
Di rumah Ibrahim sedang ramai banyak tamu yang hadir di acara lamaran, Ibrahim masih berdiri dan memeluk Wulan di depan pintu rumahnya dengan penuh perasaan hangat dan kasih sayang yang ia berikan kepada Wulan.
Wulan hanya diam mematung di peluk Ibrahim sambil berpikir.
"Pelukan ini begitu hangat dan nyata, tapi kenapa kamu khiyati aku Ma."Batin Wulan.
"Perasaan ini begitu kuat dan begitu tak relanya aku melihat kamu bersanding dengan yang lain."Gumam Wulan.
"Apa ia, aku harus mengubur semua kenangan kita dan melupakan kamu?" setelah kamu kasih pelukan hangat ini?" Apa aku sangup untuk merelekan kamu bersanding dengan yang lain?"Tanya Wulan di dalam hati.
Desas desus warga di sekitar mulai berbincang dan melihat Ibrahim memeluk Wulan, banyak yang berkata kalau cinta mereka suci dan abadi. Bahkan ada yang berkata kalau Wulan adalah perusak hubungan anatara Ibrahim dan Ayu.
"Itu Lihat jeng, pacarnya hadir dalam kondisi sakit parah."Ucap Warga.
"Kasihan sekali pacarnya ya, lihat situasi seperti ini dan lagi pula pacarnya tidak jauh cantik dari calonnya ya."Ucap Warga.
"Kenapa tidak sama pacarnya saja ya?" kelihatannya pacarnya jauh lebih baik dari calonnya."Pungkas Warga.
Ibu-ibu sedang asyik membicarakan Wulan dan Ibrahim sambil menonton.
Diki, Dina dan Mama Wulan telah sampai di rumah Ibrahim. Mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri kalau Wulan dan Ibrahim begitu hangat dan abadi cinta mereka, namun mereka tidak berani mendekat ke sanah karena takut mengangu mereka dan mereka memperhatikan dari pagar rumah.
Diki dan Dina melihat Ibrahim memeluk Wulan dengan hangat dan tatapan bersalah serta saling mencintai satu sama lain.
"Kasihan sekali hubungan kalian harus berakhir seperti ini."Gumam Diki.
"Aku harap di masa yang akan datang, kalian bahagia bersama pasangan masing-masing dan tidak membenci satu sama lain."Batin Diki melihat adegan romantis dan tragis seperti itu.
Cukup lama Ibrahim memeluk Wulan, karena itu adalah pelukan terakhirnya sebelum berangkat tugas dan sebelum ia melangsungkan pernikahan setelah pulang tugas nanti.
Semua warga di sanah sedang menatap Wulan dan Ibrahim sedang berpelukan dan mata mereka hanya tertuju oleh Wulan dan Ibrahim, Ayu yang kesal dan cemburu melihat mereka berdua dan langsung mendorong Wulan dengan sekuat tenaga sampai Wulan terjatuh.
Brugh... Wulan terjatuh di lantai.
"Au!!!"Teriak Wulan.
Ayu mendekati Wulan dan langsung mencaci maki Wulan dengan perkataan kasar yang tidak pantas di dengar dan di ucapan oleh seorang wanita.
"Dasar kamu p*l*k*r, wanita m*****n,dll."Pungkas Ayu yang penuh emosi dan amarah yang memuncak.
Wulan tidak menghiraukan ucapan Ayu hanya focus menatap wajah Ibrahim, berharap Ibrahim akan menjelaskan semua hal kepada Wulan. Namun sayang sekali Ibrahim hanya diam seribu kata melihat Wulan di tindas oleh Ayu dan hanya focus menatap Wajah Wulan.
"Maaf kan Aku, sekali lagi aku minta maaf sama kamu. Aku harap kamu mengerti dan Aku harap kamu tidak akan membenci aku."Batin Ibrahim menatap Wulan.
Diki, Dina dan Mama melihat Wulan terjatuh di lantai dan langsung berlari menolong Wulan untulk membangunkan Wulan berdiri.
Diki yang kesal melihat Ibrahim tidak melakukan apa pun terhadap Wulan dan langsung meninju ke arah Ibrahim.
Brugh...Brugh suara pukulan Diki kepada Ibrahim.
"Kamu kenapa pukul aku seperti itu?"Tanya Ibrahim heran.
"Itu untuk kamu yang tidak bisa hargai wanita."Ucap Diki.
Brugh...Brugh Ibrahim membalas Diki, mereka saling berantem, dan keadaan di sanah mulai memanas dan penuh emosi.
