Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
59.Caffe


__ADS_3

Dika dan Diki mau tidak mau menerima tawaran dari Ibrahim untuk menyayikan 1 buah lagu.


"Ayo cepat langkah kaki kalian."Ujar Ibrahim dengan senyum jahatnya.


"Iya iya."Ucap mereka bersamaan.


Kini mereka bertiga sampai lah di tempat Live music.


"Mas, teman saya mau membawakan sebuah lagu untuk pacar."Bisik Ibrahim kepada vocalis di sanah.


"Baiklah."Ucap Vocalis itu sambil kasih mikrofon kepada Dika.


"Ayo cepat nyayi kalian berdua, aku tunggu di bawah."Ujar Ibrahim.


Dika dan Diki hanya menganguk dan mengikuti perintah Ibrahim, Ibrahim meninggalkan mereka dan kembali duduk di kursi semula sambil menikmati secangkir kopi dan sepiring kentang goreng yang ia pesan.


Dika dan Diki mengambil microfon dan gitar untuk dimainkan.


"Kamu main gitar yang benar ya."Ucap Dika.


"Siap."Ujar Diki.


Kini suara gitar telah di petik oleh Diki dan diiringi oleh musik yang lainnya, intro sudah di dapat oleh Dika. Dika membuka suara falsnya itu dan memulai bernyayi menyalurkan suara falsnya di depan semua penonton di sanah.


"Lagu ini aku persembahkan untuk 2 orang wanita yang sedang duduk di sanah."Ujar Dika sambil menunjuk ke arah Umi dan Dina.


Di meja Dina dan Umi.


"Gawat kita ketahuan kak."Ujar Dina panik.


"Tenang jangan panik."Ucap Umi.


"Gimana tidak panik, mereka menunjuk ke arah kita coba."Ucap Dina sambil menundukan kepala.


"Kita ikuti saja permainan mereka, sambil kita ambil video mereka bermain gitar dan bernyayi."Ucap Umi.


"Baiklah, aku akan videoin mereka dan akan kirim ke Wulan juga."Kata Dina sambil mengeluarkan ponselnya.


"Bagus."Ujar Umi tersenyum.


Dina telah siap dengan ponselnya untuk merekam video yang hendak mereka nyayikan.


Suara tepuk tanggan penonton mengiringin intro musik mereka dan tatapan mata penonton mulai melirik ke arah Umi dan Dina.


Prok..


Prok...


Prok...


Kini Dika memulai menyayikan lagu yang berjudul "Kekasih Terhebat" By : Anji.


Cekidot....


Biarkan aku jadi yang terhebat


Jadilah kamu kekasih yang kuat


Aku manusia yang paling butuh kamu


Membutuhkanmu


Hatiku memalingkan pandang hanya padamu


Pada hatimu


Jangan lelah


Menghadapiku


Refff : Biarkan aku jadi yang terhebat


Jadilah kamu kekasih yang kuat


Genggam tanganku bernyanyi bersama


Karena kamu kekasih terhebat


Aku manusia yang paling butuh kamu


Membutuhkanmu


Jangan lelah


Menghadapiku


Biarkan aku jadi yang terhebat


Jadilah kamu kekasih yang kuat


Genggam tanganku bernyanyi bersama


Karena kamu kekasih terhebat…


Dika menyayikan lagunya dengan penuh penghayatan, kini lagu sudah dinyayikan.


Suara tepuk tanggan penonton mulai ramai dan sorak penonton memberikan ucapan kepada mereka.


"Terimakasih."Ucap Dika menundukan kepala.


"Lagi...Lagi...Lagi..."Ucap Penonton Antusias.


"Sabar semuanya, baiklah kali ini kita undang bintang kita saja yaitu bapak Ibrahim untuk maju ke depan pangung."Ucap Dika dengan senyum jahatnya.


"Sial, aku kena juga."Ujar Ibrahim sambil tepuk jidat itu.


"Ibrahim...Ibrahim...Ibrahim..."Ujar penonton.


"Ayo dong bapak kita nyayi bareng di sinih."Ujar Diki.


Ibrahim mau tidak mau mengikuti perintah mereka.


"Baiklah aku mau."Ujar Ibrahim menarik nafas panjang.


"Beri tepuk tanggan kepada bapak Ibrahim."Ucap Dika senyum jahat.


Prok...Prok...Prok...


"Syukurin kamu akhirnya kena juga kan."Batin Dika.


Ibrahim sampai di aula Live musik itu.


