


Ningsih tersadar atas perlakuan Adit.


"Eh iya apa sayang."Kata Ningsih tersenyum.


"Mama kenapa akhir-akhir ini banyak melamun?"Tanya Adit heran.


"Mama sedang sakut?"Tanya Adit.


"Mama tidak sakit sayang."Ucap Ningsih memeluk Adit.


"Terus mama kenapa melamun?"Tanya Adit dengan wajah polosnya.


"Mama hanya kangen sama Ayah kamu."Kata Ningsih tersenyum.


"Oh sama dong kaya Adit."Kata Adit memeluk Ningsih.


"Kalau begitu kita siap-siap berangkat ke sekolah dan nanti kita video call sama Ayah."Kata Ningsih.


"Oke ma."Ujar Adit sambil mengancungkan jari jempolnya.


"Yasudah makan yang banyak sayang, setelah itu kita berangkat ke sekolah."Kata Ningsih mengelus kepala Adit.


Mereka berdua sarapan pagi, setelah selesai sarapan mereka berdua pergi menuju ke sekolah Adit.


"Ayo nak, nanti terlambat ke sekolah."Kata Ku.


"Iya ma."Ucap Adit.


Mereka berdua berangkat menuju ke sekolah, di tengah perjalanan Adit meminta Ningsih untuk menepati janjinya yaitu menelepon sang ayah.


"Ma, jadi telpon sama ayah?"Tanya Adit.


"Jadi dong, kamu tolong ambil ponsel mama di dalam tas mama ya."Kata Ningsih sambil menunjuk ke arah tas.


Adit hanya menganguk dan mengambil ponselnya, Adit pun mencari nomor telpon ayahnya dan menelponny.


Tut...Tut...Tut...


"Kok tidak di angkat ma?"Tanya Adit heran.


"Mungkin ayah kamu sedang sibuk."Ucap Ningsih.


"Adit coba lagi ya ma."Kata Adit.


Tut...Tut...Tut...

__ADS_1


Namun tidak ada jawaban dari ayahnya, wajah Adit langsung cemberut dan kesal.


"Ayah kemana sih, sibuk terus padahalkan aku dan Mama sangat kangen sama dia."Ucap Adit kesal sambil menaruh ponselnya.


Ningsih yang melihat tingkah laku sang anak yang membuat Ningsih gemas itu.


"Kenapa sayang?"Tanya Ningsih.


"Aku kesal ma, kenapa ayah tidak mau angkat telpon."Kata Adit dengan muka kesal.


"Mungkin ayah sedang sibuk bekerja."Kata Ningsih tersenyum.


"Padahalkan kita kangen kan ma."Kata Adit.


"Iya sayang mama paham dan mengerti, tapi kita tidak boleh seperti itu karena ayah sedang sibuk bekerja untuk bisa membiayai kita."Kata Ningsih.


Mereka berdua sampai di sekolah Adit, Adit turun dari mobil dan masuk ke sekolah.


"Ma, Adit masuk dulu ya."Ucap Adit sambil cium tanggan Ningsih.


"Iya belajar yang pinter."Kata Ningsih sambil memeluk Adit.


Akhirnya Adit masuk ke dalam kelas, Ningsih pergi dari sekolah Adit setelah Adit hilang dari pandangan Ningsih. Ningsih melanjutkan perjalanan menuju ke rumah.


Di sisi Lain Wulan sedang bekerja itu, tiba-tiba suara ponsel Wulan bergetar tanda pesan masuk.


Kemudian Wulan membuka pesannya, ternyata dari Ari teman semasa kecilnya dahulu di Bandung.


"Assalamuallaikum teh, ini aku Ari. Tolong di save ya."


Wulan yang menyadari kalau ternyata nomor ponselnya ada 2.


"Kenapa ada 2 nomor telepon?"Tanya Wulan di dalam hati.


Wulan membalas pesan Ari.


"Waaalaikumsalam A, iya nanti di save dan terimakasih ya sudah mau antar aku kemarin."


"Iya sama-sama, oh iya nomor yang lama di hapus saja."


"Baik A."


Wulan kemudian menutup ponselnya dan melanjutkan kembali bekerja, namun dilihatlah oleh Ratna dan juga Hani.


"You sibuk banget dari tadi Ai perhatikan."Ucap Hani mengoda Wulan.


"Habis dapat pesan dari pacar ya?"Tanya Ratna mengoda Wulan.


"Kalian berdua pengen tau saja."Ucap Wulan tersenyum.


