
Pagi hari di puskesmas tempat Ayu bekerja, Ayu sedang sibuk memeriksa pasien yang datang untuk berobat.
"Semua tensinya bagus bu, kurangi makan berlemak, banyakin makan sayur dan buah serta istirahat yang cukup."Ucap Ayu kepada pasien.
"Terimakasih bu dokter."Kata salah satu pasien.
Pasien pun pergi, selesai juga semua pekerja Ayu.
"Akhirnya selesai juga."Kata Ayu menarik napas panjang.
Kemudian ponsel Ayu bergetar, tanda pesan masuk.
Kring...
Ayu membuka dan membaca pesan itu, sontak membuat Ayu akan jawaban yang di berikan oleh Ningsih.
"Apa aku balas saja ya, ajakannya itu?"Gumam Ayu bertanya.
Ayu kemudian membalas pesan tersebut.
"Baik mba, aku bisa bertemu sama mba tapi nanti kita ngobrolnya nunggu aku libur saja. Kalau hari ini aku tidak bisa bertemu karena masih ada tugas."
Ayu menaruh ponselnya di atas meja dan kembali bekerja.
Di rumaha Ningsih, Ningsih sudah sampai di rumahnya bersama anak sambungnya Adit sedang menikmati makan siang bersama.
Tibalah ponsel Ningsih bergetar tanda pesan masuk, Ningsih membuka dan membacanya.
"Ternyata Ayu semudah itu buat di ajak ketemu."Batin Ningsih tersenyum.
"Saaatnya aku mulai menyusun rencana."Gumam Ningsih menaikan alisnya.
Namun Adit yang sedari tadi melihat raut wajah Mama sambungnya tersenyum dan menanyakan kepada Mamanya.
"Mama kok lihat ponsel tersenyum seperti itu?"Tanya Adit dengan muka polosnya.
"Pasti dari Ayah ya?"Tanya Adit meledek ibu sambungnya.
"Kamu anak kecil pengen tau urusan orang dewasa saja."Ucap Ningsih.
"Terus kenapa Mama tersenyum?"Tanya Adit heran melihat ibu sambungnya.
"Ini dari teman mama sayang, bukan dari ayah kamu."Ucap Ningsih sambil cubit pipi Adit.
"Oh, aku kira dari ayah."Kata Adit sambil makan ayam goreng di tanggannya.
"Yasudah makannya di habiskan ya, habis dari situ langsung ke kamar buat belajar."Kata Ningsih.
"Iya mama."Kata Adit.
Adit dan Ningsih masih makan di ruang makan, kini Adit kembali ke dalam kamarnya sambil di temanin Ningsih untuk belajar.
Beberapa menit telah berlalu, tidak terasa waktu semakin sore hari sinar matahari sudah berganti dengan bintang.
Wulan sedang bekerja dengan rajin dan giat tanpa melihat ponsel sama sekali itu, kini tiba dimana saatnya Wulan untuk kembali pulang ke rumah.
"Kamu tidak pulang Lan?"Tanya Hani.
"Ini mau pulang teh, aku lagi beres-beres tas dulu takut ada yang ketinggalan."Kata Ku sambil memasukan alat make up ke dalam pouch dan memasukannya ke dalam tas.
"Awas di cek kembali takut ada yang ketinggalan di toko, nanti malam-malam kamu telpon aku lagi."Ujar Ratna nyeletuk.
"Iya mba siap, kali ini tidak akan ada yang ketinggalan lagi."Kata Ku sedang sibuk memasukan barang-barangnya ke dalam tas.
Di satu sisi Ibrahim yang sedang memperhatikan Wulan di sudut tokonya itu.
"Itu anak ribet sekali kalau pulang, ternyata dalan tasnya banyak make up dan power bank."Ucap Ibrahim memperhatikan dari jauh.
"Yasudahlah aku ke sanah saja, aku kan mau kasih dia kejutan."Ucap Ibrahim.
Ibrahim melangkahkan kakinya menuju toko dimana Wulan bekerja, sampailah Ibrahim di toko Wulan.
"Mba ponsel samsung S20 ultra ada tidak?"Tanya Ibrahim.
Sontak Wulan yang mendengar suara customer membeli ponsel langsung menaruh semua barang-barangnya di lantai dan bangun untuk melayaninya.
"Ada mas."Ucap Wulan dengan muka bahagia.
Wulan yang kaget melihat sang pujaan hati menjemputnya tanpa kasih kabar sama sekali sama dia.
"Loh mas kamu ke sinih?"Tanya Wulan heran.
