Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
77.ANDK


__ADS_3

Di taman Wulan dan Dika sedang duduk, ia masih menatap wajah Dika penuh dengan curiga akan pertanyaan yang di lontarkan oleh Umi.


Wulan memulai obrolan bersama Dika.


"Sebaiknya aku harus ke kampus sekarang."Ucap Wulan meninggalkan Dika.


"Tunggu!!!"Teriak Dika.


Wulan menoleh ke belakang.


"Ada apa lagi?"Tanya Wulan heran.


"Sesuai janji aku, aku akan kamu ke kampus."Ucap Dika.


"Tidak usah kak, kakak sedang sakit."Ucap Wulan.


"Tak apa, biar aku saja mengantar untuk terakhir kali sebelum bertugas."Ujar Dika.


Wulan menghelaikan napas.


"Baiklah."Kata Ku.


Wulan mepapah Dika karena tidak tega dia mukanya sedikit memar akibat perkelahian tadi.


Mereka berdua pergi meninggalkan taman, dan segera ke kampus.


"Itu luka sampai parah kaya gitu kak?"Tanya Wulan.


"Sakit banget ya?"Tanya Wulan menatap Dika.


"Tidak kok, sebagai laki-laki harus kuat."Kata Dika.


"Kamu ada kotak obat tidak kak, biar aku bantu kamu obatin."Kata Ku.


"Ada di belakang."Ucap Dika.


Wulan mengambil kotak obat, kini Wulan mengobati Dika.


"Tahan sedikit kak, mungkin ini agak sedikit sakit."Kata Ku mengoles ke bagian wajah.


Dika hanya menganguk saat Wulan mengobatinya ada sedikit percikan cinta yang mulai muncul antara mereka, kini Wulan selesai mengobati luka Dika.


"Sudah selesai kak."Ucap Wulan.


"Terimakasih ya."Ucap Dika tersenyum.


"Iya sama-sama."Ucap Ku tersenyum.


Sampailah mereka di kampus Wulan, Wulan turun dan masuk ke dalam kampus.


"Terimakasih ya kak."Kata Ku tersenyum.


"Sama-Sama Lan."Ucap Dika.


"Hati-Hati di jalan kak."Kata Ku.


Dika hanya menganguk dan segera pergi ke kosan untuk persiapan berkas, kini Wulan masuk ke dalam kampus untuk belajar.


Beberapa menit kemudian Dika telah sampai di kosan, dilihat oleh kedua temannya itu wajah Dika sedikit memar.


"Kenapa sama Muka?"Tanya Diki.


"Paling habis berantem."Ucap Ibrahim.


Dika hanya melirik saja tanpa menjawab apa pun, kemudian Dika duduk diantara mereka berdua.


"Kenapa itu muka?"Tanya Diki kemudian yang penasaran.


"Tadi aku di jalan ketemu sama Umi bersama pria lain."Ucap Dika.


"Betulkan kata ku, dia habis berantem soalnya dia type orang emosian."Ujar Ibrahim.


"Jadi kamu berkelahi sama laki-laki itu?"Tanya Diki.


"Iya, soalnya aku kesal dan emosi."Ucap Dika.


"Bagaimana ceritanya kamu bisa berkelahi?"Tanya Diki.


"Aku tadi sedang beli sarapan, kemudian di tengah jalan mau pulang bertemu sama Umi dan pria itu. Mereka sedang berdebat dan tarik menarik tanggan Umi, aku jadi kasihan melihat itu lalu aku tidak sengaja meninjunya."Ucap Dika.


Diki hanya geleng-geleng kepala saja.


"Sudah sanah cepat persiapan berkas kamu, sebentar lagi kita akan menghadap dan kemudian aku mau pulang ke rumah mau selesaikan permasalahan juga di rumah."Ucap Ibrahim.


Dika hanya menganguk saja, kini mereka menghadapa ke atasan.


Setelah selesai menghadap Ibrahim segera pulang ke rumah, Dika pulang ke kosannya.


"Akhirnya selesai juga, aku harus telpon ibu dan bapak untuk pulang dan meminta restu untuk bertugas."Ucap Dika.


"Aku tanya saja sama Wulan, dia mau aku jemput tidak ya ?"Tanya Dika.


Dika mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Wulan.


"Assalamuallaikum Lan, hari ini kamu pulang jam berapa?" Terus mau di jemput tidak?".


Dika menyimpan kembali telponnya, kini Ia kembali ke kosan. Sampailah Dika di kosannya.


"Gimana sudah selesai?"Tanya Diki.


"Iya sudah, rencana aku nanti mau pulang ke kampung mau pamit sama ortu."Ucap Dika.


"Kapan kamu akan berangkat?"Tanya Diki.


"Malm sekitar pukul 19.00 WIB."Ucap Dika.


