
Wulan tertidur dengan lelap setelah habis video call.
Pagi hari sinar matahari telah menyinari di setiap sudut rumah Wulan, Wulan bangun dari tidurnya dan hendak menuju ke tempat kerja.
Wulan telah siap untuk berangkat kerja, Wulan bercermin dan menatap wajah serta badannya.
"Sepertinya aku tidak jelek-jelek banget, terus juga aku tidak terlalu gemuk."Ucap Wulan menatap cermin.
"Tapi siapa ya wanita dan lelaki yang aku lihat kemarin mirip sekali sama Ibrahim."Ujar Wulan.
"Ah sudah lah lebih baik aku berangkat kerja saja."Kata Ku.
Wulan pergi meninggalkan rumah dan menuju ke tempat kerja.
"Tumben kamu sudah rapih?"Tanya Mama heran menatap Wulan.
"Iya, aku harus semangat dan lebih fresh saja ma. sudah ah aku mau berangkat dulu."Kata Ku.
"Hati-Hati di jalan kak."Ujar Mama.
Wulan hanya menganguk dan meninggalkan rumah, kini Wulan sudah sampai di lokasi kerja.
Seperti biasa Wulan selalu menyapa teman-temannya itu.
"Selamat pagi semua."Kata Ku dengan senyuman hangat.
"Pagi."Ucap Mereka bersamaan.
"Kamu hari ini cerah sekali Lan?"Tanya Hani heran.
"Kamu habis ketemu sama customer kemarin ya?"Tanya Ratna mengoda Wulan.
"Iiisssshhh bukan mba."Kata Ku.
"Iya dong, kan harus semangat kalau menjemput rezeki itu."Kata Ku tersenyum.
"Gimana kelanjutan kamu sama customer kemarin?"Tanya Hani penasaran.
"Kamu terima dia sebagai calon suami kamu tidak?"Tanya Ratna mengoda Wulan.
"Apaan sih kalian, aku sama Irwan cuman temanan saja. Tidak lebih soalnya dia juga punya wanita."Kata Ku.
"Tidak mungkin Lan, kata Ibunya dia baru saja putus sama pacarnya."Ucap Ratna.
"Masa sih mba?"Tanya Wulan heran.
"Iya Lan, tanya saja sama Hani dia saksi kok."Ujar Ratna.
"Iya betul apa yang di bilang oleh Ratna."Kata Hani.
Wulan menghelaikan napas panjang.
"Hhhhhmmmm baiklah, apa kata kalian saja."Kata Ku.
"Kalau di kasih taunya."Ujar Ratna.
Wulan hanya melamun sambil berpikir.
"Apa iya yang di ucapkan oleh Ratna itu."Gumam Wulan.
"Tapi kalau di pikir-pikir ucapan Ibunya Irwan ada benarnya juga."Batin Ku.
Wulan yang sedang melamun di toko tiba-tiba ponselnya berdering tanda telpon masuk.
Kring...Kring...Kring suara ponsel Wulan berdering.
Wulan menatap ponselnya ternyata hanya nomor saja.
"Aku angkat tidak ya?"Tanya Wulan di dalam hati.
"Kalau diangkat nanti orang iseng, terus kalau tidak diangkat takutnya penting."Batin Wulan menatap ponsel.
Tibalah Ratna menghampiri Wulan.
"Lan itu ponselnya berdering terus, diangkat dong siapa tau penting."Ucap Ratna menetup bahu Wulan.
"Tapi ini nomor tidak di kenal mba."Kata Ku heran.
"Angkat saja siapa tau penting."Ujar Ratna.
"Baiklah."Kata Ku.
Wulan mengangkat telpon.
"Assallamuallaikum."
"Waaalaikumsalam mba, ini saya ibunya Irwan."
"Oh ada apa bu?"
"Waduh ternyata ibunya Irwan, tapi mau apa ya telpon aku."Gumam Wulan berpikir sejenak.
"Maaf ya kalau mengangu waktu mba kerja."
"Tidak apa kok bu."
"Jadi gimana mba kemarin di jemputkan sama anak saya?"
"Oh iya bu, terimakasih banyak ya bu sudah mau repot-repot jemput saya pulang kerja."
"Tidak apa mba, saya sangat senang jika mba bisa dekat sama anak saya."
Wulan hanya tersenyum dan tidak menjawab apa pun.
"Mba gimana tawaran saya waktu itu?"
Wulan langsung terkejut dan berpikir.
