Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
48.ANDK


__ADS_3

Pagi hari.


Wulan bersiap-siap untuk berangkat kerja.


"Ma, aku berangkat kerja dulu."Ucap Wulan sambil mencium tanggan ibu.


"Iya sayang hati-hati di jalan."Ucap Mama.


"Iya."Kata Wulan.


Wulan pergi meninggalkan rumah, sampailah Wulan di tempat kerja.


"Hari ini kita akan ada breafing pagi di kantor ya, gabungan juga sama tema lain."Ucap Fauzan.


"Baik bang."Ucap Wulan.


"Baik bang."Ucap Devi.


"Baik bang."Ucap Mia.


"Baik bang."Ucap Fazar.


"Itu muka kamu sama kaki kenpa Lan?"Tanya Fauzan.


"Habis jatuh bang."Ucap Wulan tersenyum.


"Yaampun sampai kaya gitu."Ucap Fauzan melihat ke arah Wulan sambil heran.


"Iya bang, Wulan tidak hati-hati."Ucap Ku.


"Sudah di obatin belum beb?"Tanya Fazar.


"Sudah bang, semalam aku obatin sambil di kompres air es batu."Kata Ku tersenyum.


"Ada ada aja kamu, jatuh sampai kaya begitu."Kata Fazar sambil geleng-geleng kepala.


Fauzan hanya diam saja sambil tersenyum ke arah Wulan. Mereka pun akhirnya berangkat buat breafing gabungan. Wulan yang boncengan sama Mia, sedangkan Fazar sama Devi.


Kini mereka tiba di tempat breafing.


"Alhamdulillah akhirnya sampai juga."Batin Wulan.


Mereka semua menuju ke dalam kantor buat arahan, namun seketika Wulan melihat Umi dan Dina salah satu pacar dari Dika dan Diki.


"Sepertinya itu perempuan aku kenal, tapi dimana ya?"Gumam Wulan bertanya sambil melirik ke arah mereka.


Mereka semua duduk di kantor sambil dengar arahan. Setelah selesai dari brreafing mereka mencari makan siang.


"Kita cari makan dahulu yuk, sebelum kembali ke toko."Ucap Devi.


"Ayo."Jawab mereka bersamaan.


Tiba lah mereka di kantin.


"Aduh!!!"Teriak Wulan yang ke sengol oleh Umi.


"Oh maaf mba, aku tidak melihatnya."Ucap Umi.


"Iya mba tidak apa, lain kali hati-hati."Ucap Wulan.


Umi pun melihat Wulan.


"Loh kamu bukannya yang teman dari temannya pacar aku kan?"Tanya Umi terkejut.


"Iya mba."Ucap Wulan tersenyum.


"Loh muka mba kenapa?"Tanya Umi heran.


"Habis jatuh mba."Ucap Wulan tersenyum.


"Yaallah sampai babak belur kaya gitu, kaya habis di tampar oleh seseorang."Ucap Umi melihat muka Wulan.


Wulan hanya tersenyum saja tidak menjawab.


"Mba aku duluan ya, sudah di tunggu sama teman aku di sanah."Ucap Wulan.


"Eh, tunggu mba boleh minta nomornya?"Tanya Umi sambil menarik tanggan Wulan.


"Oh boleh mba."Ucap Wulan.


"Berapa nomornya?"Tanya Umi.


"Catat ya mba, 081234567890."Ucap Wulan.


"Sudah ku catat mba, itu nomor aku ya mba. Semoga kita bisa berteman dengan baik ke depannya."Ucap Umi.


"Aamiin."Kata Wulan.


Wulan meninggalkan Umi dan kembali ke tempat duduk mereka sambil menunggu pesanan datang.


Di sisi Umi dan Dina.


"Lama sekali kamu!!!"Rajuk Dina kesal.


"Maaf, tadi aku habis ketemu temannya dari pacar kita tau."Ucap Umi.


"Serius!!!"Teriak Dina kaget.


