
Kini Ningsih sudah sampai di aula dimana tempat paara tamu hadir dan menunggu untuk waktu makan malam.
Ningsih sudah taruh 2 piring itu, lalu kembali ke dapur untuk mengambil kembali makanan untuk di taruh di sanah, namun Ningsih tersengol oleh Rahayu yang sedang membawa 2 piring untuk di taruh ke depan.
"Ah maaf, aku tidak sengaja mba."Ucap Ningsih kepada Rahayu.
"Iya tidak apa mba, mungkin aku yang ceroboh sampai tidak hati-hati."Ujar Rahayu.
"Mari mba saya bantu buat taruh di sanah."Kata Ningsih tersenyum.
"Tidak usah mba, saya bisa sendiri membawanya."Ucap Rahayu tersenyum.
"Oh yasudah mba, sekali lagi saya minta maaf ya."Ucap Ningsih.
"Iya mba. Saya permisi dahulu mau menaruh piring ini karena sudah di tunggu, nanti kita sambung lagi."Ujar Rahayu.
"Iya mba, saya juga mau ke dapur mau membantu yang lainnya."Kata Ningsih.
Rahayu meninggalkan Ningsih dan menuju ke aula untuk mengantar piring berisi makanan, sedangkan Ningsih kembali ke dapur untuk membantu membereskan sisa makanan di sanah dan mengobrol bersama dengan kakak Ibrahim.
Ningsih yang sudah akrab sama keluarga besar Ibrahim dan mengobrol ria serta tertawa bersama kakaknya.
Dilihatlah oleh Ibu Ibrahim mereka sedang ketawa ketiwi bersama layaknya seorang adik dan kakak.
"Aduh...Aduh kalian sedang ngobrolin apa sih sampai suaranya kedengaran ke kamar?"Tanya Ibu Ibrahim.
"Eh ada tante."Ucap Ningsih sambil bersalaman dan mencium tanggan ibu Ibrahim.
"Eh ada neng cantik, dari kapan kamu ada di sinih?"Tanya Ibu Ibrahim.
"Baru aja sampai tante."Ucap Ningsih tersenyum.
"Sama siapa kamu ke sinih?"Tanya Ibu Ibrahim basa basi.
"Saya sama adik tante."Kata Ningsih.
"Oh, sudah makan belum?"Tanya Ibu Ibrahim.
"Sudah tadi ibu, tidak perlu repot-repot."Ucap Ningsih.
"Makan ayo neng, kamu sudah kita angap sebagai saudara sendiri."Kata Ibu Ibrahim.
"Iya ibu terimakasih, nanti saya ambil sendiri."Ucap Ningsih.
"Kakak sendokin ya buat kamu."Kata Kakak.
"Tidak usah kak, nanti ngerepotin kakak. Aku ambil sendiri saja kalau lapar."Ujar Ningsih.
"Baiklah, terus gimana persiapan kamu menuju pernikahan?"Tanya Kakak penasaran.
"Alhamdulillah kakak persiapannya lancar dan sudah 40%."Ujar Ningsih.
"Alhamdulillah kakak senang mendengarnya."Kata Kakak tersenyum.
"Oh iya kakak, yang mana wanita Ibrahim ya?" Sejak tadi aku perhatikan tidak kelihatan?"Tanya Ningsih heran.
"Oh itu, ada kok tadi sedang membawa makanan kedepan. Paling sebentar lagi dia ada di sinih."Kata Kakak.
Ningsih hanya tersenyum dan menganguk saja.
"Kenapa kamu cemburu ya?"Tanya kakak meledek Ningsih.
"Apa sih kak, aku tidak cemburu kok. Aku hanya penasaran saja."Ujar Ningsih celingak celinguk sambil perhatikan sekitar.
"Tenang saja kamu paling cantik kok menurut kakak dari pada dia."Ucap Kakak mengoda Ningsih.
"Hahahaha kakak bisa saja memuju aku."Ucap Ningsih.
"Nah gitu dong tersenyum, kan semakin cantik."Ujar Kakak.
Mereka sedang asyik mengobrol sambil tertawa ketiwi bersamaan di dapur, kini Rahayu sudah sampai di dapur dengan tumpukan piring kotor yang sudah dia bawa dari aula untuk di cuci.
Rahayu yang melihat situasi kakaknya sedang ketawa sama wanita lain membuat Rahayu menatap ke arah mereka.
