
Dina sudah kembali ke Diki dengan muka sedih habis telpon.
Dina memeluk Diki.
"Bagaimana nanti kalau dia tidak sadarkan diri kak?"Tanya Dina sedih.
"Sabar, dia pasti sadar kok."Ucap Diki.
"Terus apa kata dokter kak?"Tanya Dina.
"Dokter masih memeriksanya."Ucap Diki.
Dina hanya menganguk saja dan berharap Umi segera sadarkan diri, beberapa menit kemudian orang tua dari Umi datang dan melihat kondisi anaknya.
Isak tangis dari sang ibu melihat putri yang sudah lama tidak berjumpa malah di rawat di rumah sakit, bapak Umi menghampiri Diki.
"Bagaimana bisa anak saya kecelakaan seperti itu?"Tanya Bapak.
"Saya tidak tau pak, saya dapat telpon rumah sakit dan bilang kalau Umi kecelakaan dan di rawat di sinih. Jadi saya ke sinih bersama Dina."Ucap Diki.
"Siapa yang tega mencelakai anak saya?"Tanya Bapak.
"Saya tidak tau pak."Ucap Diki.
"Saya harus melapor kepada polisi mengenai kasus ini."Ucap Bapak.
Diki hanya terdiam saja dan berpikir tentang Wulan.
"Aku harus segera tanya kondisi Wulan."Batin Diki.
Diki meninggalkan rumah sakit dan segera menelpon Wulan, namun nomor telponnya tidak aktif.
"Aneh, kenapa nomor telpon Wulan tidak aktif?" Apa terjadi sesuatu sama Wulan?"Tanya Diki di dalam hati.
"Lebih baik aku tanya saja deh, mengenai kejadian Umi kepada suster siapa tau ada titik temunya."Batin Diki.
Diki mencari informasi mengenai kecelakaan Umi, sampailah Diki di ruang informasi.
"Suster saya mau tanya mengenai kakak saya Umi Lestari kenapa ia bisa mengalami kecelakaan ya?"Tanya Diki.
"Oh iya pak, ia tertabrak oleh kendaraan lain di sanah bersama temannya seorang wanita."Ucap Suster.
"Apa bersama temannya?"Tanya Diki heran.
"Iya pak, sekarang temannya juga di rawat di sinih, namun temannya mengalami pendarahan yang serius."Ucap Suster.
"Kalau saya boleh tau, di kamar mana temannya di rawat?"Tanya Diki.
"Ia di rawat di ruangan Mawar nomor 5 pak."Ucap Suster.
"Terimakasih suster."Ujar Diki.
Diki melangkahkan kaki dan menuju dimana Wulan di rawat, sampailah Diki di kamar Wulan.
Diki kaget melihat ruangan itu ternyata Wulan yang di rawat di sanah.
"Astagfirullohalaazim Wulan."Ucap Diki terkejut.
"Jadi ternyata feelling Dika benar kalau kamu mengalami kecelakaan."Ucap Diki sedih.
"Aku harus kasih tau Dina ini."Kata Ku.
Diki menelpon Dina.
Kring...Kring...Kring...
"Iya hallo kak ada apa?"Tanya Dina.
"Kamu harus segera ke sinih, aku tunggu cepat."Ucap Diki.
"Dimana kak?"Tanya Dina heran.
"Di kamar Mawar nomor 5."Ucap Diki.
Kemudian sambungan telpon mati, kini Dina bergegas untuk ke sanah.
"Bu dan bapak, mohon maaf aku harus pergi sebentar ada sesuatu hal yang harus aku urus."Ucap Dina.
"Iya terimakasih ya neng, sudah mau datang."Ucap Bapak.
Dina hanya menganguk saja dan pergi menuju ke kamar Mawar, sampai lah Dina di ruangan Mawar ia melihat Diki yang sedang bersedih itu. Ia menghampiri Diki.
"Kamu kenapa kak?"Tanya Dina heran.
"Coba kamu liha di sanah, siapa yang sedang di rawat."Ujar Diki.
Dina menganguk dan melihat ke arah ruangannya.
"Astagfirullohalazim itu kan Wulan?"Tanya Dina terkejut dan menutup mulutnya.
"Bagaimana bisa Wulan seperti itu?"Tanya Dina kepada Diki.
"Ia mengalami kecelakaan bersama dengan Umi."Ucap Diki.
"Apa???" Bagaimana bisa ke dua teman ku mengalami kecelakaan bersama?"Tanya Dina.
"Aku juga tidak tau pastinya bagaimana, tapi tadi kata suster ia kecelakaan bersama dan di bawa ke rumah sakit bersama warga."Ucap Diki.
"Lalu bagaiman dengan keluarganya pasti khawatir?"Tanya Dina.