"Iya, sudah tidak usah pakai TOA suaranya. Berisik tau di telingga Ku."Ucap Umi melirik ke Dina.


"Iya maaf, aku hanya kaget saja."Kata Dina.


"Kamu tau tidak, muka dia babak belur gitu kaya habis di tampar oleh seseorang."Ucap Umi.


"Hah di tampar?"Kata Dina sampil kaget.


"Iya, kecilin ih suaranya berisik nanti kalau di dengar oleh orangnya gimana?"Ucap Umi.


"Kok bisa sih?"Tanya Dina penasaran.


"Aku juga tidak tau, tapi kata dia tadi sih jatuh."Ucap Umi.


"Apa pacarnya suka main tanggan ya?"Tanya Dina penasaran.


"Aku juga tidak tau deh kalau itu."Ucap Umi.


Kini tibalah pesanan mereka datang.


"Yasudah makan saja dahulu, nanti kita tanya sama pacar kita saja."Ucap Dina.


"Oke."Ucap Umi.


Mereka semua makan siang.


Di sisi Wulan.


"Coba kamu ceritakan kepada kita, kenapa mukamu sampai kaya gitu?"Tanya Fazar sambil melihat Wulan.


"Jatuh bang."Ucap Wulan.


"Jatuh dimana?"Tanya Fazar heran.


"Jatuh pada saat naik motor."Ucap Wulan.


"Kalau jatuh dari motor tidak seperti itu."Ucap Devi menaikan alisnya.


Wulan terdiam sambil minum.


"Yaallah aku lupa kalau kak Devi adalah seorang perawat."Batin Wulan.


"Ayo dong beb jawab jujur saja sama kita."Ucap Fazar penasaran.


"Hhhhmmm."Ucap Wulan terbata bata.


"Ini mah kaya habis di tampar oleh seseorang."Ucap Devi sambil melihat muka Wulan kanan dan kiri.


Wulan hanya terdiam dan nunduk kepala saja.


"Aduh aku bingung harus cerita apa tidak."Gumam Wulan.


"Apa pacar kamu main tanggan sama kamu?"Tanya Fazar melihat Wulan sambil nada emosi.


"Tidak bang, pacar aku baik sama aku."Ucap Wulan tersenyum.


"Itu pipi pasti sakit banget sampai kaya gitu."Ucap Mia.


"Iya Mia, tapi sekarang sudah tidak terlalu sakit."Kata Ku.


"Coba lihat sinih mukanya, aku obatin dahulu."Ucap Devi sambil mengobati muka Wulan.

__ADS_1


"Oh baiklah kak."Ucap Wulan.


"Mia, coba kamu beli es batu ke ibu warung dan meminta kain untuk kompres muka Wulan."Ucap Devi.


"Baik kak."Ucap Mia.


Mia meminta Ibu warung kain buat kompres dan membeli es batu. Kini Mia sampai di tempat.


"Ini kak, yang tadi kamu minta."Ucap Mia.


"Maaf iya ini agak sakit sedikit, kamu tahan saja ya."Ucap Devi.


"Iya kak."Kata Ku.


"Aaaauuuu...Aaaauuu." Teriak Wulan yang kesakitan.


"Tahan dong, sebentar lagi selesai."Ucap Devi sambil kompres ke pipi Wulan.


Wulan di kompres sama Devi dan kini mereka sudah selesai.


"Terimakasih ya kak."Ucap Wulan.


"Iya sama-sama."Ucap Devi.


"Jadi betulkan itu di tampar oleh seseorang beb."Ucap Fazar melirik Wulan.


"Iya bang ini emang di tampar oleh seseorang, tapi bukan pacar aku yang nampar."Ucap Wulan.


"Lalu siapa yang tampar?"Tanya Fazar dengan nada tinggi dan khawatir.


"Oleh seorang perempuan Gila bang."Kata Ku.


"Kok bisa???"Tanya Devi penasaran.


"Iya bisa teh."Ucap Ku.


