Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
60.ANDK


__ADS_3

Diki dan Dina telah sampai di kosan.


"Aku masuk dulu kak."Kata Ku.


"Iya, aku tidak mampir ya sudah malam tidak enak sama yang lain."Ucap Dika sambil cium kening Dina.


"Iya tidak apa, hati-hati di jalan."Ujar Dina.


Kini Dina turun dari mobil Dika, sampailah Dina di depan pagar kosan.


Suara klakson mobil Dika berbunyi


Tin...


"Kalau sudah sampai kabarin kak."Ujar Ku sambil melambaikan tanggannya.


Kini Dina masuk ke dalam kosannya.


Tok...Tok...Tok... suara pintu di ketuk.


"Assalamuallaikum."Teriak Dina.


Namun tidak ada jawaban dari siapa pun.


"Sepertinya belum sampai."Batin Dina.


Dina mengambil kunci cadangan dan masuk ke dalam.


Dina langsung mandi dan bersih-bersih diri sehabis itu istirahat sambil tunggu Umi, Sebelum dia mandi ia mengirim pesan kepada Umi dan Dika.


Pesan Umi.


"Kak, aku sudah sampai di kosan. Nanti kalau pulang bawa makanan ya itu pun kalau sempat saja, kalau tidak sempat tidak apa soalnya aku tidak bawa makanan. Takutnya nanti malam lapar dan tidak ada yang jual makanan kalau malam di dekat kosan."


Pesan Dika.


"Assalamuallaikum kak, gimana kamu sudah sampai di kosan ?".


"Sudah selesai aku kirim pesan, kini aku harus mandi."Ucap Ku.


Dina menaruh ponselnya di kasur dan segera mandi


Di satu sisi Ibrahim menuju ke rumah Wulan.


Wulan baru saja sampai di rumahnya dan segera mandi ia lalu menaruh ponselnya diatas kasur.


"Rasanya lelah sekali hari ini."Batin Wulan menghelaikan nafas.


"Aku mandi saja deh, supaya lebih segar dan fresh."Kata Ku tersenyum.


Kini Wulan mandi dan ponselnya dalam keadaan slient.


Tibalah Ibrahim di depan rumah Wulan.


"Apa aku masuk ya ke dalam?"Tanya Ibrahim ragu.


"Apa Ia sudah pulang atau belum ya?"Tanya Ibrahim berpikir.


"Apa aku hubungi Wulan dahulu saja."Ujar Ibrahim.


Ibrahim langsung menelpon Wulan, namun tidak di jawab oleh Wulan.


"Kenapa tidak di jawab ya?"Tanya Ibrahim heran.


"Apa lagi sibuk beres-beres toko atau lagi di jalan ya?"Tanya Ibrahim.


"Aku sebaiknya taruh saja hadiah ini di depan rumahnya."Gumam Ibrahim melihat sekotak hadiah.


Ibrahim bergegas menuju pintu rumah Wulan.


"Aku taruh dimana ya hadiahnya?"Tanya Ibrahim melihat sekitar.


"Aku taruh di sinih saja deh."Batin Ku.


Ibrahim menaruh hadiahnya di dekat pintu rumah Wulan.


"Aku sebaiknya nunggu sampai Wulan datang saja dari kejauhan, siapa tau dia pulang dan langsung melihat hadiahnya."Batin Ku.


Ibrahim meninggalkan rumah Wulan dan menunggu Wulan dari kejauhan tidak jauh dari rumah Wulan.


Wulan selesai dari mandinya dan langsung mengerjakan tugas kuliah sambil mengerjakan laporan penjualan tadi.


"Lebih baik aku kerjakan laporan dahulu, takut kalau bang Fauzan marah."Kata Ku.


Wulan mengambil ponselnya dan dilihat ternyata ada pangilan tak terjawab dari Ibrahim.


"Loh tadi dia telpon?"Tanya Wulan heran.


"Ada apa ya tidak biasanya?"Tanya Wulan curiga.


"Apa aku telpon balik saja?"Kata Ku berpikir.


"Tapi takut acaranya belum selesai, jadi takut ganggu."Ujar Ku memainkan jari bingung.


Wulan masih berpikir karena ragu mau nelpon atau tidak, akhirnya Wulan mengirim pesan kepada Ibrahim.


"Assalamualalikum mas ada apa tadi telpon?"


"Maaf baru bales, soalnya tadi aku habis mandi dan ponsel aku di slient jadi tidak kedengaran."


"Gimana acaranya hari ini lancar?"


"Aku minta maaf tidak bisa datang, tolong sampaikan maaf aku buat keluarga kamu."


Pesan sudah terkirim, kini Wulan lanjut mengerjakan laporannya.