"Siapa wanita itu ya?"Kok aku tidak mengenalnya?" Dia sangat akrab sekali sama kakak pertama Ibrahim?"Tanya Rahayu di dalan hati.
Rahayu masih menatap mereka sambil melamun, namun tanpa sadar kakaknya menghampiri Rahayu.
"Rahayu kenapa melamun disanah?"Tanya Kakak heran.
"Oh maaf kak, aku tidak sengaja melihat kalian yang sedang asyik ngobrol."Ujar Rahayu.
"Sebaiknya cepat sanah kamu bawa tumpukan piring itu ke dapur untuk di cuci."Ucap Kakak.
Rahayu hanya menganguk dan kembali ke dapur untuk kasih tumpukan piring untuk di cuci, setelah Rahayu kasih tumpukan piring Rahayu kembali ke dalam dan berbaur ke dalam keluarga Ibrahim.
"Oh ini dia pemeran wanita utamanya sudah hadir."Ucap Ibu Ibrahim.
Rahayu heran kenapa dia bisa di bilang pemeran wanita utama.
"Apa maksud dari perkataan ibu ya."Batin Rahayu bertanya.
Rahayu menghampiri Ibunya dan Ibu Ibrahim. Disanah sudah ada Kakak, Ningsih dan Ibrahim.
Ibu Ibrahim memperkenalkan kepada keluarga besar kalau ternyata Ibrahim dan Rahayu akan bertunangan.
Sontak membuat Ningsih kaget dan terkejut atas ucapan ibu, Ningsih hanya tau yang Ibrahim cinta itu adalah Wulandari bukan Rahayu karena Ibrahim sering curhat sama beliau kalau dia amat sangat mencintai Wulan.
Dalam lamunan Ningsih dan berpikir sejenak.
"Maksud perkataan ibu apa ya, mengumumkan masalah ini."Batin Ningsih heran.
__ADS_1
"Apa Wulandari tidak di restui oleh beliau karena pekerjaannya seperti aku dahulu?"Tanya Ningsih di dalam hati.
"Kasihan sekali hubungan kalian harus banyak cobaan dan rintangannya, semoga kalian bisa menghadapinya dengan lapang dada dan semoga kalaian bisa berbahagia satu sama lain."Gumam Ningsih.
Ningsih sejak dari tadi melamun tanpa di dasari kakak Ibrahim menghampiri Ningsih.
"Kamu melamun atas ucapan ibu ya?"Tanya kakak Ibrahim sambil berbisik ke Ningsih.
"Iya kak, aku hanya kaget saja. Setau aku yang di cintai oleh Ibrahim hanya Wulandari bukan wanita itu."Bisik Ningsih kepada kakak Ibrahim.
"Iya kakak tau itu, nanti kakak akan kasih tau kamu tapi bukan sekarang dan bukan di sinih."Bisik kakak.
"Iya kak aku paham."Ucap Ningsih.
"Lebih baik kita lihat saja lah, berdoa terbaik buat Ibrahim dan Wulan."Ujar kakak.
"Jadi kakak setuju sama Wulan?"Tanya Ningsih dengan ucapan pelan.
"Sejujurnya kakak lebih setuju sama Wulan, dia wanita baik dan banyak membantu kakak serta Ibrahim sewaktu kakak kabur."Ucap Kakak sedih.
"Lalu kenapa kakak tidak mencoba buat persatukan mereka?"Tanya Ningsih heran.
"Kakak tidak bisa menentang ibu sayang, kakak juga sudah mencoba kasih tau kepada ibu kalau Ibrahim hanya cinta sama Wulan dan kakak setuju. Tapi kamu tau kan ibu orangnya seperti apa kalau sudah keinginannya tidak bisa di tolak."Ucap Kakak sedih.
"Yasudah kakak tidak usah bersedih, kita berdoa yang terbaik buat mereka saja."Ucap Ku.
"Iya neng kamu benar."Ujar kakak.
Mereka sedang berdiri di samping ibu Ibrahim dan Ibu Rahayu itu sambil saling berbisik satu sama lain.
Ibrahim yang mendengat perkataan mereka semua langsung kaget dan menolak secara mentah-mentah.
"Ibu apa-apaan sih, kasih tau aku mau bertunangan sama dia?"Tanya Ibrahim kesal.
"Loh memangnya salah mas kasih kabar bagus seperti ini di depan semuanya?"Tanya Ibu.
"Tapi bu, aku belum mau menikah dahulu untuk sekarang."Ujar Ibrahim kesal.
