
Wulan masih duduk termenung sambil mengigat kembali seolah air mata jatuh di pipinya.
"Apa aku harus menyudahi hubungan ini sama kamu?"Gumam Wulan gelisah.
Wulan tersadar waktu sudah semakin malam, Wulan kembali ke rumahnya untuk istirahat.
"Assalamuallaikum."Ucap Wulan dengan muka murung.
"Waaallaikumsalam, kamu kenapa mukanya di tekuk?"Tanya Mama menatap.
"Tidak apa-apa ma."Ujar Ku melewati mama.
"Kamu baik-baik saja kak?"Tanya Mama.
Namun tidak di jawab oleh Wulan, Wulan hanya melewati mama dan menuju ke dalam kamarnya.
Di kamar Wulan yang nampak rapih dan bersih, Wulan rebahan di atas kasur dan memgambil foto dia bersama Ibrahim.
"Kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu?"
"Kenapa kamu tidak mau dengarkan penjelasan aku?"
"Kenapa kamu banya berubah?"
Di isi kepala Wulan banyak ribuan pertanyaan tidak pasti dan tidak akan ada jawabannya, Kemudian Wulan membanting foto tersebut.
Prang... suara bingkai foto terjatuh di lantai.
"Aku benci sama kamu mas, aku sangat benci!!!"Teriak Wulan.
"Aku sangat kecewa sama kamu mas!!!"Teriak Wulan membuang bantal ke lantai kamarnya.
Isak tangis suara Wulan yang begitu keras membuat sang ibu mendengar suara anak gadisnya yang sedang menangis.
Kini air mata telah deras menetes di pipi manisnya Wulan, Wulan masih meraung-raung atas kejadian hari ini yang masih belum ada jawaban.
Kemudian Wulan mengambil ponselnya dan memulai mengetik pesan kepada Ibrahim.
"Loh kok malahan tidak aktif nomornya?"
"Kemana dia?"
"Apa aku sudah di blokir atau dia ganti nomor baru lagi?"
Sang ibu yang mendengar suara lemparan bingkai foto terjatuh itu dan menuju ke kamar Wulan.
"Ada apa dengan anak itu?"
"Apa sebaiknya aku melihat ke kamarnya saja?"
"Ah sudah lah, aku harus mengecek kondisi Wulan tadi pulang mukanya murung."
Banyak ribuan pertanyaan sang ibu yang khawatir dengan kondisi anak gadisnya, kini sang ibu menuju ke kamar Wulan.
Mama melangkahkan kaki menuju ke kamar Wulan, sampailah mama di depan pintu kamar Wulan.
Mama yang mendengar Wulan sedang bersedih dan memulai mengetuk pintu kamar Wulan.
Tok...Tok...Tok... suara pintu di ketuk.
"Kak, mama masuk ke dalam ya?"Tanya Mama.
Wulan yang mendengar suara sang ibu langsung menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
"Loh itu kan suara mama, ada apa mama ke sinih ya?"Tanya Wulan sambil mengelap air matanya.
Wulan kemudian bangun dari kasur
"Iya sebentar mama."Kata Ku.
Wulan menuju ke pintu kamar untuk membuka pintu, kini pintu di buka.
Sang ibu langsung memeluk Wulan.
"Kamu tidak apa-apa kak?"Tanya Mama penasaran.
"Iya aku baik-baik saja ma."Kata Ku.
"Lalu tadi mama mendengar suara bingkai jatuh di lantai?"Tanya Mama heran.
"Oh itu ma, tadi aku tidak sengaja kesengol dan jatuh di lantai ma."Ucap Ku tersenyum.
"Kamu yakin?"Tanya Mama kemudian sambil selidiki anaknya.
"Iya aku yakin ma."Ujar Ku.
"Kamu baik-baik saja kan sama Ibrahim tadi?"
"Atau kamu sedang marahan sama Ibrahim?"
Banyak pertanyaan sang ibu kepada Wulan, namun Wulan hanya tersenyum dan memeluk sang ibu.
"Sudah lah kak, kalau emang kamu sama dia tidak bisa bertahan lebih baik di lepaskan saja. Toh masih banyak laki-laki lain yang jauh lebih baik dari dia."Ucap Mama.
"Iya ma."Ucap ku tersenyum.