"Kamu di labrak sama selingkuhannya pacar kamu?"Tanya Fazar.


"Bukan bang."Ucap Wulan.


"Terus???"Tanya mereka bersamaan.


Wulan menceritakan semua kejadian pada saat itu.


"Apa jadi mereka senekad itu?"Tanya Mia.


"Iya Mia."Kata Wulan.


"Terus kamu tidak berani balas?"Tanya Fazar.


"Sudah di balaskan sama pacar aku bang."Ucap Wulan.


"Lain kali kamu jadi perempuan itu harus kuat ya jangan lemah nanti yang ada kamu kalah sama pelakor itu."Ucap Devi.


"Iya kak."Kata Wulan.


"Terus itu kaki kenapa?"Tanya Fazar penasaran.


"Jatuh bang dari motor."Kata Wulan.


"Serius?"Tanya Fazar melirik Wulan.


"Iya bang."Kata Ku.


"Masih sakit kakinya?"Tanya Fazar.


"Sudah agak mendingan bang."Ucap Ku.


Mereka semua kembali ke toko untuk bekerja, kini tiba di toko.


"Terimaksih ya Mia sudah mau anter."Ucap Wulan.


"Sama-Sama kak."Ucap Mia.


Di toko.


"Selamat siang semua."Kata Wulan.


"Siang."Ucap Hani dan Nana.


"Itu muka kenapa?"Tanya Nana.


"Habis jatuh mba."Ucap Wulan.


"Iya mba."Ucap Wulan tersenyum sambil menaruh tasnya.


Wulan duduk di dalam toko. Nana menghampiri Wulan sambil melihat muka Wulan kanan dan kiri.


"Kaya habis di tampar ini mah Lan."Ucap Nana.


"Tidak kok mba."Ucap Wulan.


"Jangan bohong sama aku, coba cerita kamu kenapa?"Tanya Nana penasaran.


"Hhhhmmm."Kata Wulan sambil menghelaikan nafas.


"Aku janji tidak akan bilang sama siapa pun."Ucap Nana sambil mengangkat kedua jarinya.


"Baiklah."Ucap Wulan.


Wulan kini menceritakan semua kepada Nana.


"Yaallah terus kamu tidak melawan sama sekali?"Tanya Nana yang greget sama Wulan.


"Tidak mba, kan sudah di balas sama pacar aku."Ucap Wulan.


"Seharusnya kamu balas Lan."Ucap Nana.


"Buat apa mba, biar Allah saja yang balas."Ucap Wulan.


"Aku semakin kagum saja sama kamu."Ucap Nana.


"Ah mba biasa aja."Ucap Wulan.


"Masih sakit tidak itu?"Tanya Nana.


"Sudah tidak sakit mba."Ucap Wulan tersenyum.


"Yasudah kalau sakit bilang saja ya, biar nanti aku obatin."Ucap Nana.


"Terimakasih ya mba, mba memang yang terbaik."Kata Wulan sambil peluk Nana.


Mereka kembali bekerja. Kini tibalah mereka untuk pulang ke rumah.


"Aku pulang duluan ya semua."Ucap Wulan pamitan kepada Hani dan Nana.


"Hati-Hati ya di jalan You."Ucap Hani sambil cipika cipiki.


"Hati-Hati di jalan Lan."Ucap Nana sambil cipika cipiki.


"Iya terimakasih ya semua."Ucap Wulan sambil melambaikan tanggannya.


"Sampai di rumah itu obatin lagi ya mukanya."Ucap Nana penuh perhatian.


"Iya mba."Kata Ku di ojol.


Wulan kembali ke rumahnya, kini Wulan tiba di rumah.


Tok...Tok...Tok... pintu di ketuk.


"Assalamuallaikum Ma!"Teriak Wulan.


"Waalaikumsalam kak."Kata Mama.


"Aku masuk ke kamar dulu ya ma."Kata Ku menunduk.


"Kamu kenapa nunduk kaya gitu?"Tanya Mama penasaran.


