
Di kamar Wulan mereka sedang berpelukan satu sama lain, membuat Denny nampak sedih karena baru kali ini kakaknya amat sangat rapuh.
Denny merasakan pelukan hangat dari sang kakak yang jarang berada di rumah, karena harus banting tulang untuk membiayai sekolah Denny dan Tian serta mencukupi untuk mereka makan dan membeli kebutuhan sekolah.
Wulan terlihat tegar dan bahagia, namun di dalam hatinya ia nampak rapuh dan ingin sekali di dnegar oleh salah satu keluarganya tentang pahitnya kehidupan. Namun Wulan tersadar ia hanya bisa memendamnya saja karena bagi dia itu tidak penting, yang terpenting adalah bisa bahagiakan kedua adiknya dan sang ibu.
Wulan rela menghabiskan sisa usia remajanya untuk bekerja tanpa bisa berkumpul bersama teman-teman yang lainnya, ia harus rela banting tulang ke sanah ke mari untuk keluarganya bisa makan dan sekolah. Wulan tidak peduli dengan gosipan yang beredar tentang diri Wulan yang setiap pulang ke rumah jam 00.00WIB, macam wanita murahan dan sejenisnya.
Karena Wulan sehabis pulang bekerja ia suka menjaga toko apotik di sekitar tempat kerjanya, dan pagi hari dia harus mengajar di sekolah dasar sebelum berangkat kerja di toko ponsel. Wulan setiap tidur hanya sekitar 2-3 jam perhari dan membuat mata panda di sekitar pingiran matanya .
Wulan tidak peduli dengan mata panda, ia hanya peduli bagaimana dengan nasib keluarganya yang tidak bisa makan.
"Andai saja aku cepat lulus sekolah, aku bisa bantu kamu kak sedikit demi sedikit."Batin Denny.
"Apa aku sepulang sekolah cari kerjaan saja ya, buat bantu kakak untuk meringankan beban pikirannya?"Tanya Denny di dalam hati.
"Tapi nanti kalau aku ketahuan sama mama dan kakak pasti akan marah."Gumam Denny.
"Tapi aku harus kerja apa dan kerja dimana yang masih menerima anak sekolah?"Tanya Denny di dalam hati.
Setelah mereka selesai dari pelukan dan Wulan menghapus air mata yang jatuh itu.
"Yasudah kalian istirahat saja di kamar kalian, besok aku akan bilang sama mama saja."Kata Ku.
"Baik kak, kami berdua pamit ke kamar."Ucap Mereka bersamaan.
"Iya."Ujar Wulan.
Denny dan Tian pergi meninggalkan kamar Wulan dan kembali ke kamar masing-masing.
Wulan menutup pintu kembali, Wulan rebahan di atas kasur dan menghelaikan napas.
"Besok aku mau ke rumah uti dan mau nyekar ke makam papa, besok aku rencana mau ambil cuti soalnya aku selama bekerja belum cuti dan sayang cuti kerja ku masih panjang dan belum di ambil."Ucap Ku.
Kini Wulan mengirim pesan kepada Fauzan untuk meminta cuti.
"Assalamuallaikum bang, aku mau ajuin cuti boleh?"Tanya Wulan.
"Waaallaikumsalam Lan, boleh dong karena itu hak kamu."Ujar Fauzan.
"Alhamdulillah kalau boleh dan bisa."Kata Ku
"Memangnya kamu mau cuti kemana tidak seperti biasanya?"Tanya Fauzan.
"Aku rencana mau jalan-jalan bersama keluarga untuk menjenguk nenek."Pungkas Wulan.
"Yasudah kamu mau cuti kapan?" Biar nanti abang buatin surat cutinya."Tanya Fauzan.
"Aku rencana cuti 3 hari bang, di hari kamis, jumat dan sabtu jadi sekalian off ke sanah."Kata Ku.
"Baiklah, nanti abang buatin."Ujar Fauzan.
"Terimakasih banyak bang."Kata Ku.
Wulan menaruh ponselnya di atas meja dan segera tidur karena hari sudah sangat malam.
Pagi hari sinar matahari telah menyinari setiap sudut kamar Wulan, Wulan bersiap-siap untuk menuju ke toko.
Wulan sudah nampak cantik di balut dengan riasan make up di wajahnya untuk segera berangkat bekerja, Wulan turun dan menuju ke depan pintu.
