
Pagi hari Wulan hendak berangkat kerja.
"Ma aku betangkat dulu ya!!!"Teriak Wulan sambil pakai sepatu.
"Iya hati-hati di jalan."Ucap Mama.
Wulan hendak keluar untuk bekerja, ia bertemu Ibrahim di depan rumahnya. Seketika membuat Wulan terkejut.
"Loh kang pop corn ngapain di depan rumah?"Tanya Wulan heran.
"Mau antar kamu kerja."Ucap Ibrahim.
"Sejak kapan kamu tau kalau aku masuk pagi?"Tanya Wulan menyelidiki.
"Aku tau semua aktifitas kamu."Ucap Ibrahim.
"Jadi kamu selama ini pantau setiap aktifitas aku?"Tanya Wulan menyelidiki.
"Iya bisa di bilang seperti itu."Kata Ku.
"Kamu curang!!!"Ucap Wulan kesal.
"Sudah jangan ngambek terus, ayo kita berangkat."Ucap Ibrahim mengandeng tanggan Wulan.
Kini Wulan dan Ibrahim menuju ke tempat kerja, di sepanjang perjalanan Wulan melirik ke arah Ibrahim.
"Kenapa kamu melirik wajah aku terus?"Tanya Ibrahim.
"Perasaan kamu aja kali."Ucap Wulan tersipu malu.
"Kalau kamu mau menatap aku lama-lama juga tidak apa kok."Kata Ibrahim mengoda Wulan.
"Terlalu percaya diri kamu mas."Kata Ku melirik kesal.
Ibrahim tertawa saja melihat tingkah laku Wulan mengemaskan, kini mereka telah sampai di tempat kerja Wulan.
"Terimakasih mas."Kata Ku.
"Nanti aku pulang jemput kamu lagi."Ujar Ibrahim.
"Jika tidak bisa jemput, jangan berjanji sama aku."Ucap Wulan.
"Iya insyaallah, kerja yang rajin dan semangat jika ada yang menyakitimu bilang sama aku."Ucap Ibrahim mencium kening Wulan.
"Siap komandan."Kata Ku.
Kini Wulan menuju ke toko, sampailah Wulan di depan toko.
Desas desus menatap Wulan, Wulan tidak menghiraukan sama sekali.
"Assalamuallaikum."Kata Ku.
"Waaallaikumsalam."Jawab Mereka bersamaan.
Wulan menaruh tasnya di loker, dan kasih oleh-oleh buat mereka.
"Ini ada sedikit oleh-oleh buat kalian."Kata Ku.
"Terimakasih banyak."Ucap mereka.
Wulan hanya menganguk saja, kini Wulan memulai bekerja kembali. Tidak terasa waktu semakin cepat berlalu kini Wulan hendak pulang ke rumah, Wulan mengecek ponselnya namun belum ada pesan dari Ibrahim untuk menjemputnya.
"Ini orang jadi jemput atau tidak ya?"Tanya Wulan kesal.
"Apa lebih baik aku hubungi saja ya?"Tanya Wulan .
Wulan hendak menghububgi Ibrahim, namun sebelum ia akan menghubungi Ibrahim di depan toko Wulan sudah ada Irwan untuk mengantarnya pulang.
"Wulan!!!"Teriak Irwan dari jauh.
Seketika Wulan menoleh ke sumber suara.
"Eh ada apa kak?"Tanya Wulan heran menatap Irwan.
"Sudah mau pulang ya?"Tanya Irwan.
"Iya kak."Kata Ku tersenyum.
"Kebetulan sekali, ayo kita pulang."Ucap Irwan mengandeng tanggan Wulan.
Wulan bingung dan heran kenapa tiba-tiba Irwan menjemputnya, kemudian Wulan berhenti sejenak.
"Ada apa?"Tanya Irwan penasaran.
"Tidak ada angin dan tidak ada hujan kenapa kakak mau jemput Wulan?"Tanya Wulan penasaran.
"Aku kebetulan saja mampir di sinih."Kata Irwan.