Tidak lama kemudian ada salah satu pembeli yang menghampiri tokonya.


Wulan,Hani dan Ratna langsung berdiri tegap dan menyambut pembeli.


"Selamat datang di toko ABCD, ada yang bisa di bantu?"Tanya Wulan dengan ramah dan juga senyuman manis.


"Siang mba, saya dan mama saya mau beli ponsel."Ucap Pembeli.


"Oh ada mas, mau ponsel seperti apa?"Tanya Wulan ramah.


"Buat orang tua seperti apa ya?"Tanya Pembeli.


Wulan langsung menjelaskan benefit ponsel tersebut kepada pembeli.


"Gimana kak jadi yang ini saja?"Tanya Wulan.


"Mau warna apa mas?"Tanya Wulan tersenyum.


"Mama mau warna apa?"Tanya pembeli kepada ibunya.


Sang ibu melirik ke arah Wulan.


"Mba menurut mba yang bagus yang mana?"Tanya Ibu kepada Wulan.


"Kalau menurut saya buat ibu yang warna pink saja karena sesuai dengan warnanya soft dan kelembutan hati ibu yang baik dan ramah."Ucap Wulan.


"Yasudah mba, yang warna pink saja sesuai sama apa yang dipilih oleh mba yang cantik."Kata Ibu mengoda Wulan.


Wulan hanya tersenyum saja, dan di ambilkan oleh Hani.


Kemudian mereka membuka ponselnya untuk diaktivasi, namun sebelum semuanya selesai sang ibu meminta Wulan untuk berfoto.


"Mba kita foto yuk untuk kenang-kenangan."Ucap Ibu.


Wulan yang kaget mendengar ucapan sang ibu itu langsung tersenyum.


"Udah ayo mba."Kata ibu sambil menarik tanggan Wulan.


Mau tidak mau Wulan mengikuti perintah sang ibu, akhirnya Wulan berfoto berdua sama sang ibu.


"Tolong fotoin Mama sama mba cantik."Ucap Ibu kepada anaknya.


Irwan hanya menganguk saja kemudian memfotokan mereka berdua, lalu kemudian sang ibu menyuruh Wulan dan Irwan untuk berfoto berdua.


"Kalian foto berdua dong."Ucap Ibu kepada keduanya.


Membuat Wulan dan Irwan malu melihat kelakuan ibunya.


Wulan hanya tersenyum dan diam saja, kemudian Irwan hanya menganguk dan mendekati Wulan. Mereka berdua berfoto bersampingan layaknya foto KTP yang berdiri tegap dan kaku tanpa senyuman.


"Ayo senyum dong."Ucap Ibu.


"Iya senyum ih Wulan."Ujar Ratna mengoda.


Wulan dan Irwan mau tidak mau tersenyum.


"Nah kaya begitu kan jauh lebih bagus."Ucap Mereka kompak.


Setelah Wulan dan Irwan selesai berfoto, kemudian mereka membayar uangnya dan sang ibu menanyakan kepada Wulan.


"Mba sudah pacar belum?"Tanya Ibu.


Wulan yang terkejut mendengar ucapan ibu itu dan hanya tersenyum.


"Kalau belum punya pacar, sama anak saya aja mba. Dia jomblo baru di tinggal sama pacarnya."Ucap Ibu.


Irwan yang mendengar sang ibu seperti itu mukanya langsung memerah seperti kepiting rebus.


"Mama malu ih bilang kaya gitu."Ucap Irwan kesal melirik sang ibu.


Irwan langsung meminta maaf sama Wulan.


"Mba, maafin perlakuan ibu saya ya."


"Iya tidak apa-apa mas."Jawab Wulan tersenyum.

__ADS_1


Kemudian sang ibu mendekati Wulan dan memegang tanggan Wulan dan Irwan.


"Mba saya sangat senang sama mba, kalau mba mau akhir bulan menikah saja."Ucap Ibu.


Wulan hanya tersenyum saja dan kaget karena kali pertama ada orang tua yang setuju dan menawarkan diri untuk menikahkan anaknya sama Wulan.


"A minta nomor telpon mbanya."Ucap Ibu.


"Nomor mba yang mana ma?"Tanya Irwan heran.


"Yey yang tadi foto sama kamu lah."Ucap Mama.


Irwan mendekati Wulan dan meminta nomor telpon Wulan.


"Mba berapa nomor telponnya?"Tanya Irwan.


Kemudian Wulan menyebutkan nomor telponnya dan di save olehnya.


"A sudah belum minta nomor mbanya?"Tanya Mama.


