
Pagi hari.
Wulan seperti biasa bersiap-siap untuk berangkat kerja, namun ponsel Wulan berbunyi.
Kring...Kring...Kring...
"Assalamuallaikum mas, gimana kamu jadi berangkat hari ini?"Tanya Wulan.
"Waalaikumsalam, iya jadi Lan. Cuman aku agak ragu buat berangkat kesanah."Ucap Ibrahim.
"Ragu kenapa mas?"Tanya Wulan heran.
"Aku takut kalau suatu saat nanti kita menikah aku yang ada malah di tugasin ke luar kota, dan aku takut juga kalau aku ke sanah kamu kenapa-kenapa di sinih."Ujar Ibrahim.
"Mas, dengar ya kita serahin saja semua jodoh, kematian itu sama Allah. Dan kalau urusan kita menikah kamu di tugasin di luar kota kayanya menurut aku itu tidak mungkin deh."Ucap Wulan.
"Tapi sayang, teman aku aja habis menikah mereka di tugasinnya ke luar kota malahan dia di tugasin perbatasan Papua."Ucap Ibrahim sedih.
"Aku yakin kalau kamu akan di tugasin di jakarta kok, sudah ya kamu jangan terlalu banyak di pikirkan mas. Jalanin yang ada aja dahulu."Kata Wulan menenankan Ibrahim.
"Iya terimakasih ya."Ucap Ibrahim.
"Sekarang kamu berangkat jam berapa?"Tanya Wulan.
"Jam 09.00 WIB, aku berangkat dari kapal."Ucap Ku.
"Yasudah kamu jalanin aja dahulu ya mas, aku mau siap-siap buat antar kamu tugas."Ucap Wulan tersenyum.
"Iya sayang."Kata Ibragim.
Telpon mati, Wulan langsung bersiap-siap dan segera berangkat ke jakarta. Namun Wulan hari ini izin sakit, di karenakan mukanya masih belum membaik. Wulan mengirim pesan kepada Fauzan.
"Assalamuallaikum bang, hari ini aku izin sakit soalnya muka dan kaki ku masih ngilu habis ketabrak."Ucap Wulan.
"Waallaikumsalam Lan, iya semoga lekas sembuh ya."Ujar Fauzan.
"Terimakasih bang atas doanya."Kata Ku.
Di tempat Ibrahim.
"Kenapa kamu mondar mandir kaya begitu?"Tanya Dika heran.
"Aku ragu buat berangkat."Ucap Ibrahim mengerutkan dahi.
"Ragu soal apa?" Sudah seharusnya kita lebih pentingin negara dari pada keluarga kita, karena negara nomor 1 dan keluarga nomor 2."Ucap Dika.
"Perasaan aku tidak enak."Ucap Ibrahim gelisah.
"Yasudah kamu minta doa sama keluarga kamu dan minta restu dari mereka."Kata Dika.
"Iya."Kata Ibrahim menganguk.
Ibrahim mengetik pesan kepada keluarganya untuk minta maaf dan untuk hadir di keberangkatannya dia ke NATUNA.
Di tempat Wulan.
Wulan sudah bersiap-siap dan akhirnya Wulan pergi ke tempat Ibrahim berangkat.
"Mau kemana kamu sudah cantik?"Tanya Mama heran sambil melihat Wulan dari atas sampai bawah.
"Hhhhmmm mau ke tempat Ibrahim ma, hari ini dia mau tugas ke NATUNA jadi aku harus hadir di sanah."Ucap Wulan.
"Yasudah kamu hati-hati di jalan ya sayang."Ucap Mama.
"Iya terimakasih ma."Kata Wulan tersenyum sambil meluk mama.
"Salam ya buat Ibrahim dan keluarganya, Maaf mama tidak bisa hadir dan tidak bisa kasih apa pun."Kata Mama tersenyum.
"Iya nanti aku salamin ma."Ujar Wulan.
Wulan langsung memesan ojek oline dan bergegas untuk ke jakarta. Namun di sepanjang jalan Wulan kejebak macet karena jalanan jakarta kalau pagi hari pasti macet parah.
"Aduh gimana ini, aku pasti akan terlambat."Batin Wulan panik.
Wulan langsung bilang sama ojeknya untuk cari jalan alternatif lain.
"Pak, gimana kalau kita cari jalan alternatif lain saja pak. Soalnya saya buru-buru pak, Bisa tidak?"Tanya Wulan khawatir sambil melihat jam tanggan.
"Tapi mba, sama aja jalanannya pasti macet juga."Kata Ojek.
