Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
81. Kepergian


__ADS_3

Di sisi lain Dina dan Mama sedang menunggu kabar dokter mengenai Wulan, harap-harap cemas dan panik mereka di sanah.


Dina langsung mengabari Umi kalau Wulan masuk rumah sakit lagi, Dina mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Umi.


"Kak, aku cuman mau kasih kabar sama kamu kalau Wulan masuk rumah sakit."


Ponsel di masukan ke dalam tas, Dina kembali menemani Mama Wulan yang cemas melihat kondisi anaknya belum ada kabar dari sang dokter.


Beberapa menit kemudian dokter keluar dari periksa Wulan, mereka berdua langsung bangun dari tempat duduknya dan menanyakan dokter kabar kondisi Wulan.


"Dokter, bagaimana kondisi anak saya?"Tanya Mama.


"Alhamdulillah anak ibu sudah melewati masa kritisnya dan boleh di jenguk."Ucap Dokter.


"Terimakasih ya Dok."Ucap Mama tersenyum.


Kini mereka dokter pergi meninggalkan kamar Wulan, dan mama serta Dina masuk ke dalam kamar Wulan.


Mereka melihat wajah Wulan masih sedikit pucat itu, mama duduk di sebelah Wulan sambil memegang tanggan Wulan.


Dina langsung kasih kabar kepada Diki kalau Wulan sudah boleh di jenguk tapi belum sadar.


"Bu, aku izin keluar dahulu mau kasih kabar kepada Diki."Ucap Dina.


"Iya."Ucap Mama.


Dina pergi dari ruangan Wulan untuk menelpon Diki.


"Hallo kak dimana?"


"Aku sama Ibrahim sedang di kantin, ada apa?"


"Aku mau kasih kabar kalau Wulan sudah boleh di jenguk."


"Oh yasudah aku sama Ibrahim nanti ke sanah."


"Iya aku tunggu."


Dina mematikan kembali ponselnya dan masuk ke dalam ruangan Wulan, di kantin Diki sudah mendapat informasi dari Dina bahwa Wulan sudah boleh di jenguk.


"Tadi siapa yang nelpon?"Tanya Ibrahim.


"Dina kasih kabar kalau Wulan sudah boleh di jenguk."Ucap Diki.


"Yasudah ayo kita ke sanah."Ucap Ibrahim.


Diki hanya menganguk saja dan pergi ke ruangan Wulan, sampailah mereka di ruangan Wulan.


Mereka melihat Dina dan Mama Wulan di dalam, mereka langsung masuk ke dalam ruangan.


"Bagaimana kondisi Wulan bu?"Tanya Ibrahim khawatir.


"Wulab sudah melewati masa kritisnya, ia akan tersadar."Ucap Mama.


"Alhamdulillah."Ucap Mereka bersamaan.


Mereka berdua melihat kondisi wajah Wulan yang masih sedikit terlihat pucat.


Beberapa menit kemudian, waktu tidak terasa sudah sangat larut malam dan jam besuk sudah hampir habis.


Mama menyuruh mereka semua untuk kembali ke rumah masing-masing.


"Sekarang lebih baik kalian pulang ke rumah saja, biarkan Wulan istirahat."Ucap Mama.


"Ibu saja yang pulang ke rumah, biar aku yang mengantikan Ibu menemani Wulan di sinih."Ucap Ibrahim.


"Tapi besok kamu akan berangkat bertugas nak, bagaimana nanti jika terlambat berangkat?"Tanya Mama.


"Tidak akan terlambat bu, nanti biar Diki yang urus perlengkapan aku dan aku pagi akan ke sanah."Ucap Ibrahim.


"Tidak usah nak, ibu saja yang menemani Wulan di sinih."Ucap Mama.


"Ibu lebih baik pulang saja untuk istirahat, ibu kemarin bu istirahat kan?"Tanya Ibrahim.


"Ibu bisa istirahat di rumah sakit nak."Kata Mama yang tidak tega meninggalkan anaknya.


"Ibu emang tidak kasihan kepada kedua adik Wulan di rumah?"Tanya Ibrahim.


"Biar Wulan aku saja yang jaga."Ucap Ibrahim.


"Baiklah nak, besok subuh ibu ke rumah sakit."Ucap Ibu.