"Aku harus bilang apa ini?" Aku harus bagaimana cara menjelaskannya?" Apa aku harus jujur saja?"Gumam Wulan banyak pertanyaan di dalam kepalanya.
"Mba kenapa diam saja?"
"Oh maaf bu, saya hanya butuh waktu untuk menjawabnya dan lagi pula saya masih kuliah."
"Oh tidak apa mba saya mengerti, saya yakin kalau mba sama anak saya akan berjodoh karena saya melihat mba baik orangnya dan tidak seperti pacarnya."
Wulan hanya terdiam dan berpikir.
"Oh jadi dia masih punya pacar, tapi kenapa waktu itu ibunya bilang sama teman-teman kalau sudah putus ya?"Tanya Wulan di dalam hati.
__ADS_1
Wulan kembali menjawab.
"Aaamiin bu, semoga saya sama anak ibu bisa berjodoh."
"Aaamiin mba, kapan-kapan main ya mba ke rumah ibu tunggu loh."
"Iya bu insyaallah saya akan mampir ke sanah."
"Nanti deh mba saya akan bujuk anak saya buat ajak mba ke rumah, kita bisa masak dan ngobrol bareng."
"Iya bu terimakasih banyak sudah mau baik sama saya."Ucap Wulan tersenyum.
"Iya mba, saya senang bisa kenal sama mba dan maaf ya jika anak saya sikap dan sifatnya dingin dan cuek sama mba. Karena dia seperti itu orangnya mba."
"Iya bu, tidak apa kok saya mengerti."
"Yasudah mba, lanjut saja kerjanya. Nanti saya sambung lagi kasihan mba kerja jadi terganggu."
"Iya bu, terimakasih sudah mau telpon saya dan saya lanjut kerja bu."
"Iya mba, semangat kerjanya dan Assalamuallaikum."
"Waallaikumsalam bu."
Telpon dimatikan dan Wulan kembali bekerja, namun teman-teman Wulan yang sedari tadi menguping obrolan Wulan sama Ibunya Irwan dan langsung mengoda Wulan.
"Dari camer ya Lan?"Tanya Ratna mengoda Wulan.
"Bukan mba, dari customer."Kata Ku.
"Ah masa sih."Ujar Hani mengoda Wulan.
"Iya betul teh."Kata Ku tersenyum.
"Tapi kita mendengar tadi bahwa kamu mau makan bersama dan ngobrol."Ucap Ratna.
"Kalian nguping obrolan aku tadi?"Tanya Wulan terkejut.
"Sedikit."Kata Mereka bersamaan.
"Iiiissshhh dosa tau nguping obrolan orang itu."Kata Ku kesal.
"Iya habisnya kamu telpon di toko sih, jadinya kita tidak sengaja mendengarnya."Ucap Mereka bersamaan sambil mengoda Wulan.
Wulan hanya tersenyum saja, Wulan kembali mengingat kejadian telpon ibunya Irwan.
"Kenapa bisa ya ibunya Irwan begitu baik sama aku, tapi kenapa Ibunya Ibrahim tidak seperti ibunya Irwan ya?"Batin Wulan bertanya.
"Kalau saja ibunya Ibrahim bisa seperti ibunya Irwan, aku pasti senang sekali dan aku pasti waniya paling bahagia bisa mendapatkan mertua dan calon suami yang sangat sayang sama aku."Gumam Wulan.
Hani mengampiri Wulan dan menepuk bahunya.
"Aku perhatikan kamu sering melamun Lan?"Tanya Hani menatap Wulan.
"Tidak kok mba, perasaan kamu saja."Kata Ku.
"Kamu sedang sakit, atau kamu sedang dalam masalah ?"Tanya Hani.
"Tidak kok teh, aku baik dan sehat kok."Ujar Ku.
"Lalu kenapa kamu sering melamun?"Tanya Hani heran.
Wulan hanya tersenyum saja, Wulan melanjutkan pekerjaannya.
Wulan mengambil ponselnya dan memulai mengetik.
"Assalamuallaikum mas, kamu jadi hari ini jemput?"
Wulan kembali menutup ponselnya dan bekerja.
Beberapa menit kemudian Ibrahim yang selesai dari bertugas dan mengecek ponselnya.
"Oh ternyata Wulan kirim pesan."Kata Ku.
Ibrahim membalas pesannya.
"Waaallaikumsalam Lan, iya jadi jemput. Kamu tunggu saja ya 15 menit aku jemput kamu."
