Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
73. ANDK


__ADS_3

Pagi hari sinar matahari telah menyinari setiap sudut kamar Wulan.


Wulan terbangun dari tidurnya dan segera untuk berangkat ke kampus setelah itu ia menuju ke toko untuk kembali bekerja.


Wulan bersiap-siap untuk berangkat ke kampus, setelah selesai Wulan turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarganya.


Kini Wulan sudah di meja untuk sarapan.


"Selamat pagi semua."Ucap Wulan semangat.


"Pagi kak."Kata Tian.


"Pagi kak."Ucap Denny.


"Loh mama kemana?"Tanya Wulan heran.


"Mama masih di dapur kak, masih menyiapin sarapan buat kita."Kata Denny.


"Oh."Kata Ku.


Wulan langsung bergegas ke dapur untuk bantu sang ibu mempersiapkan sarapan mereka, kini tiba Wulan di dapur membantu sang ibu.


"Sini ma, biar aku bantu."Kata Ku mengambil mangkuk sup dari tanggan mama.


"Oke."Kata mama kasih sup itu.


Wulan melangkahkan kaki membawa mangkuk sup ke meja makan.


"Sepertinya anak itu sudah kembali ceria."Kata Mama tersenyum.


"Bagus deh, aku senang lihatnya."Ucap Mama.


Kini mama melangkahkan kaki ke meja makan sambil membawa lauk pauk, beberapa menit kemudian mereka makan bersama.


"Ayo sebelum makan baca doa dahulu."Ucap Mama.


Mereka semua memgangukan kepalanya dan memulai makan, setelah selesai Wulan pamit untuk berangkat ke kampus.


Di sisi lain Ibrahim masih termenung di kosan dan langsunh bersiap-siap menuju ke rumah Wulan untuk minta maaf atas perlakuannya semalam kepada Wulan.


"Lebih baik aku ke rumah Wulan saja deh, sekalian minta maaf sama dia dan jelasin semuanya."Kata Ku.


Kini Ibrahim berangkat menuju ke rumah Wulan, namun Ibrahim ketemu sama Diki yang baru pulang dari jaga semalam.


"Mau kemana kamu sepagi ini?"Tanya Diki heran menatap Ibrahim.


"Mau ke rumah Wulan, mau minta maaf aku sama dia."Kata Ku.


"Minta maaf tapi tidak bawa apa pun?"Tanya Diki menatap Ibrahim.


"Iya nanti di jalan beli."Kata Ku.


Ibrahim pergi meninggalkan Diki untuk menuju ke rumah Wulan, namun Dika mendengar suara keributan di pagi hari Ia pun langsung melihat ke arah sumber suara.


"Ada apa ini ribut sekali?"Tanya Dika heran.


"Oh itu tadi Ibrahim mau ke rumah Wulan mau minta maaf."Kata Diki.


"Apa ke rumah Wulan sepagi ini?"Tanya Dika kaget mendengarnya.


"Iya."Ucap Diki.


"Aku harus susul ke sanah ini."Ujar Dika melangkahkan kaki.


Namun sebelum Dika pergi di tahan oleh Diki dan mengajaknya masuk ke dalam kosan lagi untuk di bicarakan dengan baik.


"Lebih baik kamu tidak usah susul ke sanah, kamu tunggu di sinih saja lah."Ucap Diki.


"Tidak bisa Diki, nanti kalau Wulan kenapa-kenapa gimana?"Tanya Dika panik.


"Tenang saja Wulan tidak akan kenapa-kenapa kok, biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka berdua."Ucap Diki menahan Dika.


'Tapi Dik, aku tidak bisa segampang itu percaya sama dia."Ujar Dika kesal.


"Sudahlah, percaya saja sama aku."Kata Diki menepuk bahu Dika.


"Aaaahhhh!!!"Teriak Dika mengacak rambut.


"Sudah lah lebih baik aku mandi dahulu, ingat kamu jangan ke sanah."Ucap Diki menaikan satu alis.


"Iya iya aku tidak akan ke sanah."Ujar Dika kesal.


Diki melangkahkan kaki untuk bersih-bersih dan meninggalkan Dika sendiri di kursi.


"Semoga kamu tidak kenapa-kenapa."Gumam Dika."


Dika menyandarkan diri di kursi sambil mengacak-acak rambutnya dengan kusut dan kesal.