"Iya mau jemput kamu."Ucap Ibrahim.
"Kok tidak kabarin kalau mau jemput?"Tanya Wulan heran.
"Iya mau kasih kejutan sama kamu."Ujar Ibrahim.
"Kejutan???"Teriak Wulan.
"Iya sayang, cepat kemasi barang-barang kamu dan pamitan sama semua teman kamu untuk pulang."Ucap Ibrahim.
"Kejutannya apa?"Tanya Wulan penasaran.
"Kalau di kasih tau sekarang bukan kejutan dong, sudah aku tunggu di kantin ya."Ujar Ibrahim.
Wulan hanya menganguk saja dan Ibrahim pergi meninggalkan Wulan.
"Tumben sekali tidak ada anggin, tidak ada hujan mau kasih kejutan."Batin Wulan bertanya.
"Apa betul mau kasih kejutan sama aku?"Gumam Wulan heran serta bertanya di dalam hati.
"Tapi kenapa dia tidak kirim pesan sama aku dahulu ya kalau mau jemput, jadi aku bisa ganti baju dan tampil cantik di depan dia. Bukan malah tampil kumel dan kucel seperti ini."Gumam Wulan kesal.
"Sebenarnya apa soh kejutannya?"Tanya Wulan semakin heran.
Tibalah Ratna mendekati Wulan.
"Eh cie yang di jemput sang pujian hati."Ucap Ratna meledek Wulan.
"Eh cie yang mau di kasih kejutan."Ujar Hani mengoda Wulan.
Wulan hanya tersenyum saja.
"Cepat lah Lan sedikit, kasihan tau sang pujaan hati sudah menunggu di sanah."Ucap Ratna.
__ADS_1
"Iya ini juga sudah selesai kok mba."Ucap Wulan.
Wulan banggun dari tempat duduknya, dan Wulan berpamitan kepada teman-temannya.
"Aku pulang dulu semua, assalamuallaikum."Ucap Wulan sambil cipika dan cipiki mereka bergantian.
"Waaalaikumsalam Lan, hati-hati di jalan ya."Ujar mereka bersamaan sambil melambaikan tanggannya.
Wulan menuju kantin dan bertemu sama Ibrahim.
"Mas!!!"Teriak Wulan melambaikan tanggannya.
Ibrahim melihat Wulan sudah datang dan langsung bangun sambil mengandeng tanggan Wulan di depan banyak temannya.
"Eh cie yang sudah punya pacar."Ucap Ibu kantin.
"Eh cie yang di jemput sang pujaan hati."Ucap Mia mengoda Wulan.
"Eh cie udah tidak baper lagi."Ucap teman-teman Wulan yang melihat Wulan di gandeng sama Ibrahim.
Wulan yang malu di lihat oleh banyak teman-temannya itu dan langsung merah pipinya.
"Kenapa muka kamu merah?"Tanya Ibrahim mengoda Wulan.
"Bukan apa-apa."Kata Ku memegang pipi.
"Serius tau merah, seperti kepiting rebus."Ucap Ibrahim mengoda Wulan.
"Iiiissshhh!!!"Ucap Wulan kesal dan berjalan duluan dari Ibrahim.
"Wulan tunggu ih, jalannya cepat sekali."Kata Ibrahim.
Wulan tidak menghiraukan suara Ibrahim dan Wulan sampai di parkiran, Wulan melihat motor Ibrahim yang biasa suka di jemput ternyata tidak ada.
"Dia ke sinig naik apa ya?"Tanya Wulan di dalam hati sambil melihat parkiran.
Ibrahim mendekati Wulan dan merangkulnya.
"Ayo sedang cari apa?"Tanya Ibrahim.
Wulan langsung menatap Ibrahim.
"Kamu ke sinih naik apa?"Tanya Wulan heran.
"Naik grab."Kata Ibrahim tersenyum.
"Loh memangnya motor kamu kenapa?"Tanya Wulan mengerutkan dahi.
"Ada di kosan, tidak kenapa-kenapa."Ucap Ibrahim.
"Lalu kita pulang naik apa?"Tanya Wulan penasaran.
"Aku gendong kamu di bahu aku."Kata Ibrahim tersenyum.
"Hah serius mau di gendong?"Tanya Wulan terkejut.
"Kenapa kamu tidak mau?"Tanya Ibrahim mengoda Wulan.
"Mau sih, cuman kasihan sama kamu nanti kecapean sampai di rumah aku."Ucap Wulan dengan muka polosnya.
"Hahahaha kamu lucu banget sih."Ucap Ibrahim mengacak kerudung Wulan.