"Tapi kenapa tidak kasih tau Wulan terlebih dahulu?"Tanya Wulan kesal.
"Iya maaf, lain kali akan kirim pesan sama kamu deh."Ujar Irwan.
Di dalam hati Wulan ragu akan ikut pulang bareng sama Irwan atau menunggu Ibrahim untuk menjemputnya.
"Apa aku harus Irwan saja untuk pulang atau aku nunggu Ibrahim untuk jemput?"Tanya Wulan di dalam hati.
"Aku bingung sekali, maan Ibrahim tidak ada kabar sama sekali."Batin Wulan.
Wulan sedang melamun itu, kemudian di tanya sama Irwan.
"Ayo jadi pulang tidak?"Tanya Irwan.
"Yasudah lah aku pulang sama dia saja, dari pada nunggu Ibrahim tidak ada kabarnya."Gumam Wulan.
Wulan hanya menganguk saja, kini Wulan dan Irwan menuju ke rumah Wulan.
Di sepanjang perjalan mereka asyik ngobrol
"Gimana keadaan kamu sekarang?"Tanya Irwan.
"Alhamdulilalh baik."Kata Ku.
"Waktu itu kemana aja tidak masuk kerja?"Tanya Irwan.
"Aku baru pulang dari liburan kak."Kata Ku.
"Pantesan jarang lihat."Ucap Irwan keceplosan.
Seketika Wulan bingung mendengar jawaban Irwan.
"Maksudnya bagaimana kak?"Tanya Wulan heran.
"Oh bukan apa-apa kok."Ujar Irwan tersenyum malu.
Wulan hanya tersenyum, kini mereka telah sampai di rumah Wulan.
"Terimakasih banyak kak, sudah antar aku pulang."Kata Ku.
__ADS_1
"Iya sama-sama, salam saja sama mama kamu ya dan maaf tidak bisa mampir karena sudah malam."Ucap Irwan.
"Iya kak nanti di salamin."Ujar Wulan.
"Oh iya aku sampai lupa kasih kamu."Kata Irwan mengambil hadiah untuk Wulan.
Irwan membuka bagasi mobilnya dan mengambil hadiah, Wulan nampak bingung dan heran. Kemudian Irwan mendekati Wulan.
"Ini hadiah untuk kamu dari ibu aku."Ucap Irwan.
"Terimakasih banyak kak, tolong sampaikan ucapan terimakasih aku buat tante dan maaf belum sempat mampir ke rumah."Kata Ku tersenyum.
"Iya sama-sama, nanti aku sampaikan. Yasudah kamu masuk saja dahulu ke dalam kamar."Kata Irwan.
"Iya kak, Wulan masuk dahulu."Kata Ku.
Kemudian Wulan masuk ke dalam rumah, di lihat lah dari sudut jendela rumahnya untuk memastikan kalau Irwan sudah pergi.
Wulan menuju ke dalam kamarnya, Wulan menaruh hadiah dan tasnya itu di meja. Wulan rebahan di atas kasurnya.
Wulan mengecek ponselnya ternyata pesannya belum juga di baca oleh Ibrahim, Wulan menaruh kembali ponselnya dan membuka hadiah dari Irwan.
Seketika Wulan kagum dan heran kenapa Irwan kasih Wulan sebuah dress yang anggun dan bagus sekali ia kenakan di badan.
"Kenapa Irwan bisa tau ukuran badan aku dan tau kalau aku suka sekali warna biru?"Tanya Wulan heran.
Wulan membuka hadiah yang di kasih oleh Irwan, kemudian Wulan chat Irwan.
"Assalamuallaikum kak, aku cuman mau bilang terimakasih atas hadiahnya dan aku sangat suka sekali atas pemberian tante untuk aku. Tolong sampaikan ucapan terimakasih sama tante dari aku ya dan hadiahnya."
Setelah itu Wulan kembali untuk istirahat karena hari sudah sangat larut malam, kini Wulan sudah tertidur dengan lelap.
