Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
54.ANDK


__ADS_3

Di Natuna.


Ibrahim sedang gelisah untuk beranikan diri meminta izin kepada atasannya, untuk segera di pulangkan ke rumah karena ayahnya sedang meninggal dunia.


"Bagaimana aku bilangnya ya."Batin Ku mondar mandir di ruang atasannya sambil gelisah.


Beberapa menit kemudian, atasannya melihat dari jendela kalau anak buahnya sedang gelisah. Kemudian Ibrahim di suruh masuk ke dalam ruangan.


Ibrahim masuk ke dalam ruangan.


Tok...Tok..Tok... suara pintu di ketuk


"Masuk."Ucap Komandan.


"Siap."Ucap Ibrahim sambil memberikan hormat kepada komandan.


"Kenapa kamu gelisah di depan ruangan saya?"KataNya.


"Siap salah, Izin komandan. Saya mau kembali ke rumah di karenakan bapak meninggal dunia."Ucap Ku.


"Apakah benar itu?"Tanya Komandan.


"Siap, benar komandan. Saya baru dapat kabar tadi dari kakak kalau bapak meninggal dunia."Ujar Ibrahim dengan badan tegapnya.


"Baiklah, kamu boleh pulang dan urus surat kepulanganmu."Kata Komandan.


"Siap, terimakasih komandan."Ucap Ku sambil memberikan hormat.


Ibrahim pergi meninggalkan ruangan komandannya dan segera mengurus surat kepulangannya itu.


Beberapa menit kemudian Ibrahim sudah mengurus surat kepulangannya dan dia menghubungi Dika sahabatnya itu.


"Ah tidak diangkat lagi kemana dia?"Tanya Ibrahim heran.


Ibrahim menelepon Diki.


Beberapa menit kemudian Diki menjawab teleponnya.


"Hallo."Kata Diki.


"Aku hari ini mau pulang ke rumah, bapak aku meninggal dunia."Ujar Ku.


"Innalillahiwainnnalilahirojiun, aku turut berdua cita ya atas meninggalnya bapak kamu."Ucap Diki.


"Terimakasih, kamu sedang sama Dika tidak ?"Tanya Ibrahim heran.


"Tadi Dika baru turun dari jaga, kemungkinan dia sekarang lagi di jalan menuju kosan."Kata Diki.


"Oh yasudah nanti aku telpon lagi ya."Kata Ku.


Telepon pun di matikan, Ibrahim bergegas merapihkan pakaiannya dan besok akan menuju ke bandara untuk kembali ke rumah. Namun Ibrahim belum kasih kabar ke Wulan kalau dia sudah di acc untuk pulang ke rumah, dia mau kasih suprise atas kepulangannya itu.


Di rumah Wulan.


Wulan sedari tadi panik karena RED yang sedang koma itu dan berasa bersalah serta sedih.


Wulan mondar mandir di depan rumahnya sambil berpikir harus berbuat apa terhadap burungnya itu.


"Aduh aku harus berbuat apa?"Tanya Ku gelisah dan panik.


"Apa aku telepon Dika saja ya, kasih tau kalau RED meninggal dunia."Kata Ku panik.


Dari kejauhan Mama sedang memperhatikan anaknya yang sedang gelisah dan di hampirilah anaknya itu.


"Kakak kamu kenapa?"Tanya Mama sambil menepuk bahu Wulan.


"Astagfirullohalazim Ma, bikin kaget saja."Kata Ku terkejut.


"Kamu kenapa sih?" Dari tadi di perhatikan kamu gelisah kaya gitu, ada masalah apa?"Tanya Mama heran melihat anaknya panik.


"Itu Ma..."Kata Ku terbata-bata sambil menunjuk ke arah RED.


"Astagfirullohalazim, innalilahiwainnalilahirojiun kenapa bisa ada di bawah RED kak?"Tanya Mama terkejut dan heran.


"Aku juga tidak tau ma, waktu aku keluar rumah dan mau kasih makan dia sudah ada di bawah dan keluar dari sarangnya."Kata Ku.