"Dik, tolong antar ibu pulang ke rumah ya."Ucap Ibrahim.


"Siap komandan."Ucap Diki.


Diki mengantarkan ibu Wulan dan Dina untuk kembali ke rumah, Ibrahim sedang menjaga Wulan yang belum sadar dari masa kritisnya.


Ibrahim menatap wajah Wulan yang putih serta sedikit pucat, ia mencium kening Wulan dan tanggan Wulan sambil berbisik di telingga Wulan.


"Sayang aku harap kamu segera cepat sembuh dan sadar kembali, aku sangat sayang dan cinta sama kamu."


"Maafkan semua kesalahan aku dan ibuku, aku tau kamu adalah wanita baik hati dan berhati malaikat yang mudah memaafkan semua kesalahan orang lain."


"Aku percaya kelak kamu akan mendapatkan lelaki yang mau menjaga kamu dan memperjuangkan kamu dengan sunguh-sunguh, maaf aku belum bisa menyakinkan ibuku."


"Walaupun kita tidak bisa bersanding di pelaminan nanti, semoga kita bisa di pertemukan di surga nanti. Aku selalu mendoakan kamu yang terbaik dan akan selalu memantau kamu mesti kita tidak bisa bersama seperti dahulu."


"Tapi yang perlu kamu ingat, di hati kecil ku masih tersimpan nama kamu dengan indah dan tidak akan pernah di gantikan oleh siapa pun."


"Jaga diri kamu baik-baik walau tidak bisa bersama aku, kelak kamu akan mendapatkan cinta sejati yang terbaik selain aku. Aku tau kamu wanita kuat, mandiri dan sabar."


"Ini terakhir kita ketemu, jaga diri kamu baik-baik tanpa aku."


Ibrahim mengungkapkan semua isi di dalam hati sambil menemani Wulan yang masih belum sadarkan diri, namun air mata itu menetes di pipi Ibrahim ia sangat sedih melihat Wulan seperti itu. Namun Ibrahim tidak bisa berbuat apa pun selain mendoakan yang terbaik buat Wulan.


Ibrahim terus memegang tanggan Wulan dan mencium kening Wulan, berharap Wulan terbangun dan sadar sebelum pagi ia harus bertugas kembali.


Ibrahim mengambil al-quran untuk mengaji dan shalat di ruangan Wulan untuk mendoakan Wulan, setelah selesai dari shalat dan mengaji Ibrahim kirim pesan kepada Diki untuk besok membawakan tas dan seragamnya yang ia bereskan kemarin itu untuk di pakai besok.

__ADS_1


"Dik, nanti pagi sebelum subuh tolong antarkan seragam aku dan tas aku ke rumah sakit ya. Kemungkinan aku akan bersiap-siap di rumah sakit saja habis itu baru ke lokasi."


Setelah kirim pesan Ibrahim tertidur di samping Wulan sambil memegang tanggan Wulan.


Sampailah Diki di kosannya setelah mengatarkan Ibu dan Dina kembali ke rumah mereka, Diki merebahkan badannya di atas kasur sambil kembali cek ponselnya dan ternyata yang kirim pesan adalah Ibrahim.


Diki membalas pesannya.


"Baik nanti aku akan bawa ke rumah sakit."


Setelah Diki membalas pesan, ia mengecek kembali tas dan seragam untuk diantarkan besok ke rumah sakit. Diki pun tertidur dengan pulas.


Di rumah sakit Ibrahim melihat ke arah jam ia mengirim pesan kepada Diki untuk tidak datang terlambat, namun oleh Diki tidak di jawab sama sekali.


"Aku rasa ini ada masih tertidur sampai sekarang belum ada kabarnya."Ucap Ibrahim panik.


"Aku harus bagaimana ini?"Tanya Ibrahim di dalam hati.


"Aku tidak akan mungkin pergi begitu saja dan meninggalkan Wulan seperti ini."Batin Ibrahim gelisah sambil melihat ke arah jam.


Pagi hari sinar matahari telah menyinari setiap sudut kamar Diki, ia lupa akan janjinya karena ketiduran. Ia kemudian melihat jam di tanggan dan langsung pergi ke rumah sakit sambil membawa tas Ibrahim.