"Sekarang aku harus berbuat apa dan harus bantu Wulan kaya gimana?"Tanya Dika gelisa sambil mondar mandir di sekitar kursi.


Diki yang sudah selesai dari bersih-bersih melihat temannya yang sedang gelisah dan menghampirinya.


"Kamu kenapa?"Tanya Diki heran melihat temannya gelisah.


"Aku tidak tenang memikirkan Wulan."Ucap Dika.


"Yaampun Dika, kamu benaran suka sama Wulan?"Tanya Diki terkejut.


"Memangnya kau kelihatan kaya tidak suka?"Tanya Dika kesal dan emosi.


"Aku kira kamu cuman agap Wulan sebagai adik saja dan mau melindungi dia."Ujar Diki.


"Iya awalnya seperti itu, tapi setelah aku sering bersama Wulan tidak tau kenapa hati ku merasakan ada hal berbeda sama dia. Rasa itu kaya aku tidak mau kehilangan dia dan mau membahagiakan dia serta tidak mau membuat dia sedih dan kecewa."Ucap Dika tersenyum.


"Wah gawat ini, bisa perang dunia."Kata Diki.


"Ah sudah lah aku mau bersiap-siap berangkat jaga dan mengantar Umi kerja."Ucap Dika pergi meninggalkan Diki.


Diki yang kaget serta syock mendengar ucapan temannya itu.


"Aduh bagaimana ini, situasi makin rumit dan berbelit."Batin Diki.


"Aku tidak mau mereka berdua ribut akibat percintaan seperti ini, apa lagi mereka satu kosan dan satu kapal."Gumam Diki menepuk jidat.


Diki merebahkan badannya di sofa sambil menyetel televisi sejenak dia melupakan beban antara Dika dan Ibrahim.

__ADS_1


Ibrahim telah sampai di rumah Wulan, Ibrahim melihat Wulan yang hendak berangkat kampus dan menghampiri Wulan.


Di rumah Wulan hendak memakai sepatu untuk berangkat dan berpamitan kepada sang ibu.


"Mama aku berangkat dahulu ya!!!"Teriak Wulan.


Mama menghampiri Wulan.


"Iya, hati-hati kamu."Ucap Mama tersenyum.


"Asssalamuallaikum ma."Kata Ku cium tanggan mama.


"Waaallaikumsalam kak."Ucap Mama.


Kini Ibrahim tiba di depan pagar Wulan, membuat Wulan terkejut akan sosok pria yang telah memarahi dia.


"Mau apa kamu ke sinih?"Tanya Wulan dengan nada tinggi.


"Aku ke sinih mau minta maaf sama kamu."Ucap Ibrahim memegang tanggan Wulan.


"Maaf ?"Tanya Wulan menaikan satu alisnya.


"Iya aku tulus ke sinih mau minta maaf sama kamu."Ucap Ibrahim.


"Oh bagus lah kalau kamu tau letak kesalahan kamu dimana."Kata Ku ketus.


"Terus kamu sudah maafin aku?"Tanya Ibrahim heran.


Wulan tidak menjawab pertanyaan Ibrahim malah ia hanya membalikan pertanyaan lain.


"Minggir aku mau berangkat, nanti aku telad."Ucap Wulan ketus.


Namun di halangi oleh Ibrahim.


"Jawab dahulu pertanyaan aku."Kata Ibrahim kesal.


"Aku tidak mau jawab pertanyaan konyol kamu."Kata Ku kesal.


"Please maafin aku."Ucap Ibrahim bersujud di bawah kaki Wulan.


"Kamu mau apa berlutut seperti itu?"Tanya Wulan.


"Aku mau minta maaf sama kamu."Ucap Ibrahim.


"Aku bilang mingir dan bangun dari kaki aku mau berangkat nanti telad."Ucap Wulan kesal dengan nada tinggi.


"Nanti aku antar kamu supaya tidak telad."Kata Ibrahim tidak pergi dari kaki Wulan.


Namun tetangga rumah Wulan melihat kejadian di depan rumah Wulan membuat banyak bisikan dari tetangga tentang Wulan.


Mama menghampiri Wulan.


"Sudah lah kak, maafkan saja dia kasihan dia sudah sampai bersujud seperti itu dan lagi pula kita sebagai umat muslim harus saling memaafkan."Ucap Mama.


