
Ibrahim selesai dari push up, namun Dika melihat ke arah Ibrahim.
"Habis dari mana dia sampai telad."Batin Dika melirik.
Diki yang melihat temannya sedang menatap ke arah Ibrahim, langsung menepuk bahu Dika.
"Kamu kenapa menatap Ibrahim seperti itu?"Tanya Diki heran.
"Itu dia habis dari mana?"Tanya Dika penasaran.
"Oh itu, dia tadi habis dari rumahnya. Tadi habis di telpon oleh ibunya suruh pulang, makanya datangnya telad."Ucap Diki.
"Serius?"Tanya Dika heran.
"Iya serius, dia bilang seperti itu."Ucap Diki.
Kini mereka berdua masih baris berbaris dan berdiri tegap, lalu Dika dan Ibrahim di pangil oleh atasan mereka untuk menghadap ke kantornya.
Dika dan Ibrahim langsung menuju ke ruang atasannya, sampailah mereka di ruang atasannya.
Tok...Tok...Tok... suara pintu di ketuk.
"Masuk!!!"Teriak Atasannya.
Mereka berdua berdiri tegap di sanah.
"Dika dan Ibrahim!!!"Ucap Atasan tegas.
"Siap komandan."Ucap mereka bersamaan.
"Kalian tau kenapa saya pangil ke sinih?"Tanya Atasan.
"Siap, tidak komandan."Ujar mereka.
"Kalian saya pangil ke sinih untuk tugas menjaga perbatasan."Ucap Atasan.
Ibrahim dan Dika berdua sedikit terkejut, karena kenapa Atasannya pangil mereka bersamaan dan ada tugas mendadak.
Walaupun mereka tau kalau sewaktu-waktu mereka kapan saja di tugas kan di mana pun harus siap sedia, mereka tidak bisa menolak atau pun bilang tidak bisa. Karena sebelum mereka masuk menjadi prajut tentara nasional indonesia itu salah satunya adalah siap sedia di tempatkan dimana pun dan untuk membela negara serta menomor satu kan negara.
"Siap komandan, Izin bertanya komandan kita akan di tugaskan dimana?"Tanya Dika.
"Kamu akan saya kasih tugas menjaga perbatasan PAPUA, dan kamu akan saya tugas kan kembali ke NATUNA karena kemarin kamu belum selesai bertugas."Ucap Atasan.
"Izin bertanya komandan, selama berapa hari kita di sanah?Tanya Dika.
"Kamu 1 tahun menjaga perbatasan di PAPU karena di sanah ada perselihan atara masyarakat awam dan masyarakat lokal."Ucap Atasan.
"Dan kamu di NATUNA saya tugaskan 3 bulan, karena 3 bulan kamu sudah selesai bertugas kemarin."Ucap Atasan.
"Izin bertanya komandan, kapan kita akan berangkat?"Tanya Ibrahim.
"3 hari lagi kalian berangkat, kalian urus berkasnya di kantor."Ucap Atasan.
"Saya mau kalian bertugas di sanah dengan baik, jaga nama baik kalian dan juga rakyat. Berbuat baik lah sesama rakyat serta tolong menolonglah kalian di sanah, bersikap ramah dan juga bersahaja bersama rakyat."Ucap Atasan.
"Siap."Ucap Mereka bersamaan.
"Baiklah kalian boleh pergi, persiapan diri kalian dan pamit kepada keluarga di sanah untuk kalian berangkat serta minta doa restu kepada orang tua sebelum berangkat."Ucap Atasan.
"Siap."Ucap Mereka bersamaan.
"Silahkan kembali ke tempat."Kata Atasan.
"Siap laksanakan."Ucap Mereka.
Mereka berdua meninggalkan ruangan atasannya dan kembali berjaga, kini mereka berdua telah berjaga di kapal.
Dika menghampiri Ibrahim.
"Kamu habis dari mana sampai terlambat?"Tanya Dika penasaran.
"Habis dari rumah, tadi ibu ku telpon suruh pulang."Ucap Ku.
"Yakin hanya pulang saja?"Tanya Dika penasaran.
"Iya, kamu kenapa sih seperti orang tidak suka?"Tanya Ibrahim kesal.
"Kamu tidak membuat masalah sama Wulan kan?"Tanya Dika.
"Tidak."Ucap Ku emosi.
"Awas saja kalau terjadi sesuatu kepada Wulan, aku tidak akan tinggal diam sama kamu."Ucap Dika.
"Jadi kamu ancam aku?"Tanya Ibrahim kesal.
"Iya aku ancam kamu, walaupun kamu jabatannya jauh di atas aku. Tapi soal Wulan aku akan pasang badan buat dia."Ucap Dika mengigatkan.
"Tidak akan pernah terjadi sampai kapan pun."Ucap Ibrahim.