"Di coba aja dulu pak lewat jalannya."Kata Wulan gelisah.
"Baik mba."Kata Ojek.
Mereka akhirnya mutar balik mencari jalan alternatif buat ketempat Ibrahim agar tepat waktu.
Di tempat Ibrahim.
"Wulan kemana ya belum datang?"Batin Ibrahim bertanya dan memperhatikan sekitar sambil gelisah.
"Udah kamu tenang saja, Wulan aman sama aku kok. Nanti aku jagain Wulan untuk kamu kembali dari NATUNA. Kamu tenang saja aku tidak akan macem-macem kok."Ucap Dika menepuh bahu Ibrahim.
"Terimakasih ya."Ucap Ibrahim tersenyum sambil berjabat tanggan.
"Sama-Sama, sudah sanah kamu temuin keluarga kamu dahulu."Ujar Dika tersenyum.
Ibrahim hanya menganguk dan menemui keluarganya. Kini Wulan tiba dimana saat semua prajut berkumpul untuk berangkat ke NATUNA untuk perpisahan bersama keluarganya.
"Dimana ya mas?"Tanya Wulan sambil celingak celinguk mencari.
Wulan mencari Ibrahim kesanah dan kemari, akhirnya Wulan melihat Ibrahim dari kejauhan.
"Ternyata kamu di sanah."Batin Wulan melihat ke arah Ibrahim.
Sebelum Wulan samperin Ibrahim ternyata Ibrahim bersama keluarganya serta seorang perempuan menemani Ibunya.
"Loh perempuan itu siapa?" Seperti pernah melihatnya."Gumam Wulan memperhatikan dari jauh.
Ibrahim yang sedang di peluk oleh sang ibu serta kesedihan anaknya akan tugas jauh itu sambil berlinang air mata.
"Hati-Hati di sanah kamu mas, kalau sudah sampai kabari Ibumu serta kakakmu."Ucap Ibu memeluk Ibrahim sambil menangis.
"Iya bu, nanti aku kabarin."Ujar Ibrahim mengapus air mata ibunya.
Kini suara kapal pun berbunyi tanda dimana semua prajurit untuk masuk ke dalam kapal, karena kapal akan segera berangkat.
__ADS_1
Ibrahim yang sedari tadi mencari Wulan tapi dia sama sekali tidak mencari Wulan.
"Kamu kemana sayang?"Batin Ibrahim cemas.
"Apa kamu tidak datang?"Aku mau bertemu sama kamu untuk terakhir kalinya."Gumam Ibrahim menaikan alisnya yang cemas.
Bahu Ibrahim di tepuk oleh Dika.
"Bro, udah sanah masuk ke kapal nanti terlambat loh. Kamu mikirin apa?"Tanya Dika heran melihat temannya panik.
"Wulan belum datang."Ucap Ibrahim melas.
"Ngapain kamu mikirin perempuan itu lagi?"Kata Ibu dengan nada tinggi.
"Tapi bu, Wulan juga adalah penyemangat aku."Ucap Ibrahim sedih.
"Buang perempuan itu dari hati kamu, ganti dengan perempuan yang jauh lebih baik di samping ibu yang bernama RAHAYU."Ucap Ibu emosi.
"Sudahlah lebih baik aku masuk saja ke dalam kapal, dari pada dengar ibunya yang tidak akan ada habisnya."Ucap Ibrahim meningalkan Ibu serta keluarganya.
Ibrahim mendekati Dika.
"Nitip Wulan ya, tolong jaga dia dan nanti kalau dia sudah sampai di sinih tolong bilangin kepada dia kalau aku sangat sayang sama dia."Ujar Ibrahim menepuk bahu Dika sebelum berangkat.
"Baik, nanti aku sampaikan kepada Wulan dan aku akan jaga dia dengan baik seperti layaknya seorang adik."Ujar Dika tersenyum.
"Terimakasih."Ucap Ibrahim tersenyum.
"Hati-Hati di sanah bro, jaga diri kamu ya."Kata Dika.
"Oh iya nanti kalau kamu bertemu sama Wulan, tolong kasih burung Ku yang di kapal Si RED ya. Suruh rawat dan kasih makan dia."Kata Ibrahim.
"Iya nanti akan aku sampaikan kepada Wulan, dan kasih Si RED sama Wulan buat di rawat."Ucap Dika.
Ibrahim hanya menganguk dan masuk ke dalam kapal untuk berangkat.
"Semoga kamu bisa jaga Si RED burung kesayangan Ku."Batin Ibrahim.
