Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
86. ANDK


__ADS_3

Fashback on


Hari dimana kejadian Wulan dan Umi tertabrak, Wulan dan Umi habis selesai berafing bareng dan mereka hendak pulang. Namun di tengah jalan mereka berpisah karena beda arah, Umi hendak menyebrang itu dan situasi dalam keadaan sepi dan sunyi namun Umi tidak mendengar sama sekali suara klakson kendaraan yang ada di belakang dia.


Wulan yang melihat ke arah kejadian itu, langsung berteriak kencang.


"Kak, awas di belakang kamu ada mobil!!!"Teriak Wulan dengan keras.


Namun tidak di dengar Umi karena pakai heandsheet, Wulan yang panik dan melihat kejadian langsung berlari menyelamatin Umi. Sayang seribu sayang Wulan dan Umi malah tertabrak oleh kendaraan itu, mereka berdua mental satu sama lain.


Wulan seketika melihat ke arah Umi.


"Kak!!!"Teriak Wulan sambil memegang tanggan Umi namun tidak sampai.


Wulan pun tak sadarkan diri karena banyak darah yang keluar, di sanah nampak sepi tidak ada seorang pun yang lewat. Wulan dan Umi masih terbujur dengan banyak darah di badan mereka.


Beberapa menit kemudian, tukang beca melintas di jalan itu. Kemudian ia bantu menolong Umi dan Wulan. Tukang beca itu merasa iba dan sedih melihat kondisi mereka berdua.


"Yaallah ada yang tabrakan."Ucapnya.


Ia langsung berteriak memangil warga yang lain meminta bantuan.


"Tolong...Tolong...Tolong...!!!"Teriaknya.


Beberapa warga di sanah yang mendengar mereka langsung berlari menuju sumber suara untuk membantu.


"Ada apa pak?"Tanya Warga.


"Tolong saya pak, ada yang tertabrak."Kata Ku panik.


"Astagfirullohalazim, ayo semua bapak-bapak bantu mba ini dan yang di sanah."Ucap Warga.


Mereka berdua langsung menolong Wulan dan Umi, kemacetan parah pun terjadi di lokasi kejadian. Para warga sedang menolong korban kejadian dan memindahkannya ke tepi agar tidak terlalu parah macetnya.


Di sisi Lain Irwan dan pacarnya sedang pulang sehabis kerja, ia melintas jalan di sanah menuju rumahnya.


"Kenapa macet separah ini?"Tanya Irwan aneh.


"Aku tidak tau."Ucapnya.


"Yasudah aku lihat dahulu, kamu tunggu di sinih saja."Kata Irwan.


Irwan melangkahkan kaki dan menuju tempat kejadian, Irwan yang melihat kejadian itu dan membuat terkejut ternyata yang tertabrak adalah Wulan yang dimana ibubya sangat setuju samanya.


"Yaallah itu kan Wulan."Ucap Irwan dengan mulut tertutup.


Irwan berlari dan mendekati Wulan yang sedang tergeletak di tolong warga.


"Ada apa ini bapak-bapak?"Tanya Irwan heran.


"Ini mas mereka berdua korban dari kecelakaan."Ucap Warga.


"Yasudah bawa masuk ke mobil saya saja mas, saya kenal dengan korban."Kata Ku.


"Kalau boleh tau mas siapanya?"Tanya Warga.


"Saya saudara dari korban ini."Kata Ku sambil tunjuk ke arah Wulan.


"Baiklah bapak-bapak, bantu untuk membawa mba ini ke dalam mobil masnya untuk di bawa ke rumah sakit."Ucap Warga.


Irwan dan warga lain sedang membantu mengangkat tubuh Wulan dan Umi yang penuh dengan darah, untuk di bawah ke rumah sakit terdekat.


Di sisi lain Diki dan Dina sedang melintas di jalan itu untuk kembali ke kosan Dina.


"Kenapa di depan macet sekali?"Tanya Dina heran.


"Kamu tunggu di sinih saja, aku mau cek dahulu."Ucap Diki.


"Baiklah."Kata Dina.


Diki keluar dari mobil dan melihat kejadian itu, Diki mengahmpiri salah satu warga di sanah untuk menanyakan kejadian apa.


"Maaf pak saya mau tanya, ini macet kenapa ya?"Tanya Diki.


"Di depan katanya ada 2 orang wanita tertabrak."Ucap Warga.


