Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
90. ANDK


__ADS_3

3 bulan kemudian.


Kasus ponsel Wulan telah terungkap, Wulan di nyatakan tidak bersalah karena Wulan mempunyai bukti cukup kuat dan Wulan juga tidak ada di tempat kejadian karena Wulan sedang training di kantor.


Semua atasan Wulan antusias untuk membela Wulan dan menjelaskan semua ke kokoh Bos, Wulan yang mendengarnya sedikit lega dan di satu sisi Wulan merasa kasihan terhadap Hani mau tidak mau ia harus ganti rugi menyeluruh.


"Aku jadi tidak tega sama Hani."Batin Wulan menatap Hani.


Wulan mendekati Hani yang sedang bersedih dan memikirkan bagaimana harus mengantinya.


"Teh maafkan aku tidak bisa bantu banyak kamu."Ucap Wulan melas.


"Iya tidak apa Lan, itu semua bukan salah kamu."Kata Hani.


"Tapi bagaimana cara kamu mengantinya?"Tanya Wulan.


"Nanti aku coba bilang sama kokoh bos untuk mencicilnya saja, dia bisa memotong uang dari gaji aku."Ucap Hani.


Wulan yang mendengar kalau temannya harus di potong gaji itu, membuat Wulan bersedih dan kecewa karena di satu sisi juga Wulan tidak mempunyai begitu banyak uang.


Wulan hanya bisa berdoa dan pasrah dengan keadaan, semoga saja ini semua bisa di lalu oleh Hani dan di berikan jalan terbaik.


Wulan dan Hani kembali bekerja, Wulan mengirim pesan kepada Fauzan.


"Asslamuallaikum bang, terimakasih sudah mau membantu dan membela Wulan."


"Waallaikumsalam de, seperti apa yang di bilang abang sebelumnya karena kalau kamu jujur dan mau ikuti semua perintah abang. Abang akan membantu kamu mati-matian, asalkan kamu jualan yang banyak."


"Iya bang."Jawab Wulan.


Wulan kembali menutup ponselnya dan kembali bekerja, Wulan nampak sangat stress tidak tau sama sekali perkembangan Ibrahim di sanah bagaimana karena sibuk bekerja dan kuliah.


Waktu tidak terasa sudah malam, Wulan kembali untuk pulang ke rumah.


"Teh aku pulang dahulu ya."Kata Ku.


Hani hanya menganguk saja, karena Hani sedang pusing bagaimana menjelaskan semua kepada kokoh bos.


Wulan melihat Hani sedang bersedih itu, ia tidak tega. Wulan memantau dari kejauhan.


"Kasihan sekali teh Hani."Batin Wulan.


"Aku harus lihat dahulu dari jauh, apa yang di ucap oleh kokoh bos kepada Hani."Gumam Wulan.


Wulan menunggu di salah satu tempat yang aman dan jauh dari toko itu, Wulan melihat dari jauh. Namun Wulan tidak sadar kalau ternyata ia sedang di lihat oleh Irwan.


"Loh itu bukannya Wulan?"Tanya Irwan sambil menunjuk ke arah Wulan.


"Tapi kenapa dia tunggunya jauh sekali dari toko ya?"Terus kenapa dia sedang mengawasi temannya yang sedang ngobrol sama kokoh?" Apa ada terjadi sesuatu diantara mereka ?" Tanya Irwan heran.


"Lebih baik aku lihat dari sinih saja deh, jika terjadi sesuatu kepada Wulan. Aku akan turun dan cek ke sanah."Kata Irwan.


Wulan sedang asyik mendengarkan dan ternyata Hani tidak ganti rugi ponsel itu, namun Hani di kasih kesempatan sampai bulan depan bekerja di sanah.


Wulan yang melihat kejadian itu membuat Wulan terkejut.


"Yaallah kasihan sekali teh Hani, lalu dia akan bekerja di mana?"Tanya Wulan di dalam hati.


"Yaallah aku harus bantu apa?"Tanya Wulan.


Di satu sisi Irwan sedang mengawasi Wulan, ia melihat ekspresi wajah Wulan berubah menjadi khawatir. Kini Irwan mendekati Wulan.


"Wulan!!!"Teriak Irwan.


Wulan yang mendengar namanya di panggil itu, ia menengok ke belakang, nampak terkejut Wulan ternyata yang panggil ia adalah Irwan.


"Loh kak sedang apa di sinih?"Tanya Wulan heran.