Ibrahim bergegas untuk bersiap-siap menjemput Wulan, Ibrahim sampai di kosannya dan bertemu sama teman-temannya.
"Tumben sudah rapih?"Tanya Diki heran.
"Iya mau ketemu sama calon."Ucap Ibrahim.
"Siapa?"Tanya Dika heran menatap Ibrahim.
"Wulan lah."Kata Ku tersenyum.
"Tumben ketemu sama Wulan, biasanya tidak pernah ketemu sama dia dan sekarang malahan bertemu sama dia."Ujar Dika.
"Kamu kenapa sih, kayanya tidak suka kalau aku ketemu sama Wulan?"Tanya Ibrahim heran.
"Bukan begitu, tapi kalau kamu tidak suka sama dia bilang terus terang lah bukan malah mendua seperti itu."Ucap Dika dengan nada kesal.
"Loh aku suka dan sayang sama Wulan, tidak mendua juga dan lagi pula itu kemauan ibuku bukan aku."Ucap Ibrahim.
"Tegas dong jadi pria itu."Kata Dika.
"Tunggu deh, jangan bilang kalau kamu suka sama Wulan?"Tanya Ibrahim menatap Dika.
"Memangnya kenapa kalau aku suka sama Wulan?"Tanya Dika dengan nada emosi.
"Apa jadi kamu benaran suka sama Wulan?"Tanya Ibrahim terkejut.
"Iya, kalau kamu tidak bisa bahagiain Wulan aku akan siap dan pasang badan buat Wulan. Kamu ingat ucapan aku ini."Ucap Dika dengan kesal dan nada tinggi.
"Aku tidak akan melepaskan Wulan sampai kapan pun, aku juga tidak akan kasih Wulan sama kamu."Ujar Ibrahim.
"Oke kita lihat saja kedepannya gimana."Ucap Dika pergi meninggalkan Ibrahim.
Ibrahim langsung meninju pintu kosan.
Brugh..
"Sial Dika kenapa bilang seperti itu?"Tanya Ibrahim di dalam hati.
"Apa betul dia suka sama Wulan?" Ah itu tidak boleh terjadi dan tidak akan pernah terjadi."Gumam Ibrahim kesal.
Diki menghampiri Ibrahim.
__ADS_1
"Sudha lah, kalian lebih baik tidak usah ribut."Ucap Diki.
"Kalau emang masih bisa di selesaikan dengan baik-baik dan kepala dinggin coba dibicarakan saja."Ujar Diki.
"Kalau menurut aku, setelah melihat pertengkaran kalian tadi. Aku lihat kalian berdua salah. Coba kamu lihat deh bagaimana kamu menitipkan Wulan dahulu sama Dika, terus kenapa bisa kamu berpikir seperti itu?"Tanya DiKi menasehati Ibrahim.
"Iya kamu betul, aku juga yang salah."Ucap Ibrahim.
"Terimakasih ya sudah mau ingatin aku."Ujar Ibrahim.
Ibrahim duduk dan berpikir sesaat.
"Apa yang diucapkan oleh Diki tadi betul, aku yang sendiri meminta menjaga Wulan sama Dika dan kenapa aku malah marah dan emosi seperti itu."Batin Ibrahim.
"Lebih baik aku jemput Wulan saja deh."Gumam Ibrhaim.
Ibrahim bangun dari duduknya dan menghelaikan napas panjang, langsung pergi menjemput Wulan.
"Aku berangkat ya mau ketemu sama Wulan."Ucap Ibrahim.
"Iya hati-hati."Kata Diki.
Ibrahim pergi dan menuju ke tempat bekerja Wulan.
"Kasihan sekali hubungan kalian begitu rumit dan banyak masalah."Ucap Diki.
"Satu sisi sudah ada wanita yang baik dan polos tapi masih di sia-siakan."Ujar Diki.
"Aku kalau jadi dia tidak akan menuruti perkataan ibu ku dan akan memperjuangkan cinta kita walau banyak badai menerjang."Kata Diki.
"Toh ini juga hanya masalah perbedaan suku, dan pengalaman pribadi ibunya dan kakaknya saja dan lagi pula mereka kan semua lelaki bukan wanita. Pasti beda lahm"Ucap Diki.
"Ah sudah lah lebih baik aku istirahat saja, aku tidak mau mencampuri urusan mereka terlalu rumit dan berliku."Ucap Diki menghelaikan napas panjang.
