
Tidak terasa waktu semakin cepat berlalu, kini waktu sudah sangat gelap di langit. Bintang-Bintang telah menyinari diatas langit dengan indah dan hembusa anggin malam yang sejuk melintasi di setiap malam.
Di kapal.
Dika dan Diki yang sedang melaksanakan tugasnya, kini mereka kembali ke kosannya untuk menghadiri acara tahlilan alm ayah Ibrahim.
"Ayo cepat, kita harus datang ke acara tahlilan alm."Ujar Diki.
"Iya iya ini mau turun kok."Ucap Dika.
"Oh iya kita sebaiknya tidak usah kasih tau ke Wulan kalau kita menghadiri acara tahlilan."Kata Diki.
"Loh memangnya kenapa?"Tanya Dika heran.
"Ah masa kamu tidak mengerti sih, kalau di sanah ada Rahayu bagaimana?"Tanya Diki.
"Iya tidak apa-apa lah biar Wulan tau kalau pacarnya tidak serius sama dia."Ujar Dika.
"Kamu mau lihat Wulan di tampar lagi oleh Rahayu dan di permalukan oleh keluarga besar Ibrahim?"Tanya Diki.
Seketika Dika terdiam sejenak sambil berpikir.
"Apa sebaiknya kamu tidak perlu tau aja ya, tentang kebusukan pacar kamu itu. Biar waktu saja yang menjawab dan membongkar semuanya?"Gumam Dika bertanya di dalam hati.
"Woi malah melamun, di ajak ngobrol juga dari tadi."Kata Diki kesal.
"Iya iya maaf, tadi kamu bilang apa?"Tanya Dika.
"Ah sudah lah lupakan saja, ayo cepatan kembali kosan dan berganti pakaian."Kata Diki kesal.
"Maaf sih, aku tidak bermaksud kaya gitu."Ujar Dika.
Kini mereka menuju ke kosannya.
Sesampainya mereka di kosan terlihatlah sudah banyak tentara yang lain sudah rapih untuk menghadiri acara tahlilan Ibrahim.
"Loh kalian baru pulang?"Tanya salah satu tentara.
"Iya nih, baru aja sampai."Ujar Diki.
"Yasudah kalau begitu, kita duluan ya ke sanah."Kata salah satu tentara.
"Iya, nanti kita nyusul."Ucap mereka bersamaan.
Akhirnya Dika dan Diki masuk ke dalam kosan dan bersih-bersih diri untuk menghadiri acara nanti malam.
Setelah selesai mereka menghubungi pacar masing-masing untuk kasih kabar bahwa hari ini mereka mau menghadiri acara tahlilan di rumah salah satu temannya.
Dika menghirim pesan kepada Umi.
"Sayang hari ini aku sama Diki mau menghadiri acara tahlilan alm ayahnya Ibrahim."
Umi membalas Dika.
"Iya, kamu hati-hati di sanah terus jangan genit ya dan kalau sudah sampai kasih tau sama aku."
Dika membalas.
"Iya nanti kalau sudah sampai aku kasih tau sama kamu, lagi pula di sanah tidak ada wanita dan kebanyakan pria. Mana ada aku genit dan menatap mereka, aku pria normal."
Umi membalas.
"Aku antisivasi saja bang, siapa tau di sanah ada Wulan datang dan ada adik Ibrahim perempuan atau keluarga Ibrahim perempuan yang lainnya yang jauh lebih dari aku."
Dika membalas.
"Sudah dulu ya, aku mau berangkat sama Diki nanti aku sambung lagi. Kamu kalau mau pulang hati-hati dan kasih kabar sama aku."
Umi hanya membaca saja tanpa membalasnya.
Umi berpikir sejenak di dalam hati.
"Apa iya kali ini Dika tidak punya perasaan apa pun sama Wulan?"Tanya Umi di dalam hati.
"Apa aku sudah berlebihan cemburu sama Dika ya dan menuduh Wulan dan Dika yang tidak-tidak."Gumam Umi.
"Aaaahhhh, rasa nya kesal sekali dan ingin marah."Ucap Umi emosi.
Tibalah Dina menghampiri Umi.
"Kamu kenapa mukanya seperti itu?"Tanya Dina.