Wulan yang sedari tadi memperhatikan mereka semua sambil mendengarkan ucapan mereka, sontak membuat Wulan kaget dengan apa yang mereka katakan. Kapal telah berangkat.
"Hati-Hati ya mas kamu di sanah."Gumam Wulan sambil melihat arah kapal.
Wulan pergi meningalkan lokasi sambil menangis, Wulan duduk di salah satu warung di dekat lokasi. Wulan memesan minuman dinggin sambil menangis.
"Mas, apa hubungan kita tidak salah kalau harus di teruskan?"Batin Wulan gelisah sambil melamun.
"Apa kita harus berakhir saja ya."Gumam Wulan.
Tidak lama kemudian pesanan Wulan datang.
"Terimakasih ya bu."Ujar Wulan.
"Mba habis mengantar salah satu prajurit di sanah ya mba."Kata Ibu warung.
"Iya bu."Ucap Wulan.
"Yang sabar ya mba, pasti mereka pulang dengan selamat."Ucap Ibu menenangkan Wulan yang sedang sedih.
"Aamiin bu."Ucap Ku.
"Calon suami bu."Ucap Ku.
"Oh...Yasudah doakan saja mba semoga calonnya selamat sampai tujuan dan kembali dengan selamat. Sudah jangan sedih lagi mba, masa perempuan secantik mba sedih seperti ini. Tidak bagus menangisi sampai seperti ini."Kata Ibu warung sambil kasih tisue kepada Wulan.
"Terimakasih ya bu."Ucap Wulan menghapus air matanya.
Ibu hanya menganguk dan kembali ke dalam warung meningalkan, kini Wulan duduk sendiri sambil melihat laut dan melamun sama kejadian tadi. Waktu tidak terasa sudah sangat siang. Wulan meningalkan warung dan bergegas untuk pulang ke rumah.
"Lebih baik aku pulang saja karena sudah siang."Ucap Wulan.
Wulan pulang melewati pantai di daerah jakarta, namun di lihat oleh Dika kalau Wulan sedang melamun.
"Loh itu bukannya Wulan pacarnya Ibrahim."Kata Dika melihat ke arah Wulan yang sedang jalan sendiri.
"Mana Dika?"Tanya Diki.
"Itu..."Jawab Dika menunjuk.
"Oh iya, ayo kita samperin saja ke sanah."Ucap Diki.
Mereka berdua berjalan ke arah Wulan.
"Wulan!!!"Teriak mereka bersamaan.
Wulan sedari tadi melamun berjalan di pantai tidak focus karena ucapan tadi.
"Wulan!!"Teriak Mereka bersamaan lagi.
"Seperti ada yang mangil."Ucap Wulan melihat sekitar.
Dika dan Diki melambaikan tanggan mereka.
"Oh mereka toh."Ucap Wulan menghelaikan napas.
Diki dan Dika menghampiri Wulan.
"Kamu ngapain ke sinih ?"Tanya Mereka berdua.
"Aku..."Kata Wulan terbata-bata.
"Kamu habis nangis?"Tanya Diki.
"Tidak kak, tadi kelilipan debu aja kok."Kata Wulan.
"Ayo duduk dulu di sinih, coba kamu cerita sama kita ada apa."Kata Dika.
"Tidak usah kak, aku harus pulang ke rumah."Kata Wulan.
"Sudah duduk dulu, aku sama Diki tidak akan macem-macem kok jadi kamu tidak perlu takut dan khawatir."Ucap Dika.
"Iya kamu tenang saja Lan, kita berdua tidak akan macem-macem kok."Kata Diki menegaskam kembali kepada Wulan.
Wulan hanya diam saja.
"Apa aku harus percaya sama mereka, aku takut sekali sama mereka walaupun mereka temannya Ibrahim tapi tetap aja dia adalah seorang cowo. Nanti aku kenapa-kenapa gimana kalau tidak ada Ibrahim."Gumam Wulan mengelengkan kepala.
__ADS_1
"Kamu kenapa Lan?"Tanya Dika penasaran.
"Kamu takut ya sama Kita?"Tanya Diki heran.
"Hhhhmmm."Ujar Wulan menghelaikan nafasnya.
"Kita janji deh hanya sebentar saja."Kata Dika.
"Janji ya sebentar."Kata Wulan melirik kearah mereka.
"Iya kita janji."Kata mereka bersamaan.
Wulan pun duduk diantara mereka berdua.
"Kenapa kamu tidak datang tadi diacara keberangkatan ke NATUNA?"Tanya Dika penasaran.
