Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
79. Lamaran


__ADS_3

Di satu sisi Wulan sedang di jenguk oleh teman-temannya dan menanyakan akan kesehatan Wulan, namun salah satu teman Wulan sedang video call Ari yang ingin mengetahui keberadaan Wulan.


"Lan maaf ganggu, tapi teman aku mau ngobrol sama kamu sebentar saja. Ia khawatir sama kondisi kamu."Ucap salah satu teman Wulan.


"Siapa?"Tanya Ku heran.


Lalu ia kasih telponnya kepada Wulan, Wulan yang kaget yang menelpon adalah Ari sahabat kecilnya dahulu di Bandung.


"Hallo A ada apa?"Tanya Wulan.


"Bagaimana kondisi kamu?"Tanya Ari.


"Alhamdulillah aku sudah jauh lebih baik."Kata Ku.


"Kamu sakit apa teh, sampai di rawat seperti itu?"Tanya Ari penasaran.


"Ceritanya panjang A."Kata Ku.


"Yasudah intinya saja kenapa?"Tanya Ari penasaran.


"Aku kecelakaan."Ucap Wulan.


"Apa kecelakaan kok bisa teh?"Tanya Ari terkejut.


"Ceritanya panjang A, itu lagi dimana A?"Tanya Wulan heran melihat sahabatnya beda tempat lokasi.


"Oh aku sedang pulang kampung ke Palembang, aku sedang merawat mama sakit. Maaf tidak bisa jenguk teteh di sanah."Kata Ari.


"Iya tidak apa A, salamkan saja buat Mama di sanah dari Aku dan semoga mama cepat sembuh."Kata Ku tersenyum.


"Aaamiin, terimakasih teh dan semoga teteh bisa segera sembuh juga."Kata Ku.


"Aaamiin A, yasudah A nanti lagi telponnya aku mau istirahat."Ucap Wulan.


Kemudian Wulan kasih telponnya lagi kepada temannya, salah satu temannya celetuk kalau Wulan ada hubungan sama Ari.


"Eh cie yang habis di telpon sama pacar."Kata Salah satu temannya.


"Itu bukan pacar, tapi teman bermain waktu kecil."Kata Ku.


"Ah masa sih?" Tapi kelihatannya kalian bukan teman saja kok, tadi kita perhatikan dia sangat peduli sama kamu seperti peduli pacar loh."Ujarnya.


"Bukan kok hanya teman saja."Kata Ku.


Mereka saling bisik satu sama lain dan menatap Wulan, namun sama Wulan hiraukan saja karena menurut Wulan ia dan Ari hanya sebatas teman masa kecil tidak lebih.


Beberapa menit kemudian mama sama Tante masuk ke dalam kamar Wulan, dan teman-teman Wulan berpamitan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.


Kini telpon Wulan berdering tanda telpon masuk dari atasan Wulan.


"Assalamuallaikum bang, maaf aku tidak bisa masuk kerja hari ini karena aku sakit."Ucap Ku.


"Waaallaikumsalam kamu sakit apa Lan?"Tanya Fauzan.


"Aku habis kecelakaan kemarin bang, ini aku sedang di rawat di rumah sakit ABCD."Ucap Wulan.


"Yasudah semoga lekas sembuh, terus kamu foto obat dan kamu sedang di rawat ya."Ucap Fauzan.


"Baik bang."Kata Ku.


Kini telpon di matikan oleh Wulan, Wulan menaruh ponselnya setelah kirim foto diri yang di rawat di rumah sakit bersama obat.


Wulan kembali tertidur setelah makan dan minum obat.


Di satu sisi Dina dan Diki telah rapih untuk ke acara lamaran Ibrahim, Diki telah menunggu Dina di depan pintu kosan.


"Sayang ayo cepat, nanti kita akan terlambat."Ucap Diki.


"Iya sebentar lagi pakai heels."Ucap Dina.


Akhirnya mereka berdua berangkat menuju lokasi dimana Ibrahim lamaran, sampailah mereka berdua di lokasi tersebut.


Dina dan Diki masuk ke dalam rumah Ibrahim dan memberikan selamat kepada mereka berdua.


"Selamat ya kalian berdua, semoga langeng sampai ke perlaminan."Ucap Diki bersalaman kepada Ibrahim.


"Selamat ya mba."Kata Dina tersenyum.


Setelah selesai dari acara lamaran mereka berdua berpamitan untuk menjenguk Umi dan Wulan.


"Kita pamit dahulu ya."Ucap Mereka.


"Tidak mau makan?"Tanya Ibrahim.


"Sudah kenyang, tadi sebelum ke sinih sudah makan."Ucap Diki.