"Tumben bawa mobil mas?"Tanya Wulan heran.
"Iya mobil tidak di pakai di rumah jadi aku bawa saja."Ucap Ibrahim.
"Terus..."Ucap Wulan mau bertanya namun sudah di gendong sama Ibrahim.
"Tanyanya nanti saja, kita kapan sampainya kalau kamu banyak tanya."Ucap Ibrahim mengendong Wulan.
"Mas ih turunin, aku malu tau di lihat banyak orang di gendong seperti ini."Ucap Wulan.
"Masa di gendong sama pacar sendiri malu sih?"Tanya Ibrahim.
"Iya malu mas, nanti yang ada banyak gosip bertebaran dimana-mana."Ucap Wulan.
"Aku tidak mau turunin kamu, nanti saja turuninnya sudah sampai di mobil."Ucap Ibrahim.
"Baiklah."Ucap Wulan.
Wulan dan Ibrahim sampai di dalam mobil, Ibrahim dengan penuh perhatian memasangkan selt belt kepada Wulan.
"Terimakasih mas."Ucap Wulan tersenyum.
Ibrahim hanya tersenyum dan mereka berdua berjalan menuju ke suatu tempat, di tengah perjalanan Wulan menanyakan kepada Ibrahim akan tujuannya.
"Loh ini kan arah mau ke puncak mas?"Tanya Wulan melihat plang di depan matanya.
"Yups betul sekali."Ucap Ibrahim melirik ke arah Wulan.
"Mau apa ke puncak?"Tanya Wulan heran.
"Kejutannya di sanah."Kata Ibrahim tersenyum.
"Tapi aku besok kerja mas, terus tidak bawa baju salin kalau menginap di sanah."Ucap Wulan.
"Kita tidak menginapa sayang, kita pulang pergi saja."Kata Ibrahim tersenyum.
"Oh..."Ucap Wulan menarik napas.
"Mukanya jangan panik dan tengang kaya gitu lah, tenang saja aku tidak akan macam-macam sama kamu kok."Ucap Ibrahim mengelus pipi Wulan.
"Aku tidak tegang kok, cuman heran aja sama sikap kamu hari ini."Ujar Wulan.
"Heran kenapa?"Tanya Ibrahim.
"Tidak seperti biasanya kamu seperti ini?"Tanya Wulan.
"Aku selalu salah sama kamu, aku tidak peka sama tidak romantis salah, aku mau kasih kejutan dan bersikap romantis pun salah."Ucap Ibrahim.
"Bukan begitu maksud aku mas."Ucap Wulan melas.
"Yasudah aku paham kok, sekarang buka ponsel kamu yang tadi aku kirim share lokasi dan kamu buka di google maps lihat arahnya kemana."Ucap Ibrahim.
"Iya."Ucap Wulan.
__ADS_1
Wulan membuka ponselnya dan melihat arah tujuan mereka, namun di tengah perjalanan ponsel Wulan mati dan membuat jalan mereka terhenti.
"Ini ke kanan atau ke kiri sayang?"Tanya Ibrahim.
"Ke kiri mas."Ucap Ku.
Ibrahim mau ambil ke arah kiri, namun Wulan berkata lagi.
"Eh bukan deh mas, sepertinya ke kanan."Ucap Wulan ragu.
"Jadi ke kanan atau kiri yang betul?"Tanya Ibrahim.
"Aku tidak tau mas, ponsel aku mati."Ucap Ibrahim.
"Ah kenapa tidak bilang dari awal."Ucap Ibrahim kesal.
"Iya maaf."Kata Wulan melas.
"Yasudah mana sinih ponsel kamu biar di chager dan ini pakai ponsel aku saja."Ucap Ibrahim dengan kasih ponselnya.
Wulan mengambil ponsel Ibrahim dan membuka kembali maps itu, kini mereka telah sampai di lokasi.
Wulan yang melihat resort dan restoran di salah satu daerah puncak itu, membuat Wulan terkejut dan kagum akan pesona pemandangan di sanah.
"Ayo turun sayang."Ucap Ibrahim.
"Kamu yakin tujuannya di sinih mas?"Tanya Wulan heran.
"Iya yakin, sesuai sama google maps di sinih."Ucap Ibrahim.
Wulan yang tidak bisa berkata-kata melihat pemandangan di sanah sambil di gandeng tanggannya oleh Ibrahim, mereka memasuki restoran itu. Mereka memilih tempat duduk di atas karena sesuai dengan view dan pemandangan bagus yang membuat mata terpesona.