"Aku sudah mencoba hubungi Ibrahim, namun nomornya tidak aktif. Terus aku sudah hubungi Dika tapi sama Dika juga nomornya tidak aktif."Ucap Diki.
"Aku tidak punya kontak keluarganya kak."Ucap Dina.
"Bagaimana kita ke ruangan informasi mencari ponselnya Wulan dan mengambil kartunya untuk menghubungo keluarga Wulan?"Tanya Diki.
"Baik kak, aku setuju."Kata Ku.
Mereka berdua menuju ke ruang informasi mengenai Wulan, sampailah mereka di ruangan informasi.
"Suster saya mau tanya, tentang pasien di kamar Mawar."Ucap Dina.
"Apakah kalian salah satu keluarganya?"Tanya Suster.
"Iya suster, saya temannya."Ucap Dina.
"Saya harap kalian bisa segera menghubungi pihak keluarga karena pasien sedang banyak kehabisan darah."Ucap Suster.
"Apa banyak kehabisan darah?"Tanya mereka berdua terkejut.
"Astagfirullohalazim Wulan."Ucap Dina menangis.
"Kak bagaimana ini?"Tanya Dina.
__ADS_1
"Sabar, kita cari jalan keluarnya."Ucap Diki memeluk Dina.
"Sus, dimana ponsel korban kalau saya boleh tau?"Tanya Diki.
"Ada pak, ini ponselnya."Ucap Sustet kasih ponselnya.
"Terimakasih suster."Ucap Diki.
Diki mengambil ponsel Wulan, ternyata ponsel Wulan memakai pasword.
"Aduh pakai acara di pasword."Kata Diki kesal.
"Apa ya paswordnya?"Tanya Diki heran.
"Oh iya aku tau."Ucap Diki.
Kemudian ponsel Wulan terbuka dan ia langsung menelpon mama Wulan, beberapa menit kemudian mama Wulan datang dengan isak tangis karena anaknya sedang di rawat dan membutuhkan banyak darah.
"Bagaimana ini bisa terjadi kepada Wulan?"Tanya Mama.
"Aku tidak tau bu, tadi saya habis jenguk teman saya yang di rawat di sinih. Ia mengalami kecelakaan dan katanya bersama seorang teman, lalu saya melihat temannya ternyata adalah Wulan."Ucap Dina.
"Bagaimana bisa Wulan kecelakaan?"Tanya Mama.
"Saya tidak tau bu, tapi kata suster tadi dia tertabrak kendaraan lain."Ucap Dina.
"Siapa yang tega mencelakai anak saya?"Tanya Mama menangis.
Mama melihat ke arah kamar Wulan, kemudian dokter keluar setelah memeriksa Wulan.
"Siapa keluarganya?"Tanya Dokter.
"Sama ibunya dok."Ucap Mama.
"Mari bu saya ada sesuatu yang harus di ucapkan."Ucap Dokter.
Mama mengikuti dokter, Dina dan Diki duduk di sanah sambil melihat Wulan.
"Kasihan sekali Wulan."Ucap Dina.
"Bagaimana jika di belum sadarkan diri?"Tanya Dina.
"Sabar sayang, ia kan sadar kok. Kita doa kan saja yang terbaik buat Wulan."Ucap Diki memeluk Dina.
Dina menangisi Wulan dan Umi karena kedua sahabatnya mengalami kecelakaan bersama.
Diki masih bingung kepada kedua temannya yang sama-sama tidak bisa di hubungi.
Di ruang dokter.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?"Tanya Mama.
"Jadi ginih bu, anak ibu kehabisan banyak darah ia harus transfusi darah. Namun di rumah sakit hanya punya 3 kantung darah saja, sedangkan anak ibu membutuhkan 6 kantung darah."Ucap Dokter.
"Baiklah dok, nanti coba saya cari 3 kantung darah."Ucap Mama.
"Secepat ya ibu mencari, agar anak ibu bisa segara sadar."Ucap Dokter.
"Kalau boleh tau golongan anak saya apa dok?"Tanya Mama.
"Golongan darah anak ibu A positif."Ucap Dokter.
"Baiklah dok, saya akan mencari darah itu secepatnya."Ucap Mama.
Rawut wajah mama yang kusut dan gelisah serta panik, ia bingung harus mencari kemana.
Di lihatlah oleh Diki dan Dina, mereka berdua menghampiri Mama.
"Bagaimana keadaan Wulan bu?"Tanya Dina.
"Wulan memerlukan 6 kantung darah, tapi pihak rumah sakit hanya mempunyai 3 kantung darah."Ucap Ibu.
"Kalau boleh tau golongan darah Wulan apa?"Tanya Dina.