"Mana sinih mikrofonnya?"Tanya Ibrahim kesal.


"Sabar dong Dan, jangan emosi."Kata Diki.


"Kalian iringi aku bernyayi atas hukuman kalian menyuruh saya, ini perintah."Ucap Ibrahim kesal.


"Siap."Kata Diki.


"Siap."Kata Dika.


Mereka semua mengambil posisi untuk bermain musik dan bernyayi, mereka bertiga seperti anak band yang terkenal karena sudah ahli dalam memainkan alat musik.


Kini mereka membawakan sebuah lagu yang berjudul "Terimakasih Cinta." by. Afgan.


Suara gitar telah di petik oleh Dika dan Diki dan diiringi oleh musik yang lain.


Sorak penonton mulai berdatangan memuji suara ciri khas mereka.


"Beruntung sekali ya yang jadi pacarnya."Ucap Penonton.


"Iya, aku sampai baper deh."Kata Penonton.


"Aku jadi pengen dia jadi pacar aku."Ujar penonton lainnya.

__ADS_1


Di sisi Umi dan Dina.


"Apa sinih wanita-wanita itu memuji pacar kita."Kata Dina kesal.


"Sudah jangan di dengarin, kita perhatikan ke arah pangung saja sambil merekam Ibrahim bernyayi habis itu baru di kasih lihat videonya kepada Wulan."Ucap Umi.


"Iya iya maaf."Ujar Dina menarik nafas panjang.


Mereka berdua akhirnya tidak menghiraukan ketiga wanita yang sedang terkesima oleh Dika, Diki dan Ibrahim di pangung, mereka mulai mereka video Ibrahim bernyayi buat Wulan.


Di pangung.


"Lagu ini aku persembahkan untuk wanita yang selalu berada di hati ku selamanya tidak akan terpisahkan."Ujar Ibrahim.


Kini Ibrahim mulai bernyayi.


Cekidot...


Tersadar didalam sepiku


Setelah jauh melangkah


Cahaya kasihmu menuntunku


Kembali dalam dekap tanganmu


Terima kasih cinta untuk segalanya


Kau berikan lagi kesempatan itu


Tak akan terulang lagi


Semua kesalahanku


Yang pernah menyakitimu


Tanpamu tiada berarti


Tak mampu lagi berdiri


Cahaya kasihmu menuntunku


Kembali dalam dekap tanganmu


Reff : Terima kasih cinta untuk segalanya


Kau berikan lagi kesempatan itu


Tak akan terulang lagi


Semua kesalahanku


Yang pernah menyakitimu


Terima kasih cinta untuk segalanya


Kau berikan lagi kesempatan itu


Tak akan terulang lagi


Semua kesalahanku


Kesalahanku


Yang pernah menyakitimu.


"Loh kemana Wulan ya, kok tidak ada berada diantara mereka berdua?"Gumam Ibrahim di dalam hati.


"Apa Wulan belum pulang kerja?"Tanya Ibrahim di dalam hati sambil melihat ke arah sekitar.


"Habis dari sinih aku ke rumahnya saja, untuk memastikan kalau dia sudah pulang ke rumah."Batin Ibrahim.


Ibrahim yang bernyayi tidak focus itu karena pikiran masih kepada Wulan yang tidak bisa hadir.


Mereka bertiga selesai dari bernyayi itu.


Namun Ibrahim langsung turun ke bawah pangung dan menghampiri Dina dan Umi.


"Hei tunggu."Ucap Diki.


Dika dan Diki meninggalkan pangung dan berlari mengerjar Ibrahim.


"Terimakasih ya pak."Ucap Mereka bersamaan.


Dika dan Diki berlari menuju dimana Ibrahim berlari, sampailah mereka di meja Umi dan Dina.


"****** kak, mereka bertiga ke arah kita."Ucap Dina menundukan kepala.


"Tenang...Tenang mungkin mereka ke arah lain bukan ke kita."Ujar Umi menundukan kepala.


"Bagaimana ini kita kak?"Tanya Dina panik.


"Mau tidak mau kita harus mengaku saja, dan meminta maaf habis itu kita bujuk mereka lagi supaya tidak marah."Ucap Umi parno sambil menarik nafas panjang.


"Baiklah kak, itu ide bagus."Kata Dina tersenyum.


"Kita hitung sampai tiga ya."Kata Umi sambil mengeluarkan tanggannya.


"Oke kak."Kata Dina.


"1...2...Tig..."Ujar Umi yang belum selesai dari menghitung itu karena Ibrahim sudah sampai di meja mereka.


