
Pagi hari suara adzan berkumandang Ibrahim masih tertidur karena kelelahan sehabis pulang, ia lupa akan jemput Wulan di stasiun.
Wulan telah sampai di stasiun, ia segera menelpon Ibrahim
"Ah tidak di angkat lagi."Ucap Wulan kesal.
"Coba lagi deh."Kata Wulan.
Namun tidak di angkat juga oleh Ibrahim.
"Apa ia masih tertidur?"Tanya Wulan di dalam hati.
"Lebih baik aku kirim pesan saja."Batin Wulan.
Wulan mengirim pesan kepada Ibrahim, setelah selesai Wulan menunggu Ibrahim.
"Lebih baik aku tunggu saja deh, mungkin ia sedang di jalan."Ucap Wulan.
Waktu semakin siang, namun Ibrahim tak kunjung datang. Wulan melihat kanan dan kiri sambil menarik napas dan membuang napas kembali, rasa kesal serta emosi sudah di ubun-ubun kepalanya.
"Apa aku lebih baik pulang saja ya?" Sepertinya ia tidak jadi datang untuk jemput."Ucap Wulan memainkan tanggan sedang gelisah.
Wulan mondar mandir ke kanan dan kiri sambil panik dan gelisah, Wulan menelpon kembali Ibrahim. Kemudian di jawab oleh Diki.
"Aduh itu telponnya bunyi terus, orangnya masih tidur."Ucap Diki.
Diki membangunkan Ibrahim.
"Banggun Dan, itu telponnya berdering terus."Kata Diki mengoyangkan badan.
"Apa sih kamu bangunkan aku."Ucap Ibrahim setengah sadar.
"Itu ponselnya berdering terus, coba angkat saja siapa tau penting."Kata Diki.
Kemudian Ibrahim mengambil ponselnya dan menjawabnya.
"Hallo."
"Hallo mas, kamu di mana sih?" Kamu jadi jemput aku tidak?"
Ibrahim sadar akan ucapan Wulan, dan mengucek-ucek matanya.
"Waduh, gawat pantesan saja ia marah aku lupa untuk jemput."Batin Ibrahim.
Kemudian Wulan tanya kembali.
"Hallo mas, malah melamun di tanya juga kamu jadi jemput atau tidak?"
"Jangan bilang kamu masih di kosan dan masih tidur?"
Wulan sudah kesal di ubun-ubun ingin marah dan meluapkan semua kekesalannya sama Ibrahim, namun ia harus menahan amarahanya supaya tidak meledak-ledak.
"Iya aku baru bangun tidur, maaf tadi aku tidak dengar suara ponsel."Ucap Ibrahim.
"Apa kamu masih tidur di kosan???"Tanya Wulan terkejut dan emosi.
"Iya iya maaf, aku akan jemput. Kamu tunggu ya di sanah."Ucap Ibrahim.
"Baiklah aku tunggu kamu, jika 1 jam kamu tidak jemput aku akan pulang sendiri."Kata Ku kesal.
Wulan mematikan ponselnya tanpa di jawab Ibrahim, Wulan menunggu Ibrahim di sanah seperti orang frustasi karena menunggu berjam-jam sendirian di stasiun.
"Kalau aku pulang sendiri aku sudah di rumah, sudah bersih-bersih badan, dan rebahan di kasur."Ucap Wulan sedang membayangkan kamarnya.
Wulan sedang gerutu sendiri akibat kesal, beberapa menit kemudian Ibrahim datang.
"Pooh!!!"Teriak Ibrahim.
Wulan langsung bangun dan menatap Ibrahim, Wulan melihat dari atas sampai bawah pakaian Ibrahim sudah rapih dan wangi.
"Kenapa kamu menatap aku seperti itu?"Tanya Ibrahim.
"Tidak apa mas."Kata Ku.
"Ayo pulang."Ucap Ibrahim mengandeng tanggan Wulan.
Namun Wulan menolak di gandeng.
"Maaf mas, aku tidak terbiasa."Kata Ku.
"Oh baiklah, maaf."Ucap Ibrahim.
Wulan hanya menganguk saja.
"Yasudah kalau begitu aku bantu bawa koper kamu."Ucap Ibrahim.
"Tidak perlu mas, aku bisa sendiri. Nanti yang ada malah ngerepoti kamu."Kata Ku tersenyum.
"Tak apa Lan, aku kan seorang pria jadi wajar saja aku bantu kamu."Ucap Ibrahim.
"Oh baiklah, jika kamu mau."Kata Ku.
"Sinih aku bantu bawa."Ucap Ibrahim.