"Titip Wulan ya, jaga dia dan awasi dia."Ucap Dika.


"Iya."kata Ku.


Dika mengemasi barang-barangnya yang hendak dia bawa untuk pulang kampung.


Sampailah Ibrahim di rumah, ia menjelaskan kepada ibu dan kakaknya soal ia di tugaskan kembali ke Natuna.


Membuat kak dan ibu kaget mendengar ucapan Ibrahim.


"Apa mau berlayar lagi?"Tanya Ibu.


"Iya bu."Kata Ku.


"Kapan kamu akan berangkat?"Tanya Ibu.


"2 hari lagi."Ucap Ku.


"Yasudah besok kita ke rumah Ayu untuk lamaran."Ucap Ibu.


"Apa lamaran?"Tanya Ibrahim kaget.


"Iya, kita akan melamar dahulu nanti pas kamu pulang kamu urus nikah kantor dan setelah itu kamu urus nikah di KUA."Ucap Ibu.


"Tapi bu."Kata Ibrahim.


"Tidak ada tapi-tapian."Ujar Ibu pergi meninggalkan mereka berdua.


Kakak mendekati Ibrahim.


"Sabar de, kamu turutin saja semua kemauan ibumu itu. Siapa tau lebih baik buat kamu depannya."Kata Kakak.

__ADS_1


"Tapi kak, aku tidak suka sama Ayu. Aku hanya suka sama Wulan."Ucap Ibrahim.


"Rasa suka dan sayang itu akan muncul dengan sendirinya."Ucap Kakak pergi meninggalkan Ibrahim.


Ibrahim merebahkan badannya di sofa dan kini ia berpikir bagaimana cara menjelaskan semua kepada Wulan.


Ibrahim mengirim pesan kepada Diki kalau besok ia akan lamaran, membuat Diki terkejut akan pesannya.


Diki menelpon Ibrahim.


"Jadi kamu mau lamaran dengan Ayu?"


"Lalu bagaimana dengan Wulan?"


Ibrahim menjawab.


"Aku juga bingung mau jelasin apa sama Wulan."


Diki berpikir sejenak.


"Bisa gawat ini kalau di ketahui oleh Dika jika dia mau lamaran dengan Ayu, bisa terjadi perkelahian lagi."Batin Diki.


Diki kembali berbicara.


"Yasudah aku doakan yang terbaik buat kalian."Ucap Diki.


"Terimakasih."Kata Ku.


Kini telpon di matikan, Diki gelisah dan bingung akan menjelaskan kepada Dika bagaimana kalau sampai dia tau.


Dika melihat temannya yang sedang gelisah itu kemudian bertanya.


"Aku perhatikan sedang kamu habis menerima telpon kamu tadi, kamu gelisah seperti itu. Sebenarnya siapa telpon dan ada apa?"Tanya Dika heran.


"Bukan apa-apa kok, hanya masalah keluarga saja."Kata Ku.


"Oh aku paham."Ucap Dika yang tidak mau ikut campur masalah keluarga.


Dika bergegas untuk menjemput Wulan.


"Mau kemana kamu sudah rapih?"Tanya Diki.


"Mau jemput Wulan pulang kampus."Ucap Dika.


"Kamu sama Wulan sudah jadian?"Tanya Diki penasaran.


"Belum, tapi doakan saja."Kata Ku tersenyum.


Diki menghelaikan napas dan tersenyum.


Kini Dika pergi dari kosan dan menjemput Wulan. Sampailah dia di kampus Wulan.


Dika melihat kiri dan kanan namun Wulan belum muncul juga, beberapa menit kemudian Wulan telah muncul.


Wulan yang melihat Dika itu terkejut.


"Loh kak sejak kapan kamu di sanah?"Tanya Wulan heran.


"Baru saja sampai."Ucap Dika.


"Bukannya kata kamu mau pulang kampung?"Tanya Wulan.


"Iya nanti pukul 19.00Wib."Ucap Dika.


"Kok tidak kasih tau aku kalau mau jemput?"Tanya Wulan.


"Aku sudah kasih tau ke kamu, cuman aku lihat ponsel kamu ceklis satu."Ucap Dika.


Wulan melihat ponselnya ternyata ponselnya mati total.


"Yasudah ayo kita naik, aku antar kamu pulang."Ucap Dika.


"Tapi kak, aku ada sesuatu yang mau di ambil di toko kamu antar aku saja sampai di toko."Ucap Wulan.


"Baiklah aku antar kamu sampai di toko."Uujar Dika.


Kini mereka melanjutkan perjalanan menuju ke toko Wulan, sampailah mereka di toko.


"Terimakasih kak, sudah mau antar aku."Ucap Wulan.