"Sudah ya kak, kamu jangan menangisi laki-laki yang tidak pernah mengharapkan kamu dan tidak mau memperjuangkan kamu. Lebih baik kamu lepasin saja."Kata Mama memeluk Wulan dan menghapus air matanya.
Kini Wulan sudah mulai sedikit lega setelah mendengar ucapan sang ibu.
"Terimakasih ya ma, atas nasehatnya."Kata Ku.
"Yasudah lebih baik, kamu istirahat saja karena hari semakin malam dan besok kamu harus bekerja dan kuliah."Ucap Mama.
"Iya mama."Ujar Wulan tersenyum.
"Yasudah mama mau tidur dahulu ya kak, kamu istirahat yang cukup jangan diambil pusing dan di pikirin lagi. yang ada kamu nanti masuk rumah sakit lagi kalau banyak pikiran."Ucap Mama menasehati anak gadisnya.
"Baik ma."Kata Ku.
Kini Mama pergi meninggalkan kamar Wulan dan menuju ke kamarnya, Mama melangkahkan kaki menuju kamarnya. Tibalah mama di dalam kamarnya.
"Kasihan sekali anak gadis ku."Ucap Mama.
__ADS_1
"Dia harus rela membanting tulang untuk membiayai adik-adiknya sekolah, terus juga membiayai kita sekeluarga."Ujar Mama.
Mama menghelaikan napas panjang.
"Semoga saja kamu bisa mendapatkan jodoh yang terbaik."Ucap Mama.
"Ah sudah lah lebih baik aku istirahat saja."Ujar Mama.
Kini mama sudah tertidur dengan lelap.
Di kosan Ibrahim sudah sampai dan langsung membanting pintu.
Brugh...
"Kamu kenapa datang-datang seperti orang sedang kesurupan kaya gitu?"Tanya Diki heran menatap temannya.
"Aku sedang kesal."Ucap Ibrahim dengan nada tinggi.
"Kesal sama siapa ?"Tanya Diki.
"Sama Wulan."Ujar Ibrahim emosi.
Diki dan Dika yang mendengar langsung terkejut.
"Apa sama Wulan???"Tanya Mereka bersamaan.
"Iya."Kata Ku.
"Kenapa kamu bisa kesal sama dia?"Tanya Diki heran.
"Memangnya Wulan buat masalah apa?"Tanya Dika penasaran.
"Kalian tau kan, burung yang di kasih oleh Atasan kita itu."Ucap Ibrahim.
"Iya tau, lalu kenapa sama burungnya?"Tanya Mereka bersamaan.
"Waduh bisa gawat ini."Batin Dika.
"Waktu aku ke sana, ternyata RED sudah mati."Ucap Ibrahim.
"Oh."Ucap Mereka bersamaan.
Ibrahim yang melihat muka teman-temannya biasa saja tidak ada panik dan khawatir itu.
"Loh kalian tidak panik sih?"
"Apa Kalian sudah tau kalau RED sudah mati?"
"Atau kalian emang sudah tau dan merahasiakan ini semua dari aku?"
"Ayo jawab dong."
Dika dan Diki menenangkan Ibrahim.
"Lebih baik kamu duduk dulu di sanah, nanti kita jelasin yamg sebenarnya."Ucap Diki.
"Apa jadi kalian sudah tau, kalau RED sudah mati dan kalian tidak kasih tau sama aku?"Tanya Ibrahim dengan kesal dan emosi.
"Udah lebih baik duduk dahulu, kita akan jelasin sama kamu."Ucap Dika.
Kini mereka bertiga duduk di sofa dan membicarakan mengenai RED.
"Ayo mulai siapa yang mau jelasin!!"Teriak Ibrahim kesal dan gebrak meja.
"Siapa yang mau jelasin nih."Bisik Diki kepada Dika.
"Biar aku saja."Kata Dika.
Diki hanya menganguk saja, kini Dika mulai menjelaskan kepada Ibrahim.
Ibrahim yang kaget setelah mendengar penjelasan dari Dika.
"Jadi begitu ceritanya."Ucap Dika.
"Apa ternyata RED terjatuh dari sarangnya?"Tanya Ibrahim penasaran.
"Lalu RED mengigil di lantai?"Tanya Ibrahim heran.
"Aaahhh!!"Teriak Ibrahim sambil mengacak rambutnya.
Diki menepuk bahu Ibrahim.
"Kamu sebaiknya tidak perlu marah sama Wulan seperti itu, karena tidak semuanya kesalahan Wulan dan dia tidak bersalah karena tidak bisa menjaga RED."Ucap Diki.