"Golongan darah Wulan sedikit langkah yaitu A positif."Ucap Mama.
"Tapi Tante dan adik Wulan golongan darahnya B, dan adik Wulan yang paling kecil golongan darahnya AB."Ucap Mama.
"Wulan golongan darahnya sama dengan alm. Ayahnya."Ujar Mama.
"Baiklah tante saya akan carikan."Ucap Diki.
Diki pergi meninggalkan rumah sakit dan mencari 3 kantung darah, ia menelusuri beberapa PMI dan rumah sakit yang mempunyai kantung darah A positif.
"Alhamdulillah aku sudah dapat 1 kantung darah, kini aku harus mencari 2 lagi."Ucap Diki membawa kantung darah.
Kini Diki sampai di rumah sakit dan langsung kasih kepada dokter, ia segera mencari kembali.
Ia meminta Dina untuk mendonorkan darahnya, kebetulan sekali Dina darahnya sama kaya Wulan. Dina telah masuk ke ruangan untuk mengambil darah.
Diki masih mencari 1 kantung darah lagi, ia panik dan gelisah masih belum ada satu pun.
Namun di tengah perjalanan Diki di telpon oleh Ibrahim.
"Hallo ada apa tadi telpon?"Tanya Ibrahim.
"Kamu sekarang lagi dimana?"Tanya Diki.
"Aku sedang di rumah, lagi urus acara besok aku lamaran."Ucap Ibrahim.
"Apa jadi kamu jadi lamarannya?"Tanya Diki terkejut.
"Iya jadi, aku mau tidak mau mengikuti ibuku."Ucap Ibrahim.
"Semoga besok acaranya lancar ya."Ucap Diki.
"Iya terimakasih, tapi aku mendengar kamu sedang panik?"Tanya Ibrahim.
"Iya aku sedang mencari 1 kantung darah A positif dimana ya?"Tanya Diki panik dan gelisah.
"Memangnya siapa yang sakit?"Tanya Ibrahim penasaran.
"Temannya Dina sakit dia kecelakaan dan membutuhkan banyak darah."Ucap Diki.
"Waduh, darah ku O lagi."Ucap Ibrahim.
"Nanti deh aku coba tanya sama yang lain, siapa tau ada yang sama."Ujar Ibrahim.
"Terimakasih ya sudah mau membantu."Ucap Diki.
Telpon di matikan oleh Diki.
"Maafkan aku tidak jujur, karena lebih baik kalian tidak usah bersama. Kasihan kalau kalian bersama pasti akan lebih menderita satu sama lain."Ucap Diki.
__ADS_1
"Semoga kalian bisa mendapatkan pasangan sejati."Ujar Diki.
Kini Diki sampai di salah satu rumah sakit dimana temannya berada bahwa di sanah terdapat satu kantung darah A positif.
Diki dengan kecepatan penuh melajukan kendaraannya ke rumah sakit, tibalah Diki di rumah sakit dan segera menemui temannya.
Temannya yang sudah berada di depan rumah sakit, langsung memberikan 1 katung darah kepada Diki. Kini Diki bergegas kembali ke rumah sakit membawa kantung darah.
Beberapa menit kemudian Diki telah sampai di rumah sakit, Diki memberikan kantung darah kepada dokter dan segera transfusi darah kepada Wulan.
Harap-Harap cemas dan panik mereka menunggu Wulan akan sadar di sanah, Mama sedang bersedih dan nangis karena melihat anak gadisnya yang sedang tertidur di rumah sakit.
Mama mendekati Dina dan Diki.
"Terimakasih banyak kalian sudah mau membantu Wulan."Ucap Mama.
"Sama-Sama tante."Ucap mereka bersamaan.
"Lebih baik kalian pulang saja ke rumah, karena hari sudah sangat malam."Ucap Mama.
"Besok kalian datang lagi ke sinih, nanti saya akan kasih kabar ke kalian mengenai Wulan."Ucap Mama.
"Baiklah Tante, kami berdua pamit dahulu."Ucap Mereka bersamaan.
Diki dan Dina pergi meninggalkan rumah sakit dan kembali ke kosan masing-masing, namun di tengah perjalanan Diki kasih tau kepada Dina bahwa besok ia akan bertemu Ibrahim untuk menghadiri lamaran beliau. Dina pun kaget akan pertanyaan dari Diki.
"Apa kak, besok Ibrahim mau lamaran?" Sedangkan pacarnya saja sedang melawan penyakitnya dan belum sadarkan diri?"Tanya Dina terkejut.
"Iya, soalnya aku tidak kasih tau mereka. Karena aku takut nanti yang ada semakin rumit dan aku biarkan saja mereka berpisah masing-masing, mungkin ini jalan terbaik buat mereka bersama."Ucap Diki.