"Iya ibu tau, makanya ibu buatkan saja pertunangan buat kalian berdua."Ucap Ibu tersenyum.
"Tapi bu."Ucap Ibrahim belum selesi dari perkataannya dan sudah di potong oleh ibunya.
"Tidak ada tapi-tapian."Ucap Ibu.
Ibrahim kesal dan pergi meninggalkan rumah untuk menjemput Wulan.
"Mas mau kemana?"Teriak Ibu bertanya kepada Ibrahim.
"Mau cari anggin bu, sumpek di rumah."Ucap Ibrahim meninggalkan rumah.
"Kalian mau ikut aku tidak?"Tanya Ibrahim kepada teman-temannya.
"Iya kami ikut."Ucap mereka bersamaan.
Dika dan Diki berpamitan kepada keluarga Ibrahim untuk meninggalkan acara.
"Tante terimakasih atas jamuannya, kami pamit dahulu."Ucap Mereka bersaman.
"Iya kalian hati-hati di jalan."Ucap Ibu Ibrahim.
Mereka berdua meninggalkan rumah Ibrahim dan mengejar Ibrahim yang sedang kesal.
"Kemana perginy ya?"Tanya Dika melihat sekitar tidak ada Ibrahim.
"Aku tidak tau, sebaiknya kita cari dahulu. Siapa tau berada tidak jauh dari rumah."Ujar Diki.
Dika hanya menganguk, mereka mencari bersamaan.
Di satu sisi Umi dan Dina melihat kejadian itu dan langsung menyalakan mobilnya dan mengikuti Dika dan Diki pergi.
Di sepanjang perjalanan Umi dan Dina saling menatap atas kejadian tadi yang ia dengar dan lihat membuat mereka sulit percaya sama apa yang telah terjadi.
"Kasiha sekali Wulan."Ucap Dina.
"Iya aku semakin yakin kalau Ibrahim bukan terbaik buat dia, apa sebaiknya kita kenalin saja Wulan sama pria yang jauh lebih baik dari Ibrahim."Ujar Umi.
"Iya aku setuju sama kamu."Kata Dina.
Kini Dina sama Umi masih mengikuti pergerakan Dika dan Diki, Dika dan Diki akhirnya bertemu sama Ibrahim di salah satu caffe tidak jauh dari rumahnya.
Ibrahim sering datang bersama Wulan ke caffe itu dan sering memesan sebuah minuman di sanah, kini caffe itu menjadi tempat dimana Ibrahim merasa sedih.
Dika dan Diki menghampiri Ibrahim yang sedang duduk sendirian, Dika dan Diki melihat sekitar caffe yang romantis dan banyak sekali pengunjung yang datang di sanah. Sambil di temanin dengan Live musik yanh di sediakan oleh pemilik caffe dan Wifi gratis untuk para pelanggan yang datang ke caffe.
"Widih asyik sekali ya kamu kalau galau datang ke tempat seperti ini."Ucap Diki melihat sekitar.
"Oh ini adalah caffe dimana tempat aku sama Wulan pertama kali jalan, di tempat ini pula aku dan Wulan menyatakan cinta dan menyayikan sebuah lagu. Makanya tempat ini jadi favorite ketika aku sedang sedih."Ucap Ibrahim.
"Sudah...Sudah jangan sedih lagi, kita pesan minum saja di sinih."Ucap Dika mencairkan suasana.
"Betul itu apa yang diucapkan oleh Dika."Kata Diki sambil membuka menu makanan dan minuman.
"Aku sedang mumet jadi tidak pesan, kalian saja lah yang pesan."Ucap Ku mengacak rambut.
"Eh tidak boleh harus pesan, bagaimana kalau aku pesankan kopi saja."Ucap Diki.
"Terserah kalian saja lah."Ucap Ku menaikan kedua bahu.
"Aku pangilkan saja pelayannya."Kata Dika.
Dika memangil pelayan dan pelayan menghampiri mereka bertiga.
__ADS_1
"Mau pesan apa kak?"Tanya pelayan caffe.
"Kami mau pesan coffe panas 3 dan kentang gorengnya 1 sama roti bakar 1."Ucap Dika.
"Baik kak, ada lagi?"Tanya pelayan.
"Itu saja mba."Ucap Diki.
"Baik kak, di tunggu ya."Kata pelayan caffe.
Pelayan caffe meninggalkan mereka bertiga dan mereka menikmati lantunan Live musik yang di bawakan oleh vocalis di sanah.
