
Kini Dika dan Umi sampai di rumah Wulan.
Tok...Tok...Tok suara pintu di ketuk.
"Assalamuallaikum!!!"Teriak mereka bersamaan.
Wulan mendengar pintu di ketuk, langsung lari ke arah sumber suara sambil membuka pintu.
"Waalaikumsalam, ayo masuk Kak. Maaf ya rumahnya kecil dan berantakan."Ucap Ku.
Mereka berdua masuk ke dalam.
"Silahkan duduk kak."Kata Ku mempersilahkan duduk.
Mereka berdua duduk di sofa.
"Sebentar kak, aku buatkan minuman dahulu."Ucap Ku.
"Tidak perlu repot-repot kita hanya sebentar saja kok."Ucap Mereka bersamaan.
"Tidak repot kak, hanya minun saja."Ujar Ku pergi meninggalkan mereka berdua di sofa.
Wulan menuju ke dapur untuk membuatkan minumannya.
Di ruang tamu Dika dan Umi sedang sibuk dengan ponsel masing-masing.
Umi sibuk dengan repot penjualan yang harus di kirim ke atasan, sedangkan Dika sibuk dengan group aplikasinya takut ada berita penting di sanah.
Namun ternyata Diki kirim pesan, kalau Ibrahim sudah sampai di rumah dan di suruh tidak memberi tahukan kepada Wulan jika pacarnya sudah sampai.
Beberapa menit kemudian Wulan sudah kembali membawa minuman buat mereka.
"Silahkan kak diminum."Ucap Ku.
"Kamu kalau di rumah tidak pakai hijab ya?"Tanya Dika melihat dari atas sampai bawah Wulan.
"Iya kak, aku pakai kalau di luar rumah saja."Kata Ku.
"Oh berarti sama kaya Umi."Ujar Dika.
"Yasudah di minum dahulu kak, kalian pasti capek di jalan karena perjalanan jauh ke sinih."Ucap Ku.
"Sayang ayo minum, tidak enak sudah di sediakan oleh pemilik rumah malah tidak di minum."Ucap Dika.
"Iya sebentar bang, aku lagi sibuk kirim laporan penjualan dahulu."Ucap Umi kesal.
"Yasudah aku minum duluan."Kata Dika.
Dika langsung meminumnya dan Umi sedang sibuk sama ponselnya.
"Terus dimana RED?"Tanya Dika heran karena melihat di sekitar rumahnya tidak ada burung.
"Ada kak, aku taruh di belakang."Kata Ku.
"Yasudah ayo kita lihat kondisi RED."Ujar Dika.
"Ayo kak."Kata Ku.
Wulan dan Dika menuju ke halaman belakang rumah Wulan, meninggalkan Umi yang sedang sibuk dengan laporan penjualannya. Kini mereka sampai lah di halaman belakang rumah Wulan.
Wulan menurunkan sarang RED dan dikasih lihat ke arah Dika.
"Lihat kak, RED sebelum aku pergi kerja sampai aku pulang dari kerja masih seperti ini."Kata Ku melas.
Dika berfikir sejenak kenapa bisa burung itu jatuh dari bawah dan tergeletak. Dika langsung menanyakan kepada Wulan.
"Apa sebelumnya kamu tidak rapat menutupnya sewaktu kasih makan?"Tanya Dika.
"Aku selalu rapat kakak menutupnya, aku pastikan lagi sebelum kerja atau pulang dari kerja itu sarang pasti rapat."Kata Ku.
"Apa kamu salah kasih makan?"Tanya Dika.
"Tidak kak, aku selalu kasih makan yang di kasih kamu pada saat itu."Ujar Ku tegas.
Dika memperhatikan RED dan sarang burung di sekitarnya sambil berpikir.
"Kok bisa ya RED mati sama seperti kejadian hari ini ya."Batin Dika.
Wulan menghampiri Dika yang sedari tadi melamun sambil memutar sarangnya.
Wulan menepuk bahu Dika.
"Kak!!!"Teriak Wulan keras.
"Iya."Jawab Dika kaget karena tepukan bahunya.
Dika melihat Wulan dari atas sampai bawah karena rambut panjangnya terurai indah, membuat Dika tanpa berkedip melihatnya karena ikat rambut Wulan terjatuh di lantai.
"Masyaallah cantik sekali."Batin Dika.
Wulan melambaikan tanggannya ke arah Dika.
"Kamu baik-baik saja kak?"Tanya Ku heran.