"Kasihan sekali Wulan."Ucap Dina sedih.
"Sudah lah kamu tidak perlu bersedih gitu, kita doakan saja semoga Wulan segera sembuh."Ucap Diki mengacak rambut Dina.
"Iya Aamiin."Ucap Dina tersenyum.
Kini mereka telah sampai di kosan Dina, Diki berpamitan untuk pulang ke kosannya.
"Aku pamit pulang dulu ya, besok aku jemput kamu lagi kita akan melihat acara lamarannya."Ucap Diki.
"Baik lah kak, hati-hati di jalan."Kata Ku tersenyum.
Diki kembali ke kosannya, sampailah Diki di kosannya.
"Akhirnya sampai juga."Kata Ku merebahkan badan di kasur.
"Kasihan sekali kalian."Ucap Ku menghelaikan napas.
"Maaf kan aku, semoga kalian bisa bahagia bersama pasangan sejati kalian."Ucap Diki.
"Aku selalu berdoa yang terbaik buat kalian."Ucap Ku.
Kini Diki tertidur dengan lelap.
Di rumah sakit Wulan sedang melawan penyakitnya untuk segera sembuh, dokter melakukan transfusi darah kepada Wulan dengan 3 kantung darah yang telah di bawa oleh Diki.
"Dok, apa saya boleh masuk ke dalam?"Tanya Mama.
"Iya boleh bu."Ucap Dokter.
Mama masuk ke dalam ruangan Wulan di rawat, raut wajah mama kusam dan sedih melihat anaknya sedang di rawat.
3 jam kemudian Wulan tersadar setelah transfusi darah, mama yang melihat anaknya tersadar itu raut wajah nya tersenyum bahagia.
Mama berlari mencari dokter untuk kasih tau kalau ternyata anaknya telah sadar, Dokter masuk ke dalam ruangan dan memeriksa Wulan.
Sampailah di sanah Tante Wulan dan juga teman-teman Wulan untuk menjenguk Wulan.
"Bagaimana kesehatan Wulan?"Tanya Salah satu temannya.
"Alhamduliah Wulan sudah melewati transfusinya dengan lancar, ia sedang di periksa oleh dokter karena tadi saya melihat dia tersadar."
"Alhamdulillah."Ucap Tante dan teman-teman Wulan lainnya.
Mereka semua sedang khawatir dan harap-harap cemas sambil menunggu dokter periksa Wulan, berharap Wulan akan kembali sadar dan bisa kuliah serta masuk kerja lagi.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?"Tanya Mama.
"Alhamdulilah Wulan sudah siuman."Ucap Dokter.
"Apakah saya boleh masuk?"Tanya Mama.
"Iya boleh bu, tapi bergantian dan tidak terlalu ramai karena pasien belum sepenuhnya pulih."Ucap Dokter.
"Baiklah dokter, terimakasih."Ucap Mama.
Lalu Dokter pergi meninggalkan ruangan Wulan.
"Saya dan tantenya Wulan yang masuk dahulu, nanti kalian bergantian masuk."Ucap Mama.
Lalu dianguki oleh teman-teman Wulan, sampailah mama serta tantenya di dalam kamar Wulan.
"Kak ini mama dan juga mba Vivie."Ucap Mama.
Wulan hanya melirik kepada mereka dan menganguk saja.
"Apa ada badan kamu yang sakit?"Tanya Mama khawatir.
"Tidak ada ma."Kata Ku lemas.
"Apa kamu mau aku ambilkan sesuatu untuk di makan?"Tanya Mba Vivie.
"Tidak usah mba, aku belum mau makan apa pun."Ucap Ku.
Mereka berdua hanya menganguk saja, kini mereka berdua bergantian keluar untuk kasih teman-teman Wulan menjenguk.
"Kak, mama sama tante keluar dahulu ya mau beli makan. Di luar sudah ada teman-teman kamu mau jenguk."Ucap Mama.
Wulan hanya menganguk saja, kini mama dan tante keluar dari kamar.
"Silahkan kalian masuk ya, tapi bergantian dan titip anak saya. Saya mau keluar sebentar mau beli makanan."Ucap Mama.
"Baik tante."Ucap Teman-Teman Wulan.
Kini teman-teman Wulan bergantian masuk ke dalam kamar.
Di satu sisi Ari sedang pulang kampung dan di lihatlah di sosial media milik temannya yang sedang menjenguk Wulan sedang sakit.
"Apa Wulan di rawat di rumah sakit?" Sakit apa dia?"Tanya Ari.
Kini Ari menanyakan kepada temannya yang sedang mengugah foto bersama Wulan.
__ADS_1