
Setelah perdebatan panjang Wulan dan Ibrahim berdebat tiada henti, mereka masih sama-sama sayang namun ego mereka sangat tinggi.
Wulan dan Ibrahim sibuk masing-masing, Wulan tidak tau kalau ternyata beberapa hari lagi Ibrahim akan menikah.
Ibrahim dan Wulan tidak kasih kabar satu sama lain, Wulan sedang bekerja di pangil oleh Fauzan.
"Wulan!!"Teriak Fauzan.
Wulan menoleh ke arah Fauzan.
"Iya bang."Kata Ku.
"Kenapa muka adik abang di tekuk seperti itu?"Tanya Fauzan.
"Tidak ada apa -apa bang."Kata Ku tersenyum.
"Sedang marahan sama pacarnya?"Tanya Fauzan.
"Tidak bang."Ucap Wulan.
"Abang ada satu hal yang pengen bilang sama Wulan, apakah Wulan siap dengan segala keputusan abang ?"Tanya Fauzan.
"Soal apa bang?"Tanya Wulan heran.
"Soal kamu akan saya pindah kan toko, apakah kamu siap?"Tanya Fauzan.
"Jika toko itu baik ke depannya untuk Wulan, aku siap bang."Kata Ku.
"Yasudah kalau begitu, bulan depan kamu pindah toko saja."Kata Fauzan.
"Baik bang."Jawab Wulan.
Kemudian Wulan kembali bekerja.
1 bulan kemudian Wulan pindah toko dan pindah mall, Wulan di tempatkan di mall Jakarta. Namun ternyata sang ibu di bulan itu juga akan melangsungkan pernikahan dengan pilihan dari nenek Wulan.
Semakin hari ada aja yang membuat kepala Wulan pusing, tiada henti cobaan untuk Wulan.
Wulan yang tidak semangat untuk bekerja itu, ia di ledekin oleh semua teman-temannya akibat terlalu memilih pria.
Wulan tidak menghiraukan sama sekali ucapan mereka, namun ponsel Wulan berdering.
"Assalamuallaikum ma ada apa ?"
"Waaallaikumsalam kak, kamu masih lama pulangnya?"
"Iya."
"Ada hal penting yang mama mau sampaikan kepada kamu."
"Soal apa ma?"
"Nanti saja mama cerita di rumah."
"Oke."
Wulan menutup telponnya dan kembali bekerja, waktu tidak terasa semakin berlalu Wulan kembali ke rumahnya.
"Assalamuallaikum."Ucap Wulan.
"Waallaikumsalam kak, mandi sanah habis itu kamu duduk di sanah bersama kedua adik kamu."Ujar Mama.
Wulan hanya menganguk saja dan menuju ke kamarnya, kini Wulan telah selesai dari mandi.
Wulan duduk bersama kedua adiknya, mereka telah siap apa yang akan di bicarakan oleh sang ibu. Mereka semua saling melirik satu sama lain.
Mama memulai membuka obrolan.
"Jadi ginih kakak Winny, kakak Denny dan Tian mama mau tanya sama kalian mengenai pernikahan mama."Ucap Mama.
"Jadi mama kapan akan menikah?"Tanya Wulan.
"Bulan Februari."Kata Mama.
"Apa bulan depan?"Tanya Wulan terkejut.
"Iya kak, kamu bisa izin untuk datang ke acara mama nikah tidak?"Tanya Mama.
"Tapi mama tau sendiri kalau aku sudah ambil cuti bulan ini, terus untuk cuti lagi nunggu 3 bulan ke depan."Ucap Wulan.
"Tapi kamu masa tidak bisa izin sama atasan kamu kak?"Tanya Mama melas.
Wulan tidak tega melihat raut wajah sang ibu memohon itu, Wulan mengambil napas panjang.
"Baiklah ma, aku akan mencobanya."Kata Ku.
"Lalu bagaimana pendapat kalian jika mama menikah lagi?"Tanya Mama.
"Kalau Wulan setuju saja, jika dia sayang kepada mama dan kedua adik Wulan."Ucap Wulan.
"Kalau Denny setuju saja sama seperti kakak, tapi sedikit tambahan jika dia bisa membahagiakan Mama dan Tian serta tidak membedakan kami dan memperlakukan kami sebagai anak beliau seperti anak kandungnya sendiri Denny setuju."Kata Denny.
