
Flashback on
Di semarang Dika telah sampai di kampung halaman, ia sampai pukul 11.00 WIB.
Dika di sambut oleh keluarga besarnya ada Ibu, bapak dan sang adik, suasana di kampung Dika terlihat asri dan sejuk.
Dika tidak kasih kabar sama sekali kepada kedua orang tuanya bahwa dia akan pulang ke rumah, membuat ibu Dika terharu melihatnya.
Ibu Dika memeluk putra semata wayangnya dengan penuh haru karena baru pertama kali ia pulang ke kampung halaman menemui beliau, suasana di sanah nampak terharu dan bahagia.
Ayah Dika adalah seorang tentara yang bertugas di daerah rumahnya, sedangkan ibu Dika adalah ibu rumah tangga dan adik Dika sendiri perempuan yang baru masuk kuliah.
Dika sangat sayang kepada beliau dan juga adiknya.
"Ayo masuk mas, ibu sudah kangen."Ucap Ibu menyuruh anaknya masuk.
"Mas kenapa tidak kasih kabar kalau akan pulang ke rumah?"Tanya Sang Adik.
Dika hanya menganguk saja ucapan mereka dan langsung memeluk sang adik tersayang, Dika duduk di bangku.
"Mas gimana di jakarta, lancar kerjanya?"Tanya Ibu.
"Iya alhamdulillah lancar bu."Kata Ku.
"Mas bawa oleh-oleh tidak buat ku?"Tanya adik.
"Ada dong."Ucap Dika mengeluarkan kotak hadiah di dalam tas, yang sengaja ia siapkan untuk adiknya.
"Terimakasih mas."Ucap Adik.
"Iya sama-sama."Kata Ku.
Kini adik Dika kembali ke kamar dan membawa hadiahnya, Dika duduk bersama ibu dan bapaknya.
Ibu Dika membuka obrolan.
"Bagaimana hubungan kamu sama Umi?"Tanya Ibu.
"Kapan ibu sama bapak bisa ketemu sama beliau?"Tanya Ibu.
"Sudah sejauh mana kalian berhubungan ?"Tanya Ibu.
Dika tidak menjawab apa pun hanya tersenyum saja sambil menarik napas.
"Aku sudah menduga akan di tanya seperti ini."Batin Dika.
Ibu Dika kembali bertanya.
"Kamu sama Umi baik-baik saja kan?"Tanya Ibu Dika.
"Aku sudah tidak sama Umi lagi bu."Kata Ku.
"Lalu kamu sekarang sama siapa mas?"Tanya Ibu heran.
"Aku sedang dekat dengan seseorang wanita Namanya Wulandari, ia gadis baik hati, lemah lembut, penyayang, perhatian, tegar, kuat serta mandiri."Ucap Dika sambil membayangkan wajah Wulan.
"Sepertinya ia gadis baik mas."Kata Ibu sambil melihat wajah anaknya yang gembira.
"Dia bukan hanya baik bu, tapi seperti malaikat tanpa sayap."Ucap Dika.
"Ibu sama bapak jadi penasaran seperti apa wajahnya?"Tanya Ibu melirik ke arah bapak.
"Kamu kenapa putus sama Umi?"Tanya bapak heran.
"Kami sudah tidak cocok pak."Kata Ku.
"Apa kamu sedang berantem sama Umi?"Tanya Ibu.
"Umi sudah menemukan cinta sejatinya bu."Kata Ku.
Ibu hanya menganguk saja dan memegang tanggan Dika.
"Kami orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu saja mas."Ucap mereka.
"Terimakasih ya bapak dan ibu."Kata Ku tersenyum.
"Kalau boleh kami ingin sekali dengan namanya Wulandari itu?"Tanya Ibu dan bapak.
"Iya nanti kalau aku berangkat tugas kalian bisa ketemu sama beliau, jika beliau tidak sibuk kerja dan kuliah."Ucap Dika.
"Oh dia kuliah dimana dan kerja dimana?"Tanya Ibu yang penasaran.
"Dia kuliah di Jakarta bu, dia kerja sama kaya Umi."Ucap Ku.
"Sudah semester berapa mas, terus ambil jurusan apa?"Tanya Ibu.
"Jurusan hukum semester 4."Kata Dika.
Ibu dan bapak Dika hanya menganguk saja, kini Dika masuk ke dalam kamar.
"Sudah ya bu, aku mau istirahat dahulu besok aku mau kembali ke Jakarta karena kapal akan berangkat dari Jakarta."Ucap Ku.
"Loh kamu dalat tugas dimana kali ini mas?"Tanya Ibu heran.