"Lalu korban gimana pak?"Tanya Diki penasaran.


"Mereka berdua sudah di bawa oleh saudaranya ke rumah sakit terdekat."Kata Warga.


"Oh begitu pak, terimakasih banyak pak."Kata Ku tersenyum.


Diki segera menuju mobilnya untuk mengantarkan Dina kembali, sampailah Diki di dalam mobil.


"Itu tadi kecelakaan apa kak?"Tanya Dina.


"Ada yang tertabrak dan sudah di bawa ke rumah sakit terdekat."Ucap Diki.


"Korbannya siapa kak?"Tanya Dina.


"2 orang wanita."Kata Diki.


"Kenapa perasaan aku jadi tidak enak ya kak?"Tanya Dina heran.


"Sudahlah tidak perlu banyak di pikirkan, yang penting kamu harus berpikir positif."Ucap Diki mengelus kepala Dina.


Dina hanya menganguk saja dan tersenyum ke arah Diki, Kini mereka berdua melanjutkan perjalanan kembali


Setelah selesai mereka membawa ke mobil Irwan


"Terimakasih banyak bapak-bapak sudah mau membantu saudara saya."Kata Irwan.


"Iya mas, cepat antar mereka berdua ke rumah sakit."Ucap Warga.


Di dalam mobil Nina yang melihat korban itu dan langsung terkejut.


"Loh itu siapa sayang?"Tanya Nina.


"Itu adalah saudara aku, kasihan dia tertabrak kendaraan."Ucap Irwan panik.


"Baiklah, ayo kita toling dan bawa ke rumah sakit."Ucap Nina.


Irwan dan Nina membawa Wulan dan Umi ke rumah sakit.


"Sayang ayo cepat sedikit bawa mobilnya, kasihan saudara kamu dan temannya sudah banyak kehabisan darah."Ucap Nina yang melihat darah Wulan bercucuran kemana-kemana.


"Iya iya ini sudah sangat cepat aku bawanya."Ucap Irwan panik dan cemas.


"Semoga kita bisa dapat menolong mereka."Kata Dina melihat kondisi Wulan.


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit, Irwan dan Nina masuk dan memanggil suster.


"Suster tolong, ada yang kecelakaan."Ucap Nina.


Suster datang dan membantu Irwan serta Nina mengeluarkan Wulan dan Umi dari dalam mobil mereka, nampak Irwan panik dan khawatir melihat kondisi Wulan.


Wulan dan Umi di bawa masuk ke ruang IGD untuk segera di tangganim oleh dokter.


"Kalian tunggu di sinih saja, biar dokter yang menangani mereka."Ucap Suster.


Irwan dan Nina menganguk, kemudian Irwan segera ke informasi untuk mendata nama pasien.


"Sebentar sayang, aku ke informasi dahulu mau mendata pasien dan mau menghubungi pihak keluarga."Kata Ku.


"Baiklah, kamu segera urus dahulu. Aku tunggu di sinih saja dan sambil menunggu dokter."Ucap Nina.


"Nanti kalau terjadi apa-apa sama saudara aku, kamu segera kabarin ke aku."Ucap Irwan panik.

__ADS_1


Nina hanya menganguk saja, Irwan melangkahkan kaki menunju informasi.


Sampailah Irwan di informasi, Irwan memberikan data Wulan kepada pihak rumah sakit.


Irwan sedang gelisah kian menentu, ia bingung mau hubungi pihak keluarga dari Wulan namun tidak punya kontak keluarga Wulan.


"Aduh aku harus hubungi siapa?"Tanya Irwan di dalam hati yang kesal.


"Yasudah aku tinggalkan nomor aku saja di sinih, jadi nanti pihak rumah sakit akan segera langsung menelpon aku."Gumam Irwan.


Setelah selesai Irwan mengisi data-data Wulan dan Umi, ia segera kembali ke ruangan IGD dimana tempat Wulan dan Umi di rawat.


Nina yang melihat Irwan telah kembali itu dan menghampiri Irwan.


"Kamu sudah menghubungi keluarganya?"Tanya Nina penasaran.


"Iya sudah, katanya akan segera ke sinih."Kata Ku berbohong di dalam hati.


"Syukur alhamdulillah, semoga saudara kamu tidak terjadi hal serius."Kata Nina menenangakan Irwan.


