
Wulan yang melihat dari bawah pangung penampilan Ibrahim, ia langsung merekam video Ibrahim bernyanyi.
Wulan mengambil ponsel Ibrahim di dalam tas dan memulai merekamnya, Beberapa menit kemudian tidak terasa Ibraham sudah selesai bernyayi. Kini Ibrahim turun dari pangung dan mendekati Wulan.
sorak-sorak tepuk tanggan penonton iringi turun Ibrahim dari atas pangung menuju ke Wulan.
Prok...Prok...Prok
"Gimana aku bagus tidak nyayinya?"Tanya Ibrahim tersenyum.
"Iya bagus mas."Ucap Ku tersenyum.
"Gimana kamu suka tidak?"Tanya Ibrahim menaikan satu alisnya.
"Iya suka mas."Ucap Ku tersenyum.
"Sebentar ya aku mau ke toilet dahulu."Kata Ibrahim.
"Mau ngapain ke toilet?"Tanya Wulan heran.
"Biasa."Ucap Ibrahim.
"Oh, yasudah sanah."Ucap Wulan.
Wulan mengirim video hasil rekamannya tadi ke ponselnya.
"Akhirnya sudah terkirim."Ucap Wulan.
Wulan menaruh ponsel Ibrahim di atas meja.
Namun ponsel Ibrahim berbunyi tanda telpon masuk dari Agus.
"Loh temannya telpon ini, aku angkat atau tidak ya?"Tanya Wulan bingung.
"Biarkan saja lah nanti juga mati sendiri."Ucap Wulan mengabaikan ponsel Ibrahim.
Namun ponselnya telpon lagi dengan nama yang sama, lalu Wulan mengangkat telponnya.
Kring...Kring...Kring...
"Angkat saja lah, siapa tau penting ini dari atasannya."Ucap Wulan.
Wulan mengangkat telpon.
"Hallo ada apa ya?"Tanya Wulan.
"Loh kok suara perempuan."Batin Ayu heran.
"Perempuan itu siapa ya?"Tanya Ayu di dalam hati.
Ayu tidak menjawab suaranya dan mematikan suara ponsel itu.
"Jadi apa betul yang di katakan oleh Ningsih kalau Ibrahim punya selingkuhan."Ucap Ayu heran.
"Aku semakin yakin buat ketemu sama Ningsih, soal Ibrahim agar aku tidak salah langkah."Ucap Ayu.
Ayu merebahkan diri di atas kasur sambil mengingat kembali itu suara siapa.
"Apa itu suara saudaranya atau kakaknya ya?"Gumam Ayu bertanya di dalam hati.
"Tapi kalau betul kemana Ibrahim kalau yang angkat telponnya orang lain, dan dia juga leluasa bisa angkat telpon miliknya."Batin Ayu.
"Ini ada yang aneh, aku harus selidiki lebih lanjut sebelum melangkah ke depan."Batin Ayu.
"Ah sudah lah, lebih baik aku istiraht saja. Besok baru aku tanya sama Ibrahim siapa yang angkat telponnya."Ucap Ayu.
Ayu akhirnya tertidur.
Di restoran Wulan masih menunggu Ibrahim yang belum kunjung datang juga.
"Siapa ya yang telpon tadi?"
"Kok tidak ada suaranya?"
"Kok dia tidak mau bilang apa pun, apa itu temannya atau atasannya?"
"Tapi kalau teman atau pun atasannya pasti akan angkat dan berbicara, bukan diam membisu seperti patung."
Wulan dari tadi melamun sama apa yang dia masih bertanya-tanya di dalam hati, kini Ibrahim sudah datang ke tempat Wulan.
"Hei kok melamun?"Tanya Ibrahim menatap Wulan.
"Oh maaf mas."Ucap Wulan.
"Kamu sedang melamunin apa ?"Tanya Ibrahim menatap Wulan.
"Bukan apa-apa mas."Ucap Wulan tersenyum.
"Ayo kita pulang, waktu sudah semakin larut malam nanti kita kemalaman di jalan dan sampai rumah kamu."Ucap Ibrahim mengandeng tanggan Wulan.
"Ayo."Ucap Wulan.
Wulan dan Ibrahim menuju ke dalam mobil, kini mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali ke rumah.
Wulan sedari tadi melamun di setiap panjang perjalanan, membuat Ibrahim heran.