"Di Papua bu, aku di sanah selama 1 tahun untuk berjaga perbatasan dan mengamanin negara."Kata Ku.
"Yasudah besok kami akan antar kamu ke Jakarta."Ucap Ibu.
Dika melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar, ia mengeluarkan ponselnya untuk di charger karena batterai kosong.
"Yah ponsel ku mati lagi, gimana aku kasih tau Wulan dan Diki?"Tanya Dika kesal melihat ponselnya.
Kini Dika tertidur di dalam kamarnya karena perjalanan jauh.
"Pak, besok kita harus mengantar anak kita dan bertemu sama Wulan."Ucap Ibu.
"Iya bu, besok kita menginap di rumah adik bapak saja di daerah Jakarta."Ucap Bapak.
__ADS_1
"Baiklah pak, ibu setuju karena anak kita tidak seantusias dan wajahnya nampak bahagia bersama Wulan. Jadi penasaran ibu seperti apa Wulan ya pak?"Tanya Ibu penasaran.
"Semoga saja Wulan gadis yang baik, yang di ucap oleh Dika."Kata Bapak memeluk ibu.
"Aaamiin."Kata Ibu.
"Mari bu kita beres-beres koper untuk di bawa besok."Kata Bapak.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar untuk persiapan besok pagi mengantar anaknya bertugas.
kembali ke cerita awal.
Kini mama sudah sampai di rumah sakit, mama melihat Wulan belum sadar dan Ibrahim telah pergi meninggalkan rumah sakit.
"Mungkin dia sudah berangkat dan berlayar semoga kalian bisa bertemu dengan jodoh terbaik satu sama lain."Batin Mama memegang tanggan Wulan.
Wulan mulai sadarkan diri, tanggannya mulai bergerak. Mama yang melihat respon sang anak dan segera memangil dokter.
"Aku rasanya seperti hangat di peluk seseorang, perasaan apa ini dan siapa orang itu. Nampak kabur di penglihatan ku."Batin Wulan melihat sekitar ruangan sepi tidak orang sama sekali.
"Mama dan Ibrahim dimana kok tidak ada di rumah sakit?"Tanya Wulan di dalam hati.
Wulan mulai mengigat kembali kejadian sebelumnya, nampak samar-samar dan kepalanya sakit sekali jika di ingat.
Wulan memegang kepalanya yang sakit itu.
"Aaaahhhh sakit sekali!!!"Teriak Wulan merintih ke sakitan.
Wulan memegang kepala sambil memejamkan matanya, kini ia sedikit telah kembali inggat.
"Iya aku sudah mulai ingat semuanya."Ucap Wulan.
"Jadi hari ini kamu mau berangkat berlayar di Natuna selama 3 bln dan setelah itu kamu akan menikah."Kata Ku memegang kepala.
Namun kemudian dokter dan mama masuk ke dalam ruangan untuk periksa Wulan, mereka melihat Wulan merintih kesakitan itu.
"Sebentar saya cek dahulu."Ucap Dokter.
Dokter memeriksa Wulan secara menyeluruh, setelah selesai periksa. Dokter menyarankan Wulan untuk tidak memikirkan hal berat-berat yang mengangu kepalanya dan membuat dia kembali pingsan.
"Sebaiknya mba Wulan tidak perlu terlalu banyak pikiran dan mengigat terlalu banyak bu."Kata Dokter kepada Mama.
"Baik dok, terimakasih banyak."Ucap Mama.
"Saya permisi dahulu bu."Ucap Dokter.
Mama hanya menganguk saja dan meghampiri Wulan.
"Di bagian mana yang sakit ?"Tanya Mama.
"Tidak ada ma, rasanya kepala aku berat sekali."Ucap Wulan.
"Kamu sudah dengar tadi saran dari dokter untuk tidak memikirkan hal berat-berat dahulu sebelum kamu pulih."Ucap mama.
Wulan hanya menganguk saja dan memejamkan kedua matanya.
"Seperti ada pelukan hangat kepergian dan tidak akan terpisahkan, seperti rasa penyesalan dan cinta terambat besar di dalam hati."Gumam Wulan.
"Tapi siapa orangnya dan buat siapa itu di tujukan?"Tanya Wulan di dalam hati.
"Apa Ibrahim menyampaikan sesuatu kepada Ku, saat aku belum tersadar?"Tanya Wulan di dalam hati.
Namun kepala Wulan semakin sakit untuk kembali mengigat, mama melihat anaknya sakit dan menghampiri Wulan.