"Astagfirullohalazim aku ke tiduran."Ucap Diki.


Diki pergi meninggalkan kosan dan kembali ke rumah sakit, ia membawa motor dengan kecepatan penuh agar sampai di rumah sakit tepat waktu dan Ibrahim sampai di kapal nanti tepat waktu sebelum kapalnya pergi.


Sampailah Diki di rumah sakit, ia sudah melihat Ibrahim berdiri di depan kamar Wulan.


"Jam berapa ini kamu baru datang?"Tanya Ibrahim kesal sambil melihat jam di tanggannya.


"Siap salah komandan, Izin tadi saya ketiduran."Ucap Diki.


"Mana seragam saya dan tas saya?"Tanya Ibrahim tegas.


"Siap, semua sudah saya masukan di dalam tas."Ucap Diki kasih tas kepada Ibrahim.


Ibrahim langsung bersiap-siap untuk berganti seragam, Diki masih berdiri sambil melihat keadaan Wulan.


Beberapa menit kemudian Ibrahim telah selesai dari bersiap-siap ia kembali ke ruangan Wulan, ia menghampiri Diki.


"Diki bagaimana keadaan Wulan?"Tanya Ibrahim.


"Siap, Wulan belum sadarkan diri."Ucap Diki.


"Lalu kamu sudah hubungi ibu Wulan untuk datang ke rumah sakit?"Tanya Ibrahim.


"Siap, sudah tadi. Kata beliau ia akan segera sampai dan menyuruh kamu untuk pergi meninggalkan ruangan Wulan saja dan kembali bertugas."Ucap Diki.


"Baiklah, kalau begitu antarkan aku kembali ke kapal."Ucap Ibrahim.


"Siap."Ucap Diki.


Ibrahim melihat ke arah ruangan Wulan, namun ia hanya melihat dari jendela saja dan berpamitan kepada Wulan.


"Sayang aku akan bertugas selama 3 bln, aku harap kamu segera sembuh dan cepat sadar kembali seperti dahulu. Jaga diri baik-baik selama tidak ada aku dan semoga kamu mendapatkan cinta sejati yang jauh lebih baik dari pada aku."Batin Ibrahim menyentuh jendela kamar Wulan.


Kini Ibrahim dan Diki pergi meninggalkan rumah sakit, mereka langsung menuju kapal untuk berangkat. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di kapal.


"Alhamdulillah kita tepat waktu."Ucap Ibrahim hanya di temani oleh Diki saja, karena keluarga Ibrahim tidak ikut mengantar.


"Iya, kamu hati-hati di sanah komandan."Ujar Diki menepuk bahu Ibrahim.


"Baik, tolong jaga Wulan dan pantau dia dari jarak jauh sanah dan laporkan setiap apa pun yang terjadi sama Wulan kepada ku sebelum aku menikah nanti."Ucap Ibrahim.


"Izin komandan, apa tidak sebaiknya komandan untuk tidak ada hubungan lagi sama Wulan dan focus ke calon saja. Karena akan membuat Wulan sakit hati saja dan akan menimbulkan banyak masalah."Jawab Diki.


"Aku hanya mau menjaga dia dari jauh saja, tidak ada maksud lain."Kata Ku tersenyum.


"Baiklah, nanti akan saya pantau dan laporkan kepada komandan."Ucap Diki.


Kini suara kapal pun berbunyi, tandanya untuk Ibrahim pergi dan masuk ke dalam kapal untuk bertugas selama 3 bln.


Isak tangis dari keluarga yang mengiri kepergian mereka yang akan bertugas selama 3 bln itu.


Ibrahim melangkahkan kaki masuk ke dalam kapal, Diki hanya melihat dari jauh saja dan ucapan selamat tinggal telah mereka ucapkan.


"Aku jadi tidak tega melihatnya seperti ini."Ucap Diki.


"Bagaimana kalau Dika tau ya kalau Wulan masuk ke rumah sakit?"Tanya Diki di dalam hati.


"Oh iya aku lupa menghubungi Dika, ia sudah sampai dimana?" Soalnya kapalnya akan segera berangkat."Kata Ku.


Diki menelpon Dika.


Kring...Kring...Kring...


"Hallo kamu sudah sampai dimana?"


"Aku sudah sampai kok, kamu dimana?"