"Kamu sedang melamun apa sih, aku perhatikan kamu melamun terus?"Tanya Ibrahim.
Wulan menatap ke arah Ibrahim.
"Apa aku bilang saja sama apa tadi yang aku angkat telponnya, tapi apa dia tidak akan marah kalau aku angkat telponnya?"Batin Wulan bertanya.
"Loh di tanya malah tidak jawab."Ucap Ibrahim.
__ADS_1
"Bukan apa-apa mas."Ucap Wulan.
"Kamu yakin bukan apa-apa?"Tanya Ibrahim melihat ke arah Wulan.
"Iya mas."Ucap Wulan tersenyum simpul.
"Yasudah kamu minum dahulu ini aku sudah belikan kamu tadi secangkir coklat panas di sanah, buat hangatkan badan kamu dan sedikit oleh-oleh buat di bawa pulang."Ucap Ibrahim kasih coklat panas.
"Terimakasih ya mas."Ucap Wulan tersenyum.
Wulan meminum coklat panas sedikit demi sedikit dan melirik sesaat ke arah Ibrahim.
"Kamu kenapa melirik aku seperti itu?"Tanya Ibrahim heran.
"Tidak kok, perasaan kamu saja kali."Ucap Wulan meminum kembali coklat panas.
"Yakin kamu tidak ada yang mau di sampaikan kepada aku apa pun itu?"Tanya Ibrahim mencoba mengorek Wulan.
"Hhhhmmm."Ucap Wulan menarik napas panjang.
"Eh di tanya juga malah seperti itu."Ujar Ibrahim menatap Wulan.
"Ada sih mas, cuman kamu janji sama aku tidak akan marah terlebih dahulu."Kata Ku memaikan tanggan.
"Iya iya aku janji tidak akan marah sama kamu."Ucap Ibrahim memegang tanggan Wulan.
"Serius janji tidak akan marah?"Tanya Wulan memastikan.
"Iya sayang janji, memangnya kamu mau tanya apa sampai seperti itu?"Tanya Ibrahim penasaran.
"Jadi tadi sewaktu kamu ke toilet, terus ponsel kamu bunyi terus dan aku tidak angkatnya. Lalu bunyi lagi berkali-kali dan aku mencoba angkat telpon kamu, tapi dari sih penerima telpon itu tidak menjawabnya sama sekali."Ucap Wulan.
"Oh seperti itu, memangnya siapa yang telpon tadi?"Tanya Ibrahim.
"Kalau tidak salah di nama ponsel kamu adalah Agus."Ucap Wulan sambil mengigat kembali.
"Apa Agus???"Teriak Ibrahim kaget sambil ngerem mendadak.
"Kamu kenapa sih rem mendadak mas?"Tanya Wulan heran.
"Terus si Agus itu bilang apa saja sama kamu?"Tanya Ibrahim panik.
"Tidak bilang apa-apa mas, dia tidak bersuara apa pun."Ucap Wulan mengangkat kedua tanggannya.
Ibrahim hanya diam mematung, sambil berpikir di dalam hati.
"Mau apa Ayu telpon ya?"Tanya Ibrahim di dalam hati.
"Bagiamana cara aku jelasin kepada Ayu atas peristiwa hari ini agar Ayu percaya, dan mama tidak lagi menyalahkan aku."Batin Ibrahim.
Wulan langsung bertanya kepada Ibrahim.
"Mas kenapa jadi kamu malah diam membisu?"Tanya Wulan heran melihat ekspresi muka Ibrahim berubah.
"Oh bukan apa-apa kok."Ucap Ibrahim.
"Iya."Ucap Ibrahim kecup kening Wulan.
"Memangnya Agus itu siapa sih mas?"Tanya Wulan penasaran.
"Teman main aku di rumah."Ucap Ibrahim.
"Ada yang di aneh dengan ekspresi raut wajah Ibrahim tadi waktu aku bilang dari Agus."Batin Wulan curiga.
"Siapa ya Agus itu, sampai Ibrahim panik dan kaget seperti tadi."Gumam Wulan bertanya.
Akhirnya mereka melanjutkan kembali perjalanan pulang menuju ke rumah, kini mereka sudah sampai di rumah Wulan.
"Mas mau mampir dahulu tidak?"Tanya Wulan.
"Tidak usah sudah malam, salam saja sama Mama kamu."Ucap Ibrahim tersenyum.