"Iya Sama-Sama Lan, kamu mau tidak tunggu aku pulang dari tugas nanti aku akan lamar kamu?"Tanya Dika.


"Kamu serius kak?"Tanya Wulan terkejut.


"Iya, memangnya muka aku kurang serius?"Tanya Dika.


"Tapi kak, bagaimana dengan kak Umi?"Tanya Wulan.


"Apa kamu tidak lihat kemarin Umi sendiri yang pergi meninggalkan aku."Ucap Dika.


"Boleh kasih aku untuk berpikir dan menjawabnya?"Tanya Wulan ragu.


"Iya boleh kok, aku tunggu kabar dari kamu ya dan maaf jika nanti ponsel aku jarang aktif."Ucap Dika.


"Iya kak aku mengerti dan paham."Kata Ku.


"Yasudah masuk saja, nanti kalau aku tidak bisa jemput kamu bekerja biar Diki saja yang jemput."Ucap Dika.


"Tidak perlu kak, aku bisa pulang sendiri."Kata Ku.


Wulan masuk ke dalam toko, kini mereka berpisah. Sampailah Wulan di dalam toko ia mencharger ponselnya di toko.


"Assalamuallaikum."Ucap Wulan.


"Waaallaikumsalam, kamu tumben libur ke sinih?"Tanya Ratna.


"Hehehe aku cuman mau numpang charger saja mba."Ucap ku tersenyum.


Ratna dan Hani hanya mengelengkan kepala saja melihat tingkah laku Wulan. Kini ponsel Wulan telah terisi Wulan melihat banyak notifikasi pesan masuk, Wulan membuka satu persatu isi pesannya. Ternyata dia harus berkumpul di mall tempat Umi dan Dina bekerja karena ada pengumuman yang akan di berikan kepada mereka.


"Waduh aku harus ke sanah lagi."Ucap Wulan.


"Mau kemana kamu?"Tanya Ratna.


"Aku mau breafing mba, terimakasih ya atas chargernya."Ucap Wulan pergi meninggalkan toko.


Kini Wulan sedang menunggu ojeknya untuk breafing, namun di sisi lain Ningsih dan Ayu sudah memantau Wulan dari jauh.


"Tu apa yang aku bilang, dia akan kerja."Ucap Ningsih.


"Tapi mba, aku takut."Ucap Ayu gemetaran.


"Jangan takut, kita buat dia luka ringan saja."Ucap Ningsih.


"Bagaimana nanti kalau dia agak parah?"Tanya Ayu.


"Tidak akan, udah percaya saja sama aku."Ucap Ningsih.


"Baiklah mba."Ucap Ayu.


Kini Wulan sudah menaiki ojeknya dan menuju ke mall dimana ia akan breafing, mereka berdua mengikuti Wulan dari belakang.


Sampailah Wulan di mall tersebut, Wulan bertemu sama Dina dan Umi.


"Wulan!!!"Teriak Umi dan Dina.


Wulan hanya menganguk dan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Kamu libur hari ini?"Tanya Mereka berdua.


"Iya aku libur kak."Ucap Wulan.


Wulan menatap wajah Umi.


"Kakak Umi aku minta maaf atas kejadian tadi pagi."Ucap Wulan.


"Tidak apa-apa Lan, itu hanya kesalah pahaman aja kok."Ujar Umi.


"Terimakasih kak."Ucap Wulan tersenyum.


Kini mereka mendengarkan atasan mulai berbicara, setelah selesai dari breafing bulanan mereka kembali untuk pulang ke rumah masing-masing karena cuaca sudah mulai gelap.


"Oh iya Lan mau pulang bareng tidak sampai di halte?"Tanya Umi.


"Tidak usah kak, aku tunggu ojeknya dari sinih saja."Ucap Wulan.


"Baiklah, kalau kaya gitu aku pulang duluan saja."Ucap Umi.


Umi meninggalkan Wulan, dilihatlah oleh Ayu dan Ningsih kalau Umi sudah berjalan di depan mereka. Mereka memulai menjalankan aksinya.


Mereka melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh, di lihatlah oleh Wulan kalau kendaraan di belakang mau menabrak Umi.


Wulan memanggil Umi, namun Umi tidak mendengarnya karena banyak kendaraan yang lalu lalang. Kini Wulan berinisiatif untuk mengejar Umi dan akhirnya mereka berdua tertabrak.


"Yes kita berhasil."Ucap Ningsih dan Ayu.


Mereka berdua pergi meninggalkan lokasi kejadian sebelum ada sanksi mata yang melihatnya.


Wulan dan Umi terkujur di jalan dengan banyak darah bercucuran, Wulan melihat ke arah Umi kalau Umi sudah di tolong oleh warga namun Kemudian Wulan pingsan dan segera di bawa oleh warga ke rumah sakit.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit."Ucap Warga mengotong mereka berdua.