"Pasti kamu sedang mengigat kejadian hari ini ya?"Tanya Mama.
Wulan hanya menganguk saja tanpa menjawab apa pun.
"Sudah dokter kasih tau untuk tidak mengigat yang tidak penting dan jangan di paksa, lebih baik kamu tanya saja kepada mama apa yang kamu mau tanyakan."Ucap Mama.
"Sungguh Mama akan menjawab Wulan?"Tanya Wulan bahagia dengan raut wajah tersenyum.
"Iya insyaallah mama akan jawab apa pun itu."Ucap mama.
Kini Wulan menanyakan kepada mama.
"Mama sebenarnya apa yang terjadi kepada ku?"Tanya Wulan.
"Kamu mengalami kecelakaan sayang, setelah kamu pulang kerja."Ucap Mama.
"Lalu siapa yang bawa aku ke rumah sakit?"Tanya Wulan.
"Seorang warga bawa kamu ke rumah sakit."Ujar mama.
"Aku kecelakaan sendiri atau sama teman?"Tanya Wulan.
"Kamu kecelakaan di tabrak kendaraan lain yang sedang melintas bersama dengan Umi."Kata Mama.
Namun kepala Wulan kembali sakit setelah Wulan mengetahui kecelakaan dan ingatan dia kembali.
"Iya aku ingat ma, kecelakaan itu waktu aku selesai breafing mau pulang dan mau selamatin Umi yang hendak di tabrak oleh sebuah mobil. Lalu aku teriak kepada Umi namun tidak di dengarnya dan aku segera berlari menolong Umi."Kata Ku.
"Alhamdulillah kalau kamu sudah kembali ingat."Ucap Mama terharu dan memeluk Wulan.
"Setelah itu apa lagi ma?"Tanya Wulan.
Mama langsung diam tanpa menjawab apa pun, karena mama tidak mau membuat anaknya ngedroup dan jatih sakit. Ia merahasiakannya terlebih dahulu.
"Sebaiknya aku simpan saja kejadian hari ini, suatu saat aku akan cerita sama Wulan nunggu kondisinya stabil dan membaik."Batin Mama.
"Kalau aku ceritakan sekarang, nanti anak ku ngedroup kembali."Gumam mama.
Mama melirik ke arah Wulan yang sedang menunggu jawaban mama.
"Tidak ada lagi sayang."Ucap ku tersenyum.
Wulan hanya menatap mama dan berpikir.
__ADS_1
"Aneh, kenapa perasaan aku sepertinya mama sedang berbohong kepada ku dan ada sesuatu yang ia sembunyikan dari aku."Batin Ku menatap mama.
"Ah sudah lah, biarkan saja mungkin perasaan ini salah."Gumam Wulan.
Kini Wulan beristirahat sambil menunggu dokter kembali periksa.
Di kapal Dika.
"Aneh kemana Wulan ya?" Kenapa perasaan aku tidak enak sama dia?" Ada apa yang sebenarnya terjadi sama dia?" Tanya Dika di dalam hati.
"Nanti saja aku tanya sama Diki setelah aku sampai di Papua."Ucap Dika.
"Semoga kamu tidak apa-apa di sanah, tunggu aku pulang kembali ya dan jangan nakal serta jaga hati kamu buat aku."Batin Dika.
"Aku janji sama kamu, aku juga akan jaga hati aku buat kamu."Gumam Dika.
Kini Dika beristirahat sebelum sampai di Papua.
Di rumah sakit Wulan masih tertidur dengan lelap setelah makan dan minum obat yang di berikan oleh pihak rumah sakit.
Dokter memeriksa kondisi Wulan, kini Wulan di nyatakan sembuh dan boleh untuk pulang ke rumah hari ini juga.
"Bagaimana kondisi anak saya dokter?"Tanya Mama.
"Alhamdulillah anak ibu sudah boleh pulang hari ini."Ucap Dokter.
"Terimakasih dokter."Ucap mama tersenyum bahagia.
"Iya sama-sama bu, ingat untuk tidak terlalu memikirkan banyak hal yang bisa membuat kondisinya ngedroup dan jatuh sakit."Kata Dokter.
"Baik dok."Kata Mama.
Dokter pergi meninggalkan ruangan Wulan, mama membereskan baju-baju Wulan untuk di masukan ke dalam tas sebelum pulang nanti. Wulan sengaja belum di bangunkan karena masih tertidur dengan lelap setelah makan dan minum obat.
Setelah selesai mama membereskan bajunya, kini Wulan di bangunkan oleh mama untuk pulang ke rumah.