"Yasudah kak, kita kasih pertolongan pertama."Ujar Mama.


"Baik Ma, Kita harus berbuat apa?"Tanya Ku bingung.


"Coba kamu buka aplikasi gimana caranya menolong burung kaya ginih."Kata Mama.


"Baiklah Ma, aku buka dahulu dan aku mau tanya juga kepada Dika kenapa RED seperti ini."Ucap Ku.


"Yasudah cepat sanah kak."Kata Mama.


Wulan menghubungi Dika.


"Loh kenapa ponselnya tidak aktif sih."Ucap Wulan kesal dan panik.


"Yasudah nanti aja lagi aku hubungi setelah aku melihat di aplikasi."Ujar Ku sambil mengotak atik ponsel.


Di kosan.


Dika baru saja sampai di kosannya itu dan dilihat ponsel mati, lalu Dika charger.


"Yaallah ponselnya mati."Kata Dika sambil melihat ke arah ponsel.


Setelah Dika selesai dari charger, Dika langsung ke toilet untuk mandi. Beberapa menit kemudian Dika selesai dari mandi langsung rebahan di sofa sambil nonton tv, kemudian dia membali melihat ponselnya.


Akhirnya ponselnya kembali menyala, Dika melihat ada beberapa pangilan masuk dari temannya, dan juga pacarnya itu.


"Banyak sekali mereka telpon kepada aku."Kata Ku sambil melihat notifikasi masuk setelah ponselnya menyala.


Di tempat kerja.


Wulan sudah berada di tempat kerja itu, kemudian langsung bekerja dengan rajin.


"Sepertinya hari ini kamu sedang gelisah ?"Tanya Ratna heran.


"Tidak ada apa-apa mba, hanya perasaan kamu saja mba."Ujar Ku tersenyum kearah Ratna.


"Yakin tidak ada apa-apa?"Tanya Ratna kemudian masih penasaran.


"Iya mba."Jawab Ku menganguk.


"Yasudah kalau begitu, kita harus jualan yang banyak."Ujar Ratna bersemangat.


Wulan hanya menganguk saja dan kemudian Wulan bekerja, tidak terasa waktu cepat berlalu begitu saja. Matahari sudah terbenam dan senja mulai datang dengan indah di langit.


"Masyallah indah sekali pemandangan ini mba."Kata Ku melihat langit diatas.

__ADS_1


"Iya bagus ya Lan."Jawab Ratna kemudian sambil duduk di sebelah Wulan.


"Iya mba bagus sekali, sepertinya langit sedang bersahabat sama kita."Ucap Ku tersenyum.


"Kalau seperti ini biasanya kita akan mendapat kabar baik Lan."Ujar Ratna.


"Kabar baik gimana mba?"Tanya Ku heran.


"Iya kabar baik, seperti seseorang yang kita nanti akan bertemu lagi atau kita akan mendapat kejutan yang lainnya."Ujar Ratna.


"Aaamiin mba, semoga saja kita berdua mendapat kabar baik itu."Jawab Wulan tersenyum.


Mereka berdua sedang asyik mengobrol sambil menunggu ada yang masuk ke toko untuk membeli.


Beberapa menit kemudian ponsel Wulan berbunyi.


Kring...Kring...Kring


"Sebentar mba, aku angkat telepon dahulu."Ucap Ku meninggalkan Ratna di toko.


Sampailah Wulan di salah satu kantin dimana dia hendak angkat telepon sambil memesan minuman.


"Assalamuallaikum ada apa kak?"Tanya Wulan heran.


"Waallaikumsalam Lan, tadi kamu telepon ada apa ya?"Tanya Dika.


"Oh tadi itu aku sedang panik kak."Ucap Ku.


"Memangnya kenapa ?"Tanya Dika bingung.


"Anu kak."Jawab Ku terbata-bata.


"Kenapa Lan?"Tanya Dika heran.