"Kalian melihat Wulan tidak?"Tanya Ibrahim.


"Kamu siapa ya?"Tanya Dina dan Umi pura-pura tidak tahu.


"Sudah jangan banyak alasan, penyamaran kalian sudah kita ketahui sejak kalian datang."Ucap Ibrahim.


"Apa jadi kita sudah ketahuan sejak lama?"Tanya Mereka.


"Iya, jawab pertanyaan aku tadi."Kata Ibrahim tegas.


"Aku tidak sama Wulan, kita hanya berdua saja."Kata mereka bersamaan.


"Benar kalian tidak bersama Wulan?"Tanya Ibrahim curiga.


"Iya, ngapain kita berbohong."Ucap Mereka bersamaan.


Ibrahim pergi meninggalkan mereka berdua dan menuju ke parkiran.


Dika dan Diki sudah sampai di meja Dina dan Umi sambil menarik tanggan mereka menuju parkiran.


"Auh, sakit...sakit bang."Teriak Umi.


"Diam kamu, nanti saja ngoceng pas di motor. Sekarang ayo kita pulang."Ucap Dika.


Dika dan Diki menarik pacar mereka masing-masing, dan membawa mereka untuk pulang ke rumah.


"Bro, kamu naik mobil saja. Biar aku sama pacar aku naik motor."Ucap Dika.


"Siap."Ucap Diki mengambil kunci mobil dan memasukan Dina ke dalam mobil.


"Cepat masuk ke dalam."Ucap Diki kepada Dina.


"Iya iya."Ucap Dina mematuhi perintah Diki.


Kini mereka semua meninggalkan caffe dan menuju ke rumah masing-masing.


Di sepanjang perjalanan Dika dan Umi hanya berdiam saja tanpa suara layaknya menaiki ojek online diam dan mematung.


Di sisi lain Diki dan Dina saling tatap menatap satu sama lain.


"Ayo jelaskan sama aku, maksud kamu apa pakai pakaian seperti itu?"Tanya Diki melihat Dina.


"Bukan apa-apa kok, ini style terbaru kak."Ucap Dina tersenyum.

__ADS_1


"Tidak usah ngeles, jawab yang jujur."Ucap Diki dengan nada tinggi.


"Aku berkata yang sebenarnya."Kata Dina melirik Diki.


"Lalu kenapa kalian bisa sampai di caffe itu?"Tanya Diki.


"Apa kalian mengikuti kami dari rumah Ibrahim?"Tanya Diki.


Dina hanya diam saja tanpa menjawab apa pun.


Di dalam hati Dina sambil berpikir.


"Gawat, aku harus menjawab apa ini?"Tanya Dina di dalam hati sambil panik.


"Hei malah melamun, kamu punya mulut tidak sih?"Tanya Diki dengan nada tinggi.


"Bisa tidak kamu tidak bilang dengan keras kak?" Aku masih punya telingga yang baik."Kata Ku kesal.


"Habis dari tadi aku ajak ngobrol kamu hanya diam dan mematung tanpa menjawab apa pun."Kata Diki kesal.


Kini Dina diam kembali karena malas berdebat.


"Astagfirullohalazim Dina."Teriak Diki kesal sambil memukul stir mobilnya.


Diki menarik nafas panjang dan memakirkan mobilnya untuk tidak emosi sesat.


"Aku harus tenang, ayo kamu bisa mengendalikan emosi Diki."Batin Diki menarik nafas panjang.


Kini emosi Diki sudah reda dan dia kembali menanyakan kepada Dina dengan kepala dinggin.


"Baiklah, aku mengalah dan meminta maaf sama kamu. Aku janji tidak akan berkata kasar seperti itu lagi."Ucap Diki tersenyum.


Dina yang melihat ekspresi dari muka Diki yang sudah berubah menjadi semula tidak ada emosi dan kesal, kini Dina menatap Diki.


"Baiklah kak, aku maafkan kamu."Ucap Dina tersenyum.


"Terimakasih."Kata Diki memeluk Dina.


Dina yang di buat kaget oleh perlakuan Diki yang tiba-tiba memeluk itu.


"Iya sama-sama."Ucap Dina dalam pelukan Diki.


Kini mereka kembali berdamai seperti semula kala.


Di sepanjang perjalanan Dika dan Umi hanya diam mematung tanpa berkata apa pun.


Tiba-Tiba suara perut Umi berbunyi.


Kruyuk...


"Yaallah malu banget aku."Batin Umi.