Akhirnya Diki dan Dina pergi meninggalkan lokasi Ibrahim dan segera ke rumah sakit untuk menjenguk.


Di satu sisi Ayu sedang panik akan kejadian yang telah ia lakukan bersama Ningsih kemarin malam itu, wajah Ayu gelisah dan was-was. Ibrahim yang melihat ekspresi raut wajah Ayu dan bertanya kepada Ayu.


"Ayu kamu kenapa seperti itu mukanya?"Tanya Ibrahim heran.


"Tidak kenapa-kenapa mas."Kata Ku.


"Kamu sakir atau tidak enak badan?"Tanya Ibrahim.


"Tidak mas, aku baik-baik saja."Kata Ku.


"Muka kamu kaya panik seperti itu?"Tanya Ibrahim.


"Tidak mas, perasaan kamu saja."Ucap Ayu.


Ibrahim hanya terdiam saja melihat ekspresi muka Ayu yang sedang gelisah dan panik.


"Aneh, ada apa sama Ayu?"Tanya Ibrahim di dalam hati.


Kini Diki dan Dina telah sampai di rumah sakit, ia menemui Wulan terlebih dahulu karena Wulan kondisinya benar-benar jauh lebih parah dari Umi.


Sampailah mereka di ruangan Wulan.


Tok...Tok...Tok... suara di ketuk oleh mereka.


Mama mempersilahkan masuk mereka, kini mereka masuk ke dalam ruangan. Mama dan tante menunggu di depan ruangan dan bergantian di dalam.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi kamu?"Tanya Dina khawatir.


"Alhamdulillah aku sudah jauh lebih mendingan."Kata Ku tersenyum.


"Alhamdulillah aku senang mendengarnya."Ucap Dina.


"Lalu bagaimana dengan kondisi Umi?"Tanya Wulan penasaran.


"Umi baik-baik saja, hari ini dia sudah boleh pulang."Kata Dina.


"Alhamdulillah aku senang dengarnya."Kata Ku.


"Semoga kamu cepat sembuh ya."Kata Dina.


"Terimakasih banyak atas doanya."Ucap ku.


"Sama-Sama Lan."Ucap Dina.


"Kalian rapih sekali mau kemana?" Atau kalian habis dari mana?"Tanya Wulan heran menatap mereka berdua rapih.


"Waduh aku harus menjawab apa."Gumam Dina.


"Aku tidak mungkin bilang sejujurnya sama Wulan."Batin Dina.


Dina hanya diam saja, lalu Diki yang menjawab.


"Kami mau ke kondangan Lan, habis dari jenguk kamu dan Umi kita akan ke kondangan."Ucap Diki.


"Oh, memangnya siapa yang menikah?"Tanya Wulan penasaran.


"Teman kapal Lan."Ujar Diki.


"Oh, apakah Ibrahim juga di undang?"Tanya Wulan.


"Sepertinya semua orang di kapal di undang olehnya."Kata Ku.


"Oh jadi seperti itu ya, kenapa Ibrahim tidak ada kabar selama 2hari?"Tanya Wulan kepada Diki.


"Mungkin dia lagi sibuk mengurus berkas-berkas untuk berlayar besok."Ujar Diki.


Wulan menghelaikan napasnya dan bersedih, Dina yang melihat ekspresi muka Wulan tidak tega itu dan memeluk Wulan.


"Jangan pasang muka sedih seperti itu, kamu harus segera sembuh biar kita bisa berkumpul lagi."Ucap Dina.


"Iya terimakasih, aku yakin pasti sembuh kok."Kata Ku tersenyum.


Diki tidak tega melihat raut wajah Wulan itu dan meninggalkan ruangan Wulan, Diki menunggu Dina di area smoking sambil merokok agar pikirannya tenang.


Diki mengirim pesan kepada Dina, bahwa ia di smoking area, Dina membaca pesan dari Diki.


Dina yang tau kalau pacarnya tidak tega melihat Wulan bersedih, ia membiarkan diri menenangkan pikirannya. Kini Dina berpamitan kepada Wulan untuk menjenguk Umi.


"Lan, aku pamit mau ke ruangan Umi dahulu ya."Kata Ku.


"Iya, sampaikan salam aku sama Umi."Ujar Wulan.


"Iya nanti aku sampaikan, semoga kamu cepat sembuh."Ucap Dina.


"Tante aku pamit dahulu, mau bertemu sama Umi yang sama sedang sakit juga di rawat di sinih."Ucap Dina.


"Oh iya neng, terimakasih ya sudah banyak bantu kami dan terimkasih sudah mau jenguk Wulan.Ucap Mama.