"Harusnya aku yang bertanya kepada kamu."Ucap Irwan.


"Oh aku sedang menunggu teman."Kata Ku berbohong.


"Yakin hanya nunggu teman?"Tanya Irwan mengawasi.


"Iya kak, kakak sedang apa di sinih?"Tanya Wulan kembali.


"Tadi aku habis service."Jawab Irwan.


"Oh."Kata Ku.


"Kamu mau pulang Lan?"Tanya Irwan.


"Iya aku mau pulang kak."Ucap Ku.


"Yasudah pulang bareng aja."Kata Irwan.


"Tidak usah kak, nanti ngerepotin."Kata Ku.


"Tidak kok, aku yang ajak kamu pulang bareng."Jawab Irwan.


"Baiklah kak."Ucap Wulan tersenyum.


Wulan dan Irwan menuju ke parkiran untuk pulang bersama. Sampailah Wulan di parkiran Irwan memperlakukan Wulan dengan ramah dan sopan.


"Terimakasih kak."Kata Ku.


"Iya sama-sama."Ucap Irwan.


Wulan hanya tersenyum ke arah Irwan, mereka kembali ke rumah Wulan. Di sepanjang perjalanan Irwan menanya kepada Wulan.


"Kamu gimana kabarnya?"Tanya Irwan.


"Alhamdulillah baik, kakak gimana kabarnya?"Tanya Wulan.


"Baik, gimana kuliah kamu lancar kah?"Tanya Irwan.


"Iya alhamdulillah lancar."Kata Ku.


"Alhamdulillah aku sedang dengarnya."Kata Irwan.


"Iya."Ucap Wulan.


"Oh iya kamu sudah makan belum?"Tanya Irwan.

__ADS_1


"Aku sudah makan tadi kak."Ucap Wulan.


"Kapan kamu makan?"Tanya Irwan.


"Tadi siang kak."Kata Ku.


"Sekarang kan sudah malam, kamu mau makan dulu tidak?"Tanya Irwan.


Wulan hanya berpikir sesaat.


"Apa aku terima tawaran Irwan saja untuk makan ya?"Tanya Wulan di dalam hati.


Kemudian Irwan menegur Wulan.


"Lan, malah kamu melamun aku tanya juga."Ucap Irwan.


"Oh iya maaf kak, yasudah kak kalau kamu lapar kita makan saja."Kata Ku.


"Baiklah kita cari tempat makan, kamu mau makan apa?"Tanya Irwan melihat Wulan.


"Apa saja kak, aku tidak pemilih dalam makan."Kata Ku tersenyum.


"Baiklah, kita makan di tempat favorite aku saja."Ujar Irwan.


Wulan hanya menganguk dan tersenyum, mereka berdua sedang asyik ngobrol satu sama lain. Tidak terasa sudah sampai di tempat makan.


"Ayo Lan kita turun."Ucap Irwan.


"Iya kak."Kata Ku.


Wulan dan Irwan turun dari mobil, mereka berdua mencari bangku yang kosong.


"Kita duduk di sanah saja ya."Ucap Irwan sambil mengandeng tanggan Wulan.


"Iya kak."Kata Ku.


Mereka berdua duduk sambil memesan makanan.


"Kamu mau makan apa?"Tanya Irwan sambil kasih buku menu.


Wulan melihat buku menu itu dan memilih beberapa makanan dan minuman.


"Sepertinya aku mau makan nasi dan ayam crispy terus minumnya es lemon tea."Ucap Wulan.


"Baiklah, aku pesan itu. Kamu tunggu di sinih saja."Ucap Irwan.


Wulan hanya menganguk saja, Irwan menuju kasir untuk membayar dan kasih pesanan mereka. Beberapa menit kemudian Irwan menuju ke tempat duduk mereka. Wulan menatap Irwan.


"Sudah kak?"Tanya Wulan.


"Sudah de."Kata Irwan.


Wulan hanya menganguk dan tersenyum, karena Wulan bingung mau bilang apa. Kini mereka saling memain ponsel sambil menunggu makanan mereka, karena Wulan tidak pandai bertanya sama Irwan karena masih cangung.


Suasana mereka hening seketika tanpa banyak bertanya apa pun. Kini pesanan mereka telah sampai Wulan dan Irwan makan malam bersama.


"Silahkan dimakan Lan."Ucap Irwan.


"Iya kak, terimakasih."Kata Ku.


"Sudah selesai makannya?"Tanya Irwan.


"Sudah kak."Kata Ku.