Di ruang tamu sudah ada tante serta nenek sedang duduk dan ngobrol, Wulan melewati mereka tanoa berkata apa pun sama sekali.
"Wulan kamu yang sopan sama nenek dan tante kamu, memangnya kamu di didik oleh mama dan papa seperti itu dan tidak sopa."Ucap Mama membentak Wulan.
"Oh maaf."Kata Ku ketus dan pergi begitu saja.
"Wulan mau kemana kamu?"Mama belum selesai ngomong."Ucap Mama kesal.
"Mau kerja ma, aku sudah terlambat."Kata Ku.
Kini Wulan meninggalkan rumah dan menuju ke tempat kerja, sang ibu tidak enak di lihat oleh nenek dan tante langsung meminta maaf.
"Maafkan kelakuan Wulan ya bu dan adik."Ucap Mama kepada nenek dan tante.
"Iya tidak apa kak, aku ngerti dan paham wajar saja dia marah karena tidak di kasih tau sebelumnya."Ucap Tante.
"Terimakasih kalian sudah mengerti."Ujar Mama.
Beberapa menit kemudian Wulan telah sampai di tokonya, muka Wulan nampak sedih serta kusut.
"Asssalamuallaikum teh."Kata Ku.
"Waaallaikumsalam Lan."Ucap Hani
Wulan menaruh tasnya di laci, setelah itu Wulan duduk di dekat Hani. Wulan menghelaikan napas dan memejamkan mata untuk meninggalkan masalah yang sedang terjadi di rumah.
"Teh gimana kamu kemarin sudah bilang sama kokoh bos?"Tanya Wulan.
"Oh itu semua sudah selesaikan Lan."Ujar Hani.
"Alhamdulillah aku ikut senang dengarnya teh."Kata Ku.
"Iya alhamdulilalh Lan."Ucap Hani.
"Lalu kata kokoh bos apa soal ponselnya hilang?"Tanya Wulan penasaran.
Namun hanya menengok kanan dan kiri melihat situasi aman dan segera bercerita.
"Aku tidak di suruh ganti Lan, namun aku tidak bisa bekerja di sinih."Ucap Hani.
"Apa???"Tanya Wulan terkejut.
"Lalu teteh akan bekerja dimana?"Tanya Wulan.
__ADS_1
"Sssttt kecilkan suaramu itu nanti yang lain dengar bagaimana?"Tanya Hani.
"Iya teh maaf."Kata Wulan melas.
"Aku tidak tau Lan, aku akan cari toko lagi dimana aku akan bekerja."Ujar Hani.
Wulan menarik napas dan memegang tanggan Hani.
"Teh maafkan aku tidak bisa bantu banyak sama kamu."Ucap Wulan dengan mata berkaca-kaca.
"Iya tidak apa, aku paham dengan kondisi kamu."Ucap Hani tersenyum.
"Terimakasih banyak teh."Kata Ku tersenyum.
"Yasudah lebih baik kita kembali bekerja saja."Ucap Hani.
Kini Wulan dan Hani kembali bekerja, sampai lah dimana malam hari Wulan dan Hani untuk pulang ke rumah. Wulan yang malas sekali untuk pulang itu, ia masih duduk di kantin sambil memesan minuman es coklat untuk menenangkan pikirannya.
"Kamu kenapa belum pulang Lan?"Tanya Hani heran.
"Aku sedang malas untuk pulang teh, mungkin sebentar lagi aku akan pulang."Ujar Wulan.
"Baiklah, aku pulang duluan ya. Kamu hati-hati di sinih."Pungkas Hani.
"Iya teh, terimakasih."Kata Ku tersenyum.
Hani pergi meninggalkan Wulan di kantin, Wulan sedang minum es coklat dan dilihat oleh Fazar dan Devi yang baru pulang dari toko.
"Loh bang itu bukannya Wulan?"Tanya Devi sambil menunjuk ke arah Wulan.
"Oh iya itu Wulan, yaudah ayo kita samperin saja dia."Ucap Fazar.
Devi dan Fazar melangkahkan kaki menuju kantin, mereka berdua duduk di depan Wulan.
"Loh kalian!!!"Kata Ku terkejut.
"Ayo kamu sedang melamun apa?"Tanya Fazar.
"Bukan apa-apa bang."Kata Ku tersenyum.
"Tumben kamu belum pulang?"Tanya Devi.