Kini mereka berdua berjaga bersama dalam keadaan kesal satu sama lain.
Di satu sisi Wulan sedang gelisah tidak menentu di toko, kini Wulan pulang ke rumahnya karena hari sudah sangat malam.
Wulan dan Hani membereskan toko masing-masing sebelum pulang ke rumah, setelah selesai mereka beres-beres toko. Kini mereka pulang ke rumah.
"Akhirnya selesai juga ya Lan."Ucap Hani.
Wulan hanya tersenyum saja.
"Kamu masih kepikiran soal hati kamu yang gelisah itu?"Tanya Hani penasaran.
"Iya teh, sampai sekarang itu masih."Ucap Wulan.
"Yasudah semoga nanti sampai di rumah sudah hilang dan tidak terjadi apa-apa."Ucap Hani memeluk Wulan.
"Aaaamiin."Kata Ku tersenyum.
"Yasudah ayo kita pulang Lan, besok kamu tenangin pikiran kamu di rumah saja karena besok kamu libur kan?"Tanya Hani.
"Iya besok aku libur teh."Kata Ku tersenyum.
Mereka berdua akhirnya pulang ke rumah masing-masing, beberapa menit kemudian Wulan telah sampai di rumah.
Tok...Tok...Tok... suara pintu di ketuk.
"Asssalamuallaikum ma."Ucap Wulan tersenyum karena takut mamanya tau soal perasaannya.
"Waaallaikumsalam kak, kamu bawa apa itu kak?"Tanya Mama penasaran.
"Oh ini tadi aku di kasih sama Ibrahim."Kata Ku tersenyum.
"Cie...Cie...Cie semakin hari semakin romantis saja dia, mama doakan semoga hubungan kalian baik-baik saja dan semoga kamu di restui oleh mamanya Ibrahim."Ucap Mama memeluk Wulan.
"Aaamiin ma."Ucap Ku tersenyum.
__ADS_1
"Yasudah kak, sanah mandi dan masuk ke dalam kamar."Ucap Mama.
Wulan hanya menganguk saja dan langsung menuju ke dalam kamarnya, sampailah Wulan di dalam kamarnya.
Ia meletakan tas dan paper bag yang di kasih oleh Ibrahim tadi di taruh di atas meja, Wulan langsung bergegas mandi lalu bersih-bersih badan.
Beberapa menit kemudian Wulan selesai dari mandi, lalu dia buka lah ponselnya dahulu karena seharian ia tidak melihat ponsel. Dimana takut ada pesan penting atau informasi dari kerjanya atau pun dari kampus.
Wulan membuka ponselnya, ternyata dia keterima di salah satu sekolah dasar yang tidak jauh dari rumahnya. Tapi ia keterima sebagai Tata usaha.
Rasa di dalam hati Wulan seketika senang dan bahagia, karena dia akan dapat penghasilan tambahan di sanah.
"Alhamdulillah terimakasih yaallah atas rezekinya."Ucap Wulan memeluk ponselnya dan tersenyum.
Setelah Wulan mengecek ponselnya, ia melihat ke arah paper bag di atas mejanya.
"Oh iya aku belum buka isi di dalam paper bagnya apa."Ucap Wulan.
Wulan menghampiri paper bag dan di buka lah isi di dalam paper bagnya itu, Wulan yang kaget melihat isi di dalamnya itu.
"Apa sebuah dress?"Tanya Wulan terkejut.
"Tapi buat apa dia kasih aku seperti ini?"Tanya Wulan heran.
"Padahal dia tau kalau aku sekarang pakai hijab, kenapa kasih dress?"Tanya Wulan penasaran.
"Apa aku tanya saja ya sama dia?"Tanya Wulan.
"Ah iya lebih baik aku tanya saja lah, dari pada aku penasaran."Ucap Ku.
Kini Wulan mengambil ponselnya dan kirim pesan kepada Ibrahim.
"Assalamuallaikum mas, terimakasih ya atas kado kamu ini."
Setelah selesai Wulan kirim pesan kepada Ibrahim, Wulan menaruh ponselnya di atas kasur dan merapihkan kembali dressnya agar rapih kamarnya.
Wulan merebahkan badannya di atas kasur, sambil menunggu balasan Ibrahim.
Di kapal Ibrahim dan Dika sedang bertugas, suara ponsel Ibrahim bergetar tanda pesan masuk.
Lalu di buka lah pesan itu, Ibrahim yang kaget melihat isi pesan ternyata adalah Wulan.
Ibrahim langsung membalasnya, ia mengetik dengan bahagia.
Dika yang berada di sanah dan melihat Ibrahim yang sedang bahagia timbul berbagai pertanyaan.
"Itu orang kenapa senyam senyum seperti itu?"Tanya Dika di dalam hati.
Dika merasa kesal, langsung dia pergi dari sanah dan mencari tempat yang sunyi untuk menenangkan pikirannya.