"Aku bingung kak harus jelasin dari mana."Jawab Ku sambil mengaruk kepala.


"Coba kamu tahan nafas dan keluarin lagi dahulu, jika sudah reda baru bilang."Kata Dika


Wulan mengikuti arahan dari Dika dan memulai menceritakannya.


"Jadi gini kak, tadi pagi waktu aku mau kasih makan RED terus aku lihat sarangnya terbuka kak dan RED sudah ada di bawah. Terus REDnya seperti orang mau meninggal kak, dia sudah gemetaran dan sedikit kaku."Ucap Ku panik.


"Apa RED mati????"Teriak Dika kaget.


"Aku tidak tau kak, dia mati atau tidak. Waktu aku mau berangkat kerja dia sedang gemetaran dan sedikit kaku, terus aku tinggal kerja saja karena di rumah sudah ada Mama yang tangganin. Semoga saja tidak kaku."Ujar Ku.


"Yasudah nanti pas kamu pulang kerja, aku jemput ya dan kita lihat sama-sama RED di rumah. Semoga saja tidak akan mati ya."Ucap Dika.


"Tapi kak."Jawab Ku.


"Tapi apa lagi?"Tanya Dika heran.


"Apa tidak sebaiknya kita pergi bertiga saja sama kak Umi, supaya tidak ada kesalah pahaman nantinya."Ucap Ku.


"Tidak perlu, aku yakin Umi pasti akan mengerti kok. Karena dia wanita yang paling mengerti posisi aku."Ujar Dika.


"Apa sebaiknya kakak izin dahulu sama Umi untuk bertemu Wulan."Ujar Ku tidak enak.


"Yasudah nanti aku coba bilang sama dia, terus kamu sudah kasih tau sama Ibrahim belum kalau RED mati?"Tanya Dika.


"Belum kak, aku takut kalau nanti dia marah sama aku. Karena aku baru dapat kabar kalau ayahnya baru saja meninggal dunia bareng sama RED kejadiannya."Ucap Ku.


"Baiklah, nanti saja kamu bilangnya sama dia setelah situasinya membaik dan supaya dia bisa berpikir positif dan tenang."Ujar Dika.


"Waaalaikumsalam."Ujar Dika.


Tidak lama kemudian ponsel Wulan mati dan pesanan minum Wulan sudah siap, Wulan kembali ke dalam toko untuk bekerja kemvali. Kini Wulan sampai di dalam toko.


"Sudah teleponnya ?"Tanya Ratna.


"Sudah mba."Kata Ku.


"Habis telepon dari pacar ya?"Tanya Ratna.


"Bukan mba, itu teman saja."Kata Ku tersenyum.


"Hati-Hati nanti malah naksir lagi."Ucap Ratna meledek Wulan.


"Tidak akan mba, karena kita sudah punya pasangan masing-masing."Ujar Ku tersenyum.


"Sekarang mah ya Lan, yang sudah menikah saja bisa bercerai. Nah apa lagi kamu masih pacaran bisa saja kan di tikung dari belakang."Ucap Ratna.


"Semoga saja pacar aku di sanah setia mba."Ucap Ku.


"Aamiin, sepertinya aku rasa kamu cocok sama teman kamu yang ini Lan."Ucap Ratna.


Sontak Wulan kaget dan batuk karena sedang minum yang beli tadi di kantin.


Ratna menghampiri Wulan dan menepuk bahu Wulan yang tersendat.


"Kalau minum itu pelan-pelan."Ujar Ratna menepuk bahu Wulan.


"Terimakasih mba."Ucap Ku.


"Kamu kenapa sih bisa tersendat seperti itu minumnya?"Tanya Ratna heran.


"Maksud perkataan mba tadi apa ya kalau aku cocok sama teman aku ?"Tanya Wulan melirik Ratna.


"Iya, dari ekspresi muka kamu selalu ceria dan bahagia kalau lagi dekat sama dia."Ucap Ratna.


"Perasaan mba saja kali."Jawab Ku tersenyum.