"Terus lagi pula dia tulus mau minta maaf sama kamu, kasih dia kesempatan kak untuk berubah dan malu di lihatin oleh tetangga seperti ini kak."Ucap Mama.


Wulan menghelaikan napas panjang dan melihat sekitar rumahnya yang penuh oleh ibu-ibu bergosip ria mengenai ia, kemudian Wulan menatap Ibrahim.


"Mas, baiklah aku maafin kamu dan janji tidak akan mengulangi lagi."Ucap Wulan.


"Sekarang kamu bangun mas, malu di lihatin oleh tetangga."Ucap Wulan dengan muka merah.


Ibrahim kemudian bangun dari bersujud di kaki Wulan dan langsung memeluk Wulan.


"Terimakasih banyak sayang, kamu sudah mau maafin aku."Ucap Ibrahim.


"Baiklah mas, ayo kita pergi dari sinih nanti aku terlambat."Ucap Wulan.


Ibrahim hanya menganguk dan kini mereka berdua berpamitan kepada sang ibu.


"Ma aku berangkat dahulu ya."Ucap Wulan.


"Aku pamit ya tante."Ujar Ibrahim.


"Titip Wulan ya nak."Kata Mama melambaikan tanggannya.


"Iya tante, Wulan aman sama saya."Ucap Ibrahim.


Kini Wulan dan Ibrahim berangkat menuju ke kampus Wulan.


"Silahlan tuan putri."Ucap Ibrahim membuka pintu mobilnya.


"Iya terimakasih mas."Ucap Wulan tersenyum.


Kini mereka berdua sudah masuk di dalam mobil, seperti biasanya Ibrahim memasang sabuk pengaman yang membuat hati Wulan berbunga-bunga atas perlakuan Ibrahim.


"Mau kemana hari ini?"Tanya Ibrahim tersenyum.


"Mau ke kampus mas."Ucap ku tersenyum.


"Kampus kamu dimana?"Tanya Ibrahim.


"Masa kamu lupa kampus aku."Ujar Wulan heran.


"Waduh bisa gawat ini, gara-gara semalam aku ribut sama Dika jadi pikiran aku kemana-mana."Batin Ibrahim.


Wulan langsung menepuk bahu Ibrahim.


"Mas ih malah melamun, aku nanya juga."Ucap Wulan memperhatikan Ibrahim.


"Oh maaf sayang aku kurang focus, soalnya lagi nyetir."Ucap Ibrahim.


Wulan hanya menganguk saja.


"Ada yang aneh sama dia, tidak seperti biasanya dan kenapa dia malah melamun setelah aku bertanya seperti itu?"Tanya Wulan di dalam hati.


"Apa dia sedang banyak masalah?"


"Tapi kalau dia banyak masalah kenapa tidak cerita?"


"Terus kalau ada masalah, masalah apa ya?"


"Apa aku tanya sama Dika saja ya nanti."


Wulan yang sedari tadi berpikir karena perubahan Ibrahim yang aneh dan diisi kepalanya banyak pertanyaan yang belum terjawab.

__ADS_1


"Ini habis dari sinih ke kanan atau ke kiri ya?"Tanya Ibrahim bingung.


"Ke kanan mas."Ucap Wulan.


"Yakin ke kanan?"Tanya Ibrahim.


"Iya yakin lah."Ucap Wulan kesal.


"Oh baiklah."Kata Ibrahim.


Kini mereka telah sampai di kampus Wulan.


"Terimakasih ya mas sudah mah antar aku ke kampus."Ucap Wulan.


"Iya sama-sama sayang, belajar yang benar dan yang rajin agar mendapatkan nilai bagus."Ucap Ibrahim kecup kening Wulan.


"Iya siap mas."Kata Ku tersenyum.


Wulan turun dari mobil, namun Ibrahim memangil nama Wulan.


"Wulandari!!!"Teriak Ibrahim.


Wulan langsung menegok ke arah belakang.


"Ada apa mas?"Tanya Wulan heran menatap Ibrahim.


"Ada sesuatu yang mau aku kasih sama kamu."Ucap Ibrahim.


"Apa itu mas?"Tanya Wulan penasaran.


Ibrahim kasih paper bag kepada Wulan.


"Ini buat kamu, ucapan maaf aku kepada kamu dan nanti saja di bukanya di dalam."Ucap Ibrahim.