Namun Wulan melihat mereka bertengkar dan langsung melerai mereka berdua.
"Stop!!!"Teriak Wulan di tengah mereka berdua.
"Minggir kamu Lan, aku mau kasih pelajaran sama pria pengecut seperti dia."Ucap Diki emosi dan menunjuk Ibrahim.
"Sabar kak, bukan seperti ini cara menyelesaikan masalahmya."Ucap Wulan kepada Diki.
"Lalu harus seperti mana lagi kasih tau sama ini anak kalau pacarnya sedang sakit dan di rawat di rumah sakit dia malah tidak datang dan melangsungkan lamaran seperti ini?"Tanya Diki emosi.
"Mungkin ini sudah jalan Allah untuk hubungan kita berakhir tanpa ada kejelasan sama sekali."Ujar Wulan.
Namun tiba-tiba Ayu mendekati Wulan dan menampar wajah Wulan.
Plak... tamparan mendarat di pipi Wulan.
"Sudah cukup belum kamu menghancurkan acara aku di sinih?Tanya Ayu kesal dan emosi.
Wulan hanya memegang pipi saja dan menatap mata Ayu yang rasanya ingin sekali meluapkan emosi di sanah.
"Kenapa kamu menatap aku seperti itu?"Tanya Ayu dengan nada tinggi dan emosi.
"Tidak bisa jawab kan pertanyaan Aku?"
"Sudah puas kamu lihat acara lamaran aku jadi kacau balau?"
"Sudah puas kamu merusak semuanya dan muncul di acara kita seperti ini?"
"Apa sih istimewanya kamu sampai-sampai di ributkan seperti ini?"Tanya Ayu sambil memegang wajah Wulan.
Lalu Ibrahim tidak tega melihat Wulan di tindas oleh Ayu dan Ibrahim mendekati mereka berdua.
"Cukup Ayu hentikan!!!"Teriak Ibrahim kesal dengan suara keras dan keras.
__ADS_1
"Ini semua bukan kesalahan Wulan, ini semua adalah kesalahan aku."Ucap Ibrahim.
"Oh jadi kamu bela perempuan yang tidak tau malu ini mas?"Tanya Ayu sambil menunjuk ke arah Wulan.
"Apa istimewanya dia mas, dibandingakan aku?"Tanya Ayu.
Ayu menghampiri Wulan dan menunjuk ke arah Wulan.
"Kamu lihat kan, calon suami aku membela kamu di depan semua keluarga besar aku dan membuat aku serta keluarga aku malu."Ucap Ayu.
Wulan yang sudah kesal amarahnya di atas ubun-ubun dan memulai meluap.
Plak... tamparan Wulan mengenai pipi Ayu.
"Tolong di jaga ucapan kamu tentang aku, lebih baik kamu tanyakan sama dia dahulu. Siapa yang merebut siapa."Ucap Wulan menujuk Ayu.
Wulan mendekati Ibrahim.
"Aku benar-benar sangat kecewa sama kamu mas, kamu tega sekali menghiyanati aku seperti ini. Padahal aku sangat yakin kamu orang yang sangat setia dan sayang sama aku, namun nyatanya aku salah menilai orang."Kata Ku kesal.
Ibrahim hendak menjelaskan kepada Wulan, namun mata Wulan tiba-tiba kabur tidak jelas melihat dan samar-samar.
"Yaallah ada apa ini dengan mata ku?" Rasanya aku akan terjatuh."Gumam Wulan.
Akhirnya Wulan terjatuh di lantai dan di tangkap oleh Ibrahim.
"Wulan bangun sayang."Pungkas Ibrahim panik sambil memegang pipi Wulan.
Diki, Dina dan sang ibu melihat Wulan langsung menghampiri Ibrhaim.
"Ayo kita baca Wulan ke rumah sakit."Ucap Mereka bersamaan.
Ibrahim dan Diki mengotong Wulan masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah sakit.
Namun Ayu berteriak kepada Ibrahim.
"Mas kamu mau kemana?" Acara kita belum selesai."Tanya Ayu.
"Kamu kenapa peduli sekali sama wanita itu mas."Ucap Ayu kesal.
Ayu mengejar mobil mereka, namun mobil mereka melaju dengan kecepatan penuh agar segara sampai di rumah sakit.
Ibrahim tidak menghiraukan perkataan Ayu tadi karena panik membawa Wulan ke rumah sakit.
"Semua ini gara-gara wanita itu."Ucap Ayu kesal sambil mengegam tanggannya.