"Terimakasih mas untuk hari ini, iya nanti aku salamin sama mama."Ujar Wulan.
"Iya sama-sama, yasudah kamu masuk ke dalam kamar sanah."Ucap Ibrahim.
Wulan hanya menganguk saja dan masuk ke dalam rumah sambil membawa beberapa barang bawaan yang di kasih oleh Ibrahim.
Tok...Tok...Tok... suara pintu di ketuk oleh Wulan.
"Assalamuallaikum Ma.!!!"Teriak Wulan.
"Waaalaikumsalam kak, kok malam sekali pulangnya habis dari mana kamu?"Tanya Mama melihat ke arah Wulan.
"Tadi habis dari acara ulang tahun anaknya atasan Ibrahim ma."Ucap Wulan mengalihkan agar mamanya tidak curiga.
"Kok acara ulang tahun atasan Ibrahim, pakaian kamu seperti ini dan itu kado siapa?"Tanya Mama heran.
"Oh itu tadi aku tidak sempat bawa baju salin, soalnya mendadak di ajaknya dan lagi pula hanya sebentar saja. Terus itu adalah Doorprice mah atas tadi kami menjawab pertanyaan yang di kasih oleh panitia."Ucap Wulan.
"Oh, terus acaranya dimana?"Tanya Mama.
"Di puncak ma."Ucap Wulan tersenyum.
"Jadi kamu habis kepuncak toh."Ucap Mama.
"Iya ma, terus ini ada oleh-oleh buat mama dari aku sama Ibrahim tadi kami berdua mampir di jalan untuk membelinya sebelum pulang."Ucap Wulan.
"Terimakasih ya kak."Kata Mama tersenyum.
Wulan hanya menganguk dan kembali ke dalam kamarnya, sampailah Wulan di dalam kamarnya dan langsung rebahan di atas kasur tanpa mandi terlebih dahulu karena kelelahan dan hari sudah sangat larut malam.
Wulan masih memikirkan atas kejadian raut wajah Ibrahim yang berubah sesaat, Wulan langsung membuka kado yang di berikan oleh Ibrahim itu.
__ADS_1
Ternyata hadiahnya sebuah boneka teddy bear berukuran besar dan berwarna coklat untuk menemani Wulan tidur, Wulan menaruh boneka itu di samping tempat tidurnya.
Namun Wulan tidak tau kalau ternyata ada hadiah lagi yang di kasih oleh Ibrahim, ada sebuah kotak berbentuk Love berwana pink yang isinya adalah sebuah coklat dan sebuah surat dari Ibrahim.
Wulan langsung membaca surat itu dan sambil makan coklatnya, setiap kata-kata yang terkandung di dalam surat itu membuat Wulan terharu dan tersenyum sendiri dengan makna di dalam surat itu.
"Aku tidak menyangka kamu bisa buat puisi seromantis ini."Ucap Wulan tersenyum sambil mengegam suratnya.
"Terimakasih ya sekali lagi kang pop corn atas kejutannya hari ini, aku benar-benar bahagia bisa di perlakukan sama kamu seromantis ini."Ucap Wulan tersenyum.
Wulan menaruh suratnya kembali di dalam kotak berbentuk hati di atas mejanya dan Wulan mengambil ponselnya untuk melihat video yang dia rekam melalui ponsel Ibrahim tadi.
"Rasanya aku sekarang seperti mimpi bisa di perlakukan seromantis ini sama kamu."Ucap Wulan menatap layar ponselnya.
"Semoga memang kamu yang di kirimkan tuhan untuk aku dan semoga kamu adalah benar jodoh aku mas."Ucap Wulan.
Kini Wulan tertidur dengan lelap karena seharian beraktivitas, Ibrahim sudah sampai di kosannya dan memulai kirim pesan kepada kakaknya atas apa kejadian tadi.
"Semoga aja Ayu percaya sama ucapan aku dan juga kakak."Ucap Ibrahim.
Setelah Ibrahim kirim pesan kepada kakak, Ibrahim kirim pesan kepada Ayu bahwa yang tadi angkat adalah kakaknya dan dia sedang berada di toilet jadi ponselnya di taruh di atas meja.
"Semoga Ayu percaya."Kata Ku.
Ibrahim masuk ke dalam kosan dan merebahkan badannya di atas kasur, dua sahabatnya pulang dari bejaga.