Di satu sisi Dika kesal dengan ucapan Ibrahim itu, dan sedang menuju ke tempat Umi bekerja.
"Apa maksudnya tadi dia seperti itu?" Tidak sadarkah dia sama perlakuan dia terhadap Wulan?" Tidakkah dia berpikir dahulu menitipkan Wulan kepada Ku."Ucap Dika berbagai pertanyaan di dalam hati.
"Andai saja kenal sama Wulan duluan, pasti Wulan aku buat bahagia dan tidak akan menderita seperti ini."Ujar Dika kesal.
"Aku akan selalu menjaga dan mengawasimu dari jauh Lan."Kata Dika.
Kini Dika kembali menjemput Umi. Beberapa menit kemudian Ibrahim telah sampai di toko Wulan.
Ibrahim melangkahkan kaki menuju toko Wulan.
Wulan sedang melayani customer yang datang membeli, tidak tau kalau Ibrahim sudah datang ke toko.
Ibrahim menatap Wulan dari jauh.
"Lan, maafkan aku yang tidak bisa bahagiakan kamu."Ucap Ibrahim.
"Kamu wanita kuat, tangguh, serta mandiri semoga kamu bisa di restui oleh ibuku."Gumam Ibrhaim.
"Aku selalu berdoa semoga hubungan kita baik-baik saja."Batin Ibrahim.
Kini Ibrahim telah sampai di toko Wulan.
"Ayo pulang tuan putri."Kata Ibrahim tersenyum.
Wulan kaget karena mendengar suara Ibrahim.
"Loh kamu kapan sampainya mas?"Tanya Wulan heran.
"Aku baru sampai kok."Kata Ibrahim tersenyum.
"Kok tidak kirim pesan dahulu kalau mau jalan atau sampai tidak kasih kabar?"Tanya Wulan heran menatap Ibrahim.
"Aku mau kasih kejutan sama kamu."Ucap Ibrahim mencolek hidung Wulan.
"Tapi gimana kalau aku sedang sibuk, atau aku tidak bisa pulang cepat?"Tanya Wulan penasaran.
"Tenang saja, aku akan tetap tunggu kamu sampai selesai."Ucap Ibrahim menatap Wulan.
"Oh baiklah mas, tunggu sebentar ya aku mau siap-siap dahulu."Kata Ku.
"Iya sayang."Ucap Ibrahim.
Ibrahim menunggu di depan toko, Wulan kembali masuk ke dalam gudang dan bergegas untuk bersiap-siap pulang.
Seketika teman-teman Wulan mengoda Wulan.
"Cie di jemput sama pacar nih."Ucap Hani mengoda Wulan.
"Cie sudah tidak galau lagi kayanya?"Tanya Ratna mengoda Wulan.
"Apa sih kalian tetap saja mengoda aku."Kata Ku kesal.
"Sudah sanah cepat sedikit ganti bajunya, terus dandan yang cantik."Ucap Ratna mengoda Wulan.
Wulan hanya mengelengkan kepalanya dan masuk ke dalam gudang untuk ganti baju dan beres-beres tas.
Di dalam gudang Wulab berpikir sesaat.
"Waduh bagimana kalau dia ke rumah dan menanyakan RED ya?"Tanya Wulan di dalam hati.
"Aku harus bilang dan jawab apa sama Ibrahim kalau RED sudah mati."Gumam Wulan.
"Aku harus cari jawaban ini dari sekarang kalau menanyakan RED."Batin Wulan.
"Aku harus tanya sama Dika ini solusinya Gimana."Kata Ku.
Wulan mengetik di ponselnya dan kirim sama Dika.
"Assalamuaaikum kak, aku mau tanya ini bagaimana ya cara jelasin kepada Ibrahim tentang RED?"
Wulan selesai mengetik di ponselnya dan menutup ponselnya.
Kini Wulan kembali ke depan dan bertemu sama Ibrahim.
"Bagaimana menurut kalian?"Tanya Wulan kepada teman-temannya.
"Masyaallah kamu cantik sayang."Ucap Hani meluk Wulan.
"Kamu cantik Lan, kamu beda pokoknya mah selalu cantik dan manis."Ucap Ratna tersenyum.
"Kamu bisa saja mba."Ujar Wulan.
"Yasudah sanah kamu temui, sang pangeran itu di sanah."Ujar Ratna.
__ADS_1
"Iya mba, aku berangkat dahulu ya."Ucap Wulan.
Wulan tersenyum dan melangkahkan kaki menuju ke arah Ibrahim.