"Bukan urusan kamu."Kata Umi melirik Dina dengan tatapan sinis.
"Iya memang sih bukan urusan aku, tapi aku sebagai teman kosan kamu jadi aku tau mana kamu sedang kesal, marah, bahagia, nagis,dll."Ucap Dina.
"Terus aku peduli sama ucapan kamu bilang seperti itu sama aku?"Tanya Umi acuh tak acuh.
"Iya tidak sih, cuman biar aku tebak saja deh. Dari raut wajah kamu sepertinya kamu sedang kesal sama pacar kamu kan ?"Tanya Dina mengelilingi Umi.
"Stop berhenti mengelilingi aku, pusing tau aku."Ucap Umi kesal.
"Yasudah kalau kamu tidak mau aku terus mengangu kamu lebih baik kamu katakan yang sebenarnya saja sama aku, siapa tau aku bisa bantu kamu."Ujar Dina melirik Umi.
__ADS_1
"Ah males bilang sama orang seperti kamu, sudah di tolongin bukannya minta maaf kek malah yang ada marah sama aku dan Wulan. Ditambah lagi waktu sampai di kosan aku di maki-maki sama kamu entah apa aku salah di mata kamu."Ucap Ku kesal sambil meninggalkan Dina.
"Ayolah Umi, aku minta maaf atas kejadian itu."Ujar Dina melas.
"Waktu itu aku terbawa emosi sesaat atas kejadian yang menimpa aku dan aku menyesal atas apa yang aku ucapan sama kamu dan Wulan."Ucap Dina memegang tanggan Umi.
"Maaf mu palsu, kalau minta maaf itu yang tulus."Kata Umi meledek Dina.
"Terus aku harus berbuat apa supaya kamu mau maafin aku?"Tanya Dina penasaran.
"Yakin kamu mau melakukan sesuatu buat aku?"Tanya Umi memastikan kembali.
"Iya aku mau."Jawab Dina terpaksa.
"Mukanya kaya terpaksa dan tidak ikhlas begitu."Kata Umi memperhatikan Dina.
"Iya iya aku ikhlas."Ucap Dina tersenyum.
"Oke kalau begitu kita bersiap-siap menuju tempat tahlilan, dimana pacar kita menghadirinya."Ucap Umi.
"Kamu serius mau ke sanah?"Tanya Dina heran.
"Iya dong serius, jadi kamu mau aku maafin tidak?"Tanya Umi meninggalkan Dina dan menuju kamar untuk berganti pakaian.
"Iya iya mau."Ucap Dina.
Mereka berdua berganti pakaian dan bersiap-siap menuju tahlilan.
Di rumah Ibrahim.
Para tamu sudah banyak datang untuk menghadiri tahlilan alam ayahnya, suasana yang ramai dan tertib itu.
Kini Dika dan Diki sudah sampai di rumahnya, mereka langsung menemui Ibrahim untuk memberikan ucapan bela sungkawan atas meninggalnya alm ayahnya.
Namun Ibrahim sedang sedih atas ucapan Wulan yang tidak bisa hadir di sanah dan ditambah lagi Ibunya menyuruh menjemput Rahayu buat hadiri acara.
Ibrahim sedang duduk di salah satu sudut rumahnya sambil menatap ponselnya, Dika dan Diki mengahmpiri Ibrahim.
"Dimana Ibrahim ya?"Tanya Dika melihat sekitar rumah.
"Itu dia."Ucap Diki sambil menujuk ke arah Ibrahim.
"Yasudah ayo kita ke sanah."Kata Dika.
Diki hanya menganguk dan mereka menuju ke Ibrahim yang sedang duduk sendiri.
Sampailah mereka di bangku dimana Ibrahim duduk, mereka menghampiri Ibrahim dan duduk bersamaan.
"Sudah jangan dipikirkan lagi, bapak kamu sudah tenang di sanah. Kita harus mengikhlaskannya dan berdoa buat beliau supaya tenang disanah."Kata Diki.
"Aku bukan sedih karena itu, tapi ada hal lain yang membuat aku makin sedih."Ujar Ibrahim.
"Hal lain apa?"Tanya mereka bersamaan.
"Wulan tidak bisa hadir di acara ini, karena di tokonya tidak ada orang buat menganti dia berjaga di sanah."Ucap Ibrahim melas.