"Ayo kita pulang."Ucap Irwan mengandeng tanggan Wulan.


Wulan hanya tersenyum dan mengikuti arahan Irwan, sampailah mereka di parkiran dan menuju ke rumah Wulan.


Di setiap perjalanan mereka berdiam diri, kaku tanpa obrolan apa pun.


"Aduh bagaimana ini aku harus mulai ngobrol?"Tanya Wulan di dalam hati.


"Aku tidak enak kalau kaku seperti ini."Batin Wulan.


Wulan beranikan diri buat ngobrol sama Irwan.


"Terimakasih banyak ya kak untuk hari ini."Kata Ku menatap Irwan sambil tersenyum.


"Iya sama-sama de."Ucap Irwan balas senyuman Wulan.


Kini mereka berdua telah sampai di rumah Wulan.


"Mau mampir dahulu kak?"Tanya Wulan.


"Tidak usah lain waktu saja, karena hari sudah larut malam. Sampaikan saja salam aku kepada ibumu."Ucap Irwan.


"Iya nanti aku sampaikan kak, sekali lagi terimakasih banyak."Ujar Wulan tersenyum.


Irwan hanya menganguk saja, kini suara klakson mobil berbunyi dan Irwan meninggalkan rumah Wulan.


Wulan masuk ke dalam rumah, nampak di rumah Wulan sudah ramai sekali. Wulan terkejut melihat seisi rumah.


"Ada acara apa ini?"Tanya Wulan heran.


Wulan masuk ke dalam rumah, di lihatlah sudah ada nenek serta keluarga besar dari sang ibu sudah kumpul. Wulan nampak bingung dan cangung.


Wulan mendekati sang ibu dan berkata.


"Ma ini mau ada acara apa?"Bisik Wulan di telingga Mama yang heran.


"Cepat sanah ke kamar ganti pakaian kamu yang bagus dan make up."Kata Mama.


"Memangnya mau ada acara apa?"Tanya Wulan penasaran.


"Mau lamaran."Ucap Mama.


"Siapa yang mau di lamar?"Tanya Wulan heran.


"Jangan bilang mama mau jodohkan aku."Ujar Wulan kesal.


"Banyak tanya kamu, cepat sanah ganti pakaian kamu dan make up yang rapih."Pungkas Mama.


Wulan hanya menganguk dan kembali ke kamarnya, ia bersih-bersih diri dan berpakaian rapih.

__ADS_1


"Siapa yang mau di lamar ya?"Tanya Wulan.


"Apa mau jodohin aku."Kata Ku berpikir.


Tok...Tok...Tok... suara pintu di ketuk.


"Wulan cepat turun ke bawah, di tunggu oleh mama."Ucap Tante.


"Iya tan, sebentar lagi ke bawah."Kata Ku.


"Oke aku tunggu di bawah saja ya."Kata Tante.


"Siap."Ucap Tante.


Wulan bergegas membereskan make up, setelah selesai Wulan menuju ke bawah.


Wulan duduk di antara Mama dan kedua adiknya, Wulan nampak heran dan berpikir sesaaat.


"Ma kenapa mama cerita kalau di rumah ada acara seperti ini dahulu sama kakak?"Bisik Wulan.


"Nanti mama jelasin semuanya, kamu duduk dan dengarkan saja dahulu."Ujar Mama.


Wulan hanya menganguk dan mendengarkan mereka, kini mulailah acara lamaran itu.


"Jadi ke datangan nenek serta tante kamu ke rumah itu mau bilang sama kamu sama adik-adik kamu, kalau mama kamu mau kami jodohkan sama salah satu pilihan kami."Ucap Tante.


"Apa mama mau nikah lagi?"Tanya Wulan heran.


"Iya, kira-kira kalian setuju tidak?"Tanya Tante.


"Memangnya siapa jodohnya?"Tanya Wulan heran.


"Ada, salah satu pengusaha kaya di daerah palembang."Kata Tante.


Wulan menatap dan melirik kepada Mama.


"Mama mau menikah lagi?"Tanya Wulan.


"Kenapa mama tidak kompromi dahulu sama aku dan adik-adik?"Tanya Wulan kesal.


"Kan bisa di omongin dari jauh-jauh hari ma, lagi pula kita tidak mengenalnya serta keluarganya seperti apa."Pungkas Wulan kesal.


"Bukan seperti ini mah main lamaran saja, bagaimana nanti kalau dia tidak sayang sama kedua adik aku?"Tanya Wulan maki-maki.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaan aku jika harus izin mendadak?"Tanya Wulan.