"Tidak apa-apa ma."Kata Ku.


"Coba lihat mukanya kenapa?"Tanya Mama mengangkat muka Wulan.


Wulan beranikan diri mengangkat muka dan dagunya.


"Astagfirullohalazim kak, muka kamu kenapa?"Tanya Mama kaget.


"Tidak apa-apa ma, hanya habis dari jatuh aja semalam."Ucap Ku sambil pegang tanggan Mama.


Mama langsung duduki Wulan di bangku dan segera mengambil kotak obat serta es batu buat kompres anaknya.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sinih ya, Mama mau ambil kota obat dulu dan Mama obati luka kamu itu."Ucap Mama Khawatir.


"Tapi sudah aku obatin Ma, sudah tidak sakit lagi."Ucap Wulan.


"Sudah kamu duduk di sinih saja biar Mama obatin luka di kaki kamu itu."Ucap Mama.


"Baiklah Ma."Kata Ku tersenyum.


Mama berlari mengambil kota obat. Wulan duduk di sofa sambil mengotak atik ponselnya sambil membuka sosial media dan dilihatlah bahwa Ibrahim sedang mengunduh foto Wulan di sanah.


"Dia...Iya hanya Dia!!! @Pooh."


Wulan hanya tersenyum melihat foto dirinya waktu pertama kali diajak ketempat kerjanya.


Mama datang membawa kota obat.


"Cie anak Mama senyum senyum sendiri."Kata Mama sambil perhatikan anaknya yang pegang ponsel.


"Hehehe."Kata Ku tersenyum.


"Ayo kenapa nih."Kata Mama penasaran.


"Mama keppo deh."Kata Ku.


"Yasudah sinih Mama obatin dulu lukanya."Kata Mama.


"Oke Ma."Ucap Ku sambil taruh ponselnya.


"Luruskan kaki kamu di atas bangku."Kata Mama.


Wulan hanya menganguk dan meluruskan kakinya di atas bangku. Mama langsung mengobati luka Wulan.


"Tahan sedikit ini agak sakit."Kata Mama.


Wulan hanya menganguk saja.


Di sisi lain.


Umi sedang video call sama Dika.


"Assalamuallaikum bang."Kata Umi.


"Waalaikumsalam sayang, gimana kerja kamu?"Tanya Dika.


"Alhamdulillah lancar bang, gimana kamu hari ini jaga?"Tanya Umi.


"Alhamdulillah, Iya jaga hari ini."Ucap Dika.


"Jaga sama siapa?"Tanya Umi.


"Sama Diki dan Ibrahim."Ucap Dika sambil mengarahkan ponselnya kepada kedua temannya.


"Oh."Ucap Umi.


"Iya sayang."Kata Dika.


"Bang, aku mau cerita deh."Kata Umi.


"Mau cerita apa?"Tanya Dika.


"Tapi aku ragu bang."Ucap Umi.


"Ragu kenapa?"Tanya Dika penasaran.


"Hhhmmm, tapi apa ini harus di ceritain atau tidak ya."Ucap Umi.


"Cerita saja, siapa tau abang bisa bantu kamu."Ucap Dika.


"Jadi ginih bang, tadi waktu aku breafing pagi di kantor. Aku ketemu salah satu pacar teman abang dan dia mukanya kaya habis di tampar."Ucap Umi.


"Hah???" Siapa sayang???"Tanya Dika terkejut.


"Kalau tidak salah namanya Wulan deh."Ucap Umi


"Apa Wulan?"Kata Dika kaget.


"Iya bang, itu kalau tidak salah pacar teman kamu kan?"Tanya Umi.


"Iya itu memang pacar teman Ku."Ucap Dika.


"Memangnya teman kamu orangnya kasar ya sampai dia berani menampar kaya gitu."Kata Umi penasaran.


"Teman ku tidak seperti itu."Ucap Dika.


"Terus dia kenapa dong bisa seperti itu?"Tanya Umi penasaran.