Kini tiba lah salah satu teman Ibrahim datang menemui mereka berdua.
"Selamat datang komandan dan ibu, mau pesan apa?"Tanya salah satu teman Ibrahim dan sekaligus pemilik.
"Biar aku saja yang pesanin."Ucap Ibrahim.
"Emangnya kamu tau makanan kesukaan aku apa?"Tanya Wulan.
"Iya tau lah."Ucap Ibrahim.
"Baiklah."Ucap Wulan.
Ibrahim memesan menu makanan mereka
"Sudah ini saja komandan?"Tanya pemilik restoran.
"Iya itu saja."Ucap Ibrahim.
"Baik silahkan di tunggu."Ujar pemilik.
Pemilik itu pergi meninggalkan mereka berdua di sanah, Wulan mendekati Ibrahim.
"Itu tadi siapa mas?"Tanya Wulan.
"Oh itu adalah teman aku, salah satu punya restoran ini."Ucap Ibrahim.
"Oh pantesan saja, tapi mas apa kita tidak sebaiknya makan di tempat biasa saja. Tidak perlu di tempat sebagus dan semahal ini."Kata Wulan.
"Kamu tenang saja, ini ada promo jadi tidak mahal."Ujar Ibrahim.
"Oh."Ucap Wulan kagum menatap.
Beberapa menit kemudian makanan mereka sudah sampai.
"Ayo makan sayang."Kata Ibrahim.
"Iya mas."Ucap Wulan.
Wulan dan Ibrahim makan malam bersama, kini mereka sudah selesai makan.
"Terus apa kejutannya mas?"Tanya Wulan penasaran.
"Oh yang itu, masih aja penasaran."Ucap Ibrahim.
"Aku cuman nanya saja sih mas, tapi kalau tidak ada tidak apa-apa kok. Lagi pula aku sudah senang bisa makan di tempat sebagus dan seromantis ini."Ucap Wulan.
"Kamu tunggu di sinih ya, aku mau ke toilet sebentar.Tiba-Tiba perut aku sakit."Ucap Ibrahim.
"Ah kamu mah kebiasaan mas, bikin malu saja kalau habis makan."Ucap Wulan kesal.
"Iya maaf, sebentar doang kok."Ujar Ibrahim mencium kening Wulan.
Wulan hanya menganguk dan Ibrahim pergi meninggalkan Wulan, beberapa menit kemudian.
"Lama sekali ini orang di toilet."Ucap Wulan kesal.
"Aku coba hubungi dia aja lah."Ucap Wulan.
Wulan mencoba menghubungi Ibrahim namun tidak ada jawaban.
"Kemana ini orang?"Tanya Wulan melihat sekitar.
Lalu tiba lah lampu restoran itu berubah warnanya dan live musik di bawah, Wulan yang melihat sekitar itu membuat matanya berkaca-kaca dan tersentuh. Kini Live musik itu memainkan lagu surat cinta untuk Wulan.
Wulan yang tau kalau itu adalah suara Ibrahim, ia langsung turun ke bawah melihat Ibrahim bernyanyi.
"Lagu ini aku persembahkan untuk seseorang di hati saya dan tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun."Ucap Ibrahim.
Kini Wulan sudah sampai di bawah tangga dan melihat Ibrahim sedang duduk di atas pangung dengan gitar di tanggannya, Ibrahim melihat Wulan di depan matanya dan mengegam tanggan Wulan untuk naik ke atas pangung dan bernyayi bersama.
"Aku tidak bisa nyayi mas."Ucap Wulan.
"Aku mau kasih kamu kejutan."Ucap ibrahim.
"Naik...Naik...Naik."Ucap para pengunjung.
Sorak sorak suara para pengunjung restoran, membuat Wulan malu dan naik ke atas panggung.
Kini Ibrahim dan Wulan naik ke atas pangung, Ibrahim mengambil sebuah hadiah dan kasih kepada Wulan.
"Ini isinya apa mas?"Tanya Wulan heran.
"Bukanya nanti saja pada saat di rumah."Ucap Ibrahim.
__ADS_1
Wulan hanya menganguk dan kembali turun dari atas pangung, Wulan menonton Ibrahim bernyayi di bawah pangung dengan suara khasnya sedikit serak-serak basah.
Wulan menikmati lagu tersebut dengan penuh penghayatan sambil di temanin dengan suasana restoran yang sejuk dan indah, Ibrahim bernyanyi dan memainkan gitar dengan penuh penghayatan dan tanggan lentiknya memainkan gitar.