Dika akhirnya tersadar setelah Wulan melambaikan tanggannya.
"Oh iya baik kok."Ucapnya tanpa berkedip melihat Wulan.
"Sayang sekali kamu sudah punya teman aku, terus kenapa kita di pertemukannya setelah kamu bersama dengan temanku. Dan lagi kamu harus di selingkuhi dan tidak di restui."Batin Dika melihat Wulan penuh kasihan serta kagum.
"Jadi gimana kak ini RED?"Tanya Ku heran.
Dika menghelaikan nafas panjang dan berfikir jernih.
"Oh itu sepertinya akan mati."Ucap Dika datar.
"Apa mati???"Teriak Wulan.
"Iya, karena sudah seperti itu."Ujar Dika.
"Terus gimana aku menjelaskannya kepada Ibrahim kalau dia mati kak?"Tanya Wulan bingung dan panik.
__ADS_1
"Sudah kamu tidak perlu panik seperti itu, nanti aku akan bantu buat jelasinnya ya."Ucap Dika.
"Sunguh kak?"Tanya Wulan sedikit bahagia.
Dika hanya menganguk saja dan tersenyum ke arah Wulan.
"Masyaallah kalau tersenyum seperti ini sudah kaya bidadari."Batin Dika melihat Wulan.
Wulan memperhatikan Dika tidak ada yang beres karena lebih banyak melamunnya itu.
"Kakak!!!"Teriak Wulan.
Umi mendengar teriak keras Wulan langsung menuju ke pusat suaranya.
"Loh mereka kemana?"Tanya Umi melihat sekitarnya tidak ada orang.
"Suara apa tadi ya?" Kenapa Wulan teriak keras sekali?"Tanya Umi.
Umi menuju ke halaman belakang rumah Wulan, kini Umi smapai di halaman belakang. Umi melihat pacarnya yang sedang menatap ke arah Wulan tanpa berkedip dan membuat Wulan bingung dengan tatapannya itu.
Umi menghampiri mereka berdua.
"Ada apa ini?"Tanya Umi heran.
"Aku tidak tau kak, aku tadi tanya sama Dika soal bagaimana kelanjutannya kalau RED mati apa Ibrahim marah atau tidak. Malah Dika sudah seperti ini."Bisik Wulan kepada Umi.
Umi punya ide lain dan menghampiri pacarnya itu.
"Sudah puas menatap wanita lain selain aku bang?"Tanya Umi sambil menjewer telinga Dika.
"Auh....Sakit sakit!!!"Teriak Dika.
"Kalau aku tidak ke sinih, mungkin besok kamu masih menatap ke arah Wulan."Ujar Umi kesal.
"Maaf aku tidak ada maksud lain kok, tidak punya pikiran jelek juga pada kamu Lan."Ujar Dika.
"Kalau gitu kita pamit pulang saja Lan."Kata Umi membawa Dika untuk pulang.
"Oh baiklah kak, kalian hati-hati di jalan."Ucap Ku.
"Iya."Kata Umi dengan datar sambil mengandeng tanggan Dika.
Umi dan Dika sudah sampai di mobil.
"Duduk kamu di sanah bang."Kata Umi emosi.
"Kamu mau nyetir dalam keadaan emosi?"Tanya Dika.
"Iya."Ucap Umi ketus.
Wulan yang masih menunggu di depan pagar rumahnya sampai mereka hilang dari pandangan Wulan, kini suara klakson mobil berbunyi tanda mereka sudah pergi dari rumah Wulan.
Wulan masuk ke dalam rumahnya dan berfikir di dalam hati.
"Ada apa dengan Dika menatap aku seperti itu, membuat aku curiga dan penasaran saja."Batin Ku.
"Aku jadi tidak enak hati sama Umi pacarnya menatap aku seperti itu."Gumam Wulan.
Tidak terasa Wulan sudah sampai di dalam kamarnya, Wulan menaruh ponselnya di sudut kamarnya dan berbaring di atas kasur.
"Selama ini ternyata ada benarnya juga sama apa yang telah di ucapkan oleh Ningsih dahulu, kalau aku harus menjauhi Ibrahim yang memang tidak baik buat aku."Gumam Wulan dengan nafas panjangnya.
"Besok pagi aku harus minta maaf sama Umi karena tidak enak hati soal pacarnya menatap alu seperti itu."Kata Ku.
"Sudah lah lebih baik aku beristirahat saja dahulu, mungkin sekarang mereka sedang ribut dan belum sampai."Ucap Ku.