"Aku di dekat taman, cepat ke sinih kapalmu akan berangkat."


"Baiklah aku ke situ."


Diki menutup ponselnya dan menunggu Dika, sampailah Dika di sanah dengan seragam lengkapnya dan membawa tas. Dika melirik dan mencari Wulan serta Umi, namun tidak nampak di sanah. Hanya ada Diki seorang diri.


"Dimana Pacar kamu dan teman-temannya?"Tanya Dika heran melihat Diki sendiri.


"Oh maksud kamu Wulan dan Umi?"Tanya Diki.


"Iya kemana mereka?" Apa mereka baik-baik saja?" Soalnya aku khawatir sama mereka."Ucap Dika.


"Wulan dan Umi baik-baik saja, mereka bilang tidak bisa mengantarkan kamu bertugas karena mereka harus bekerja."Ujar Diki.


"Oh baiklah aku paham, bagaimana kado yang aku kasih ke kamu sudah kamu kasih sama Wulan ?"Tanya Dika.


"Iya sudah aku kasih dan Wulan menyukainya."Ucap Diki berbohong.


"Baguslah kalau dia menyukainya."Ucap Dika.

__ADS_1


"Yasudah kamu sanah bersiap-siap masuk ke dalam kapal, sebentar lagi kapal kamu akan berlayar."Ucap Diki.


"Oh iya dimana komandan?" Apakah dia sudah berangkat?"Tanya Dika heran melihat tidak ada Ibrahim.


"Iya dia baru saja kapalnya berangkat."Ucap Diki.


"Oh, aku titip tolong jaga dia dan awasi dia ya dan kasih kabar sama aku tentang perkembangan Wulan selama aku berada di Papua."Ucap Dika menepuk bahu Diki.


"Iya nanti aku akan kasih kabar sama kamu mengenai Wulan."Ujar Diki.


"Terimakasih, aku masuk ke kapal dahulu."Jawab Dika.


Diki hanya menganguk saja, Dika berpamitan kepada kedua orang tuanya dan segera masuk ke dalam kapal.


"Bu, bapak aku pamit berangkat berlayar dahulu. Doakan anakmu ini ya di sanah, kalian jaga kesehatan baik-baik di rumah."Ucap Dika memeluk kedua orang tuanya.


"Iya ibu dan bapak akan selalu mendoakan kamu nak, kamu juga jaga kesehatan di sanah. Dan kasih kabar kepada kami di rumah."Ucap Kedua orang tua Dika.


Dika hanya mengaguk saja dan melangkahkan kaki ke kapal, kini suara kapal Dika telah berbunyi dan ia segera masuk ke dalam kapal.


Isak tanggis dari ibu Dika melihat dan mengantarkan anaknya untuk bertugas menjaga keamanan negara, serta isak tangis dari keluarga yang berangkat berlayar di sanah.


Suasana di tanjung priuk penuh dengan air mata setelah kepergian suami, anak, pacar mereka yang akan bertugas menjaga keamanan negara indonesia di perbatasan.


Setelah Ibrahim dan Dika pergi kini Diki hendak pergi untuk bersiap berjaga kembali di kapal, namun sebelum ia kembali kedua orang tua Dika menghampiri Diki dan menanyakan akan sosok gadis yang bernama Wulan itu.


"Nak Diki boleh minta waktunya sebentar?"Tanya Kedua orang tua Dika.


"Oh ada apa ibu dan bapak?"Tanya Diki heran.


"Ada hal penting yang mau ibu dan bapak tanya sama kamu."Ucap Kedua orang tua Dika.


"Baiklah bapak dan ibu, lebih baik kita ngobrolnya mencari tempat duduk saja."Ucap Ku.


Kini mereka melangkahkan kaki dan mencari tempat duduk untuk ngobrol santai, sampailah mereka di salah satu warung di sanah. Mereka memesan sebuah minuman.


"Mba!!!"Teriak Diki.


pelayan warung itu menghampiri Diki.


"Mau pesan apa bapak dan ibu?"Tanya pelayan sambil kasih menu.


"Silahkan bapak dan ibu mau pesan apa?"Tanya Diki menyodorkan menu.


"Ibu es teh manis saja dan bapak kopi."Ucap Mereka.