Wulan menarik napas panjang dan berpikir sejenak.


"Yaallah pa, aku harus berbuat apa?"Tanya Wulan di dalam hati.


"Apa aku harus setuju sama semua ini?"Tanya Wulan.


"Apa betul dia bisa bahagiakan Mama dan kedua adik aku, serta sayang sama Mama dan adik aku?" Apa aku sangup pa, mengantikan papa dengan yang lain?"Tanya Wulan di dalam hati.


Berbagai pertanyaan di dalam kepala membuat Wulan bingung dan prustasi, kemudian mama menatap mata anaknya sedang emosi dan kesal itu.


"Kakak, maafkan mama tidak kompromi dahulu sama kalian. Mama juga tidak tau kalau mereka semua akan datang ke sinih dan mau menikahkan mama dengan pilihan mereka, bersikaplah bijak dan dewasa dalam menangapi permasalahan yang ada."Ucap Mama.


"Tapi ma, kita tidak mengenal latar belakang dia dan keluarganya seperti apa?"Tanya Wulan kesal.


"Insyaallah kak, jika itu pilihan nenek kamu sudah pasti yang terbaik buat mama."Ucap Mama.


"Terserah mama lah."Kata Ku meninggalkan acara itu dan menuju ke dalam kamar.


Denny dan Tian melihat kakaknya yang kesal itu dan mengikuti kakaknya ke dalam kamar, Acara di sanah menjadi kacau balau.


Sampailah Wulan di dalama kamarnya, Wulan kesal atas pilihan Mama tidak kompromi dahulu kepada dia serta kedua adiknya dan tidak menanyakan dahulu pendapat dari keluarga almahum sang ayah.


Bbbbrrrruuuugggghhhh suara pintu di banting Wulan.


Wulan duduuk di tepi kasur kamarnya dan menatap foto sang ayah.


"Pa aku kangen sama papa, aku harus berbuat apa sekarang?"Tanya Wulan meneteskan air mata.


"Banyak hal yang telah terjadi dalam hidup aku, kini aku sudah bisa menyelesaikan semua permasalahan sendiri dan sudah bisa jaga ke dua adik. Tapi sekarang aku bingung mau setuju atau tidak dengan keputusan nenek mau menjodohkan mama dengan pilihannya, karena aku belum siap menerima penganti papa karena aku yakin pasti bisa menghidupi keluarga ini dengan kerja keras aku."Ucap Wupan menangis.


Tian dan Denny telah sampai di depan pintu kamar Wulan.


Tok...Tok...Tok... suara pintu di ketuk.


"Kak ini kami, boleh kami masuk?"Tanya Denny.


"Iya masuk saja."Kata Ku menghapus air mata karena tidak mau di lihat oleh sang adik.


Wulan membukakan pintu kamar dan menyuruh mereka masuk dan duduk.


"Ada apa kalian ke sinih?"Tanya Wulan heran.


"Apa kakak tidak setuju mama nikah lagi?"Tanya Denny heran.


"Aku belum tau dan belum bisa memutuskannya sekarang, karena aku masih bingung dan terkejut saja."Kata Ku.


"Jika kakak setuju dengan pilihan mama, maka kami berdua selayaknya adik akan setuju juga."Ucap Denny.


"Apakah calon mama itu sayang dan perhatian kepada kalian?"Tanya Wulan.


"Sepertinya dia sayang sama Tian, soalnya waktu itu Denny lihat Tian nampak bahagia dekat sama dia."Ujar Denny.


"Benarkah begitu Tian?"Tanya Wulan melirik Tian.


"Iya kak, dia baik sama aku."Ucap Tian.


"Lalu kamu setuju mama sama dia?"Tanya Wulan kepada Tian.


"Aku masih kecil kak, aku juga belum paham tentang semua ini. Aku ikuti kamu saja kak."Kata Tian.


Wulan menghelaikan napas dan memeluk mereka berdua, Wulan meneteskan air mata di pipi ia bingung harus bagaimana.


Wulan berpikir keras, ia masih punya uti untuk bertanya dan minta solusi.


Uti adalah nenek dari almahum sang ayah.


"Besok aku tanya sama Uti saja sehabis pulang bekerja."Batin Ku.

__ADS_1


Wulan buru-buru menghapus air mata yang jatuh di pipi sebelum ketahuan sang adik.


__ADS_2