Wulan yang memperhatikan foto dirinya dan Ibrahim yang telah terbingkai di sudut kamarnya itu.
"Apa aku salah mencintai kamu mas?"Tanya Ku memejamkan mata.
"Apa aku tidak berhak atas cinta ini, sampai kamu mengabaikan Ku tanpa membalasnya."Kata Ku menghelaikan nafas panjang.
"Aku sudah bodoh mas, masih terlalu berharap kamu akan kembali dalam pelukan ku."Ujar Ku.
Namun tanpa sadar air mata Wulan menetes di pipi sambil Wulan melihat foto mereka yang bahagia, Wulan menghapus air mata yang jatuh itu dengan tanggannya.
Kini Wulan menaruh kembali fotonya dan mengambil ponselnya untuk mengirim laporan penjualan tadi di toko, karena dia belum mengirim laporan sama sekali.
Wulan mengirim laporan penjualannya sebelum Fauzan marah besar kepada Wulan, setelah selesai mengirim laporan penjualan Wulan tertidur.
Di sisi lain Dika dan Umi yang sedang marahan.
"Bang jawab pertanyaan aku."Kata Umi kesal.
"Kamu mau tanya apa?"Tanya Dika heran.
"Kenapa kamu menatap Wulan seperti itu?"Tanya Umi curiga.
"Aku tidak sengaja menatapnya dan tidak punya maksud apa pun."Kata Dika.
"Kamu bohong bang."Kata Umi menyelidiki Dika.
"Aku berkata jujur, tidak pernah ada satu pun buat membohongi kamu."Kata Dika.
"Lalu kenapa kamu menatap Wulan sampai begitu lamanya tanpa berkedip?"Tanya Umi kesal.
"Aku tidak sengaja menatapnya karena rambut Wulan terurai panjang dengan indah itu saja."Ujar Dika.
"Jadi maksud kamu, Wulan itu cantik lebih dari aku?"Tanya Umi kesal.
"Aku tidak berkata seperti itu."Ucap Dika.
"Tadi kamu bilang seperti itu maksudnya."Ucap Umi emsoi.
"Setiap Wanita itu cantik sayang, termasuk kamu juga cantik."Kata Dika mengacak hijab Umi.
"Kamu tidak sedang berbohong agar aku percaya kan ?"Tanya Umi menyelidiki.
"Aku berkata jujur, tidak seperti Ibrahim yang selalu penuh dengan tipu muslihat agar Wulan percaya sama dia."Kata Dika menenangkan Umi.
"Kamu serius bang?"Tanya Umi.
__ADS_1
"Iya."Ujar Dika datar.
"Kalau di pikir-pikir memang kasihan sama Wulan bang, dia sampai di bohongi oleh Ibrahim seperti itu."Ucap Umi.
"Iya aku pun sama sepemikiran sama kamu."Ucap Dika.
"Semoga hubungan mereka baik-baik saja ya bang."Kata Umi.
"Aaamiin."Ucap Dika tersenyum kearah Umi.
"Kamu jangan seperti Ibrahim bang."Kata Umi.
"Tidak akan sayang."Ujar Dika tersenyum.
"Terimakasih bang."Ujar Umi tersenyum.
Tidak terasa waktu semakin berlalu dengan cepat, mereka berdua asyik mengobrol di dalam mobil tidak terasa mereka sampai di kosannya Umi.
"Sudah sampai tuan putri."Ucap Dika membukakan selt belt kepada Umi.
"Terimakasih bang."Ucap Umi tersenyum.
Namun tibalah Dika mengecup kening Umi sebelum Umi turun, Umi yang tidak tau akan di kecup keningnya itu membuat pipi Umi merah.
Umi buru-buru untuk turun dari mobil Dika.
"Hati-Hati bang di jalan, kalau sudah sampai kabarin ya."Kata Umi melambaikan tanggannya ke arah Dika.
Diikuti suara klakson mobil Dika dan kemudian Dika pergi meninggalkan kosan Umi.
Umi masuk kedalam kosannya itu setelah Dika hilang dari pandangan matanya.
Setelah Umi membuka pintu rumahnya, di lihatlah Dina sedang duduk melamun di dalam ruang tamun.
"Belum tidur kamu?"Tanya Umi kepada Dina.
"Belum ngantuk."Ucap Dina datar.
"Ada apa dengan kamu?"Tanya Umi menghampiri Dina dan duduk di samping Dina.