"Sudah ma."Ucap Irwan.


Akhirnya mereka selesai dari membeli dan hendak pulang ke rumah.


"Mba terimakasih banyak ya, saya harap mba mau sama anak saya."Ucap Ibu sambil memegang tanggan Wulan.


"Sama-Sama bu."Ucap Wulan tersenyum.


"Mba maafkan atas perlakuan ibu saya ya."Kata Irwan.


"Tidak apa-apa mas."Ucap Wulan tersenyum.


Akhirnya mereka pergi dari toko dan menuju ke rumahnya, Beberapa menit kemudian Irwan kirim pesan sama Wulan.


"Assalamuallaikum mba ini saya Irwan yang tadi beli ponsel di toko mba."


Wulan membalas.


"Waaalaikumsalam iya mas terimakasih sudah membeli ponsel di toko saya."


Kemudian Wulan menaruh ponselnya, dilihat oleh Ratna dan Hani.


"Eh cie yang dapat kenalan baru."Ucap Hani.


"Kalau menurut aku Lan, lebih baik sama mas itu saja jauh lebih bagus dari pada sama pacar kamu."Ucap Ratna.


"Tapi kita baru saja kenal mba."Ucap Wulan.


"Lama-Lama juga akan cinta kok seiring dengan waktu."Ucap Ratna.


"Iya betul banget itu, apa lagi kan sudah di restukan oleh ibunya tinggal dari kamu nya saja."Ucap Hani.


"Aku rasa dia sudah punya pacar."Kata Wulan.


"Tapi tadi ibunya bilang belum Lan."Ucap Ratna.


"Kita lihat kedepannya saja mba."Kata Ku.


Mereka kembali bekerja dengan semangat, tidak terasa waktu sudah semakin gelap kini Wulan hendak pulang ke rumah. Namun sebelum pulang ke rumah Wulan mendapat pesan dari Irwan.


"Assalamuallaikum Lan nanti pulang jam berapa?"


Wulan yang melihat notifikasi pesan maksuk di ponselnya membuat mata Wulan tercengang.


Wulan pun membalas pesannya.


"Ini lagi beres-beres mau pulang, ada apa kak?"


Irwan membalas pesan Wulan


"Kamu tunggu di sanah ya, nanti aku jemput kamu pulang."


Wulan melihat jawaban dari Irwan langsung kaget dan panik.


"Waduh!!!"Ucap Wulan heran.


Lalu di dengar oleh Hani dan Ratna.


"Ada apa Lan?"Tanya Mereka bersamaan.


"Itu mba, yang tadi mau ajak pulang bareng."Ucap Wulan.


"Yasudah sanah mau saja."Kata Mereka bersamaan.


"Tapi mba."Ujar Wulan ragu.


"Lan kesempatan tidak datang kedua kali."Ucap Mereka bersamaan.


Kemudian Ratna mengambil ponsel Wulan dan membalasnya.


"Iya aku tunggu di parkiran saja."


Wulan yang melihat tingkah laku kedua temannya itu membuat Wulan geleng-geleng kepala saja.


"Mereka kalau sudah pada suka sama seseorang seperti itu kelakuannya."Batin Wulan menarik napas panjang.


Kemudian di balas oleh Irwan.


"Baiklah kamu tunggu di sanah saja, sebentar lagi aku ke sanah."


Ponsel Wulan bergetar dan Wulan membacanya dan diikuti oleh kedua temannya yang penasaran.


"Udah ayo kita cepat-cepat selesaikan beres-beresnya."Kata mereka bersamaan.


Beberapa menit kemudian Wulan sudah selesai dari beres-beres, kemudian mereka berdua ikut ke parkiran mengantarkan Wulan.


"Kalian ikut juga?"Tanya Wulan heran.


"Iya kita hanya penasaran."Ucap Mereka kompak.


Wulan hanya menarik napas dan membuangnya.


"Baiklah terserah kalian saja."Kata Ku.


Mereka sampai di parkiran namun Irwan Belum juga tiba.


"Mana sih orangnya Lan?"Tanya Hani melihat sekitar.


"Sepertinya belun datang teh."Kata Ku melihat sekitar.


"Coba kamu tanya sudah sampai dimana."Ucap Ratna.


"Lebih baik kita tunggu saja lah."Kata Wulan.


Akhirnya mereka menunggu bertiga di parkiran, beberapa menit kemudian Irwan tiba di parkiran sesuai tempat mereka janjian.

__ADS_1


Bersambung,,,


__ADS_2