Di satu sisi Ibrahim sedang adu argumen bersama kakak dan Ibunya, ia nampak kesal akan di atur oleh mereka.
"Aduh kalian semua ini maunya seperti apa sih?"Tanya Ibrahim kesal.
"Aku sudah ikuti semua apa yang kalian mau."Ucap Ibrahim.
"Iya ibu tau, cuman ibu minta tolong sama kamu untuk ikuti 1 permintaan ibu saja."Ucap Ibu.
"Ibu mau menjodohkan aku dengan siapa lagi?"Tanya Ibrahim.
"Dengan Novi salah satu teman ibu, dia seorang bidan di kota."Ucap Ibu.
"Tapi bu, Novi sudah punya pacar anak pelayaran."Ucap Ibrahim.
"Kata ibunya sudah putus."Ujar Ibu.
Ibrahim menghelaikan napas panjang dan control emosi.
"Pokoknya ibu tidak mau tau kamu harus menikah sama dia, karena tidak akan mungkin untuk menjodohkan kamu bersama Ayu."Ucap Ibu.
"Tapi bu."Ucap Ibrahim kesal.
"Tidak ada tapi-tapian, segera lah urus nikah kantor kalian dahulu. Nanti baru urus nikah di KUA."Kata Ibu pergi meninggalkan Ibrahim.
Ibrahim menuju untuk kembali ke kapal untuk berjaga, sedari tadi Ibrahim tidak mengecek ponsel sama sekali kalau Wulan akan menjemputnya.
Kini Ibrahim telah sampai di kapal, Ibrahim menjalankan tugasnya seperti biasa dan Wulan bekerja serta kuliah seperti biasanya.
Mereka jarang komunikasi akibat kesibukan masing-masing.
Beberapa hari kemudian Ibrahim telah mengurus nikah kantor bersama Novi, ia tidak ada kabar untuk Wulan sama sekali.
Di kapal Ibrahim sedang pusing untuk mengurus berkas nikah kantor, Diki menghampiri Ibrahim.
"Aku bingung mau bilang bagaimana sama Wulan, pernikahan aku akan berlangsung sebentar lagi."Ucap Ibrahim mengacak rambut.
"Kamu kasih tau Wulan sebenarnya saja lah."Kata Diki.
"Aku tidak mau membuat Wulan bersedih sampai larut."Ucap Ibrahim.
"Wulan tidak akan bersedih, ia sudah dapat penganti kamu."Ujar Diki.
"Maksud kamu apa?"Tanya Ibrahim heran.
"Aku tidak sengaja melihat Wulan di jemput oleh seorang pria pakai mobil mewah."Ujar Diki.
"Serius kamu?"Tanya Ibrahim penasaran dan cemburu.
"Iya serius, pria itu sepantaran kita dan sepertinya Wulan bahagia bersama pria itu."Kata Diki.
"Kamu lihat mereka dimana?"Tanya Ibrahim.
"Waktu aku sama Dina akan makan."Ucap Diki.
"Lalu ekspresi wajah Wulan seperti apa?"Tanya Ibrahim cemburu.
"Cie...Cie...Cie cemburu."Kata Diki.
Ibrahim hanya memalingkan wajahnya.
"Sudah lah lebih baik kamu ikhlasin saja Wulan, kasihan sama Wulan terlalu banyak beban kalau sama kamu."Ucap Diki menepuk bahu Ibrahim.
"Apa Wulan sangat mencintai dia?"Tanya Ibrahim.
"Aku tidak tau, tapi sepertinya pria itu baik dan memperlakukan Wulan penuh perhatian seperti kamu perhatian sama Wulan."Kata Diki.
"Aku jadi penasaran sama pria itu."Kata Ibrahim.
"Eh aku tidak mau kalau kamu berantem seperti kamu baku hantam bersama Dika, kasihan sama pria itu tidak tau apa-apa dan kasihan sama Wulan kalau tau kamu akan menikah."Ucap Diki.