"Tapi tetap saja dia tidak bisa menjaga kepercayaan aku."Kata Ibrahim kesal.
"Iya aku tau, tapi tidak semua orang bisa merawat binatang peliharaan termasuk Wulan. Karena merawat burung itu tidak mudah dan rumit."Ucap Dika.
"Tapi gimana aku bisa menjelaskannya kepada pak Rudi kalau RED bisa mati?"Tanya Ibrahim panik.
"Sabar, nanti kita bantu menjelaskannta kok."Ucap Mereka bersamaan.
"Lalu tadi kamu emosi dan Wulan tidak kenapa-kenapa kan?"Tanya Dika penasaran.
Ibrahim hanya diam dan termenung sambil berpikir dan mengigat kejadian tadi, dia telah memaki Wulan dan membentak Wulan dengan keras.
"Hhhhmmm."Ucap Ibrahim menghelaikan napas.
"Jawab dong, Wulan tidak apa-apa kan?"Tanya Dika panik.
"Hhhmmm sepertinya sekarang dia sedang menangis."Ujar Ibrahim melas.
"Apa???"Teriak Dika.
Ibrahim yang melihat Dika sangat care dan perhatian sama Wulan, membuat hati Ibrahim cemburu.
"Sabar dong, Wulan pasti baik-baik saja kok."Ucap Ibrahim.
"Baik gimana maksudnya?"Tanya Diki.
"Jangan bilang kalau tadi kamu habis marahin Wulan?"Tanya Dika menyelidiki.
"Iya maaf, aku kelepasaan karena emosi."Ucap Ibrahim.
__ADS_1
Dika yang kesal mendengar ucapan Ibrahim dan langsung meninju ke arah muka Ibrahim.
Tonjokan dari tanggannya sudah mulai mendarat di pipi Ibrahim.
"Kamu kenapa tonjok aku?"Tanya Ibrahim.
"Sudah berapa kali aku katakan sama kamu, kalau kamu tidak boleh menyakiti Wulan."Ucap Dika.
"Jadi kamu suka sama Wulan?"Tanya Ibrahim.
"Iya saya suka sama Wulan, dan jika kamu menyatiki Wulan lagi lebih baik kamu putusin Wulan."Kata Ku kesal.
"Aku sampai kapan pun tidak akan pernah melepaskan Wulan sama kamu."Ucap Ibrahim.
"Oh begitu, lalu bagaimana hubungan kamu sama Ayu?"
"Apa Wulan akan terima kebusukan kamu itu?"
"Bagaimana rasa sakitnya dia telah di selingkuhi oleh kamu?"
"Kamu lebih baik berpikir sebelum bertindak terlalu jauh."
"Kalau kamu tidak mampu dan tidak sangup lebih baik kamu kasih sama aku saja, biar aku yang bahagiakan dia."
Ibrahim yang mendengar ancaman dari sahabatnya itu, kini Ibrahim hanya terdiam dan berpikir sesaat.
"Aku tidak boleh sampai gegabah dan membiarkan Wulan dengan laki-laki ini."Gumam Ibrahim.
"Bagaimana supaya aku bisa keluar sama kondisi seperti ini."Batin Ibrahim.
"Aku harus berbuat apa sekarang?"Tanya Ibrahim di dalam hati.
Ibrahim memulai dengan katanya.
"Lalu bagaimana hubungan kamu bersama Umi?"Tanya Ibrahim.
"Aku sama Umi baik-baik saja, tidak seperti kamu yang selingkuh di belakang Umi."Ucap Dika menaikan satu alis.
"Oh begitu kah, lalu bagaimana kalau Umi tau pacarnya selingkuh dengan wanita atasannya?"Tanya Ibrahim sombong.
"Aku akan katakan jujur dan bilang sebenarnya sama dia."Ucap Dika.
"Lalu kamu tidak pernah memikirkan perasaan Umi?"Tanya Ibrahim.
"Aku sudah berkata jujur bukan berarti tidak memikirkan perasaan dia, aku cuman tidak mau kalau orang baik dan polos seperti Wulan termakan oleh buaya seperti kamu."Ucap Dika kesal.
"Umi pastinya akan sangat marah dan kecewa sama kamu."Ucap Ibrahim.
