Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
69.Kantin


__ADS_3

Di kantin Wulan, Dessy, Maria, Sofie dan Tasya sedang menunggu Ari datang.


Wulan masih memikirkan cara buat bisa masuk ke dalam dan menghindari kerumunan banyak orang, Wulan terus mondar mandir sambil berpikir dan tanggannya menempel di dagu.


"Lan sudah ketemu belum caranya?"Tanya Sofie.


"Sabar dong, teman aku belum sampai."Ucap Wulan.


"Teman???"Teriak mereka bersamaan.


"Iya, dia yang bisa menolong kita buat masuk ke dalam sanah."Ujar Ku mengerutkan dahi.


"Lalu dimana dia?"Tanya Dessy.


"Sepertinya masih di jalan."Kata Ku.


"Yasudah kita tunggu saja."Ujar Maria.


Mereka semua kembali duduk di tepi taman sambil menunggu Ari datang.


"Lama sekali."Gumam Wulan.


"Sebenarnya teman kamu itu siapa sih? kok tidak pernah cerita sama kita?"Tanya Maria heran.


"Nanti saja ceritanya, nunggu dia datang baru cerita yang penting kita bisa makan di sanah."Ujar Wulan.


Sahabat Wulan hanya menganguk dan menggu, beberapa menit kemudian Ari sampai di lokasi kejadian.


Ari mencari Wulan kiri dan kanan.


"Dimana Wulan ya."Gumam Ari.


"Lebih baik aku telpon saja deh."Ucap Ari.


Ari mengambil ponselnya dan menelpon Wulan.


Kring...Kring...Kring...


"Hallo Ari dimana?"


"Aku sudah sampai nih, kamu di dekat mana?"


Wulan melirik kanan dan kiri dimana Wulan tunggu.


"Aku di sekitar taman tidak jauh dari sanah."


"Oh baiklah, aku ke sanah."


Ari melangkah menuju Wulan.


"Lan!!!"Teriak Ari sambil melambaikan tanggannya.


"Oh."Ucap Wulan tersenyum.


"Oh jadi itu yang di tunggu-tunggu."Jawab sahabat Wulan mengoda Wulan.


Ari menghampiri Wulan.


"Apa kabar Lan?"Tanya Ari.


"Alhamdulillah baik."Kata Ku.


"Alhamdulillah, jadi apa yang aku harus bantu?"Tanya Ari heran melihat banyak teman-temannya.


"Oh jadi ginih Ri, aku dan teman-teman mau makan kantin di sanah. Namun penuh dengan banyak manusia, jadi kamu bisa tidak tolong kita untuk bisa makan di sanah."Ucap Wulan dengan muka imut meminta tolong.


Ari yang melihat ekspresi wajah Wulan berbeda membuat dadanya bergetar tidak karuan.


"Masyaallah kamu cantik sekali ya Lan kalau memohon seperti itu."Gumam Ari tersenyum.


Wulan menepuk bahu Ari.


"Ari jadi bisa atau tidak?"Tanya Wulan heran.


Ari tersadar dari lamunannya, seketika sahabat Wulan bersorak ria melihat tingkah laku temannya itu.


"Cie...Cie...Cie..."Ucap mereka bersamaan mengoda Wulan.


"Iya bisa dong."Ucap Ari.


Kemudian mereka berdua menuju ke kantin, mereka duduk di pojok.


"Biar aku saja yang antri Lan, kamu sama teman-teman kamu cari tempat duduk saja."Ujar Ari.


"Tapi nanti kamu kewalahan gimana?"Tanya Wulan.


"Tenang saja aku bisa kok."Ucap Ari mengelus kepala Wulan.


"Baiklah aku cari tempat duduk dulu."Ujar Wulan.


Ari hanya tersenyum kepada Wulan, Wulan melangkahkan kakinya menuju dimana temannya lagi duduk.


Wulan menghelaikan napas panjang, langsung di serbu oleh banyaknya pertanyaan dari sahabat Wulan.


"Kenapa kalian menatap aku seperti itu?"Tanya Wulan heran.


"Itu siapa?"Tanya Maria.


"Teman waktu kecil."Ucap Wulan.


"Terus kenapa kamu bisa kepikiran kalau mau minta tolong sama dia?"Tanya Tasya.


"Aku cuman tau yang bisa bantu kita di dekat sinih cuman dia, karena dia kuliah di sinih."Ujar Wulan.


"Lalu kenapa tidak minta tolong sama pacar kamu?"Tanya Dessy.


"Aduh Dessy pacar aku itu sangat sibuk, jadi aku yakin banget dia juga tidak bisa datang ke sinih dan bantu kita."Ucap Wulan.