"Semoga saja Dika tidak mendengarnya."Gumam Umi.


Akhirnya Dika mencairkan suasana.


"Laper?"Tanya Dika.


"Iya bang."Ucap Umi menutup mulutnya.


"Memangnya tadi di sanah tidak pesan makanan?"Tanya Dika heran.


"Hanya minun saja bang."Ucap Umi melirik Dika.


"Yasudah kita mampir makan ya?"Ucap Dika.


"Ah ternyata dia tau lagi dan mendengar suara perut yang tidak pas."Gumam Umi.


Umi hanya menganguk saja, kini mereka tiba di sebuah tempat makan tidak jauh dari kosan Umi.


Di restoran.


Mereka berdua sedang duduk di sanah sambil membuka menu makanan.


"Mau makan apa bang?"Tanya Umi.


"Tidak usah aku temanin kamu saja, tadi aku sudah makan di rumah alm."Ujar Dika.


"Lalu kenapa kamu bawa aku ke sinih, kalau kamu sudah makan ?"Tanya Umi kesal.


"Tadi di perjalanan kamu laper?"Tanya Dika.


"Masa aku makan sendiri bang."Ujar Umi melas.


"Tapi aku kenyang sayang."Ucap Dika mengelus kepala Umi.


"Aku pesan minum saja ya sama cemilan."Kata Umi melas.


"Jangan dong, nanti kamu laper gimana?"Tanya Dika heran.


"Biarin saja tinggal pesan saja, atau cari makan keluar kosan."Kata Umi kesal.


Dika mengambil nafas panjang dan menahan emosinya agar tidak meluap di tempat umum.


"Baiklah aku pesan makan juga."Kata Dika melirik ke arah Umi.


"Oke aku pesanin."Ucap Umi tersenyum.


Dika hanya menganguk saja, Umi pergi meninggalkan Dika dan pesan makanan.


Sesampainya Umi di tempat duduk mereka, suasana masih adem ayem belum ada yang memulai obrolan karena mereka terlalu sibuk dengan ponsel masing-masing.


"Eeeehhhhmmmm."Ucap Dika berdehem.


Umi langsung melirik ke arah Dika.


"Apa kamu tidak mau mengatakan sesuatu sayang?"Tanya Dika menatap mata Umi.


"Eee...Eee..."Ucap Umi terbata-bata.


"Kenapa kamu jadi gagu sayang?"Tanya Dika menaikan satu alisnya.


"Anu bang."Ucap Umi memainkan tanggannya.


"Anu apa?" Kalau bilang itu yang jelas, agar aku mengerti."Ucap Dika curiga.


"Tapi, kamu janji tidak akan marah ya?"Tanya Umi dengan muka melas agar di maafkan.


"Itu tergantung kesalahan kamu."Kata Dika mengoda Umi.


Umi menghelaikan nafas panjang dan berpikir sejenak.


"Apa aku harus bilang yang sejujurnya kepada Dika, bahwa aku sudah memantau dan mengikuti mereka berdua?"Tanya Umi di dalam hati sambil gelisah.


"Loh kamu kenapa jadi melamun?"Tanya Dika.


"Yasudah kalau kamu tidak mau cerita, tidak apa kok. Tapi aku paling tidak suka punya pacar yang pembohong dan tidak setia."Ucap Dika mengelus kepala Umi.


Umi masih diam tanpa suara karena bingung mau jelasin apa sama Dika, Dika berganti topik pembicaraan.


"Giman tadi aku nyanyinya keren tidak?"Tanya Dika menatap Umi.


Seketika Umi berubah mukanya menjadi ceria.


"Alhamdulillah dia sudah tidak marah lagi."Batin Wulan menghelaikan nafas panjang dan tersenyum ke arah Dika.


"Bagus banget bang, aku tidak menyangka kamu bisa bernyayi seperti itu."Kata Ku tersenyum.


"Iya bisa dong, sayang saja bakat aku tidak bisa tersalurkan karena pekerjaan aku yang padat."Ucap Dika menaikan satu alisnya.


"Maafin aku sayang, aku masih marah sama kamu karena kamu tidak jujur sama aku. Di tambah lagi kamu memantau aku dari jauh tanpa bilang kepada aku."Batin Dika menatap Umi.


Kini pesanan mereka datang.


"Ayo dimakan, tadi katanya lapar."Kata Dika terseyum.

__ADS_1


Umi hanya menganguk saja, kini mereka makan malam bersama.


__ADS_2