"Yasudah mungkin memang dia beneran tidak bisa hadir, jangan terlalu banyak di pikirkan hal itu. Masih ada kita kok yang selalu ada buat kamu."Ucap Mereka bersamaan.
Acara telah di mulai, ustad telah duduk di sanah sambil membuka acara dan kata sambutan telah di lontarkan.
"Ayo kita ke sanah, sepertinya sudah mau di mulai."Ucap Diki.
Dika dan Ibrahim hanya menganguk saja, mereka semua menuju ke aula dimana tempat acara tahlilan di mulai.
Para tamu yang datang lumayan banyak yang memberikan doa buat alm ayahnya itu, acara berjalan dengan kitmat dan lancar dan doa dipanjatkan oleh ustad untuk mendoakan alm ayahnya dan berdoa untuk keluarganya.
Di luar rumah Ibrahim.
Dina dan Umi sudah sampai dilokasi, mereka sedang celingak celinguk melihat sekita lokasi.
"Apa benar ini tempatnya?"Tanya Dina di dalam mobil.
"Menurut titik lokasi ponsel Dika yang sedang aku lacak memang benar di sinih."Ucap Umi.
"Apa sebaiknya kita masuk saja ke dalam?"Tanya Dina melirik Umi.
"Tidak perlu yang ada malah ketahuan kalau aku melacak ponsel Dika."Ucap Umi.
"Terus kita perhatikan dari jauh?"Tanya Dina heran.
"Iya betul, siapa tau mereka habis dari sinih kelayapan kemana dahulu."Ucap Umi curiga.
"Yasudah aku ikut kamu saja."Ucap Dina menghelaikan napas panjang.
Umi dan Dina memantau dari jauh, mereka menunggu sampai acara selesai dari mobil mereka.
Tibalah ibunya Rahayu dan Rahayu datang menghadiri acara tahlilan itu.
"Assalamuallaikum."Sapa mereka bersamaan.
Membuat banyak orang di sanah nampak curiga dan penasaran siapa wanita dan ibu itu, banyak mata-mata yang melihat dan banyak mulut yang berucap atas kedatangan mereka.
"Waaalaikumsalam."Ucap semua orang yang berada di dalam.
__ADS_1
Setelah mendengar suara Rahayu dan Ibunya datang, Ibunya Ibrahim keluar dari kamar dan menuju aula dimana mereka melantunkan ayat suci al-quran.
Sampailah Ibu Ibrahim di sanah.
"Eh jeng terimakasih sudah hadir di acara ini, ayo ayo ke dalam kita mengobrol."Ucap Ibu Ibrahim tersenyum.
Mereka semua masuk ke dalam kamar dan memgobrol bersamaan, sampailah mereka di dalam kamar.
"Terimakasih loh jeng, sudah sempatin hadir di acara ini."Ucap Ibu Ibrahim.
"Iya sama-sama jeng, sebagai tetangga harus ada silahturahmi dan peduli sesama."Ujar Ibu Rahayu.
"Tante aku ikut sedih atas meninggalnya om, aku ikut bela sungkawan atas kepergian om. Semoga alm om bisa terima di sisi allah dan dilapangkan kuburnya dan di tempatkan di surganya."Ucap Rahayu sambil memegang tanggan Ibu Ibrahim.
"Terimakasih ya cantik atas doanya, terimakasih juga kalian sudah hadir di acara ini."Ucap Ibu Ibrahim.
"Iya sama-sama tante, aku sama ibu sebagai tetangga senang bisa diundang hadir di acara ini."Ucap Rahayu tersenyum.
Di teras depan rumah Ibrahim Dina dan Umi masih memantau dari dalam mobil mereka.
"Lama sekali ya acaranya?"Tanya Dina memperhatikan jam tanggan.
"Iya sabar dong, paling sebentar lagi juga selesai."Ucap Umi.
Beberapa menit kemudian datanglah Ningsih kekediaman Ibrahim, Ningsih yang diundang oleh salah satu kakaknya Ibrahim itu dan sempat memiliki hubungan sama Ibrahim cukup lama dan sempat akrab sama Ibunya serta kakaknya. Kini Ningsih sudah bertunangan dengan salah satu polisi.