"Bagaimana menurut Tian?"Tanya Mama.
"Tian setuju, karena Tian merasa dia sayang sama Tian."Ucap Tian.
"Baiklah jika kalian semua setuju sama keputusan mama, mama terimakasih sekali dan bangga punya kalian."Jawab Mama sambil memeluk ketiga anaknya.
Wulan hanya tersenyum saja melihat raut wajah sang ibu nampak senang dan bahagia, di satu sisi Wulan bersedih karena ia bingung akan keputusan apa yang dia ambil.
"Bismillah saja semoga yang terbaik untuk kedepannya."Batin Wulan.
Wulan dan kedua adiknya kembali ke kamar mereka untuk istirahat, mama menghubungi keluarga di kampung halaman untuk kasih kabar kalau ternyata ketiga anaknya pada setuju.
Pagi hari sinar maatahari telah menyinari Wulan hendak berangkat ke kampus untuk kuliah.
"Ma aku berangkat ke kampus dahulu."Kata Ku.
"Iya hati-hati di jalan, nanti jangan lupa untuk bilang kepada atasan kamu soal izin ya kak."Ucap Mama.
"Iya."Kata Ku.
__ADS_1
Kini Wulan menuju ke kampus, beberap menit kemudian Wulan telah sampai di kampus. Wulan belajar dengan penuh semangat, namun ada beberapa pangilan masuk dari nomor tidak di kenal.
Wulan hanya mengecek saja.
"Siapa ya nomor ini mengangu saja."Batin Ku.
Bell berbunyi tanda Wulan selesai dari belajarnya, ia segera menuju ke toko untuk kembali bekerja.
Sampailah Wulan di toko, ia bingung untuk menjelaskan kepada atasannya untuk meminta izin cuti menghadiri pernikahan sang ibu.
Wulan menaruh tas sambil bekerja, ia nampak gelisah dan bingung, sesekali Wulan melirik ke arah atasannya itu. Namun di ketahui oleh Fauzan.
"Ada apa Lan?"Tanya Fauzan.
"Tidak ada bang."Kata Ku.
"Apa ada sesuatu yang kamu mau bilang?"Tanya Fauzan.
"Anu bang."Ucap Wulan memainkan jari-jari.
"Apa sih Lan?" Kalau bilang itu yang betul dong."Pungkas Fauzan.
"Misal ini bang saya mau tanya, jika saya akan cuti lagi di bulan depan bisa tidak?"Tanya Wulan.
"Kamu tau sendiri Lan kalau cuti ketentuannya kapan dan perkapan."Jawab Fauzan.
"Iya sih bang, Wulan paham."Kata Ku.
"Lalu kenapa kamu mau cuti?" Apakah kamu bulan depan mau menikah?"Tanya Fauzan mengoda Wulan.
"Seumpama Wulan menikah di bulan depan bisa tidak bang ambil cuti?"Tanya Wulan.
Seketika membuat Fauzan terkejut.
"Serius kamu akan menikah bulan depan?"Tanya Fauzan.
"Ini misal saja bang, Wulan tanya kalau bulan depan menikah bisa ambil cuti tidak?"Tanya Wulan.
"Ada 2 kemungkinan Lan, pertama kamu hanya di izinkan pas di hari H saja dan yang kedua kamu mau tidak mau merisegnkan diri kamu dari sini."Ucap Fauzan.
Seketika Wulan murung sesaat, ia menghelaikan napas, Fauzan melihat raut wajah Wulan nampak sedih dan mencoba mendekati Wulan.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu?"Tanya Fauzan.
"Tidak ada bang."Jawab Wulan tersenyum.
"Kamu kenapa mau resign mendadak?"Tanya Fauzan.
"Wulan tadi hanya bertanya saja bang."Ucap Wulan.
"Sudah kamu terus terang saja sama abang."Jawab Fauzan.
Wulan hanyan mengeleng saja, kini Wulan melanjutkan pekerjaannya. Fauzan melihat Wulan nampak murung dan sedih itu.
"Pasti ini anak ada sesuatu yang ia tidak bercerita."Batin Fauzan.
Beberapa menit kemudian waktu semakin malam, kini Wulan akan pulang ke rumah. Namun Fauzan menghampiri Wulan.
"Lan nanti kamu tunggu abang di kantin ya, ada hal penting yang abang mau tanya sama kamu."Ucap Fauzan.