"Aduh cantik kamu itu polos apa bodoh sih?"Tanya Tasya sambil mencubit pipi Wulan.


"Maksudnya gimana?"Tanya Wulan heran.


"Gimana kalau pacar kamu tau?"Tanya Maria.


"Biarin saja, orang kita cuman teman kok dan lagi pula juga kita makan bareng-bareng sama kalian jadi tidak mungkin akan curiga dan cemburu."Kata Ku.


"Yakin?"Tanya Maria.


"Iya."Ucap Wulan.


"Tapi kalau di pikir-pikir teman kamu yang ini lumayan juga lah Lan, tidak terasa jelek kok." Ucap.Dessy.


Wulan hanya melirik saja dan tersenyum, beberapa menit kemudian makanan mereka telah sampai dan di bawakan oleh Ari.


Wulan melihat Ari sedang kerepotan membawa makanan dan menghampiri Ari, Wulan berlari ke arah Ari.


"Sinih aku bantu."Ucap Wulan.


"Tidak usah aku bisa kok."Ujar Ari.


"Kamu kaya kerepotan seperti itu."Ujar Wulan.


"Tidak kok."Kata Ari.


"Udah sinih aku bantu."Ujar Wulan mengambil sebagian makanan itj.


Akhirnya Wulan membantu Ari, mereka berdua melangkahkan kaki ke arah sahabatnya itu.


Di sisi lain sahabat Wulan melihat reaksi Wulan dan Ari yang saling membantu itu membuat sahabat Wulan bertanya-tanya.


"Sepertinya mereka cocok."Ucap Maria.


"Iya betul itu."Ucap Sofie.


"Uuuhhh aku jadi baper."Kata Dessy.

__ADS_1


Di depan gerbang Ayu sedang menunggu Ibrahim untuk jemput dia pulang dari kampus.


"Kemana sih lama sekali."Gumam Ayu kesal.


Ayu akhirnya menelpon Ibrahim.


Kring...Kring...Kring...


"Hallo dimana mas?"


"Sabar sebentar lagi sampai kok."


"Cepatan aku mau makan di kantin yang sedang viral di sosial media."


"Iya bu bos sabar ya."


Ayu hanya mengangu saja dan menunggu Ibrahim datang, beberapa menit kemudian Ibrahim sampai di depan gerbang kampus.


"Ayo naik."Ucap Ibrahim.


Ayu hanya menganguk dan menaik motor.


"Dimana lokasinya kamu kasih tau aku aja jalannya."Ujar Ibrahim.


"Iya."Kata Ayu.


Kini Ayu dan Ibrahim menuju ke kantin yang sedang Viral.


Wulan dan Ari sampai di tempat ia duduk, Wulan membagikan makanan kepada teman-teman. Setelah selesai membagikan makan.


Salah satu teman Wulan berdehem.


"Eeehhhmmm."


Wulan langsung melirik ke arah temannya.


"Oh iya Ari kenalin ini teman-teman aku."Ucap Wulan.


Mereka semua berkenalan satu sama Lain.


Kini Ayu dan Ibrahim sampai di lokasi dimana mereka mau makan, namun Ibrahim kaget seketika dia melihat ke arah dimana Wulan dan teman-temannya sedang duduk dan ngobrol.


"Apa itu Wulan?"Tanya Ibrahim kaget di dalam hati.


"Aku jangan sampai ketahuan ini di sinih."Batin Ibrahim mengerutkan dahi.


"Bagaimana pun aku harus pergi dari sinih sama Ayu."Gumam Ibrahim gelisah.


Ayu yang tersadar melihat tingkah laku Ibrahim panik, ia menepuk bahu Ibrahim.


"Kamu kenapa mas, seperti orang sedang panik?"Tanya Ayu heran.


"Kita makan di tempat lain saja yuk."Ucap Ibrahim.


"Loh tapi kenapa?"Tanya Ayu heran.


"Udah nanti aja aku jelasinnya."Ujar Ibrahim mengandeng tanggan Wulan.


"Tapi mas, aku mau makan di situ."Kata Ayu melas.


"Kita cari makan di tempat lain saja."Ujar Ibrahim mengandeng tanggan Ayu.


"Baiklah mas."Ucap Ayu.


Ibrahim dan Ayu pergi meninggalkan kantin, mereka menuju ke tempat makan yang lain.


Di sepanjang perjalanan Ayu dan Ibrahim hanya diam mematung.


Ibrahim melamun dan memikirkan kejadian tadi.


"Itu siapa ya laki-laki tadi? kenapa begitu akrab sama Wulan? kenapa Wulan tidak pernah cerita mengenai laki-laki itu?"Gumam Ibrahim bertanya di dalam hati.


"Ah rasanya aku pusing kalau di pikirkan, nanti saja nanyanya nunggu situasi aman."Batin Ibrahim.