"Iya sama-sama tante."Ucap Dina.


Ia melangkahkan kaki menuju tempat Umi, sampailah Dina di kamar Umi.


Dina langsung memeluk sahabatnya itu.


"Bagaimana kondisi kamu?"Tanya Dina.


"Aku sudah di bolehkan pulang sama dokter."Kata Ku.


"Alhamdulillah aku senang dengarnya."Ucap Dina memeluk Umi.


"Bagaimana kondisi Wulan?"Tanya Umi penasaran.


"Alhamdulillah Wulan sudah sadarkan diri."Kata Ku.


"Alhamdulillah deh, aku pengen sekali melihatnya sebelum pulang."Kata Umi.


"Iya nanti aku temanin kamu."Ucap Dina.


"Kamu kenapa berpakaian rapih seperti ini?"Tanya Umi.


"Aku habis ke acara lamaran Ibrahim."Ucap Dina.


"Apa jadi Ibrahim lamaran dengan wanita lain dan pacarnya sedang di rawat di rumah sakit dia tidak tau?"Tanya Umi terkejut.


"Iya kami sengaja tidak kasih tau mereka berdua, karena kami tidak mau mereka terlalu bersedih sampai larut lamanya. Semoga mereka bisa mendapatkan cinta sejati."Ucap Dina.


"Tapi bagaimana pun Wulan dan Ibrahim harus sama-sama tau kondisi mereka, walaupun kenyataannya sakit."Ujar Umi.


"Tapi aku tidak tega melihat Wulan."Ucap Dina.


"Aku jadi kasihan sama Wulan."Kata Ku sedih.


"Yasudah lebih baik kamu siap-siap sebelum pulang kita jenguk Wulan dahulu gimana?"Tanya Dina.


Umi hanya menganguk dan bersiap-siap, Dina yang melihat temannya sudah sehat itu ikut merasakan gembira. Dina mengambil ponselnya dan menghubungi Diki bahwa ia dan Umi mau jenguk Wulan di kamarnya, namun Diki sudah memberitahu Dina untuk tidak keceplosan mengenai lamaran Ibrahim dan dianguki oleh Dina.


Kini mereka berdua sampai di kamar Wulan, Wulan yang gembira melihat temannya sudah sembuh itu. Mereka bertiga berpelukan bersama.


"Lan gimana keadaan kamu?" Apakah masih ada yang sakit?"Tanya Umi memperhatikan Wulan.


"Alhamdulillah aku jauh lebih sehat."Ucap Wulan.


"Alhamdulilah, terus bagaimana hubungan kamu sama Dika?"Tanya Umi.


"Dika mau ke Papua untuk bertugas di sanah selama 1 tahun."Ucap Ku.


"Lalu kamu tidak mengantarnya?"Tanya Umi.


"Dika sedang pulang kampung hari ini, kemungkinan pulang kembali nanti malam karena besok kapal yang membawa ke Papua berangkat pagi."Ucap Wulan.

__ADS_1


"Oh seperti itu, lalu gimana hubungan kamu bersama Ibrahim?"Tanya Umi.


Namun Dina sudah memberikan kode kepada Umi untuk tidak bertanya apa pun mengenai Ibrahim, Umi tidak bisa membaca kode dari Dina itu ia tetap mempertanyakan kepada Wulan.


"Aduh Umi, kenapa malah tanya itu."Batin Dina panik serta gelisah.


Umi yang melihat ekspresi wajah Dina itu membuat Umi bertanya di dalam hati.


"Apa aku salah ngomong ya?"Tanya Ku di dalam hati.


Wulan menjawab pertanyaan Umi.


"Sepertinya dia sibuk untuk mengurusi tugas berlayarnya, dari kemarin tidak ada kabar sama sekali."Kata Ku.


"Apa kamu sudah menghubungi dia?"Tanya Umi.


"Ponsel aku mati, dan lupa bawa charger jadi aku belum bisa menghubungi dia. Mungkin besok aku akan hubungi."Kata Ku.


"Oh baik lah, semoga kamu segera sembuh."Ucap Umi memeluk Wulan.


Dina yang sedang panik dan gelisah akibat pertanyaan dari Umi, kini mereka semua pamitan sama Wulan untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Lan, aku pulang dahulu ya. Semoga kamu lekas sembuh."Ucap mereka bersamaan.


"Terimakasih ya."Kata Ku.


Mereka pergi meninggalkan kamar Wulan, di tengah perjalanan Dina menegur Umi.


"Kak, kamu kenapa bilang Wulan seperti itu?" Sudah aku kodein tidak peka saja."Ucap Dina kesal.