"Aku janji tidak akan baku hantam lagi, aku cuman pengen lihat saja dari kejauhan. Lagi pula aku sengaja menghindari Wulan agar dia tidak terlalu sakit nantinya."Pungkas Ibrahim.
"Baiklah, nanti aku akan membawa kamu melihat mereka."Kata Diki.
Kini Ibrahim dan Diki kembali berjaga.
Di sisi lain Wulan sedang bekerja, ia heran kenapa Ibrahim beberapa bulan tidak kasih kabar sama dia.
"Kemana Ibrahim tidak ada kabarnya?"Tanya Wulan di dalam hati.
"Apa dia sakit atau dia sedang bertugas di luar kota?"Tanya Wulan heran.
Wulan panik serta khawatir, di lihat oleh Hani.
"Kamu kenapa dari tadi aku perhatikan melamun?"Tanya Hani.
"Aku sedang bingung sama pacar aku teh, dia beberapa bulan ini tidak ada kabarnya?"Tanya Wulan heran.
"Coba mana lihat foto pacar kamu?"Tanya Hani.
Wulan mengeluarkan ponselnya dan kasih lihat kepada Hani, namun membuat Hani terkejut ternyata pacar Wulan pernah beberapa kali ke mall itu dan bertemu sama Hani.
"Apa jadi ini pacar kamu?"Tanya Hani terkejut.
"Iya teh, teteh kenal?"Tanya Wulan penasaran.
__ADS_1
"aku tidak kenal Lan, cuman beberapa kali aku lihat dia bersama seorang wanita cantik sedang membeli accecories ponsel."Ucap Hani.
"Serius teh, kapan dia belinya?"Tanya Wulan penasaran.
"Belum lama sih Lan, tapi aku tidak tau itu perempuan siapa. Siapa tau mungkin itu adiknya atau kakaknya atau bisa saudaranya."Ucap Hani.
"Teteh masih ingat tidak ciri-cirinya?"Tanya Wulan penasaran.
Hani menceritakan semuanya kepada Wulan, Wulan berpikir sesaat dan kembali mengigat siapa wanita itu.
Setau Wulan ia tidak pernah di kenalkan oleh Ibrahim sosok wanita misterius itu.
"Siapa wanita itu ya?"Tanya Wulan.
"Sudah jangan di pikirkan, lebih baik kita kembali bekerja saja dan percaya saja sama pacar kamu. Nanti suatu saat jika ia berbohong akan ketahuan juga."Ucap Hani.
Wulan hanya menganguk dan kembali bekerja, tidak terasa waktu semakin cepat berlalu Wulan pulang ke rumah.
"Kak ayo kita pulang."Kata Ku.
"Iya ayo."Ucap Hani.
Seperti biasa Irwan di suruh oleh Ibunya untuk pendekatan kepada Wulan, Irwan sudah menunggu Wulan di tempay biasa ia akan menjemput Wulan.
Di sisi lain Ibrahim dan Diki sudah memantau mereka berdua dari arah kejauhan.
"Yang mana pria itu Diki?"Tanya Ibrahim melihat sekitar.
"Sabar dong, belum waktunya Wulan pulang."Kata Diki.
"Jadi kamu juga suka pantau Wulan?"Tanya Ibrahim.
"Iya tidak sengaja, soalnya aku menunggu Dina jadi terlihat oleh aku."Ucap Diki.
Beberapa menit kemudian Wulan dan Irwan telah keluar dari mall tersebut, seperti biasa Irwan memperlakukan Wulan dengan sangat baik.
Diki dan Ibrahim melihat ke arah mereka.
"Itu Wulan dan pria itu."Ucap Diki.
"Astagfirullohalazim Dik, itu mah mapan sekali prianya."Ucap Ibrahim.
"Iya betul sekali."Ujar Diki.
"Mereka kenal dimana ya?"Tanya Ibrahim.
"Aku tidak tau, aku aja terkejut melihat Wulan mendapatkan jauh lebih baik dari kamu."Pungkas Diki.