"Bukan begitu Lan, aku sama kamu setiap hari bekerja dan satu toko jadi aku tau lah partner kerja aku kalau lagi ada masalah, ceria, bahagia, musibah,dll."Ucap Ratna.


"Mba Ratna memang yang terbaik."Kata Ku sambil memeluk Ratna.


"Jadi siapa teman kamu itu?"Tanya Ratna mengoda Wulan untuk buka suara.


"Itu adalah teman dari Ibrahim mba, dia emang baik sama aku juga Ibrahim."Ucap Ku.


"Jadi itu teman dari pacar kamu?"Tanya Ratna terkejut.


"Iya mba."Kata Ku.


"Terus pacar kamu tau kalau kamu suka telpon atau kirim pesan sama dia?"Tanya Ratna.


"Kalau untuk itu aku belum cerita sama pacar aku mba, soalnya dia saja kasih kabar sama aku aja jarang. Karena dia sedang di perbatasan dan susah sinyal."Ucap Ku.


"Jadi kamu bermain belakang sama temannya?"Tanya Ratna terkejut.


"Tidak lah mba, orang pacar aku sendiri yang bilang sama aku. Kalau ada apa-apa dan minta bantuan selama dia sedang berlayar bilang saja sama temannya."Ujar Wulan.

__ADS_1


"Kok ada yang aneh ya Lan."Kata Ratna melirik Wulan.


"Aneh kenapa mba?"Tanya Ku.


"Iya aneh, tidak seperti biasanya seorang pria mau kirim temannya untuk menjaga pacarnya sendiri selama beberapa bulan dia bertugas di sanah dan kalian sama-sama sudah punya pasangan masing-masing tidak ada kecemburuan sama sekali dan curiga sama sekali."Ujar Ratna mengeratkan dahi.


"Iya karena kita memang tidak ada hubungan apa pun sama mereka, terus kita juga selalu berpikir positif saja sama apa yang sedang terjadi di sanah."Kata Ku.


"Tapi Lan, ini sedikit aneh menurut aku ya."Ucap Ratna.


"Yasudah lah mba, semoga saja rasa curiga mba itu tidak berdampak buruk buat aku ya."Kata Ku tersenyum.


"Aaamiin."Ucap Ratna dan Wulan bersamaan.


Wulan dan Ratna kembali bekerja sebelum Wulan pulang dan di jemput oleh Dika.


Di kapal.


Diki yang sedang bertugas menjaga itu setelah mendapat telepin dari Ibrahim kalau ternyata Ibrahim mau pulang ke rumahnya itu dan meminta Dika merahasiakan kepulangannya dari Wulan karena dia ingin memberikan kejutan kepada Wulan.


Diki kembali menelepon Dika.


Kring...Kring...Kring


"Iya hallo ada apa ?"Tanya Dika.


"Kamu lagi dimana bro?"Tanya Diki.


"Dikosan, mau jemput Umi sebentar lagi."Ucap Dika.


"Oh syukurlah kamu belum ketemu sama Wulankan?"Tanya Diki.


"Belum, tapi nanti mau ketemu sama dia."Ujar Dika.


"Oh begitu."Kata Diki.


"Memangnya ada hal apa yang kamu mau bilang sama aku?"Tanya Dika heran.


"Jadi ginih aku baru saja dapat telepon dari Ibrahim kalau dia akan kembali ke Bekasi kemungkinan dia sekarang sudah sampai di bandara, nah dia mau bikin kejutan buat Wulan karena kedatangannya. Jadi kamu tidak usah bilang sama Wulan kalau dia mau datang ya."Kata Diki.


"Siap."Ucap Dika.


"Yasudah itu saja yang mau aku bilang."Jawab Diki.


Telepon dimatikan oleh mereka dan kemudian Dika mengirim pesan kepada Wulan kalau dia mau jemput Umi kerja dahulu baru nanti dia jemput Wulan bekerja dan setelah ktu baru kerumahnya untuk mengecek kondisi RED.