"Iya aku mana tau, kode kamu seperti tu."Ucap Umi.


"Bagaimana kalaj Wulan tau, pacarnya hari ini lamaran?"Tanya Dina.


"Lama kelamaan pasti ketahuan."Ujar Umi.


Wulan yang mendengar suara ribut Umi dan Dina dan bangun dari tempat tidurnya, lalu di lihat oleh mama.


"Mau kemana kamu kak?"Tanya Mama heran.


"Mau ke toilet sebentar Ma."Ucap Ku.


Mama hanya menganguk saja, Wulan berjalan keluar dan mengikuti sumber suara Umi dan Dina berdebat. Sampailah Wulan melihat Umi dan Dina berdebat itu.


"Kenapa mereka berdebat seperti itu ya?"Tanya Wulan.


"Lebih baik aku samperin saja deh."Ucap Wulan.


Wulan telah sampai di depan mereka berdua, mereka sedang asyik membahas masalah lamaran Ibrahim tanpa mengetahui keberadaan Wulan.


Wulan yang kaget mendengar mereka berbicara itu.


"Apa jadi Ibrahim lamaran hari ini?"Tanya Wulan kaget.


Mereka berdua menoleh ke sumber suara, mereka berdua panik serta terkejut akan keberadaan Wulan di belakang mereka berdua.


"Wulan!!!"Teriak mereka berdua.


"Jawab pertanyaan aku dahulu, jadi Ibrahim lamaran hari ini?"Tanya Wulan tegas.


"Maaf kan kami Lan."Ucap mereka.


"Jadi benar Ibrahim lamaran?"Tanya Wulan penasaran.


"Iya betul Lan."Ucap Umi.


"Aku harus ke sanah."Kata Ku.


Lalu di hadang oleh mereka berdua.


"Kamu belum sepenuhnya sembuh Lan, lebih baik besok saja kamu ke sanahnya."Ucap mereka.


"Aku harus lihat sendiri dengan mata kepala aku."Ucap Wulan emosi.


"Bagaimana kalau kamu nanti droup di sanah?"Tanya Dina.


"Aku sudah sembuh."Ucap Wulan kesal.


Wulan kabur dari mereka dan menuju ke rumah Ibrahim, Dina menghubungi Diki kalau Wulan kabur ke rumah Ibrahim dan Umi kasih tau mama Wulan kalau Wulan ke tempat Ibrahim.


Keadaan di sanah menjadi kacau balau saat Wulan mengetahui pacarnya akan lamaran, Wulan yang merasa sakit hati akibat di selingkuhi dan frustasi oleh pacarnya. Diki, Dina, Umi serta mama Wulan menuju ke rumah Ibrahim untuk mengejar Wulan.


Beberapa menit kemudian Wulan telah sampai di rumah Ibrahim, Wulan masih pakai baju rumah sakit dan impusan di tanggan melihat rumah Ibrahim banyak tamu berdatangan.


Wulan beranikan diri untuk masuk ke dalam, namun ternyata saat Wulan lihat di sanah Ibrahim dan Ayu senang acara foto bersama.


Seketika hati Wulan hancur berkeping-keping melihat pacarnya telah bersama wanita lain, dan ternyata wanita itu adalah teman kampusnya.


"Mas!!!"Teriak Wulan.


Ibrahim menoleh ke sumber suara, di lihat Wulan sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Ibrahim yang kaget melihat Wulan memakai baju rumah sakit itu, Ibrahim menghampiri Wulan.


"Kamu kenapa bisa ke sinih?"Tanya Ibrahim.


"Maksud kamu apa ini mas?"Tanya Wulan heran.


"Aku bisa jelasin ini semua sama kamu."Kata Ku.


"Kamu lamaran sama dia?"Tanya Wulan.


"Kamu tenang dulu jangan emosi, nanti aku jelasin."Ucap Ibrahim.


"Mau jelasin apa lagi mas, semua udah jelas."Ucap Wulan menangis.


Ibrahim memeluk Wulan dengan erat, Wulan yang di peluk Ibrahim itu membuat Wulan merasa sedih dan kecewa.


"Maafkan aku Lan, maafkan aku sekali lagi aku sudah gagal meyakinkan Ibuku untuk kamu."Gumam Ibrahim sambil memeluk Wulan.


Wulan yang bingung di peluk oleh Ibrahim itu, dan Ayu keluar melihat Ibrahim memeluk perempuan yang ia tabrak tadi malam.


"Apa jadi wanita itu sudah sadar?"Tanya Ayu di dalam hati.


Ayu hanya diam mematung melihat Ibrahim memeluk Wulan dengan hangat itu.

__ADS_1


__ADS_2