"Baiklah, mba kopi 2 dan es teh manisnya satu."Ucap Diki.


"Itu saja bapak dan ibu?"Tanya Pelayan.


"Iya itu saja mba."Ucap Diki melirik ke arah bapak dan ibu.


"Baik, di tunggu sebentar ya bapak dan ibu."Ucap Pelayan.


Kini pelayan pergi untuk menyiapkan minuman mereka, bapak dan ibu Dika memulai buka obrolan mereka.


"Ibu saja tanya sama nak Diki."Ucap Bapak.


"Baiklah pak."Ucap Ibu.


Kini ibu memulai menanyakan kepada Diki.


"Nak Diki, ibu mau tanya sama kamu mengenai Wulan yang sejujurnya. Jadi ibu mohon sama kamu menjawab kepada kita tanpa ada yang di umpeti."Ucap Ibu.


"Baiklah bu, ibu mau tanya apa?" Nanti biar Diki akan menjawabnya."Ucap Diki.


"Jadi beginih nak Diki, kami baru dapat kabar dari Dika kalau dia sudah putus dari pacarnya Umi. Kata Dika ia tidak mencintai Umi lagi karena Umi telah berselingkuh kepada Dia, sedangkan sekarang Dika sedang dekat sama Wulan betul begitu?"Tanya Ibu.


"Iya betul bu apa yang di ucapkan oleh Dika kepada Ibu."Ujar Diki.


"Lalu nak Diki bisa kamu mempertemukan kami kepada Wulan?"Tanya mereka.


"Untuk apa ibu dan bapak bertemu sama Wulan?"Tanya Diki penasaran.


"Kami ingin sekali mengenal calon istri Dika, soalnya kata Dika ia gadis baik, cerdas dan mandiri serta pekerja keras."Ucap Mereka.


Diki kaget bukan main setelah mendengar ucapan kedua orang tua Dika itu, ia sendiri bingung mau memperkenalkan kepada mereka namun Wulan masih belum sadarkan diri.


"Bagaimana ini aku harus menjawabnya?"Tanya Diki di dalam hati.


Kemudian Ibu Dika melihat Diki melamun dan kembali bertanya lagi.


Namun pesanan mereka telah sampai, Diki meminum kopi dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari ibu dan mengambil napas dalam-dalam.


"Gimana nak Diki bisa pertemukan kita sama Wulan?"Tanya Mereka.


"Bisa bu, namun tidak sekarang karena Wulan sedang kerja dan kuliah."Ucap Diki.


"Yasudah kamu atur saja kapan Wulan bisa ketemu kami, kami ingin bertemu sama Wulan sebelum Dika anak kami pulang dan kalau cocok kita akan segera menikahkan mereka berdua."Ucap mereka.


"Apa Dika berkata seperti itu bu?"Tanya Diki kaget mendengar jawaban ortu Dika.


"Iya, soalnya kami melihat Dika sangat mencintai Wulan dan antusias sekali dia menceritakan kepada kami mengenai Wulan, kami pikir Wulan anak baik sampai anak kami banyak melakukan perubahan positif."Ucap Mereka.


"Syukur alhamdulillah bu, saya senang mendengarnya Dika banyaj berubah."Ucap Diki tersenyum.


"Jadi gimana nak Diki mau kan pertemukan kami sama Wulan?"Tanya Mereka.


"Iya bu, insyaallah saya akan mencoba membujuk Wulan suapaya mau ketemu sama kalian."Ucap Diki.


"Terimakasih banyak ya nak Diki sudha mau membantu kami, kami tunggu kabar nak Diki."Ucap Mereka sambil meninggalkan Diki.


Diki hanya menganguk saja dan tersenyum ke arah mereka, setelah mereka berdua pergi Diki gelisah tak menentu.


"Yaallah makin kacau dan rumit sekali ini."Ucap Diki kesal sambil mengacak-acak rambut.


"Bagaimana aku menjelaskan kepada Wulan dan orang tuanya tentang orang tua Dika mau ketemu, bagaimana tanggapan Wulan yang masih sakit hati di tinggal Ibrahim menikah?"Tanya Diki di dalam hati.


Kini Diki pergi meninggalkan warung dan kembali ke dalam kapal.

__ADS_1


__ADS_2