Wulan kasih koper untuk di bawa dan di taruh ke dalam bagasi, setelah di taruh dan di masukin ke dalam bagasi Wulan dan Ibrahim berangkat menuju rumah Wulan.
Di tengah perjalanan mereka hanya dia saja tidak ngobrol sama sekali, rasa ragu Wulan kepada Ibrahim itu semakin besar setelah semua ingatannya kembali.
"Kenapa kamu tidak jujur mas sama aku."Batin Wulan.
Ibrahim membuka obrolan.
"Bagaimana liburan kamu di sanah?"Tanya Ibrahim.
"Seru."Kata Ku.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kamu dan Ibu Mu?"Tanya Ibrahim.
"Kami sekeluarga baik."Kata Ku.
"Kamu masih marah sama aku soal aku tadi tidak tepat waktu jemput kamu?"Tanya Ibrahim menatap Wulan.
"Tidak kok."Ucap Wulan.
"Lalu kenapa sikap kamu sama aku berubah?"Tanya Ibrahim.
"Berubah bagaimana maksuda kamu?"Tanya Ku.
"Iya kamu banyak berubah, tidak seperti biasanya."Ucap Ibrahim.
"Lalu aku yang biasanya bagaimana?"Tanya Wulan.
"Kamu biasanya kalau ketemu aku berlari dan peluk aku, terus kamu juga akan tersenyum tidak seperti sekarang yang dingin."Pungkas Ibrahim.
"Oh jadi begitu ya aku di mata kamu."Ujar Wulan.
"Kamu kenapa sih sayang."Ucap Ibrahim mengelus kepala Wulan.
Kemudian Wulan mengambil tanggan Ibrahim dan menurunkannya.
"Maaf aku tidak di sentuh."Kata Ku.
"Kamu kenapa sih?" Jawab jujur sama aku!!!"Ucap Ibrahim kesal.
"Kenapa jadi kamu yang marah?" Seharusnya aku yang tanya dan marah sama kamu, selama kamu di NATUNA 6bulan tidak ada kabar kamu kemana saja?"Tanya Wulan kesal.
"Iya aku tugas, aku tidak bisa pegang ponsel 24 jam."Ucap Ibrahim.
"Iya aku tau kamu tidak bisa pengang ponsel setiap saat dan setiap waktu, tapi seenganya kasih kabar kan bisa jika kamu ada waktu sengang. Memangnya di sanah kamu tidak ada waktu istirahatnya?"Tanya Wulan kesal.
"Iya ada, yasudah aku minta maaf kalau tidak ada waktu sama kamu."Ucap Ibrahim.
"Terus untuk masalah aku berubah atau tidak itu tergantung sikap kamu terhadap aku seperti apa mas."Ucap Wulan.
Ibrahim hanya menghelaikan napas saja, ia tidak mau masalahnya terlalu lama. Namun ponsel Ibrahim berbunyi.
"Iya hallo, siapa ya?" Tanya Ibrahim.
"Saya dari pihak kepolisian mau kasih kabar kalau pacar bapak sudah ada di kantor Polisi." Ucap Polisi.
"Pacar saya siapa?"Tanya Ibrahim heran.
"Pacar bapak yang bernama Ayu."Pungkas Polisi.
"Kalau saya boleh tau kantor polisi yang di daerah mana ya pak?"Tanya Ibrahim.
"Polsek Duren Sawit."Ucap Polisi
"Oh iya iya baik saya akan segera ke sanah sekarang."
"Saya tunggu pak."
"Dari siapa mas?"Tanya Wulan.
"Kantor polisi."Ucap Ibrahim.
"Siapa yang di bawa?"Tanya Wulan heran.
"Teman aku."Ucap Ibrahim.
"Yakin hanya teman?"Tanya Wulan penasaran.
"Iya, kita ke sanah dulu ya. Habis dari situ aku antar kamu pulang."Ucap Ibrahim.
"Baiklah."Kata Ku.
Kemudian mereka menuju ke kantor polisi, Wulan menatap wajah Ibrahim.
"Sepertinya ia sedang panik dari raut wajahnya."Batin Wulan.
"Siapa yang ada di sanah ya sampai ia panik dan buru-buru seperti itu?"Tanya Wulan di dalam hati.
Di kantor Polisi Ayu dan Ningsih sedang di periksa masing-masing, Ayu yang di temanin oleh orang tuanya dan Ningsih di temanin oleh Pamannya.
Lalu datanglah Bram ke tempat kejadian, Bram yang tau kabar pacarnya di tahan di sanah ia langsung menuju ke sanah dalam keadaan emosi dan kesal.
"Ningsih apa-apaan ini semua?"Tanya Bram dengan nada tinggi.