"Ada apa sama Ibrahim? apa iya sedang tidak enak badan? Atau dia sedang ada masalah?"Tanya Ayu heran.


"Ah sudah lah nanti aja aku tanyanya nunggu situasi sudah aman dan moodnya baik."Gumam Ayu.


Di sisi Wulan yang sedang asyik menikmati makan bersama teman-temannya tersadar akan ada sesorang mengawasinya.


"Seperti ada orang yang mengawasi."Gumam Wulan sambil melirik kanan dan Kiri.


"Ah perasaan aku saja kali ya."Batin Wulan.


Sahabatnya yang melihat Wulan gelisah dan melirik kanan dan kiri.


"Sssttt itu Wulan kenapa?"Tanya Tasya.


"Tidak tau aku."Ucap Dessy.


"Seperti orang sedang gelisah dan seperti ada yang mengawasi Wulan."Kata Maria.


"Apa jangan-jangan pacarnya Wulan ada di sinih ya?"Tanya Sofie.


"Waduh gawat kalau seperti itu."Ujar Maria.


Ari yang sedang melihat Wulan panik dan melirik terus kanan dan kiri Ari menegor Wulan.


"Lan kamu kenapa? dari tadi aku perhatikan kamu sedang panik dan gelisah?"Tanya Ari heran.


"Aku tidak apa-apa kok."Ucap Wulan.


"Kamu serius Lan?"Tanya Ari penasaran.


"Iya aku serius."Ucap Wulan.


"Lebih baik kamu jujur deh sama kita."Ucap sahabat Wulan.


"Iya aku udah jujur."Kata Ku tersenyum.


"Yasudah kalau begitu lebih baik kita makan saja lagi."Kata Ari.


Mereka semua kembali makan dan suasana seketika hening dan sunyi.


"Apa perasaan aku saja kali ya, orang yang tadi aku lihat seperti Ibrahim sama seorang wanita salah satu kampus kita."Batin Wulan mengerutkan dahi.


"Tapi kalau Ibrahim kenapa tidak samparin aku ya di sinih, lalu siapa wanita itu?"Gumam Wulan bertanya-tanya di dalam hati.


Mereka semua sedang memperhatikan Wulan yang sedang melamun itu dan membuat mereka semakin penasaran sama Wulan untuk bertanya.


"Lan sebenarnya ada apa sih?"Tanya Maria penasaran.


"Jangan bilang tidak ada apa-apa."Ucap Tasya.


"Sudah deh lebih baik kamu jujur saja sama kita."Ucap Dessy.


"Iya betul itu."Ucap Sofie.


Wulan hanya menarik napas panjang dan tersenyum.


"Aku sudah kenyang, aku mau balik duluan saja."Ucap Wulan pergi meninggalkan mereka.


"Eh tunggu dong Lan, kamu belum selesai makan juga."Ucap Dessy.


"Sanah kamu kejar Ari."Kata Maria.


"Iya."Kata Ari.


Ari pergi meninggalkan sahabat Wulan dan pergi mengejar Wulan.


"Aduh kenapa perasaan aku tidak enak ya."Gumam Wulan.


"Apa benar yang tadi aku lihat adalah Ibrahim sama wanita Lain."Batin Wulan bertanya-tanya.


"Tapi siapa wanita itu?"Tanya Wulan di dalam hati.

__ADS_1


"Aaaahhhh!!!"Teriak Wulan sambil mengacak kerudungnya yang kesal


Wulan pergi meninggalkan temannya dan hendak pulang tapi tertahan oleh Ari.


"Lan biar aku antar saja kamu pulang ya!"Ucap Ari memegang tanggan Wulan.


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri."Kata Ku melepas tanggan Ari.


Wulan pergi meninggalkan Ari dan menuju ke rumah.


Kini Ayu dan Ibrahim sampia di salah satu pusat makanan, mereka hendak memesan makanan.


"Kita makan di sinih saja."Kata Ku.


"Baiklah."Ujar Ayu.


Mereka masuk ke dalam salah satu restoran di sanah, pelayan menghampiri mereka.


"Mau pesan apa mba dan ma?"Tanya pelayan.


"Kamu mau pesan apa?"Tanya Ayu.


"Samain saja sama kamu."Ucap Ibrahim.


Ayu memesan makanan mereka, dan pelayan segera pergi menuju dapur.


Ayu sejak dari tadi memperhatikan Ibrahim yang sedang gelisah itu, kemudian Ayu menanyakan kepada Ibrahim.


"Mas kenapa kamu, seperti orang sedang gelisah?"Tanya Ku.


"Aku tidak apa-apaa."Kata Ibrahim tersenyum.