"Iya terimakasih sayang."Ucap Irwan tersenyum.


Mereka berdua sedang menunggu dokter keluar dari ruangan IGD, mereka berdua harap-harap cemas di sanah. Irwan mondar mandiri di depan ruangan IGD ia sedang memikirkan mengenai keluarga Wulan.


"Bagaimana ini aku harus menghubungi siapa?"Tanya Irwan di dalam hati yang bingung serta cemas.


Nina yang melihat sang pacar bingung dan cemas, ia menghampiri Irwan.


"Sayang lebih baik kita shalat dahulu untuk mendoakan mereka."Ucap Nina.


"Kamu saja yang shalat, biar aku yang tunggu di sinih."Kata Irwan.


"Baiklah aku shalat dahulu."Kata Nina.


Nina pergi untuk shalat, Irwan sedang menunggu di sanah yang penuh panik itu. Namun ia dapat telpon dari orang rumah untuk segera pulang karena hari sudah malam.


Kring...Kring...Kring... suara telpon berbunyi.


Irwan melihat telponnya, ternyata sang ibu yang menelpon untuk segera pulang.


"Aduh aku harus jawab apa ini?"Tanya Irwan di dalam hati yang panik dan gelisah.


Irwan mau tidak mau mengangkat telpon itu.


"Assalamuallaikum bu."


"Waaallaikumsalam de, lagi dimana kenapa belum sampai di rumah?"


"Aku masih di jalan bu, aku sama Nina sedang istirahat untuk shalat dahulu."


"Yasudah sehabis itu langsung pulang."


"Baik bu."


Kemudian ponselnya berhenti, mau tidak mau Irwan berbohong kepada Ibu. Beberapa menit kemudian Nina sudah selesai dari shalat.


"Sudah selesai shalatnya?"Tanya Irwan.


"Sudah."Kata Nina.


"Yasudah, ayo kita pulang ya."Kata Irwan.


"Tapi bagaimana dengan saudara kamu?"Tanya Nina heran.


"Aku tadi sudah menelpon ibunya, dan ia akan segera ke sinih."Ucap Irwan.


"Apa tidak sebaiknya kita menunggu dokter menjelaskan dahulu saja?"Tanya Nina.


"Yasudah kita nunggu dokter keluar saja."Ucap Irwan.


Karena Irwan tidak tega melihat Wulan seperti itu, mau tidak mau ia harus menunggu dokter keluar dari IGD.


"Bagaimana dok, dengan saudara saya?"Tanya Irwan khawatir.


"Maaf anda siapanya korban?"Tanya Dokter.


"Saya keluarga dari beliau."Kata Irwan.


"Dimana ibunya?"Tanya Dokter.


"Ibunya sedang menuju ke sinih, memangnya ada masalah serius dok?"Tanya Irwan penasaran.


"Iya dia harus melakukan transfusi darah, karena korban kehabisan banyak darah."Kata Dokter.


"Apa transfusi darah???"Ucap Irwan terkejut.


"Iya karena korban, sedikit terlambat di bawah ke rumah sakit. Jadi korban banyak mengeluarkan darah."Kata Dokter.


"Lalu golongan darahnya apa?"Tanya Irwan.


"Golongan darah korban cukup langkah, yaitu A positif dan di rumah sakit kami hanya tersisa beberapa kantung saja."Ucap Dokter.


"Baiklah dok, nanti saya akan sampaikan kepada ibunya mengenai ini."Ucap Irwan.


"Baiklah, jika ibunya sudah sampai kami harap bisa melakukan transfusi darah."Ucap Dokter.


"Baik dok, terimakasih."Kata Irwan.


Dokter pergi meninggalkan ruangan, Irwan melihat dari luar ruangan itu nampak sedih.


Nina menghampiri Irwan dan mengelus bahu Irwan, Nina memberikan semangat dan suport kepada Irwan untuk tegar dalam menghadapi masalah.


"Kamu yang sabar, sekarang kamu banyak berdoa untuk saudara kamu supaya cepat sembuh dan pulih kembali."Kata Nina.


"Iya terimakasih, baiklah kalau begitu kita kembali ke rumah saja."Ucap Irwan.


Nina hanya menganguk dan mengikuti saran Irwan, mereka berdua meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah.