"Kamu sabar dulu bang, aku bisa jelasin semuanya."Ucap Ningsih menenangkan Bram.
"Jelasin apa lagi, semua terlihat jelas di mata aku. Jadi selama ini kamu sudah mencelakai Umi dan Wulan, motif kamu mau mencelaikai mereka apa?"Tanya Bram kesal.
"Aku tidak ada maksud ingin mencelaikai Wulan, aku hanya ingin mencelakai Umi saja karena ia telah merampas kebahagiaan aku bersama kamu."Ucap Ningsih.
"Gila kamu, tidak seharusnya kamu berbuat kriminal seperti ini. Bagaimana jika nanti Wulan dan Umi sampai meninggal?"Tanya Bram emosi.
"Iya maaf bang, aku khilaf."Ucap Ningsih menangis.
"Kamu mau tanggung jawab semua dosa mereka?" Sebelum bertindak itu harus di pikirkan baik-baik."Ucap Bram.
"Maaf bang, aku sudah gegabah dalam bertindak dan maafkan aku."Ucap Ningsih bersujud di kaki Bram.
"Kalau sudah seperti ini kamu baru sadar akan letak kesalahan kamu, setelah apa yang sudah kamu lakukan kepada mereka waktu itu iya?"Tanya Bram emosi.
"Maaf bang aku bersalah dan khilaf."Ucap Ningsih nangis.
"Baiklah aku sudah memaafkan kamu, tapi urusan kita menikah BATAL."Ucap Bram menyilangkan kedua tanggannya.
"Loh bang tidak bisa seperti itu, bagaimana dengan keluarga kita nantinya dan aku harus bilang apa sama mereka?"Tanya Ningsih heran dan sedih.
"Urusan itu kamu tidak perlu pikirkan, aku akan yang bertangung jawab dan lebih baik kamu menerima hukuman kamu sanah. Aku tak sudi punya calon istri seorang narapidana seperti kamu, aku tidak pernah mendidik kamu untuk berbuat kelewatan batas dan bermain-main dengan hukum."Ucap Bram emosi.
__ADS_1
"Bang please jangan tinggalkan aku."Ucap Ningsih bersujud di kaki Bram berharap Bram mau memaafkan dan membebaskannya.
Namun Bram dengan pendiriannya, ia malah menyuruh petugas untuk membawa Ningsih masuk ke dalam.
"Tolong bawa wanita keji ini ke dalam tahanan."Ucap Bram emosi.
Ningsih di bawa oleh petugas ke dalam tahanan.
"Ayo bu ikut kami masuk ke dalam."Ucap Petugas.
"Bang... Maafkan aku!!!"Teriak Ningsih menangis histeris.
Wulan dan Ibrahim telah sampai di kantor polisi, Wulan dan Ibrahim melihat situasi tadi di sanah dan mendengar percakapan mereka berdua.
Wulan dan Ibrhaim masuk ke dalam kantor polisi, Ibrahim menemui Ayu.
"Ada apa ini?"Tanya Ibrahim.
Lalu Ayu memeluk Ibrahim sambil menangis.
"Mas tolong aku, aku tidak bersalah."Ucap Ayu.
"Kamu tenang dulu, kamu duduk dulu dan cerita sama aku apa yang terjadi?"Tanya Ibrahim.
Ayu dan Ibrahim duduk, Wulan memantau dari jauh.
"Mas tolong aku, aku tidak bersalah."Ucap Ayu.
"Lalu kenapa kamu bisa ada di sinih?"Tanya Ibrahim heran.
"Jadi aku hanya ikut-ikutan saja, aku cuman di suruh Ningsih nemanin dia untuk mencelakai Wulan dan Umi tapi aku tidak ada niat sama sekali."Ucap Ayu nangis.
"Oh jadi kamu hanya ikut-ikut saja, kenapa kamu waktu itu tidak berpikir jernih ke depan kalau dampaknya akan seperti ini?"Tanya Ibrahim.
"Aku khilaf mas."Kata Ayu menangis histeris.
"Apa kamu bilang khilaf?" Kamu tau tidak mencelakai orang itu akibatnya batal, bukan hanya kamu di tahan di kantor polisi tapi juga kamu membahayakan nyawa orang lain."Ucap Ibrahim emosi.
Ayu dan Ibrahim masih beradu mulut, Wulan hanya menatap Ibrahim dari kejauhan saja karena Wulan tidak mau ikut campur dalam masalah ini. Biarkan polisi menangani ini semua.
Bram melihat Wulan sedang menatap ke arah Ibrahim dan Ayu itu, ia mendekati Wulan.