Lalu datang lah Diki menghampiri Ibrahim.
"Bagaimana tadi kamu ketemu sama atasan?"Tanya Diki.
"Iya tadi aku sudah ketemu sama atasan."Ucap Ku.
"Lalu apa katanya?"Tanya Diki penasaran.
"Aku sama Dika di tugaskan untuk menjaga perbatasan, namun kita di tempatkan yang berbeda."Ucap Ku.
"Lalu kalian kapan akan berangkat?"Tanya Diki penasaran.
"3 hari lagi, setelah urus berkas-berkas."Ucap Ku.
"Terus kenapa kamu tadi terlambat datang?"Tanya Diki.
"Baiklah kita cari tempat yang lain."Kata Diki.
Ibrahim dan Diki mencari tempat lain yang tidak di jangkau oleh orang lain, agar pembicaraannya tidak di dengar oleh siapa pun.
Dika yang melihat gelagat kedua temannya itu.
"Mereka mau kemana?"Tanya Dika heran.
"Kenapa mereka ngobrol sampai jauh begitu?"Tanya Dika heran.
"Tidak seperti biasanya, pasti tidak ada yang beres ini. Lebih baik aku ikuti saja."Ucap Dika.
Dika membuntuti mereka berdua dari belakang.
Kini mereka sudah sampai di salah satu tempat yang menurut mereka aman.
"Jadi kenapa kamu terlambat?"Tanya Diki.
"Aku tadi di telpon oleh ibu ku, lalu aku di suruh pulang ke rumah. Namun pas saat di rumah tiba-tiba sudah banyak orang di rumah untuk merencanakan pertunangan aku bersama Ayu."Ucap Ibrahim.
"Apa kamu akan bertunangan bersama Ayu?"Teriak Dika dari kejauhan yang mendengar suara Ibrahim.
Diki dan Ibrahim yang kaget mendengar suara Dika itu, dan langsung berbalik badan menengok ke arah belakang.
"Sejak kapan kamu di sanah?"Tanya Diki.
"Apa kamu membuntuti kita?"Tanya Ibrahim.
"Iya aku membuntuti kalian berdua, aku curiga kenapa kalian berdua ngobrol sampai sejauh ini. Dan ternyata soal ini."Ucap Dika emosi sambil mengepal tanggannya.
"Sabar Dika."Ucap Diki mengampiri Dika.
"Gimana tidak emosi, orang ini sudah di bilang dari awal jika tidak bisa membahagiakan Wulan lebih baik di lepaskan saja dan aku siap membahagiakannya."Ujar Dika.
"Sabar Dika, kita belum mendengar penjelasan dari dia."Kata Diki.
"Tidak perlu penjelasan dari dia, aku sudah tau jawabannya apa."Ucap Dika.
Dika yang emosi sudah di ubun-ubun itu langsung meninju Ibrahim, lalu di tangis oleh Ibrahim.
Di sanah mereka berdua berkelahi satu sama lain, Diki yang melihat situasi makin rumit. Langsung melerai mereka.
"Stop!!!"Teriak Diki.
"Kalian apa-apaan sih berkelahi di sinih?"Tanya Diki heran.
"Diam kamu tidak usah ikut campur, ini masalah aku dan dia."Ucap Dika emosi.
"Iya tapi bisa di selesaikan dengan kepala dinggin."Ucap Diki.
"Aku bisa saja selesaikan dengan kepala dinggin, tapi dia tidak bisa."Ucap Dika.
"Eh kamu belum dengar penjelasan aku tadi kan, aku belum jawab apa pun soal pertunangan itu. Soalnya tadi keburu di ada pangilan telpon jadi aku tidak menjawab apa pun."Ucap Ibrahim kesal.
"Iya bagus lah kalau kamu tidak menjawab apa pun."Ucap Diki.
"Alah itu hanya bisa-bisa kamu saja, lagi pula kamu punya waktu 3 hari untuk menjawab sebelum tugas."Ucap Dika.
"Aku akan jelasin mereka dan akan menolak perjodohan mereka."Ujar Ibrahim.
__ADS_1
"Aku tidak yakin kamu akan seperti itu, karena kamu itu masih ragu dan bimbang akan cinta kamu."Ucap Dika.
Ibrahim hanya terdiam dan mencerna apa ucapan dari Dika itu.
"Kenapa Dika bisa bilang seperti itu sama aku?"Tanya Ibrahim di dalam hati.
"Apa dia tau, kalau aku ragu akan pilih yang mana yang terbaik."Gumam Ibrahim.
Dika yang melihat ekspresi muka Ibrahim itu ada yang aneh.
"Kenapa kamu tidak bisa menjawab aku tadi?"Tanya Dika.
"Kamu masih ragu sama Wulan atau Ayu mana yang terbaik?"Tanya Dika.