Ibrahim sedang menunggu Wulan tiba-tiba ponselnya bergetar tanda pesan masuk.


Ibrahim membuka ponselnya.


"Loh ini kan dari Wulan."Ujar Ibrahim heran.


"Jadi dia sudah sampai di rumah?"Tanya Ibrahim heran.


"Kok ia tidak kasih tau aku kalau sudah pulang?"Tanya Ibrahim berpikir.


"Apa dia berpikir kalau takut ganggu acaranya ya?"Tanya Ibrahim menaruh tanggannya di dagu sambil berpikir.


"Ah sudah lah, yang penting dia sudah pulang dengan selamat."Kata Ku tersenyum.

__ADS_1


"Aku pulang saja deh, nanti aku telpon dia saja kalau sudah sampai di kosan."Batin Ku.


Kini Ibrahim menyalakan motornya dan kembali ke kosannya.


Wulan yang sedang asyik mengerjakan laporannya, tanpa melihat ada pesan masuk. Setelah selesai kirim laporan kini Wulan melanjutkan untuk mengerjakan tugas kampus.


"Akhirnya selesai juga semuanya."Ujar Ku menghelaikan nafas.


Wulan menaruh laptopnya dan beres-beres kamar supaya terlihat bersih dan tidaj berantakan.


"Alhamdulillah selesai juga tugas semuanya, kamar jadi bersih dan wangi serta tidak pengap."Kata Ku melihat sekitar ruangan kamar.


Wulan langsung merebahkan badannya di atas kasur, Wulan melihat ponselnya tidak ada balasan dari Ibrahim.


"Kenapa hanya di baca saja ya?"Tanya Wulan berpikir.


"Itu orang kemana ya?"


"Apa masih sibuk acara tahlilan bapaknya?"


"Atau lagi di jalan ya menuju kosan?"


"Ah sudahlah semakin dipirkan, semakin pusing dan tidak menentu arah pikiran aku dan semakin sakit saja."Batin Wulan.


Di restoran Dika dan Umi sedang makan.


"Gimana enak tidak makanan di sinih?"Tanya Dika.


"Iya lumayan."Kata Ku.


Tiba-Tiba ponsel Umi bergetar tanda pesan masuk, lalu Umi membuka pesannya.


"Dari siapa sayang?"Tanya Dika heran.


"Dari Dina, katanya dia sudah sampai di kosan."Ucap Umi.


"Oh baguslah, yasudah ayo kita pulang juga."Ujar Dika.


"Iya bang."Kata Umi.


Dika dan Umi meninggalkan restoran dan menuju ke kosan Umi, kini mereka sampai di kosan.


"Terimakasih bang atas hari ini, maafkan aku ya atas kejadian tadi."Kata Umi melas.


"Iya sama-sama, lain kali harus jujur dan terbuka ya."Ucap Dika mengelus kepala Umi.


"Iya bang, janji deh lain kali aku akan bilang dan tidak akan ingkar."Kata Umi sambil mengangkat kedua jarinya.


"Iya, jangan di ulang lagi ya."Ujar Dika tersenyum dan mengecup kening Umi.


"Iya bang, aku masuk dahulu ya."Ucap Umi terseyum.


"Yasudah sanah masuk, aku pulang dahulu."Kata Dika.


"Iya hati-hati di jalan bang, kalau sudah sampai kabarin aku ya."Ucap Umi sambil melambaikan tanggan.


Lalu Dika hanya tersenyum dan menyalakan klakson motornya.


Tin...


Setelah Dika pergi dari kosan, Umi masuk kedalam kosannya.


"Assalamuallaikum."Ucap Umi.


"Loh kamu belum tidur?"Tanya Umi heran.


"Belum kak, mana pesanan aku ?"Tanya Dina melihat ke arah Umi.


"Hehehe aku lupa beli tadi, karena abang buru-buru ajak pulang."Kata Ku senyam senyum sendiri.


"Yasudah ayo masuk."Ucap Dina


Umi hanya menganguk saja, mereka berdua masuk ke dalam kosan.


Tibalah mereka di dalam kamar.


"Apa sebaiknya kita kasih tau sama Wulan tentang Video ini?"Tanya Dina.


"Yasudah kamu kirim saja sama Wulan, semoga dia senang melihat video itu."Ujar Umi merebahkan badannya di atas kasur.


"Yasudah aku kirim."Ujar Dina.


Mereka berdua rebahan diatas kasur sambil berpikir atas kejadian sama apa tadi dia lihat tadi.


Mereka berdua saling lirik tanda ada sesuatu yang ingin dikatakan.