"Sayang ayo bangun, kamu sudah boleh pulang hari ini."Ucap Mama membangunkan Wulan.
Wulan membuka matanya dan melihat ke arah mama.
"Oh jadi aku sudah boleh pulang hari ini ma?"Tanya Wulan.
"Iya sayang, kamu boleh pulang."Ucap Mama.
Wulan hanya menganguk saja dan menganti pakaiannya sebelum pulang ke rumah, setelah selesai berganti pakaian Wulan dan mama menunggu adiknya di depan rumah sakit untuk di jemput.
Beberapa menit kemudian adiknya sampai dengan motor, mereka langsung menaiki motornya dan kembali ke rumah.
Sampailah mereka di rumah Wulan, Wulan duduk di bangku dalam keadaan lemas sehabis pulang dari rumah sakit.
Wulan merebahkan badannya di sofa dan mengecek ponselnya takut ada berita penting di kampus dan tempat kerjanya.
Wulan membaca pesan masuk di group serta di personal ponselnya, teman-teman Wulan semuanya memberikan ucapan agar Wulan cepat sembuh dan kembali beraktifitas.
Namun Wulan tidak menemukan chat dari Ibrahim, ia hanya menerima pesan dari Dika.
Isi pesan Dika.
"Assalamuallaikum Lan, aku hari ini akan berangkat ke Papua selama 1 tahun. Aku harap kamu bisa jaga hati kamu buat aku di sanah. Aku di sinih akan jaga hati aku buat kamu, kamu di sanah jaga diri baik-baik. Setelah aku pulang dari tugas dan tidak ada halangan kita akan mengajukan surat nikah kantor dahulu. Semoga kita berjodoh dan di persatukan oleh Allah, kita sama-sama berdoa dan berikhtiar ya."
Wulan yang membaca isi pesan dari Dika sangat menyentuh sekali, terdapat makna tersirat di dalamnya.
"Kenapa Dika menyuruh aku buat nunggu dia pulang tugas ya?"Tanya Wulan di dalam hati.
"Apa aku harus yakin dan percaya sama dia?"Tanya Wulan di dalam hati.
Wulan menutup ponselnya dan meletakan kembali di atas meja, Wulan melangkahkan kaki menuju ke dalam kamarnya untuk istirahat.
"Mama aku masuk ke dalam kamar ya!!"Teriak Wulan.
"Iya kak."Kata Mama.
Sampailah Wulan di dalam kamarnya, ia merebahkan badan di atas kamarnya yang sederhana dan nyaman.
Ia menaruh ponsel di atas meja dan kini ia tertidur dengan lelap di kamar kesayangannya.
Pagi hari di kosan Diki dapat kabar kalau Wulan sudah di bolehkan pulang dari rumah sakit, ia dan Dina sehabis pulang kerja langsung menuju rumah Wulan.
"Sayang nanti kita jenguk Wulan ya di rumahnya."Ucap Dina.
"Iya nanti kita jenguk ke sanah, sehabis kamu pulang kerja."Kata Ku.
Kini Diki bersiap-siap untuk berpakaian rapih dan mengambil kado yang di titip oleh Dika untuk di kasihkan kepada Wulan.
"Apa ya isi kotak ini?"Tanya Diki melihat sekitar kotak.
"Apa cincin di dalamnya?"Tanya Diki heran.
Setelah selesai Diki bersiap-siap Ia segera menjemput Dina, Diki melangkahkan kaki menuju kosan Dina. Sampailah dia di kosan Dina.
Dina sudah menunggu dia di depan kosannya, Diki melihat pacarnya sudah rapih dan antusias untuk jenguk Wulan.
"Tumben sekali kamu sudah rapih dan menunggu di luar?"Tanya Diki heran.
"Iya, soalnya Umi tidak akan kos di sinih lagi."Ucap Dina.
"Lalu Umi akan kos dimana?"Tanya Diki.
"Iya akan tinggal bersama bibinya, soalnya sejak kejadian kemarin dia kecelakaan orang tua Umi tidak mengizinkan anaknya untuk kos. Jadi aku sendiri di sinih tidak ada teman ngobrolnya."Ucap Dina sedih.
"Jangan sedih, walaupun kamu sendiri di tempat kos kan masih ada aku yang selalu temanin kamu setiap malam kita bisa video call sebelum kamu tidur."Ucap Diki mencubit pipi Dina.
"Baiklah, ayo kita berangkat."Ucap Dina tersenyum.
"Siap bu bos."Ucap Diki.
Kini mereka berdua berangkat menuju rumah Wulan.
__ADS_1