"Iya tadi aku haus, lalu aku mampir beli minum dahulu."Ucap Wulan.
"Oh seperti itu."Ujar Fazar.
"Eh ajak aja Wulan bang ke warkop biar rame dan seru."ucap Devi.
"Warkop???"Tanya Wulan heran.
"Iya kita sama teman-teman yang lain mau ke sanah?"Kamu mau ikut atau tidak?" Tanya Devi.
"Lokasinya jauh tidak?"Tanya Wulan.
"Itu nunggu apa lagi, ikut aja sih Lan kapan lagi kamu ikut bareng sama kita kumpul."Ucap Devi.
"Tapi jangan pulang malam-malam ya."Kata Ku.
"Tidak beb, kita janji tidak akan pulang malam."Ujar Fazar.
Wulan berpikir sesaat.
"Apa aku ikut mereka saja ya buat hilangi stress di dalam rumah."Batin Wulan.
Kemudian Fazar memangil Wulan.
"Beb gimana mau ikut tidak?"Tanya Fazar.
"Iya deh bang, aku ikut."Kata Ku.
"Yasudah ayo."Ucap Mereka bersamaan.
Wulan, Devi dan Fazar segera menuju ke warkop tempat mereka nongkrong, sampailah mereka di warkop. Di sanah sudah ada Mia, Dandi, Aldi dan Vivie sudah menunggu di sanah.
"Loh ada Wulan?"Tanya Vivie.
"Berarti pasukan kita lengkap dong."Ucap Dandy.
"Tumben kak ikut?"Tanya Mia.
Berbagai pertanyaan yang di lontarkan oleh teman-teman Wulan, karena biasanya Wulan sehabis pulang bekerja ia jarang bisa kumpul bersama teman-temannya karena ke asyikan bekerja dan banting tulang ke sanah ke sinih. Alhamdulillah Wulan masih bisa di mengerti oleh teman-temannya kenapa tidak bisa hadir di sanah.
"Iya aku ikut ke sinih."Kata Ku tersenyum.
"Yasudah pasukan sudah lengkap, ayo kita pesan."Ujar Dandy.
Fazar kasih buku menu kepada Devi dan yang lainnya, Wulan masih melamun tentang kejadian semalam di rumah.
Devi memangil Wulan.
"Kamu mau pesan apa Lan?"Tanya Devi.
"Samain saja teh sama yang lainnya."Kata Ku.
"Benar mau samain?" Tidak mau milih salah satu yang ada di sinih?"Tanya Devi.
"Iya aku samain saja."Kata Ku.
"Baiklah."Ujar Devi.
Devi menuliskan berbagai menu makanan dan minuman, Wulan duduk di antara Mia dan Devi di depan Wulan ialah Vivie. Beberapa menit kemudian makanan dan minuman telah sampai.
Mereka semua langsung melahap makanan mereka, di sanah terdapat roti bakar, pisang bakar, teh manis panas, kopi dan makanan lainnya.
__ADS_1
Wulan menatap satu persatu teman-temannya yang nampak bahagia tidak memliki beban sama sekali, sesekali Wulan tersenyum sambil makan ke arah mereka. Di sanah mereka semua tertawa ketiwi bahagia dengan lontaran candaan yang di berikan satu sama lain, mereka tidak mudah baper oleg ucapan satu sama lain. Karena mereka yakin itu hanyalah sebuah candaan belakang saja.
Tidak terasa waktu semakin cepat berlalu, kini Wulan harus pergi untuk kembali pulang ke rumah.
"Teman-Teman aku pulang dahulu ya, karen sudah sangat larut malam."Kata Ku.
"Beb tunggu, aku anter kamu pupanh sampai di rumah."Ucap Fazar.
"Tidak usah bang, nanti abang pulangnya malam banget dan bahaya kalau pulang itu."Ucap Wulan.
"Lebih bahaya lagi kalau kamu pulang tanpa aku di jalan."Ujar Fazar.
"Iya benar apa yang di ucap oleh Fazar."Ucap Vivie .
"Lebih baik, kamu ikut saja sama Fazar pulang supaya aman."Ujar Devi.
"Yasudah deh."Kata Ku.
Wulan dan Fazar berpamitan kepada semua teman-temannya untuk kembali ke rumah.
"Kita pulang duluan ya."Ucap Mereka bersamaan.