"Iya jelas marah, tapi marahnya tidak akan lama dan berlarut-larut dan tidak akan sesakit setelah lama di bohongi dan di bodohi."Ucap Dika pergi meninggalkan Ibrahim.
Ibrahim meninju tanggannya ke arah pintu.
Brugh...
Diki hanya melihat pertengkaran sahabatnya saja tidak bisa berkata apa pun, karena dia tidak mau terlibat terlalu dalam akan masalah kedua sahabatnya.
Diki menghampiri Ibrahim.
"Sudah lah kamu sabar saja, kalian berdua harus saling koreksi masing-masing."Ucap Diki.
"Kalian berdua sama-sama salah menurut ku, kalian tidak bisa seperti ini terus. Lama-Lama aku juga pusing melihat kalian."Ucap Diki.
"Lebih baik kalian harus saling terbuka kepada pasangan kalian satu sama lain, dan selesaikan masalahnya secepatnya. Karena tidak baik satu atap berantem akibat satu wanita."Ucap Diki menepuk bahu Ibrahim.
"Aku harap kalian berpikir dan bersikap dewasa, memlih wanita yang terbaik agar tidak salah melangkah."Kata Diki.
"Iya kamu benar, terimakasih ya."Ucap Ibrahim tersenyum dan menepuk bahu Diki.
"Yasudah aku mau jaga dahulu, kini aku dapat jaga malam."Ucap Diki.
Ibrahim hanya menganguk saja dan menuju ke dalam kamar untuk istirahat.
Diki pergi menuju ke kapa, sedangkan Dika menjemput Umi pulang dari tempat kerjanya dan Ibrahim merenung di dalam kamar.
"Astagfirullohalazim aku lupa kasih kabar sama Wulan dan meminta maaf sama dia."Ucap Ku.
Ibrahim mengambil ponselnya dan ternyata ponselnya mati total kerena habis batterai.
"Aaahhh sial habis baterai lagi."Ucap Ibrahim kesal sambil membanting ponselnya ke kasur.
Ibrahim mengambil dompetnya dan melihat foto Wulan di dalam dompetnya.
"Lan, aku minta maaf atas perlakuan aku sama kamu tadi."Gumam Ibrahim melihat foto Wulan.
"Lan aku tau kamu pasti sedang bersedih atas ucapan aku tadi."Batin Ibrahim.
"Lan, aku mohon sama kamu kasih aku kesempatan satu kali lagi untuk menebus kesalahan aku sama kamu."Batin Ibrahim mencium foto Wulan.
Ibrahim memejamkan kedua matanya dan sambil teringat akan kebersamaan mereka berdua waktu mereka bersama.
"Andai saja waktu bisa di putar kembali Lan, aku akan perjuangin kamu sama mama aku."Gumam Ibrahim.
"Aku sudah coba membujuk mama aku untuk bisa terima kamu sebagai menantunya, namun lagi-lagi mama aku menolaknya. Aku jadi bingung dan pusing harus berbuat apa sekarang."Batin Ibrahim sedih.
Tidak terasa waktu sudah sangat larut malam, kini Ibrahim tertidur dengan pulas dan bermimpi ia menikah bersama Wulan namun ternyata di dalam mimpinya sang ibu malah mempermalukan di acara pernikahan mereka.
"Bu jangan seperti itu sama Wulan, ia gadis yang sangat baik untuk ku."Ucap Ku.
Ibrahim terbangun dari mimpinya dan tersadar kalau itu hanyalah mimpi.
"Astagfirullohaalazim umpung itu hanya mimpi saja."Ucap Ibrahim mengelus dada dan membuang napas.
"Kenapa mimpi ku sangat buruk kali ini?"Tanya Ibrahim heran.
"Semoga tidak terjadi apa-apa sama ibu dan Wulan."Ucap Ku.
"Lebih baik aku shalat saja deh."Ucap Ku.
Kini Ibrahim mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat malam serta memohon ampunan kepada sang pencinta.
Setelah selesai dari shalat malam dan berdoa kini hati Ibrahim masih tidak tenang dan memikirkan mimpi itu dan kejadian hari ini, ia telah berkata kasar kepada Wulan.
Ibrahim tidak bisa istirahat dengan tenang, ia menyeduh secangkir kopi untuk menenangkan pikiran di kepalanya.
__ADS_1
Ibrahim duduk di sofa dan menikmati secangkir kopi di pagi hari.
Bersambung,,,