"Iya bang."Kata Ku.
"Aku pulang dahulu ya semua."Ucap Ku.
"Iya hati-hati di jalan."Jawab mereka semua.
Kini Wulan telah sampai di kantin, ia telah melihat Fauzan duduk di kantin. Wulan duduk di depan Fauzan.
"Silahkan duduk Lan, kamu mau minum apa?"Tanya Fauzan.
"Tidak usah bang."Kata Ku.
"Abang mau tanya sama kamu, kenapa kamu tiba-tiba mau cuti lagi?" Apa kamu sedang ada masalah?"Tanya Fauzan.
Wulan melihat sekitar kanan dan kirinya, membuat Fauzan bingung.
"Kamu sedang melihat siapa Lan?"Tanya Fauzan.
"Tidak ada bang."Kata Ku.
"Terus dari tadi pertanyaan abang di jawab tidak ada terus."Kata Fauzan.
"Wulan bingung mau memulainya dari mana."Ujar Wulan.
"Memangnya kamu kenapa?" Cerita saja sama abang siapa tau abang bisa bantu kamu."Pungkas Fauzan.
"Mama aku bang mau menikah lagi bulan depan, aku bingung sama dia karena aku sudah jelasin kalau aku tidak bisa ambil cuti lagi. Namun dia meminta aku untuk hadir di acara pernikahannya."Ujar Wulan sedih.
"Waduh menikah lagi."Ucap Fauzan terkejut.
"Iya bang, aku pusing banget ini harus bagaimana."Jawab Wulan melas.
"Abang tidak banyak bisa bantu kamu, karena abang bukan yang punya perusahaan. Tapi ada 2 kemungkinan yang tadi abang bilang smaa kamu, kamu harus bisa ambil sikap dan memilih antara kedua itu. Karena abang tau kalau kamu adalah tulang pungung keluarga."Ucap Fauzan.
"Baik bang, terimakssih atas sarannya. Nanti Wulan coba memikirkan cara terbaik."Jawab Ku.
"Yasudah lebih baik kamu pulang saja sanah."Ujar Fauzan.
"Baik bang, saya permisi pulang dahulu. Assalamuallaikum."Kata Ku sambil salim.
"Iya hati-hati di jalan, waaallaikumsalam."Ujar Fauzan.
Wulan pergi dari kantin dan menuju ke rumah, di satu sisi Ibrahim bersama Novi sedang melihat Wulan di jalan mengendari ojol.
"Loh itu bukannya Wulan?"Tanya Ibrahim di dalam hati.
"Kenapa jam segini baru pulang?"Tanya Ibrhaim heran.
Ibrahim mengikuti Wulan di belakang, membuat Novi bingung kenapa calon suaminta mengikuti ojol itu.
Sampailah Wulan di depan rumahnya, Wulan membayar ojol itu dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Alhamdulillah ia selamat sampai di rumah."Batin Ibrahim tersenyum.
Ibrahim kembali mengendari mobilnya untuk pulang mengantar Novi, Novi nampak heran melihat Ibrahim dan bertanya.
"Itu siapa tadi jelek?"Tanya Novi.
"Pacarnya teman aku."Pungkas Ibrahim.
"Kenapa kita harus mengikuti dia?"Tanya Novi.
"Aku cuman pengen tau aja dan cek kondisi pacar teman aku saja."Ujar Ibrahim.
"Pacar teman kamu yang mana?"Tanya Novi.
"Dika."Kata Ku.
"Dika yang sedang bertugas di Papua?"Tanya Novi.
"Iya."Ucap Ibrahim.
Kini Ibrahim dan Novi sampai di rumah, mereka sedang pusing mengurus semua berkas nikah kantor. Padahal acaranya tinggal beberapa bulan lagi.
"Sebelum aku nikah nanti, aku harus meminta maaf sama Wulan."Gumam Ibrahim.
Novi melihat calon suaminya sedang melamun itu, ia menepuk bahu Ibrahim.
"Kamu sedang memikirkan apa jelek?"Tanya Novi.
"Bukan apa-apa kok, sanah kamu masuk ke dalam aku pamit pulang dahulu."Kata Ibrahim.
"Iya kamu hati-hati di jalan."Ujar Novi.
"Iya."Ucap Ibrahim.
Kini Ibrahim pulang menuju ke rumahnya.