"Maaf mba Wulan."Ucap Bram.
Wulan langsung menengok ke sumber suara.
"Oh iya ada apa pak?"Tanya Wulan heran karena Bram berpakaian seragam polisi.
"Boleh saya bertanya sesuatu sama mba?"Tanya Bram.
"Boleh pak, soal apa ya?"Tabya Wulan bingung.
"Mari mba kuta ngobrolnya di bangku saja."Ucap Bram.
Kemudian Wulan menganguk dan mengikuti Bram.
"Maaf pak tadi mau ngobrol apa ya?"Tanya Wulan heran.
"Saya mau bilang maaf sebesar-besarnya atas nama Ningsih dan keluarga telah mencelakai mba."Ucap Bram.
"Iya pak tak apa saya sudah memaafkan itu semua, saya pribadi sudah memaafkan beliau dari jauh hari dan saya juga sudah menyerahkan semuanya kepada pihak berwajib atas kejadian masa itu."Ucap Wulan.
"Terimakasih banyak mba sudah mau memaafkan Ningsih, semoga amal baik mba di balas oleh Allah."Kata Bram.
"Sama-Sama pak."Kata Ku.
Kemudian Wulan Izin pamit kepada Bram untuk masuk ke dalam dahulu.
"Pak mohon maaf saya izin masuk ke dalam dahulu, mau lihat teman saya di dalam."Kata Ku.
"Oh iya mba silahkan, maaf sudah mengangu waktunya."Ucap Bram.
"Saya permisi pak."Kata Ku.
Wulan masuk ke dalam dan melihat Ayu di dalam kantor polisi sedang berpelukan, Wulan menarik napas dalam-dalam agar tidak emosi.
"Tahan Wulan...Tahan kamu tidak boleh emosi."Batin Wulan membuang napas.
Wulan menatap wajah Ibrahim, membuat Ibrahim dan Ayu terkejut. Kemudian Ibrahim melepaskan pelukan Ayu.
"Lan kamu sejak kapan berdiri di depan situ?"Tanya Ibrahim mengaruk kepala.
"Sejak tadi kalian pelukan di sinih."Ucap Wulan tersenyum.
Lalu Ayu kemudian bersujud di depan kaki Wulan, berharap Wulan mau memaafkan dan membebaskan beliau. Wulan melihat adegan Ayu itu membuat Wulan jera dan kesal dengan tinggah laku Ayu.
"Wulan maafkan aku atas semua kesalahan aku terhadap kamu."Ucap Ayu menangis.
"Aku khilaf melakukan ini semua sama kamu, aku hanya ikut-ikutan Ningsih saja untuk mencelakai kalian."Kata Ayu menangis.
"Aku mohon kamu maafkan aku dan bebaskan aku, karena aku tidak bersalah sama sekali."Pungkas Ayu.
Wulan menarik napas dalam-dalam dan membangunkan Ayu.
"Mba, bangun malu kalau harus bersikap sujud di kaki saya karena saya bukan Allah untuk di sembah. Aku sudah memaafkan mba sebelum mba minta maaf sama saya, untuk membebaskan mba dari sinih saya tidak berhak sama sekali mba. Karena yang melaporkan kalian ke kantor polisi bukan saya, melainkan Umi dan keluarganya. Jika mba mau bebas dari sinih mba lebih baik minta maaf kepada mereka dan banyak bertobat supaya di ampuni dosa-dosa mba."Kata Ku tersenyum.
"Terimakasih banyak sudah mau memaafkan saya, Ibrahim beruntung mendapatkan calon istri seperti mba yang berhati baik bak malaikat."Ucap Ayu.
"Sama-Sama mba, terimakasih atas pujiannya mba."Kata Ku tersenyum.
Lalu Ayu di pangil oleh petugas untuk di periksa.
"Mari mba Ayu ikut kami untuk di periksa."Ucap Petugas.
Ayu kemudian mengikuti petugas, isak tangis keluarga Ayu mengiringi kepergian Ayu untuk di periksa oleh petugas. Wulan melihat kejadian itu merekasakan kasihan dan bersedih.
__ADS_1
Wulan tidak bisa berbuat apa pun karena semua apa yang kita perbuat akan mendapatkan balasan langsung dari Allah, baik itu perbuatan baik atau pun perbuatan jahat semua akan mendapatkan balasannya masing-masing.
Ibrahim mendekati Wulan sedang bersedih dan sambil merangkul bahu Wulan dan menyenderkan kepala Wulan di bahu Ibrahim, Ibrahim tau betul kalau Wulan sedang bersedih karena Wulan adalah wanita yang berhati lembut seperti malaikat.