Kini Umi dan Dina tiba di lokasi dimana Dika dan Diki berada.
"Mau apa mereka datang ketempat seperti ini?"Tanya Umi penasaran.
"Palingan juga buat menghibur temannya yang galau."Ucap Dina.
"Yasudah ayo kita masuk saja."Kata Umi.
"Yasudah pakai itu kacamata kamu agar tidak ketahuan sama mereka."Ucap Dina sambil kasih kacamata kepada Umi.
Umi mengambil kacamata yang di kasih oleh Dina untuk di pakai sebelum masuk ke dalam caffe, kini mereka sudah duduk di dalam caffe sambil memesan makanan.
"Tu kan bener, mereka sedang menghibur temannya yang sedang sedih."Ucap Dina.
"Iya aku tau, tempatnya bagus ya."Ucap Umi melihat sekitar.
"Iya bagus, ayo kita pulang sudah sangat larut malam. Lagi pula tidak ada lagi yang perlu kita curigai kepada mereka."Kata Dina.
"Iya sebentar dong, makanan kita belum datang. Terus lagi pula kita belum makan dari tadi."Kata Umi.
"Iya kamu benar juga."Kata Dina.
"Kita makan dulu saja di sinih, habis itu kita baru pulang sambil mantau mereka."Ucap Umi.
"Oke, janji ya habis ini pulang."Ujar Dina.
"Iya aku janji."Kata Umi.
Beberapa menit kemudian pesanan mereka datang, mereka sangay menikmati makanan dan suasana di sanah yang romantis dan hangat serta pembawaan vocalis caffe yang merdu suaranya mengiringi makan malam mereka.
Di tempat Ibrahim, Dika dan Diki yang sedang menyantap makanan mereka.
"Sepertinya aku melihat pacar kita berada di sinih deh."Ucap Dika memperhatikan wanita di depan mereka.
"Ah serius kamu?"Tanya Diki penasaran.
"Iya aku serius, coba kamu perhatikan 2 orang wanita di depan kamu yang berpenampilan aneh itu."Ucap Dika sambil menaikan kedua alisnya.
"Sepertinya iya deh itu Umi dan Dina, tapi kenapa mereka ke sinih ya?"Tanya Diki heran.
"Pasti mereka mau mantau kita."Ucap Dika.
"Aku ada ide nih."Ucap Diki dengan senyum jahat.
"Kamu ada ide apa?"Tanya Dika penasaran.
Diki membisikan kepada Dika tentang Idenya itu.
"Ide kamu bagus juga."Ucap Dika menaikan satu alisnya.
"Kalian sedang merencanakan apa?"Tanya Ibrahim melihat kedua temannya.
"Bukan apa-apa."Jawab Mereka bersamaan.
"Bagaimana kalau kalian berdua bernyayi saja."Kata Ibrahim.
"Aku tidak bisa bernyayi, kamu suruh Dika saja dia paling jago kalau merayu wanita."Ucap Diki tersenyum jahat.
"Sialana kalau kaya ginih aja, aku yang kena."Kata Dika kesal.
"Tidak apa nanti aku temanin kamu main gitar deh."Ucap Diki menaikan satu alisnya.
"Aku lagi tidak bagus suaranya."Kata Dika.
"Memangnya sejak kapan suara kamu bagus?"Tanya Diki dengan ketawa jahat.
"Sialan kamu."Ucap Dika mengacak rambut Diki.
"Sudah jangan bertengkar lagi, kalian mau tidak bernyayi buat aku di sanah?"Tanya Ibrahim.
Dika sama Diki saling tatap satu sama lain.
Ibrahim melihat temannya sedang merencanakan sesuatu itu dia dengan sigap langsung mencairkan suasana.
"Yasudah kalau tidak mau kita pulang saja ke kosan, karena besok aku ada apel pagi dan menemui atasan untuk laporan."Ucap Ibrahim melirik mereka bersamaan.
Mereka masih berpikir dan saling tatap satu sama lain sambil menaikan bahu mereka masing-masing.
"Bagaimana ini?"Tanya Diki bisik kepada Dika.
"Aku tidak tau."Bisik Dika.
"Kalian malah main bisik-bisik."Ucap Ibrahim menghelaikan nafas.
"Yasudah kita pulang saja."Kata Ibrahim meninggalkan lokasi.
Namun di hadang oleh Dika dan Diki untuk tidak meninggalkan caffe.
"Baiklah kita mau."Ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
Bersambung,,,