"Iya kalian hati-hati di jalan."Jawab Mereka bersamaan.
Wulan menaiki motor Fazar, di sepanjang perjalanan Fazar bertanya sama Wulan.
"Beb aku mau tanya sama kamu boleh?"Tanya Fazar.
"Boleh bang, mau tanya apa?"Tanya Wulan heran.
"Apa benar di toko sedang kehilangan ponsel demo live S9 plus?"Tanya Fazar penasaran.
"Iya bang itu benar."Kata Ku.
"Lalu bagaimana sama kokoh bos?"Apakah kamu di suruh ganti atau tidak?"Tanya Fazar.
"Alhamdulillah aku tidak di suruh ganti bang."Kata Ku.
"Alhamdulilalh."Ucap Fazar.
"Babang tau dari mana?"Tanya Wulan.
"Kamu tidak perlu tau itu, karena tembok di mall kita saja bisa ngomong beb."Ucap Fazar.
"Oh begitu bang, pantas saja aku merasakan banyak mata yang menatap aku."Kata Wulan.
"Kamu tidak perlu di pikirin kalau bukan kamu yang berbuat atau salah."Ucap Fazar.
"Iya bang aku tau, cuman aku risih saja mendengarnya seperti larat berterbangan di telingga."Kata Ku.
"Yasudah sekarang yang terpenting adalah kita harus bekerja dengan sungguh-sungguh saja. Urusan gosip itu tidak perlu di hiraukan lagi."Ucap Fazar.
"Iya bang betul apa yang kamu bilang sama aku."Kata Wulan.
Mereka berdua sedang asyik ngobrol dan tidak terasa sudah sampai di rumah Wulan.
"Bang mau mampir dahulu tidak?"Tanya Wulan.
"Tidak usah beb, lain waktu saja karena sudah larut malam."Kata Fazar.
"Baik bang, terimakasih bang sudah mau antar Wulan pulang ke rumah."Ucap Ku tersenyum.
"Iya sama-sama, aku pamit dahulu ya."Kata Fazar tersenyum.
"Iya bang hati-hati di jalan."Kata Ku.
Fazar meninggalkan rumah Wulan dan Wulan masuk ke dalam rumahnya, di lihatlah rumah Wulan nampak sepi.
"Sepertinya orang rumah sudah tertidur."Kata Ku.
Wulan masuk ke dalam rumah dan menuju ke dalam kamarnya, sebelum Wulan sampai di kamarnya ia mengambil secangkir air minum untuk di bawa ke dalam kamar.
Setelah selesai Wulan melangkahkan kaki menuju ke kamarnya, Wulan menaruh tas dan ponsel di atas meja. Kini Wulan meminum airnya sebelum bersih-bersih, setelah selesai Wulan langsung bersih-bersih dan hendak tertidur.
Namun entah mengapa kepala Wulan terasa sangat sakit, ia seketika memegang kepalanya dan kemuidan di kepalanya terdapat bayangan tentang Ibrahim.
"Astagfirullohalazim kenapa sama Ibrahim?"Tanya Wulan.
Wulab kemudian menelpon Ibrahim untuk memastikan kalau dia dalam keadaan sehat.
Tut...Tut...Tut...
"Hallo ada apa Lan?"Tanya Ibrahim.
"Aku cuman tanya sama kamu, kamu baik-baik saja di sanah?"Tanya Wulan heran.
"Iya aku baik-baik saja di sinih, kamu gimana kabarnya di sanah?"Tanya Ibrahim.
"Aku baik, maaf ya jarang hubungi kamu karena aku sibuk di sinih."Ucap Wulan.
"Iya tidak apa aku mengerti kok, jaga kondisi kesehatan kamu ya di sanah jangan sampai sakit. Nanti kalau aku pulang ke Bekasi kita jalan ya."Ucap Ibrahim.
"Kamu serius?"Tanya Wulab antusias.
"Iya aku serius dengan ucapan Ku."Kata Ibrahim.
"Baiklah mas, aku tunggu."Kata Ku tersenyum.
"Yasudah kalau begitu kamu istirahat saja sanah, hari sudah sangat malam."Ujar Ibrahim.
"Iya mas."Kata Ku.
Kini ponsel Wulan mati, ia mulai tertidur dan merasakan bahagia setelah sekian lama penantian ia menunggu untuk bertemu, akhirnya datang juga menghampiri.
__ADS_1