"Lalu tadi kenapa di sanah kita tidak jadi makan?"Tanya Ayu heran.


"Apa kamu sakit? Atau kamu sedang ada masalah?"Tanya Ayu penasaran.


"Aku tidak sakit dan tidak ada masalah, aku hanya sedang capek saja."Ujar Ibrahim.


"Oh maaf aku tidak tau."Kata Ku.


Kini pesanan mereka datang, mereka langsung makan.


"Yasudah di makan dahulu pesanannya."Ucap Ku.


Ayu hanya menganguk dan makan, setelah makan mereka langsung kembali ke rumah.


"Sudah selesai makannya?"Tanya Ibrahim.


"Sudah."Kata Ku.


"Baiklah, ayo kita pulang."Ucap Ibrahim mengandeng tanggan Ayu.


Ayu hanya menganguk dan tersenyum, kini mereka menuju ke rumah.


Kini Ibrahim telah sampai di kosan dan segera mandi lalu hendak menelpon Wulan seharian tidak ada kabarnya.


"Lebih baik aku mandi, habis itu baru telpon sama Wulan."Kata Ku.


Beberapa menit kemudian Ibrahim telpon Wulan.


Di rumah Wulan, Wulan sudah sampai di rumahnya, merebahkan badan di atas kasur dan kembali mengigat apa yang dia lihat di sanah.


"Pria tadi seperti Ibrahim."Batin Ku kesal.


"Tapi apa aku salah lihat ya?"Tanya Ku di dalam hati.


Wulan menarik napas panjang dan membuang pikiran buruk itu, kini telpon Wulan berdering tanpa pangilan video.


Wulan yang kaget melihatnya langsung angkat.


"Assalamuallaikum mas ada apa?"


"Waaalaikumsalam sayang, aku hanya kangen saja sama kamu seharian ini kemana saja?"


"Oh maaf aku tidak kasih kabar sama kamu, soalnya tadi aku dari kampus dan ada ulangan di kampus jadi lupa kasih kabar sama kamu. Aku harap kamu mengerti."


"Oh iya tidak apa kok, aku paham dan mengerti kamu."


"Terimakasih mas, oh iya kamu hari ini tidak ada tugas jaga kah?"


"Sama-Sama, ada nanti malam memangnya kenapa?"


"Apa kamu kangen sama aku?"


"Iya aku kangen sama kamu mas."


"Iya aku juga kangen sama kamu, seharian ini kamu habis dari kampus kemana saja?"


"Aku pengen tau dia berkata jujur tidak sama aku."Batin Ibrahim.


"Oh aku habis kampus makan dahulu sama teman-teman aku di salah satu kantin yang sedang viral di sosmed, dekat kampus aku. Memangnya kenapa?"


"Oh begitu, sama siapa saja kamu makan di sanah?"


"Ada yang aneh ini pertanyaan jebakan."Gumam Wulan.


"Tadi aku sudah bilang sama kamu sama teman-teman aku."


"Iya aku tau, teman-teman kamu siapa saja?"


"Ada cowo kah?"


"Oh, iya ada cowo dan cewe mas."


"Cowo itu suka sama kamu?"


"Aduh kamu kenapa sih mas?"


"Cemburu sama aku?" Atau kamu ada di sanah sama seorang wanita?"


"Waduh gawat ini, ternyata Wulan melihat aku di sanah."Gumam Ibrahim mengerutkan dahi.


"Kenapa muka kamu seperti itu mas, seperti orang panik dan ada sesuatu kamu umpetin sama aku?"


"Aku tidak ada yang diumpetin sama kamu, aku hanya tanya sama kamu."


"Aku sudah jawab tadi, lalu kamu belum jawab pertanyaan aku."Ucap Wulan kesal.


"Iya tadi aku ada di sanah, aku di sanah melihat kamu bersama teman aku."


"Terus kenapa tidak samperin aku?"


"Teman kamu wanita atau pria?"


"Aku tidak enak kalau samperin kamu, teman aku pria kok."


"Ada yang aneh dari jawaban Ibrahim."Batin Wulan menatap matanya.


"Lebih baik aku percaya saja dahulu deh."Gumam Wulan.


"Oh begitu mas, aku percaya kok."Ucap Wulan tersenyum.


"Terimakasih ya kamu sudah percaya."


"Iya sama-sama mas, sudah dulu ya aku mau istirahat besok aku kerja."


"Iya kamu istirahat ya, besok aku jemput kamu pulang kerja."


"Serius mas?"Tanya Wulan bahagia.


"Iya sayang aku serius."


"Oke aku tunggu ya mas."


Ibrahim hanya menganguk saja dan pangilan pun berakhir mereka hendak tidur.

__ADS_1


__ADS_2