"Aku datang kok, cuman tadi sedikit terlambat karena di jalan macet."Ucap Ku.
"Pantasan saja kita tidak melihat kamu."Kata mereka bersamaan.
"Terus kamu ini habis dari mana mau kemana?"Tanya Diki.
"Oh tadi habis dari pantai di sanah dan ini mau pulang ke rumah."Kata Wulan sambil menunjuk ke arah pantai.
"Gimana kalau aku antar kamu pulang saja."Kata Dika.
"Tidak usah kak, nanti yang ada kak Umi marah kalau kakak antar aku pulang."Ucap Wulan.
"Umi tidak akan marah, karena sekarang dia lagi bekerja."Kata Dika.
"Tapi kak."Ucap Wulan.
"Udah kamu diantar sama Dika saja supaya lebih aman sampai di rumah, tenang saja Dika tidak akan macem-macem dan tidak akan mengigit."Kata Diki sambil tertawa.
"Sialan kamu."Kata Dika dengan nada tinggi.
Wulan hanya tersenyum saja melihat mereka berdua.
"Yasudah aku pamit duluan ya kak. Assalamuallaikum."Ucap Wulan meningalkan mereka yang ribut itu.
"Eh tunggu Lan."Kata Dika sambil menarik tanggan Wulan.
"Kenapa kak???"Tanya Wulan heran.
"Aku serius mau antar kamu pulang."Kata Dika.
"Tidak usah kak, aku bisa pulang sendiri."Ucap Wulan tersenyum.
"Please aku mohon, mau ya diantar."Kata Dika melas.
"Sudah mau aja Lan diantar, kasihan tau dia sampai mohon kaya gitu."Kata Diki sambil bujuk Wulan.
"Oke...Oke baiklah, Wulan mau diantar pulang."Kata Wulan melas sambil tidak tega.
Akhirnya Wulan diantar oleh Dika.
"Sebentar ya aku mau antar Wulan dulu, kamu balik saja duluan ke kosan."Kata Dika tersenyum.
"iya, sudah sanah anterin anak orang. Bawa motor aku saja sanah."Kata Diki sambil kasih kunci motor.
"Ayo Lan kita pulang."Ajak Dika sambil pegang tanggan Wulan.
"Kak, lepasin tanggan Wulan. Tidak baik pegang tanggan seperti itu."Kata Wulan emosi.
"Oh iya maaf."Ucap Dika melepaskan tangganya.
"Aku permisi pulang dulu ya kak."Kata Wulan kepada Diki.
"Iya, hati-hati ya kalian di jalan."Kata Diki tersenyum.
"Iya kak."Kata Wulan.
"Jaga anak orang baik-baik loh."Kata Diki kepada temannya.
"Iya."Kata Dika.
Mereka meninggalkan lokasi tersebut dan kembali ke rumah Wulan. Di sepanjang perjalanan mereka asyik ngobrol.
"Lan kamu asli orang mana?"Tanya Dika basa basi.
"Waktu kita pertama kali ketemu bukannya sudah tau."Kata Wulan.
"Biasa aja kali jawabnya jangan jutek gitu."Ucap Dika.
"Bekasi."Kata Wulan.
"Oh..."Ucap Dika.
Kini mereka tiba di rumah Wulan.
"Terimakasih kak, sudah mau antar Wulan sampai di rumah."Kata Wulan.
"Iya sama-sama."Ujar Dika.
"Mau masuk dahulu atau tidak?"Tanya Wulan.
"Tidak usah Lan, habis dari sinih aku mau jemput Umi kerja. Bisa bahaya kalau dia tidak di jemput."Ucap Dika.
"Oh, yasudah hati-hati di jalan kak. Sampaikan salam aku sama kak Umi ya."Ucap Wulan.
"Iya nanti di salamin."Ujar Dika.
Dika meningalkan rumah Wulan dan menuju ketempat dimana Umi pacarnya bekerja.
Wulan masuk ke dalam rumahnya itu.
Tok...Tok...Tok suara pintu di ketuk.
"Assalamuallaikum!!!"Teriak Wulan.
"Waalaikumsalam."Ucap Mama.
"Aku ke kamar dahulu ya ma, mau bersih-bersih dahulu."Kata Wulan sambil meningalkan Mama.
Kini Wulan tiba di dalam kamarnya, Wulan langsung merebahkan badannya di kasur sambil mengigat kembali kejadian tadi di lokasi. Tanpa sadar Wulan ketiduran sebelum berganti pakaiannya itu.
__ADS_1