"Kamu tunggu aja pembalasan aku nanti, aku akan membuat Ibrahim berpaling sama kamu dan akan menikahkan aku secepatnya."Ucap Ayu emosi.
Diki membawa mobil dan di temanin Dina di depan, di belakang ada Ibrahim dan sang Ibu menemani Wulan yang pisan karena Wulan habis transfusi darah jadi belum cukup pulih.
"Dik, ayo lebih cepat kamu bawa mobilnya."Ucap Ibrahim panik.
"Iya, ini aku sudah cepat bawanya."Kata Diki panik.
"Semog Wulan tidak kenapa-kenapa."Ucap Dina.
"Wulan wanita yang kuat dan tegar, ia pasti kuat dan bisa menghadapi ini semua."Ucap Diki sambil mengelus kepala Dina sedang panik.
Ibrahim menatap wajah Wulan yang putih pucat sambil mengelus pipi Wulan yang mulus, putih dan tidak ada jerawat.
"Sayang ayo bangun, bilang sama mas dimana letak kamu sakit."Batin Ibrahim panik menatap wajah Wulan.
Sang ibu yang melihat Ibrahim khawatir kepada anaknya itu merasa kasihan dan iba, serta di satu sisi ia pun kesal atas apa yang ia lihat di depan matanya.
Anaknya sangat mencintai beliau namun harus rela melihat pengkhianatan seperti ini, Mama tidak bisa berkata apa pun di dalam mobil sambil berdoa di dalam hati.
"Yaallah yarobb tolong sembuhkan dan sadarkan anak hamba, karena dia adalah tulang pungung keluarga kami. Sudah cukup engkau telah kasih cobaan kepada anak hamba dengan pengkhiyanatan seperti ini, jangan lah engkau kasih penyakit berat kepada putri hamba."Batin Mama.
Sampailah mereka di rumah sakit, Wulan langsung di bawa ke ruangan IGD dan Dokter senang memeriksa di dalam ruangan.
"Silahkan kalian tunggu di depan ruangan, biar kami periksa Wulan."Ucap Dokter.
Mereka semua sedang menunggu di luar, dengan harap-harap cemas serta muka panik dan resah gulana melihat kondisi Wulan semakin memburuk.
Diki dan Ibrahim panik dan mondar mandir berdiri di depan pintu, sedangkan mama dan Dina duduk di bangku. Dina sedang menenangkan Mama Wulan yang sedang panik dan khawatir.
"Sabar bu, aku yakin Wulan baik-baik saja."Ucap Dina mengelus bahu Mama.
"Terimakasih ya nak Dina."Kata Mama tersenyum.
Diki dan Ibrahim sedang panik.
"Apa aku harus kasih tau ke Dika tentang kondisi Wulan?"Tanya Diki di dalam hati.
"Tapi aku takut Dika khawatir sama Wulan, dan langsung terjadi perkelahian besar."Batin Diki.
"Aaaahhhh!!!"Teriak Diki frustasi dan mengacak rambutnya kesal.
Di satu sisi Ibrahim panik melihat kondisi Wulan seperti itu, ia berpikir sejenak dan menatap Diki yang sedang gelisah.
__ADS_1
Ia menghampiri Diki dan menatap Diki penuh curiga.
"Apa yang sebenarnya terjadi sama Wulan?"
"Wulan sakit apa Dik?"
"Kenapa kondisinya jadi ngedroup?"
Ribuan pertanyaan Ibrahim kepada Diki, namun Diki engan menjawab satu pertanyaan pun. Karena Diki tidak mau ribut dan tidak mau berdebat sama Ibrahim.
"Kenapa kamu jadi diam membisu seperti itu?"
"Ayo jawab aku Dik."Pungkasnya kesal dengan emosi.
"Apa aku harus menjawab sekarang dengan sejujurnya saja atau aku harus merahasiakan ini?"Tanya Diki di dalam hati.
Dina tau posisi pacarnya itu sedang gelisah, ia menatap ke arah Diki agar Diki tau ia sedang kasih kode untuk tidak kasih tau yang sebenarnya terjadi.
Diki seakan melirik Dina menatap ia dengan kode untuk tidak di kasih tau kepada Ibrahim itu, Diki mengagukan kepala tanda setuju kepada Dina tidak kasih tau kepada Ibrahim.
"Syukurlah dia tau, kode yang aku kasih."Batin Dina lega dan menarik napas sambil tersenyum.
Diki melirik Dina tersenyum penuh arti itu dan langsung tersenyum, namun Ibrahim kesal kenapa temannya tidak mau kasih tau yang sebenarnya terjadi.