"Yang penting aku sudah kasih nomor ku di rumah sakit ini, nanti pihak dari rumah sakit akan menghubungi aku jika terjadi masalah serius."Batin Irwan.


Kini mereka berdua telah sampai di rumah, Irwan langsung menuju ke dalam kamarnya. Namun di lihatlah muka Irwan sedang khawatir dan gelisah oleh Ibu.


Kemudian Ibu menghampiri Irwan dan masuk ke dalam kamarnya untuk menanyakan kondisi anaknya.


"Ada masalah apa di kantor sampai wajah kamu khawatir dan panik seperti itu?"Tanya Ibu heran.


Irwan hanya diam saja tidak menjawab.


"Kenapa kamu hanya diam saja?"Tanya Ibu penasaran.


"Itu bu."Ucap Irwan.


"Itu apa?" Kalau berbicara yang jelas."Kata Ibu.


"Wulan bu."Kata Ku.


"Ada apa sama Wulan?"Tanya Ibu.


"Wulan masuk rumah sakit."Kata Ku.


"Sakit apa dia?"Tanya Ibu penasaran.


"Dia mengalami kecelakaan tadi waktu aku hendak pulang ke rumah mengantarkan Nina."Ucap Ku.


"Lalu bagaimana sekarang dengan kondisinya?"Tanya Ibu khawatir.


"Iya mengalami banyak darah dan harus di transfusi darah."Ucap Irwan.

__ADS_1


"Lalu sudah di transfusi darah belum?"Tanya Ibu khawatir.


"Belum bu, karena pihak keluarganya belum ada yang datang. Aku bingung harus hubungi siapa?"Tanya Irwan.


"Yasudah besok antar ibu ke sanah saja, biar ibu menjadi mamanya Wulan."Ucap Ibu.


Irwan hanya menganguk saja.


"Wulan andai kamu tau betapa sangat sayang dan sukanya ibuku sama kamu."Batin Irwan.


"Yasudah ibu kembali ke kamar, besok sebelum kamu kerja kita ke rumah sakit."Ucap Ibu.


"Baik bu."Kata Ku.


Kini mereka berdua hendak tidur karena hari sudah sangat larut malam.


Pagi hari mereka hendak ke rumah sakit menjenguk Wulan.


"Ayo buruan de, kasihan Wulan di sanah."Kata Ibu.


"Iya bu."Kata Ku.


Irwan dan Ibu berangkat menuju rumah sakit. Sampailah mereka di rumah sakit mereka menuju ke ruangan Wulan di rawat, namun ia melihat ternyata di sanah sudah ada Mama Wulan dan Dina. Kemudian mereka menghampirinya untuk menanyakan kabar Wulan.


"Bagaimana kondisi Wulan bu?"Tanya Ibu Irwan.


"Wulan masih kritis di dalam bu, sekarang ia sedang membutuhkan banyak darah."Ucap Mama.


"Golongan darah apa Wulan?"Tanya Ibu.


"A positif bu, di rumah sakit hanya tersisa beberapa sama dan ini sedang di cari oleh teman Wulan di luar rumah sakit."Ucap Mama.


"Semoga segera dapat darahnya."Ucap Ibu.


"Iya aamiin, kalau boleh tau kalian siapanya anak saya?"Tanya Mama.


"Saya ibunya Irwan dan ini anak saya."Kata Ibu.


"Salam kenal tante."Ucap Irwan.


Ibu dan Mama sedang tegang di sanah sambil berdoa, Irwan sedang mengangkat telpon dari kantor. Setelah selesai telpon Ibu dan Irwan izin pamit untuk kembali ke kantor.


"Tante maaf sebelumnya, saya dan Ibu saya mohon izin pamit untuk kembali ke rumah karena saya tadi dapat telpon untuk kembali bekerja."Kata Irwan.


"Oh iya nak terimakasih banyak sudah mau jenguk Wulan, doakan Wulan segera sembuh dan hati-hati di jalan."Ucap Mama.


"Iya tante selalu aku doakan."Kata Ku mencium tanggan Mama.


"Yasudah jeng, saya pamit dahulu semoga Wulan segera sembuh kembali."Ucap Ibu sambil cipika cipiki.


"Terimakasih banyak jeng."Kata Mama.


Kini mereka berdua pamitan kepada Mama Wulan, Irwan mengantarkan Ibu ke rumah sebelum ia kembali ke kantor.


Kembali ke cerita.