"Lan, aku mau jemput Umi pulang kerja dahulu ya. Habis dari situ aku ke rumah kamu melihat kondisi RED."Ujar Dika.


"Iya kak, ajak aja sekalian kak Umi ke rumah biar enak aku ada teman obrolnya."Kata Ku.


"Iya nanti aku coba bilang sama Umi."Ucap Dika.


Kini Dika bersiap-siap menuju tempat dimana Umi bekerja. Beberapa menit kemudian Dika sampai di lokasi Umi bekerja.


Dika menelepon Umi.


"Hallo sayang, aku sudah sampai ini di depan tempat kamu bekerja."Ucap Dika.


"Yasudah kamu parkir saja dahulu mobil kamu, habis itu kamu jemput aku di toko saja."Ujar Umi.


"Siap bu bos, tunggu di sanah ya."Ucap Dika.


"Iya jangan lama ya."Kata Umi.


Kemudian Dika parkir mobilnya, dan menuju toko Umi bekerja. Sampailah Dika di depan toko Umi, Umi sudah siap dan cantik untuk pulang setelah bekerja.


"Masyaallah pacar aku cantik sekali."Ucap Dika meledek Umi.


"Ah kamu bisa saja deh bang."Kata Umi.


"Memang bener kok kalau kamu cantik."Kata Dika sambil mencupit pipi Umi.


"Hari ini kita mah kemana bang?"Tanya Umi.


"Kamu sudah makan belum?"Tanya Dika mengandeng tanggan Umi menuju parkiran.


"Sudah tadi siang."Ucap Umi.


"Ini sudah malam sayang, bukan siang lagi. Yasudah kalau kaya begitu kita makan saja."Kata Dika.


"Oke komandan."Kata Umi.


Dika mengacak rambut Umi itu, kini mereka makan dahulu sebelum ke rumah Wulan.


"Kamu mau makan dimana?"Tanya Dika melirik Umi.


"Di tempat biasa saja bang."Ucap Umi.


"Siap Bu bos."Ujar Dika.


Kini Dika melanjutkan perjalanan mereka untuk makan, tibalah mereka di salah satu restoran.


"Kamu mau makan apa bang?"Tanya Umi sambil membawa buku catatan.


"Seperti biasa saja."Kata Dika.


Umi hanya menganguk dan memesan makanan, Dika mengirim pesan kepada Wulan kalau dia sampai di sanah mungkin agak malam, karena mereka sedang makan dahulu.


"Assalamuallaikum Lan, aku sama Umi kemungkinan sampai tempat kerja kamu agak malam karena ibu bos lapar jadi kita mampir dahulu untuk makan."Ucap Dika.


"Waaalaikumsalam kak, iya tidak apa-apa kak. Atau tidak aku pulang dahulu ya ke rumah nanti kita ketemu di rumah aku saja."Kata Ku.


"Yasudah lebih baik kamu pulang saja, tidak baik kalau nunggu di toko buat seorang wanita."Ujar Dika.


Dika sedari tadi focus dengan ponselnya tanpa sadar dia dilihat oleh Umi pacarnya.


"Kamu sibuk banget bang?"Tanya Umi.


"Oh kamu sudah datang sayang, maaf ya ini dari Wulan dia meminta kita datang ke rumahnya kerena RED gemeteran dan mati."Ucap Dika.


"Oh begitu, jadi habis dari sinih berarti kita ke rumah Wulan?"Tanya Umi.


"Kamu memang pintar sayang."Ucap Dika tersenyum dan mencium kening Umi.


"Malu bang, dilihatin banyak orang."Kata Umi memerah pipinya.


Dika hanya tersenyum saja melihat ekspresi muka Umi.


"Yasudah makan dahulu ya, nanti kita pergi kerumah Wulan."Ucap Dika.


"Siap komandan."Kata Umi.

__ADS_1


Dika dan Umi tersenyum bersamaan dan mereka hendak makan malam bersama sebelum ke rumah Wulan.


Bersambung,,,


__ADS_2