"Memangnya tadi Wulan bilangnya seperti apa?"Tanya Dika penasaran.


"Kata Wulan habis jatuh bang."Ucap Umi.


"Iya mungkin yang di bilang oleh Wulan betul habis jatuh."Ucap Dika.


"Tidak mungkin bang, orang aku lihat tidak habis dari jatuh kok."Ucap Umi.


"Yasudah sekarang kamu tidur ya sudah malam, nanti abang tanya sama teman abang kejadiannya seperti apa."Ucap Dika menghilangkan rasa curiga Umi.


"Terimakasih ya bang."Ucap Umi tersenyum.


"Sama-Sama sayang."Ucap Dika tersenyum.


"Kalau begitu aku tidur dahulu."Ucap Umi.


Dika mematikan ponselnya dan menaruh ponselnya, lalu Dika menghampiri Ibrahim.


"Widih lagi pada asyik ngopi sambil ngobrol nih."Ucap Dika meledek kedua temannya.


"Eh kamu sudah datang Dika?"Tanya Ibrahim.


"Iya, habis biasa setor muka dulu."Ucap Dika tersenyum.


Dianguk oleh kedua temannya.


"Gimana hubungan kamu sama pacar kamu?"Tanya Dika kepada Ibrahim.


"Baik kok."Ucap Ibrahim.


"Aku dengar dari Umi tadi kalau Wulan habis di tampar ya?"Tanya Dika penasaran.


"Serius Wulan di tampar?"Tanya Diki terkejut.


"Iya kata Umi seperti itu tadi, makanya aku nanya sama yang bersangkutan."Ucap Dika.


"Iya kemarin aku ketemu sama perempuan yang kalian buat game itu loh waktu di cirebon."Ucap Ibrahim.


"Hah serius?"Tanya Dika dan Diki bersamaan sambil terkejut.


Ibrahim menceritakan semua kejadian kepada mereka berdua.


"Yaallah kasihan sekali Wulan."Ucap Diki.


"Terus gimana keadaan Wulan?"Tanya Dika penasaran.


"Dia agak sedikit memar di wajahnya."Ucap Ibrahim melas.


"Apa tidak sebaiknya di bawa saja ke dokter buat di periksa?"Tanya Dika.


"Kalau kamu mau periksa aku punya kenalan dokter yang bagus."Ucap Diki.


"Aku sudah suruh dia buat periksa, karena dia juga habis jatuh kesengol mobil bareng sama aku sebelum kejadian ini. Tapi anak itu selalu bilang tidak apa-apa."Ucap Ibrahim.


"Mungkin Wulan tidak mau buat kamu panik kali."Ucap Dika.


Ibrahim hanya diam sambil memandangi foto Wulan.


"Kasihan sekali kamu, harus jadi seperti ini."Batin Ibrahim sambil mencium fotonya.


Dika menepuk bahu Ibrahim.


"Sudah jangan sedih lagi, kita kan mau tugas ke NATUNA. Kalau kamu banyak pikiran seperti itu malah yang ada jadi kacau pekerjaannya."Ucap Dika.


"Kok aku jadi ragu ya buat ke NATUNA, aku jadi khawatir buat ninggalin Wulan di sinih."Ucap Ibrahim khawatir.


"Sudah jangan di pikirkan, serahin saja semua sama Allah."Ucap Diki.


"Aku yakin kok Wulan manita yang hebat dan kuat buat hadapi semuanya, karena kalau wanita yang sedang menjalin hubungan sama seorang Abdinegara adalah wanita yang Tangguh dan tahan banting."Ucap Dika menghibur Ibrahim.


"Iya semoga saja dia bisa menjadi wanita seperti itu.Ucap Ibrahim.


Mereka bertiga kembali melanjutkan piket jaga malamnya.

__ADS_1


"Semoga kamu benar jodohku, semoga Ibuku bisa luluh hatinya menerima kamu."Batin Ibrahim.


Bersambung,,,


__ADS_2