"Tidak ada apa-apa."Kata Dina ketus.
"Kamu yakin tidak apa-apa?"Tanya Umi menyelidiki.
"Iya, kamu habis dari mana sama Dika jam segini baru sampai?"Tanya Dina curiga.
"Oh tadi aku habis ke rumahnya Wulan melihat burung yang di titipi oleh pacarnya."Ujar Umi.
"Oh, kenapa tidak kasih kabar sama aku dahulu kalau pulang malam?"Tanya Dina.
"Biasanya juga tidak ada kabar apa pun satu sama lain."Ujar Umi.
"Iya itu dulu, sekarang harus kabarin aku ya kalau pulang malam lagi."Ucap Dina.
"Kamu kenapa sih?" Lagi datang bulan ya?"Tanya Umi heran dan sedikit kesal.
"Aku tidak datang bulan kok, aku tidak suka saja teman kosan aku keluyuran malam-malam."Jawab Dina dengan nada angkuh.
"Kamu pasti lagi ribut sama Diki kan?"Tanya Umi dengan nada tinggi.
"Tidak kok, kamu sok tau."Ucap Dina meninggalkan Umi.
"Hei aku belum selesai berbicara sama kamu, cepat ke sinih kamu jawab dahulu pertanyaan aku."Kata Umi kesal.
Dina tidak mendengarkan Umi dan Dina main pergi begitu saja meninggalkan Umi, Dina langsung ke kamar berbaring di sanah.
"Ada apa dengan anak itu?"Tanya Umi heran.
"Ah sudah lah lebih baik aku mandi saja."Kata Ku.
Umi akhirnya mandi dan bersih-bersih diri.
Di kamar Dina.
Dina sedang kesal karena pacarnya sibuk seharian tidak ada kabar dan lain halnya waktu itu dia melihat pacarnya sedang bersama wanita lain yang mengaku sebagai sepupunya.
"Apa sepupu harus seakrab dan sedekat itu?"Tanya Dina dalam hati.
"Sebenarnya dia itu siapa sih?"Tanya Dina kesal dan membuang semua yang ada di dalam kamarnya itu.
"Apa benar kamu selingkuh?"Tanya Dina kesal sambil memukul bantalnya.
Tidak lama kemudian Umi datang dan masuk ke dalam kamar, dilihatlah kamarnya berantakan banyak barang yang di jatuhkan oleh Dina di bawah.
"Kamu apa-apaan sih turunin semua ini?"Tanya Umi kesal sambil merapihkan barang yang jatuh di lantai.
"Bukan urusan kamu."Kata Dina emosi.
"Iya memang bukan urusan aku sih, tapi setidaknya kalau kamu kesal sama seseorang itu jangan buat kamar berantakan lah."Ucap Umi kesal.
"Kalau kamu tidak suka melihatnya, kamu bisa pindah dari disinih."Ujar Dina kesal.
"Loh kenapa kamu jadi usir aku?" Memangnya aku punya salah apa sama kamu?"Tanya Umi dengan nada tinggi dan kesal.
"Ah sudah lah, aku sedang malas berdebat sama kamu. Bikin aku sakit kepala dan pusing saja."Kata Dina.
"Kamu yang mulai duluan bikin aku naik darah."Ujar Umi melirik ke arah Dina.
"Aku ngantuk mau tidur dahulu, kamu kalau telpon nanti jangan berisik. Aku sedang banyak masalah."Ucap Dina menyelimuti badannya dengan selimut.
"Dih tidak jelas kamu, siapa juga yang berisik."Kata Umi sambil mengelengkan kepalanya.
Umi merebahkan badannya di atas kasur sambil mengecek ponselnya takut nanti kalau Dika menghubungi dia.
Namun dilihatlah ternyata Dika belum sampai dan belum menghubunginya.
"Kemana iya Dika belum sampai ?"Tanya Umi di dalam hati.
"Apa dia sedang sibuk sampai lupa kasih kabar?"Tanya Umi.
"Atau aku kirim pesan saja kepadanya."Ucap Umi.
__ADS_1
Umi memutuskan untuk mengirim pesan kepada Dika, kalau telpon takut ganggu di jalan dan takut Dina marah lagi karena sedang emosi.
Setelah Umi mengirim pesan kepada Dika, Umi langsung beristirahat karena hari semakin larut malam dan Umi seharian bekerja sangat lelap. Kini Umi sudah tertidur sambil ponselnya di gengam dalam tangganya itu.