1 bulan kemudian acara sang ibu menikah telah mendekati, kini keputusan Wulan adalah resign dari perusahaan yang telah banyak membantu perekonomian mereka.
Wulan pamitan kepada semua teman-teman di sanah, suasana penuh haru dan sedih itu menghiasi toko Wulan.
"Semuanya aku mau pamitan, bulan depan aku tidak bekerja di sinih lagi. Aku resign dari sinih dan aku sudah mendapatkan perkerjaan yang lebih baik."Kata Ku berbohong.
"Alhamdulillah kalau kamu sudah mendapat pekerjaan yang lebih baik."Ucap Hani memeluk Wulan.
"Terimakasih teh."Kata Ku tersenyum.
Setelah Wulan berpamitan dari toko, kini Wulan pulang ke rumahnya. Ia melihat semua angota keluarganya telah siap untuk berangkat ke Palembang.
Wulan masih ragu dengan keputusan yang dia ambil, karena dia bingung setelah itu ia akan kerja dimana lagi.
Wulan dan sekeluarga menuju ke bandara untuk ke palembang, raut wajah Wulan nampak bingung anatar bahagia atau bersedih.
Wulan tidak kasih tau kepada Irwan atau pun Ibrahim.
"Bismillah saja deh dengan semua keputusan aku, semoga semuanya baik-baik saja."Batin Wulan.
Kini Wulan dan keluarganya telah sampai di bandara Hasannudin, ia menunggu jemputan untuk menuju ke rumah neneknya.
Beberapa menit kemudian Wulan dan keluarganya telah sampai di rumah nenek di Palembang, mereka semua istirahat dahulu sebelum besok acara di mulai.
Di sisi lain Ibrahim menuju ke tempat Wulan bekerja, ia menuju toko Wulan.
"Assalamuallaikum Teh aku mau tanya."Ucap Ibrahim.
"Waallaikumsalam, kamu siapa ya?"Tanya Hani.
"Saya temannya Wulan, mau tanya Wulan hari ini masuk kerja tidak ya?"Tanya Ibrahim.
"Oh kamu pacarnya yang tidak ada kabar itu?"Tanya Ratna.
"Wulan tidak bekerja di sinih lagi, ia sudah pindah kerjaan."Ucap Hani.
"Dia pindah kemana ya ?"Tanya Ibrahim.
"Saya tidak tau kemana."Jawab mereka bersamaan.
"Wulan tidak tau kalian?"Tanya Ibrahim heran.
"Tidak, lebih baim kamu tanya sama orangnya saja."Ucap Ratna.
"Yasudah saya permisi dahulu."Ujar Ibrahim.
Hani dan Ratna hanya menganguk saja, Ibrahim pergi meninggalkan toko.
Ibrahim menuju ke kapal untuk bekerja, setelah Ibrahim sampai di kapal ia bertemu sama Diki.
"Kenapa muka di tekuk seperti itu pengantin?"Tanya Diki.
"Wulan tidak ada di tempat kerja Dik, ia telah pindah kerjaan."Kata Ibrahim.
"Terus kamu tidak ke rumahnya atau menghubungi dia?"Tanya Diki.
"Aku sudah menghubungi dia, tapi ponselnya tidak aktif."Ucap Ibrahim.
"Mungkin ponselnya lowbet kali."Pungkas Diki.
"Apa dia ganti nomor ya?"Tanya Ibrahim.
"Aku tidak tau, nanti coba kamu ke rumahnya saja untuk meminta maaf."Pungkas Diki.
Ibrahim hanya menganguk saja, mereka melanjutkan berjaga kembali.
Di Pelembang Wulan menghadiri pernikahan sang ibu itu dengan raut wajah tidak menentu antara sedih dan bahagia.
Wulan masih memikirkan bagaimana setelah mama menikah ia akan bekerja dimana, karena ia harus membayar rumah serta kuliah.
Setelah selesai pernikahan dan sesi foto keluarga, Wulan masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
Wulan merebahkan badannya di atas kasur, kini Wulan tertidur dengan lelap. Wulan tidak sadar kalau ponselnya tidak ada sinyal.
Waktu semakin sore hari Wulan mengecek kondisi ponselnya itu.
__ADS_1
"Yaallah tidak ada sinyal sama sekali."Batin Wulan mengoyangkan ponselnya.
Wulan mondar mandir ke sanah dan ke sinih sambil mencari sinyal.