"Sialan kamu, malah mencibir aku."Ucap Ibrahim.
"Iya maaf."Kata Diki tertawa.
"Sudah lah Dik, kita kembali saja ke kapal. Aku senang melihat Wulan sudah bahagia dan semoga dia segera melupakan aku."Ucap Ibrahim.
"Sudah lah jangan bersedih, kamu sebentar lagi akan menikah dan lebih baik ketemu sama Wulan dan meminta maaf atas semua kesalahan kamu dan semoga acara kamu lancar nantinya."Ujar Diki.
"Iya Dik, nanti jika sudah kasih undangan akan kasih tau Wulan."Ujar Ibrahim.
"Semoga Wulan akan mengerti."Ucap Diki menepuk bahu Ibrahim.
Kini mereka kembali ke kapal untuk bertugas, sampailah Wulan di rumahnya.
Seperti biasanya Irwan tidak mampir karena sudah larut malam, Wulan menuju ke kamarnya dan mencoba menghubungi Ibrahim.
Ibrahim masih di perjalanan dan melihat ponselnya berbunyi.
"Dik dari Wulan ini dia telpon."Ucap Ibrahim.
"Yasudah angkat saja, kalau bisa kasih tau yang sejujurnya."Ucap Diki.
Ibrahim mengangkat telpon.
"Hallo pooh ada apa?"
"Kamu lagi dimana mas?"
"Di kapal."
"Kamu kemana aja tidak ada kabarnya?"
"Ada kok."
"Iya aku tau kamu ada, maksud aku kemana kamu menghilang beberapa bulan?"
"Aku sedang sibuk, di kapal banyak banget pekerjaan."
"Oh seperti itu, kamu sedang tidak sakit atau tidak berbohong kan?"
"Tidak kok pooh, kamu bagaimana keadaannya?"
"Alhamdulillah baik."
"Alhamdulillah kayanya kamu senang ya tanpa ada aku?"
"Maksud kamu apa mas?"Tanya Wulan kesal.
"Tadi aku tidak sengaja melihat kamu bersama pria lain?"Tanya Ibrahin cemburu.
"Oh jadi kamu sengaja menghindar dari aku dan bersembunyi dari aku?"
"Aku tidak menghindar sama kamu, aku hanya sedang sibuk saja."
"Sibuk apa kamu?"
"Sibuk kerja lah, memangnya kaya kamu yang sudah berselingkuh dari aku?"
"Berselingkuh??"Bukannya kamu yang sering selingkuh dari aku?"Tanya Wulan kesal.
"Kamu jangan suka membalikan fakta antara aku dan kamu?"
"Siapa yang membalikan fakta mas?" Aku punya buktinya kok." Ucap Wulan.
"Aku juga buktinya, tadi aku lihat kamu di antar oleh pria lain pulang kan?"
"Loh kamu jadi ada di tempat aku bekerja?" Lalu kenapa tidak menghampiri aku di sanah?"Tanya Wulan heran.
"Aku tidak enak sama pria itu, dia jauh lebih sukses dari pada aku."Ucap Ibrahim.
"Mas dengarkan aku, aku tidak pernah melihat seseorang dari penampilan atau hartanya. Aku lihat dari ketulusannya dia."
"Alah itu mah bisa-bisa kamu saja, setiap wanita pasti tertarik dengan pria mapan. Apa lagi dia jauh lebih hebat dari pada aku."Ucap Ibrahim cemburu.
"Aku bisa jelasin semuanya sama kamu siapa dia."Ujar Wulan.
"Tidak perlu di jelaskan lagi, semua terlihat jelas di mata aku."Kata Ibrahim.
"Lalu kamu bersama beberapa wanita lain, aku masih bisa memaafkan kamu dan mau dengar semua penjelasan kamu."Pungkas Wulan.
__ADS_1
Seketika Ibrahim diam membisu tanpa berkata apa pun, Wulan dan Ibrahim berdebat di telpon dengan amat panjang, Diki yang mendengarnya ikut pusing oleh sikap mereka berdua.