Setelah Dika menghubungi Wulan tadi, ia nampak terkejut melihat wajah Wulan pucat itu.


"Apa aku harus telpon Diki saja ya untuk menanyakan masalah ini?"Tanya Dika.


Dika kembali menghubungi Diki.


Kring...Kring...Kring... suara telpon berbunyi.


"Hallo, ada apa?"


"Kamu sedang dimana?"


"Aku sedang di kosan baru sampai."


"Aku mau tanya mengenai Wulan."


Diki mendengar Dika khawatir langsung terkejut.


"Aku harus jawab apa ini?"Tanya Diki di dalam hati.


Kemudian Dika kembali berbicara.


"Hallo, kamu mendengar suara saya tidak?"


"Iya aku dengar, kamu mau tanya apa?"


"Apa selama ini Wulan sedang sakit?"


"Wulan baik-baik saja."


"Lalu kenapa wajah dia pucet sekali?"


"Kamu sudah kembali ke Jakarta?" Tanya Diki terkejut.


"Belum, tadi saya habis video call sama Wulan dan melihat wajah Wulan pucat sekali seperti sedang sakit."


"Apa kamu tau dia kenapa?"


Diki sempat berpikir kembali dan ragu untuk berkata jujur atau tidak, Diki menghelaikan napas sesaat.


"Kamu tidak ada sesuatu yang di sembunyikan dan berbohong sama aku kan?"


Diki mau tidak mau berkata jujur.


"Jadi Wulan waktu kamu hendak ke kampung halaman, Wulan dan Umi mengalami kecelakaan di sekitar tempat ia kerja. Lalu Wulan mengalami banyak pengeluaran darah dan harus di transfusi darah."


"Apa kecelakaan?" Kenapa kamu tidak menghubungiku?"Tanya Dika kesal.


"Aku sudah hubungi kamu, namun ponsel kamu mati."


Dika mengingat kembali ponselnya yang ia matikan di dalam pesawat untuk menghemat baterai dan untuk menelpon keluarga di sanah.


"Iya maafkan aku, waktu itu aku sengaja di matikan karena baterai aku sisa sedikit dan untuk menelpon keluarga di kampung."Ucap Dika penuh dengan penyelesalan.


"Lalau bagaimana sama Wulan?"


"Untuk sekarang Wulan tidak bisa menigat kejadian waktu itu, ia mengalami cidera di bagian kepalanya yang membuat sebagian ingatan pada kejadian itu."


"Atagfirullohalazim kasihan sekali, lalu sudah sejauh mana kasus ini di tanggani?" Tanya Dika kesal.


"Pihak dari Umi sudah melaporkannya kepada pihak berwajib dan sudah melakukan pencarian bukti-bukti."


"Alhamdulillah semoga hasilnya baik."


"Iya, kamu di sanah tenang saja karena masih ada aku yang mantau Wulan dari sinih. Selesaikan saja tugasmu di sanah dan kembali dalam keadaan sehat serta selamat."


"Iya terimakasih banyak, toling titip Wulan dan jaga dia. Jika ada masalah seperti ini lagi aku harap kamu kabari aku secepatnya."


"Iya sama-sama, aku pasti akan jaga Wulan."


"Yasudah itu saja yang mau aku tanyakan sama kamu."


"Iya."


Telpon dimatikan oleh Dika, Dika masih cemas mendengar tentang kesehatan Wulan itu dan berpikir.


"Apa aku salah kemarin pulang kampung dan meninggalkan Wulan?" Kalau tau kejadiannya seperti ini aku tidak akan pulang kamu. Pantas saja di kampung aku merasa gelisah dan tidak enak ternyata terjadi sesuatu sama Wulan."Batin Dika kesal dan kecewa.


"Aku hanya bisa berdoa untuk kesehatan kamu dari sinih Lan."Gumam Dika.


Dika sedari tadi gelisah tak menentu itu, ia panik dan khawatir setelah mendengar kabar tentang kondisi Wulan. Rasanya ia ingin sekali untuk pulang ke Jakarta dan menemani Wulan, namun sayangnya ia tidak bisa meninggalkan tugas negaranya itu.

__ADS_1


Rasa penyesalan di dalam hati Dika mulai bergejolak kian tak menentu, ia memulai putus asa dan merasakan kecewa di dalam dadanya itu.


__ADS_2