"Baru pulang?"Tanya Mereka bersamaan.
"Iya nih."Ucap Ibrahim.
"Habis dari mana, seperti perjalanan jauh?"Tanya mereka bersamaan.
"Iya jauh pakai helm."Ucap Ibrahim.
"Itu apa yang kamu bawa?"Tanya mereka bersamaan.
"Oleh-Oleh buat kalian."Ujar Ibrahim.
"Kamu habis dari puncak?"Tanya Dika.
"Iya tadi habis dari puncak kasih hadiah buat Wulan karena aku sudah janji."Ucap Ibrahim.
"Jadi kamu ke puncak sama Wulan berdua saja?"Tanya Dika.
"Iya berdua, masa mau bareng-bareng sama kamu yang ada bukan romantis."Ucap Ibrahim.
"Terus kamu ngapain di sanah?"Tanya Dika penasaran.
"Iya makan lah."Ujar Ibrahim.
"Yakin hanya makan?"Tanya Dika penasaran.
"Kamu kenapa sih tanyanya sedetail itu?"Tanya Ibrahim curiga.
"Iya aku hanya memastikan saja kalau kamu tidak berbuat macam-macam sesuai peraturan tentara."Ucap Dika.
"Iya aku tau batasan kok, aku tidak akan macam-macam."Ujar Ibrahim.
"Syukur lah kalau kamu sadar."Ucap Dika menarik napas panjang dan duduk di samping Ibrahim.
"Jangan bilang kamu naksir sama Wulan?"Tanya Ibrahim kepada Dika.
Dika hanya kaget dengar ucapan Ibrahim kepada dia.
"Jangan ngaco deh, aku tidak akan suka sama Wulan. Karena sudah ada peraturannya di larang suka sama pacar atasan kan, masa kamu lupa sih."Ucap Dika meyakinkan Ibrahim.
"Iya aku tau kok, aku cuman bercanda saja."Ucap Ibrahim.
Ibrahim masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat dan Dika masih duduk di sofa.
"Syukurlah dia percaya sama ucapan aku barusan saja."Batin Dika membuang napas panjang.
"Kenapa kamu harus kenal sama Ibrahim dahulu bukan aku saja Lan, kalau kamu kenal sama aku mungkin kamu akan jauh lebih bahagia dari pada dia."Gumam Dika.
"Kenapa ada peraturan yang tidak bisa aku langar dan membuat hati aku tidak menentu, rasanya aku sangat ingin melindungi dan menyayangi kamu lebih dari seorang adik."Batin Dika kesal.
"Tapi aku sadar dan tau betul kalau itu tidak akan pernah terjadi dan tidak bisa di langgar."Batin Dika kecewa.
"Aaaahhh!!!"Teriak Dika kesal.
Sontak membuat Ibrahim dan Diki terkejut mendengar suara temannya itu.
"Kamu kenapa teriak?"Tanya Diki.
"Bukan apa-apa kok."Ucap Dika.
"Habis ribut sama Umi?"Tanya Diki.
"Tidak kok, hanya banyak pikiran saja."Ucap Dika.
"Yasudah kita main kartu saja ayo, mumpung sedang kumpul bertiga."Ujar Diki.
"Boleh itu."Kata Dika.
Diki berjalan menuju kamar dan memangil Ibrahim untuk main kartu bersama sambil mengusir rasa jenuh mereka di kosan, akhirnya mereka bermain kartu bertiga sampai hingga pagi tiba.
Mereka bertiga mukanya penuh dengan bedak karena kalah bermain kartu, kini permainan berakhir mereka berdua mandi dan apel pagi di asramanya karena kalau tidak ada di sanah bisa kena denda.
Mereka semua pergi terburu-buru dengan pakaian berantakan dan sepatu belum diikat, kini mereka semua sudah rapih dan langsung berangkat menuju asrama untuk apel pagi.
Sampailah mereka di asrama untuk apel api karena sinar matahari sudah menyinari di atas langit dan suara burung berkicau dengan merdu dan indah.
Di rumah Wulan pagi hari Wulan bangun untuk mandi dan menuju ke kampus untuk kuliah pagi.
__ADS_1
Wulan menuju ke ruang tamu untuk berangkat kerja, Wulan sarapan bersama keluarganya.
Kini Wulan selesai sarapan dan menuju ke kampusnya.