"Terimakasih ya mas."Kata Ku tersenyum.


"Iya sayang, aku pamit dahulu ya."Ucap Ibrahim.


"Iya mas hati-hati di jalan."Kata Ku.


"Assalamuallaikum."Ucap Wulan.


'Waallaikumsalam."Ucap Ibrahim.


Ibrahim melajukan mobilnya untuk kembali ke kosan dan Wulan masuk ke dalam kampus untuk belajar.


Wulan melangkahkan kakinya menuju ke dalam kelas dengan hati yang berbunga-bunga dan agak kesal.


"Aneh sikap dia tadi seperti jam saja yang selalu berubah-rubah setiap menit dan detiknya."Ucap Wulan.


"Biarlah aku tidak mau di ambil pusing."Kata Ku menghelaikan napas panjang.


Di dalam kelas penuh dengan keributan atas obrolan mahasiswa yang sedang menunggu dosen, Wulan datang ke dalam kelas sambil membawa tas dan paper bag yang di kasih oleh Ibrahim.


Kini Wulan duduk di samping Sofie.


"Bawa apa kamu itua?"Tanya Sofie heran menatap paper bag di tanggan Wulan.


"Oh ini baju ganti aku untuk kerja."Ucap Wulan.


"Tumben bawanya pakai paper bag."Ucap Sofie heran.


"Iya lagi pengen saja."Kata Ku.


"Sepertinya kamu sedang bahagia."Ucap Tasya.


"Aku kan selalu bahagia setiap saat."Kata ku tersenyum.


"Tapi kali ini bahagianya sedikit berbeda."Ucap Maria menatap Wulan.


"Aaaiiissshhh beda gimana coba?"Tanya Wulan heran.


"Iya beda saja."Ucap Maria.


Namun tidak di jawab oleh Wulan karena keburu dosennya sudah datang, mereka semua akhirnya memulai mata kuliah hari ini dengan penuh antusias dan semangat pagi.


Kini pelajaran pun telah usai Wulan langsung bergegas meninggalkan kelas dan kembali bekerja.


"Aku duluan ya semua."Ucap Wulan cipika cipiki sahabatnya.


"Iya hati-hati."Ucap Mereka bersamaan.


Wulan hanya menganguk saja dan melambaikan tanggannya kepada semua sahabatnya, kini Wulan melangkahkan kaki menuju gerbang kampus dan menunggu angkutan umum yang lewat untuk menuju tempat ia bekerja.


"Aduh lama sekali angkutannya."Ucap Wulan kesal sambil melihat jam tanggan.


Wulan melihat kanan dan kiri namun belum ada angkutan umum yang datang.


"Ah bisa-bisa aku jadi terlambat bekerja."Ucap Wulan panik dan gelisah.


Beberapa menit kemudian angkutan umum telah sampai di depan gerbang kampus Wulan, Wulan menstopkan angkutan umum itu untuk naik dan berangkat menuju ke mall tempat ia bekerja.


Tidak terasa waktu semakin siang hari sinar matahari telah terik diatas langit dan panas yang sangat luar biasa, Wulan telah sampai di mall dan langsung bergegas menuju tokonya agar tidak terlambat.


Wulan melangkahkan kaki dengan cepat dan sedikit terburu-buru karena takut terlambat, namun tidak sadar Wulan tersengol oleh salah satu pengunjung mall di sanah.


"Woi kalau punya mata itu di pakai."Ucapnya dengan nada keras dan kesal.


"Maaf mba, saya tidak sengaja."Ucap Wulan melas.


"Maaf...Maaf emang ini jalan punya nenek moyang kamu."Ucapnya sombong.


"Iya mba maaf sekali lagi."Ucap Wulan melas.


Kini Wulan buru-buru untuk menuju ke dalam toko, sampailah Wulan di depan toko.


Wulan yang masih capek sampai tergesah-gesah itu, ia duduk di depan kipas sambil istirahat sambil menghilangkan penat dan panas dari luar mall.


Hani mendekati Wulan.


"You kenapa mukanya seperti kepiting rebus?"Tanya Hani mengoda Wulan.


"Habis panas mba di luar itu."Kata Ku sambil duduk di depan kipas.


"Pantas saja seperti itu."Ucap Hani.

__ADS_1


Kini mereka melanjutkan kembali bekerja sebelum kena omelan oleh big bos karena belum jualan.


__ADS_2