"Aneh, sebenarnya apa yang terjadi sama Wulan?"Tanya Ibrahim di dalam hati.
"Aku tidak bisa dapat jawaban dari mereka, aku harus tanya ibunya Wulan ini."Batin Ibrahim melirik Mama Wulan.
Ibrahim pergi meninggalkan mereka semua ke kantin untuk membelikan ibunya Wulan air minum.
Diki heran melihat temannya itu dan langsung mengikuti Ibrahim dari belakang, sampailah mereka di kantin.
Diki melihat Ibrahim membeli minuman dan secangkir kopi panas untuk di minum, Ibrahim duduk di sanah sambil menikmati secangkir kopi dengan rokok.
"Ibrahim nampak sedih dan banyak pikiran, wajar saja mukanya seperti itu."Batin Diki melihat temannya dari jauh.
"Aku jadi tidak tega sama dia, melihat dia sangat sayang dan peduli sama Wulan."Gumam Diki.
"Apa aku kasih tau saja sama dia ya, apa yang sebenarnya terjadi?"Tanya Diki di dalam hati.
Kemudian Diki membeli air minum dan cemilan untuk Dina, karena ia tau kalau pacarnya belum makan sejak tadi siang.
Setelah ia membeli makanan dan minuman, Diki menghampiri Ibrahim.
"Sudah merenungkan semua kesalahan pada Wulan?"Tanya Diki.
Ibrahim hanya melirik ke arah Diki.
"Kalau tidak mau kasih tau apa yang sebenarnya terjadi, mending tidak usah ke sinih saja."Kata Ku kesal.
"Yasudah kalau begitu, aku mau masuk saja."Ucap Diki pergi meninggalkan Ibrahim.
Perdebatan mereka tidak akan berakhir karena ego mereka sama-sama tinggi, Diki pergi meninggalkan Ibrahim di kantin dan kasih makan dan minuman untuk Dina serta Mama untuk di makan.
"Ini sayang ada sedikit makanan dan minuman untuk kamu dan ibunya Wulan, kalian belum ada yang di makan kan?"Tanya Diki.
"Terimakasih ya sayang."Ucap Dina.
"Terimakasih ya Nak Diki."Kata Mama.
Diki hanya menganguk dan kembali ke kantin menemani temannya yang sedang khawatir, sampailah Diki di kantin dan duduk bersama Ibrahim. Ia menikmati secangkir kopi dan rokok.
Diki memulai pembicaran mereka berdua.
"Jadi begini ceritanya, sewaktu aku sama Dina mau pulang ke kosan dan mengantarkan Dina kembali. Kita dapat telpon dari rumah sakit yang mengatas namakan Umi sedang di rawat di rumah sakit bersama dengan temannya akibat kecelakaan lalu lintas. Mereka korban dari tertabrak salah satu kendaraan yang melintas di sanah, tidak ada sanksi mata yang melihat mereka di sanah. Namun beberapa menit kemudian baru lah ada beberapa warga meminta tolong ada korban kecelakaan dan di bawa oleh mereka mengunakan becak ke rumah sakit."Ucap Diki menjelaskan kejadiannya.
"Wulan yang banyak kehabisan darah itu dan membutuhkan 6 kantong darah karena harus di transfusi darahnya, sedangkan Umi tidak terlalu parah hanya luka ringan saja."Kata Diki.
"Pihak dari keluarga Umi sudah melapor kepada pihak berwajib mengenai kasus kecelakaan ini, dan pihak berwajib sedang proses masalah ini."Jawab Diki.
"Apa jadi Wulan kecelakaan setelah dia pulang kerja?"
"Lalu yang nabraknya kabur begitu saja?"
"Lalu Wulan harus banyak kehilangan darah?"
"Kenapa kamu baru cerita semua sama aku?"
"Terus jadi Wulan ke rumah aku, habis transfusi darah dan kabur dari rumah sakit?"
Diki hanya mengaguk saja dan meminum kopinya kembali.
"Iya kamu tepat sekali, sudah tau bagaimana sakitnya Wulan setelah ia tau pacarnya lamaran ia habis transfusi darah karena kecelakaan?"Tanya Diki.
"Kalau aku jadi kamu, mungkin aku rasanya tidak akan membiarkan pacar aku menderita sakit seperti itu."Kata Diki.
"Aku harap kamu bisa menyimpulkan semua kejadian hari ini, karena aku kasihan melihat Wulan banyak menderita baik di kerjaan maupun di depan mata."Ucap Diki
Mereka berdua sedang asyik ngobrol di kantin.
__ADS_1