Ningsih masuk ke dalam rumah Ibrahim bersama temannya.
"Assalamuallaikum."Ucap Ningsih.
"Waalaikumsalam."Ucap semua orang yang berada di dalam.
Kakak Ibrahim yang setuju sama Ningsih langsung menghampirinya.
"Eh kamu jadi datang?"Tanya Kakaknya.
"Iya kak, maaf aku terlambat."Ujar Ningsih.
"Tidak apa kok, kamu kan perjalanannya jauh jadi maklum saja. Ayo masuk."Ucap Kakak sambil mengandeng tanggan Ningsih.
Mereka masuk bersamaan menuju ke dapur untuk mengobrol.
Dika dan Diki yang melihat adegan Kakaknya bersama wanita itu penuh dengan curiga dan menatap bersamaan. Dika dan Diki saling melirik satu sama lain setelah Ningsih pergi dari pandangan mereka, Ibrahim yang melihat kedua temannya yang sedang menatap Ningsih dengan tatapan curiga dan penasaran itu.
"Sudah jangan menatap terlalu lama wanita itu, ingat kalian sudah punya pacar dan dia akan menikah sebentar lagi."Bisik Ibrahim kepada kedua temannya.
"Iisshhh siapa juga yang mau mendekati dia, kita hanya heran kok bisa dia seakrab itu sama kakak kamu."Bisik Dika penasaran.
"Dia adalah mantan pacar aku, sebelum aku pacaran sama Wulan. Terus kandas di tengah jalan dan ceritanya panjang."Bisik Ibrahim kepada kedua temannya.
"Oh jadi itu wanita pertama kali yang di restui oleh keluarga kamu."Bisik Dika.
"Bisa di bilang seperti itu."Ucap Ibrahim.
"Aku jadi penasaran sama dia."Ucap Diki.
Mereka bertiga sedang membahas Ningsih, namun dari arah kejauhan sudah ada yang memantau mereka.
"Eh coba lihat deh kak, itu Dika sama Diki menatap wanita yang baru saja datang."Ucap Dina melihat dari mobilnya dan menunjuknya.
"Mana...Mana."Ucap Umi penasaran.
"Itu kak, yang pakai baju gamis putih di sanah sedang mengobrol."Ujar Dina.
"Siapa ya wanita itu?"Tanya Umi.
"Sepertinya bukan Wulan kak, kalau dilihat dari postur tubuhnya berbeda sama Wulan."Ujar Dina melihat dari atas sampai bawah.
"Apa itu selingkuhannya Ibrahim ya?"Tanya Umi curiga.
"Hhhuuussshhh jangan bilang seperti itu kak tidak baik, lagi pula kita tidak punya bukti yang kuat."Kaat Dina mengingatkan Umi.
"Iya kamu betul juga, aku semakin kasihan sama Wulan banyak sekali dia di selingkuhi."Ucap Umi.
"Yasudah kita pantau saja kak sampai acaranya selesai untuk memastikan."Ujar Dina
Umi hanya menganguk dan mereka terus memantau dari jauh di dalam mobil.
Waktu tidak terasa semakin berlalu kini acara sudah di tahap akhir yaitu doa bersama dilanjut acara makan bersama.
Ningsih yang sudah mahir dan cekatan membantu kakaknya di dapur dan menyiapkan makanan untuk para tamu yang sudah hadir di sanah.
"Sinih kak aku bantu."Ucap Ningsih.
"Ah dari dahulu sampai sekarang kamu masih baik saja, walaupun kalian tidak bersama tapi kamu masih saja sempatin hadir dan mau membantu."Ujar kakak.
"Walaupun aku sudah tidak bersama, bukan berarti tali silahturahmi ini terputus kan kak?"Tanya Ningsih tersenyum.
"Yasudah kamu bawa ini ke sanah ya."Ucap Kakak sambil kasih jeruk serta semangka kepada Ningsih untuk di taruh di aula.
"Baik kak."Ucap Ningsih mengambil piring semangka dan jeruk untuk dibawah ke sanah.
Kini Ningsih berjalan ke aula sambil membawa 2 piring berisi jeruk dan semangka untuk di taruh kepada para tamu yang datang di aula.
__ADS_1