"Kamu dahulu yang bilang."Ucap Umi.


"Kakak saja deh."Ujar Dina.


"Apa sebaiknya kita kasih tau sama Wulan yang sebenarnya sama apa yang kita lihat tadi?"Tanya Umi kepada Dina.


"Kalau menurut aku lain kali saja kak, kasihan soalnya sama Wulan takut kepikiran dan khawatir yang ada tidak focus sama kerjanya."Kata Dina melas.


"Iya yang kamu katakan benar juga, kita lihatin saja ya sambil nunggu waktu yang pas baru kita bilang."Ucap Ku.


"Iya aku setuju kak."Kata Ku tersenyum.


"Tapi aku masih penasaran sama perempuan yang dekat kakaknya Ibrahim itu siapa ya?"Tanya Umi heran.


"Iya aku juga penasaran juga dia siapa ya kak?"Tanya Dina berpikir sejenak.


"Kamu sempat foto kejadian di sanah tidak?"Tanya Umi.


"Tidak kak, memangnya kenapa?"Tanya Dina heran.


"Buat nanya sama Wulan, siapa tau dia mengenali perempuan itu."Ucap Umi.


"Yah aku tidak foto kak, soalnya kamu tidak bilang buat foto tadi."Kata Dina melas.


"Ah kamu mah, maunya di suruh terus."Kata Ku menghelaikan nafas.


"Yasudah kak, lebih baik kita tidur saja karena sudah malam."Ucap Dina.


"Iya, ayo kita tidur."Ucap Umi.


Mereka berdua akhirnya tertidur dengan lelap karena seharian bekerja dan mengikuti pasangan mereka.


Di Rumah Ibrahim.

__ADS_1


"Anak itu benar-benar bikin malu saja, main pergi lagi di acara seperti ini."Kata Ibu kesal.


"Sabar bu, mungkin dia ke kapal soalnya dia harus berjaga."Kata Kakak.


"Iya tapi tidak seenaknya pergi begitu saja, karena ibu belum selesai berbicara."Ucap Ibu kesal.


"Lagian ibu main seenaknya saja mengumumkan pengumuman bertunangan tanpa persetujuannya dahulu."Ujar Kakak.


"Apa lagi yang harus di setujuin sih Rahma, jelas-jelas dia memang sudah seharusnya menikah di usianya."Ucap Ibu.


"Iya tapi ibu tidak berhak seperti itu, harus tanyakan dahulu sama anaknya mau atau tidak di jodohkan. Bukan langsung mengumuman seperti itu."Kata Rahma.


"Kamu tidak mengerti ibu sih Rahma, mau nunggu apa lagi dia?"Tanya Ibu.


"Mungkin dia sudah punya pilihannya sendiri."Kata Rahma tersenyum.


"Maksud kamu Wulan pilihannya?"Tanya Ibu kesal.


"Bisa jadi bu."Kata Rahma tersenyum.


"Sampai kapan pun ibu tidak akan setuju."Ucap Ibu meninggalkan Rahma.


"Loh ibu mau kemana?"Tanya Rahma.


"Ibu ngantuk mau ke kamar."Ucap Ibu kesal.


Rahma menarik nafas panjang.


"Terimakasih ya semua sudah mau hadir di acara tahlilan bapak."Ucap Rahma tersenyum.


"Kalau begitu saya pamit dahulu ya mba, salam sama Ibu."Ucap Rahayu.


"Iya terimakasih sudah datang, kamu hati-hati di jalan dan nanti aku salamin sama ibu."Kata Rahma.


"Mari mba."Kata Rahayu menegor Ningsih.


Ningsih hanya menganguk dan tersenyum, Rahayu pergi meninggalkan rumah Ibrahim bersama ibunya.


"Sudahlah mba, jangan di pirkan nanti yang ada mba malah jadi banyak pikiran."Kata Ningsih duduk di sebelah Rahma.


"Gimana tidak mau kepikiran, sifat ibu tidak berubah menjodohkan semua anaknya."Ujar Rahma kesal.


"Mungkin menurut ibu, pilihannya terbaik buat anaknya."Ucap Ningsih tersenyum.


"Iya tapi tidak bisa seperti itu lah, jadi kami sebagai anak tidak punya hak dong."Ujar Rahma.


"Sudahlah mba, memang sifat ibu dari dahulu seperti itu."Kata Ningsih menenangkan Rahma.


"Terimakasih ya Ningsih, kamu dari dahulu memang paling pengertian dan bisa di andalkan."Kata Rahma memeluk Ningsih.


"Andai saja yang jadi menantu ibu dahulu itu kamu bukan Rahayu, rasanya aku senang dan bisa curhat leluasa sama kamu."Batin Rahma.