"Aku udah yakin sedari awal kalau kamu tidak bisa menjaga Wulan dan membahagiakan Wulan dengan sunguh-sunguh."Ucap Dika meninggi.
Ibrahim menghampiri Dika, ia kesal akan ucapan Dika. Kini mereka berdua kembali berkelahi.
Brugh... suara pukulan Ibrahim kepada Dika.
Brugh... suara pembalasan pukulan Dika kepada Ibrahim.
Mereka tiada henti-henti berkelahi.
"Ayo pukul lagi sinih kalau berani."Ucap Dika menantang Ibrahim.
Namun di cegah oleh Diki.
"Stop!!!"Teriak Diki.
"Sampai kapan kalian akan terus berkelahi?"Tanya Diki heran.
"Apa kalian tidak bisa berdamai saja dan mencari wanita yang lain selain Wulan?"Tanya Diki.
"Masih banyak wanita yang lain yang lebih baik dan cantik dari Wulan."Ucap Diki.
Namun di jawab oleh mereka berdua bersamaan.
"Tidak akan pernah mencari wanita lain, Wulan yamg terbaik."Ucap Mereka bersamaan.
Diki yang mendengar ucapan kedua sahabatnya itu di buat kaget dan geleng-geleng kepala.
"Yasudah terserah kalian saja lah, aku pusing dengarnya."Ucap Diki pergi meninggalkan mereka.
Dika dan Ibrahim mukanya yang sudah memar dan babak belur akibat perkelahian tadi, mereka berdua langsung membalut luka mereka masing-masing sebelum mereka kembali ke dalam kosan.
Setelah selesai membalut luka, kini mereka berdua kembali berjaga sebelum besok mereka mengurus surat tugas berlayar.
Pagi hari sinar matahari sudah mulai muncul diatas langit, kini mereka berdua kembali untuk ke kosan dan memulai mengurus berkas-berkas.
Sampailah mereka di kosan, mereka langsung mandi dan bersih-bersih diri, setelah selesai dari bersih-bersih diri mereka hendak mempersiapkan berkas-berkasnya.
"Aku mau antar Umi kerja dahulu.Ucap Dika.
"Iya, lagi pula juga kantor bukanya jam 9 pagi. Sekarang baru jam 6 pagi."Ucap Ibrahim melihat jam di tanggan.
"Tunggu aku di sanah."Ucap Dika.
"Iya."Ucap Ku.
Kini Dika meninggalkan kosan dan mengantar Umi sekalian kasih tau bahwa dia akan bertugas jauh di Papua selama 1 tahun.
"Apa Umi akan sedih ya kalau aku tugasnya jauh?"Tanya Dika menghelaikan napas.
"Lebih baik aku segera ke kosan Umi deh."Ucap Dika.
Kini Dika sampai di kosan Umi.
Tok...Tok...Tok... suara pintu di ketuk oleh Dika.
"Assalamuallaikum, sayang ini aku."Ucap Dika.
Namun tidak ada jawaban dari Umi.
"Apa ia masih tertidur ya?"Tanya Dika heran.
"Tapi kalau dia tertidur, lalu kemana Dina tidak menjawab?"
"Atau jangan-jangan terjadi sesuatu sama mereka berdua?"
"Aku harus tanya sama Diki."
Dika mengeluarkan ponselnya dan bertanya sama Diki.
Dika menelpon Diki.
"Hallo Diki, Aku sudah sampai di kosan Umi sama Dina namun tidak ada jawaban dari mereka berdua."
"Kira-kira kamu tau tidak mereka berdua sedang ada dimana?"
Diki menjawab.
"Apa kamu sudah ada di sanah?"
"Lalu tidak ada tanggapan dari mereka?"
Dika menjawab.
"Iya tidak ada jawaban sama sekali."
"Kira-kira mereka kemana ya?"
"Aku jadi khawatir."
Diki menjawab.
"Mungkin mereka masih tidur kali, karena semalam kata Dina ia dan Umi sedang karaoke karena atasan mereka sedang ulang tahun."
Dika menjawab.
"Tapi ada yang aneh Dik, tidak seperti biasanya mereka seperti ini."
Diki menjawab.
"Sudah kamu jangan khawatir, aku coba telpon Dina dahulu ya."
Dika menjawab.
"Baiklah aku tunggu, soalnya aku telpon dan kirim pesan namun ponsel Umi tidak aktif jadi aku khawatir sama dia."
Diki menjawab.
"Yasudah lebih baik kamu pulang ke kosan saja, kan kamu harus mengurus berkas-berkas nanti. Insyaallah mereka tidak apa-apa."
"Baiklah, sekarang aku pulang."Ucap Dika.
__ADS_1
Dika meninggalkan kosan Umi dan kembali ke kosannya untuk mengurus berkas.