Kini Wulan dan Umi telah berada di rumah sakit, mereka berada di ruangan terpisah. Pihak rumah sakit menghubungi keluarga Umi dan Wulan.


Dina orang pertama yang di hubungi oleh pihak rumah sakit, karena di kontak ponselnya tercatat sebagai adik jadi pihak rumah sakit menghubungi Dina.


Kring...Kring...Kring... suara ponsel Dina berdering.


Dina melihat ponselnya ternyata nomor tidak di kenal.


"Aku angkat tidak ya?"Tanya Dina di dalam hati.


Diki melihat kegelisahan Dina dan menyuruh Dina mengangkat telponnya.


"Angkat aja telponnya, siapa tau penting."Ujar Diki.


"Tapi ini nomor bang."Ujar Dina.


"Iya tidak apa-apa angkat saja."Ucap Diki.


Kemudian Dina menganguk dan mengangkatnya.


"Selamat malam mba, kami dari rumah sakit ABCD mau informasikan kalau kakak mba yang bernama Umi Lestari sedang di rawat di rumah sakit, ia mengalami kecelakan."


"Apa Umi masuk rumah sakit?" Tanya Dina kaget.


"Iya mba, kami harap dari keluarga pasien untuk segera bertemu."


"Iya saya akan segera ke sanah."Ucap Dina.


Dina mematikan ponselnya dan meminta Diki untuk putar arah ke rumah sakit.


"Kak kita putar arah ke rumah sakit."Ucap Dina.


"Siapa yang sakit?"Tanya Diki heran.


"Umi masuk rumah sakit, dia kecelakaan dan ri rawat."Ujar Dina.


"Baiklah kita ke sanah sekarang."Ucap Diki.


Mereka berdua menuju ke rumah sakit.


Flashback


Di kosan Dika sedang persiapan untuk pulang kampung.


"Nitip Wulan ya, tolong jaga dia buat aku."Ujar Dika.


"Iya pasti."Ucap Diki.


"Oh iya nanti kamu tolong kasih ini sama Wulan."Ucap Dika kasih sebuah kotak.


"Iya nanti aku kasih."Ujar Diki.


"Terimakasih, kalau begitu aku harus segera berangkat."Ucap Dika.


"Hati-Hati di jalan, salam sama orang tua mu."Ujar Diki.


Dika hanya menganguk saja dan ia pergi meninggalkan kosan dan bertemu sama orang tua di kampung, di tengah perjalanan Dika merasa tidak tenang. Hatinya gelisah dan was-was.


"Ada apa dengan hati Ku?" Rasanya ragu untuk pulang ke kampung?" Seperti sedang terjadi sesuatu sama Wulan."Gumam Dika.


"Semoga saja Wulan tidak kenapa-kenapa."Batin Ku menghelaikan napas.


Dika melihat ponselnya dan dia mengirim pesan kepada Diki.


"Diki, sudah ketemu sama Wulan belum?"


"Terus gimana kamu sudah kasih kado yang aku kasih?"


"Terus apa kata Wulan?"


"Wulan baik-baik saja kan?"


"Feelling aku tidak baik soal Wulan."


Setelah ia mengirim pesan kepada Diki, ia mematikan ponselnya karena menghemat batterai agar bisa menghubungi keluarga di kampung.


Beberapa menit kemudian Dina dan Diki telah sampai di rumah sakit.


"Suster dimana kamar kakak saya?"Tanya Dina panik.


"Atas nama siapa mba?"Tanya Suster.


"Umi Lestari."Ucap Dina.


"Dia di rawat di kamar melati nomor 2."Ucap Suster.


"Terimakasih."Ucap Dina.


Diki dan Dina berlari menuju ke ruangan Umi, dilihatlah Umi sedang tidak sadarkan diri akibat kecelakaan.


Namun tiba ponsel Diki bergetar tanda pesan masuk dari Dika, Diki membaca pesan itu lalu menjawabnya.


"Mohon maaf aku belum ketemu sama Wulan, dan belum kasih kabarnya. Semoga Wulan baik-baik saja, karena sekarang aku sedang di rumah sakit Umi mengalami kecelakaan."


Diki menaruh kembali ponselnya dan menghampiri Dina yang sedang bersedih.


"Sudah lah jangan menangis terus, lebih baik kamu hubungi pihak keluarga Umi."Ucap Diki memeluk Dina.


"Baiklah aku akan hubungi orang tua Umi."Ucap Dina.


Dina melihat kontak ponselnya mengenai nomor telpon salah satu keluarga Umi, Dina menelpon salah satu keluarganya.


Setelah selesai Dina telpon dia mendekati Diki lagi.

__ADS_1


__ADS_2