"Andai saja ibu egoisnya bisa berkurang, mungkin Wulan dan Ibrahim bisa bersatu dan mungkin ayah tidak akan seperti ini."Gumam Rahma.


"Kasihan sekali kamu Wulan, nasib kamu seperti Ningsih. Kalian berdua wanita baik suatu saat pasti akan mendapat suami yang baik pula."Batin Rahma.


Rahma kembali duduk setelah meluk Ningsih.


"Kamu nginap ya di sinih, kita tidur bareng saja kebetulan suami kakak tidak pulang karena ada tugas. Jadi temanin kakak saja."Ucap Rahma.


"Lain kali saja kak, aku tidak bawa baju dan kasihan sama adik aku juga kalau menginap dia mau tidur dimana."Kata Ningsih tersenyum.


"Yasudah kamu hati-hati di jalan ya, kalau sudah sampai kabarin sama aku."Ucap Rahma.


"Aku pamit ya kak, salam sama ibu dan Ibrahim dari aku."Ucap Ningsih.


"Iya nanti kakak salamin sama mereka."Kata Rahma.


Ningsih hanya menganguk dan kembali pulang, Rahma masuk ke dalam rumah tidak lupa mengunci rumahnya karena semua para tamu sudah pulang.


Rahma menuju ke kamar ibunya sambil mengecek kondisi ibu.


"Sebelum tidur lebih baik aku cek ibu saja deh."Ucap Rahma.


Sampailah Rahma di dalam kamar ibunya, ia mengintip di pintu ternyata ibunya belum tidur. Lalu Rahma masuk ke dalam kamar ibu.


Tok...Tok...Tok... suara pintu di ketuk.


"Ibu, aku masuk ya."Kata Ku.


"Iya masuk saja."Ucap Ibu.


"Loh ibu kenapa belum tidur ?"Tanya Rahma.


"Ibu sedang bingung Rahma."Ujar Ibu sedih.


"Bingung kenapa bu?"Tanya Rahma.


"Bagaimana ya cara bujuk adik kamu supaya bisa menikah sama Rahayu dan meninggalkan Wulan?"Tanya Ibu.


"Yaallah ibu tidak semua orang palembang itu tidak baik, itu tergantung dari orangnya saja bu. Jangan samakan Wulan sama mantan suami Rahma bu, Wulan anak baik dan berbeda dari yang lain."Kata Rahma.


"Tapi ibu tidak suka Rahma, nanti yang ada kalau sama dia kasihan sama adik kamu tidak bahagia."Ujar Ibu sedih.


"Rahma yakin kalau ibu setuju insyaallah Ibrahim dan Wulan akan bahagia dan Rahma yakin kalau Wulan wanita baik buat Ibrahim."Ucap Rahma.


"Tapi Ibu yakinnya sama Rahayu, karena keluarga mereka baik banget sama kita."Kata Ibu.


"Nanti suatu saat keluarga Wulan baik juga sama kita bu, jangan samakan keluarga Wulan sama keluarga suami Rahma itu bu. Jelas mereka berbeda."Ucap Rahma kesal.


"Iya ibu tau Rahma, tapi seperti kamu lihat kan kalau kita sudah 2x di kecewakan oleh orang palembang karena sifat keluarga mereka."Kata Ibu.


"Yasudah lebih baik, ibu tidur saja supaya pikiran ibu tenang dan fresh besok pagi."Ucap Rahma.


"Iya deh, ibu tidur saja karena hari sudah larut malam."Ucap Ibu.


"Yasudah Rahma kembali kemar ya bu, ibu istirahat saja jangan dipikirkan yang tadi. Nanti Rahma coba bilang sama Ibrahim ya."Ujar Rahma.


"Terimakasih Rahma kamu emang anak yang berbakti."Kata Ibu tersenyum.


Rahma hanya menganguk dan pergi menuju kamarnya.


Ningsih telah sampai di rumahnya.


Ningsih sejenak berpikir atas kejadian tadi di tahlilan.


"Kayanya seru kalau aku hasud antara Wulan dan Rahayu supaya mereka saling membenci satu sama lain, supaya dendam aku terbalaskan sama apa yang terjadi pada aku terdahulu."Batin Ningsih.


"Aku harus susun rencana untuk kedepan supaya dendam aku terbalas dan semoga kamu sakit hati apa yang telah kamu lakukan sama aku terdahulu mas."Ucap Ningsih menaikan alisnya.

__ADS_1


"Pokoknya dendam aku harus terbalaskan."Kata Ningsih tersenyum jahat sambil mengangkat kedua alisnya itu.


Bersambung,,,


__ADS_2