Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
61. ANDK


__ADS_3

Pagi hari sinar matahari telah menyinari di setiap sudut kamar Wulan.


Wulan bangun dari tempat tidurnya dan segera menuju ke tempat kerja, karena hari ini ada jadwal training produk baru.


Wulan yang senyam senyum sendirian di pagi hari karena mendapat kado dari seorang tidak di kenang.


"Dari siapa ya ini kado?"Tanya Wulan heran melihat sebuah kotak berisikan cicin emas bermata satu yang manis jika Wulan memakainya.


"Apa dari Ibrahim ?"Tanya Wulan sambil berpikir.


"Tapi kalau dari Ibrahim tidak mungkin, karena dia sedang berduka dan tidak kirim pesan sama aku."Ucap Wulan.


"Apa dari Dika ya?"Tanya Wulan menaikan alisnya.


"Kalau dari Dika kenapa dia kasih cicin ini sama aku ya?"Tanya Wulan berpikir sejenak.


"Apa tanda minta maaf Dika sama aku, tapi Umi tau tidak ya kalau Dika kasih ini sama aku."Ujar Wulan menatap cicin yang ia pakai.


"Sebaiknya aku pakai saja deh, nanti setelah selesai istirahat aku baru kirim pesan kepada mereka berdua ucapan terimakasih atas kadonya."Kata Ku tersenyum.


Wulan pergi mandi dan langsung pergi ke tempat kerja.


"Ma, aku pergi dulu ya!!!"Teriak Wulan.


"Loh tidak sarapan dulu kak?"Tanya Mama.


"Tidak sempat ma, aku ada training pagi di kantor."Ucap Ku.


"Hati-Hati di jalan ya sayang."Kata Mama sambil melambaikan tanggannya.


"Iya."Kata Ku tersenyum.


Wulan pergi membawa motor menuju ke stasiun karena hari ini adiknya sedang libur dari sekolahnya.


"Dasar anak itu kalau buru-buru pasti tidak sarapan."Kata Mama sambil mengelangkan kedua kepalanya.


Wulan tiba di stasiun kereta api, Wulan menunggu kereta datang untuk menuju ke kantornya.


Wulan duduk di salah satu bangku yang berada di stasiun itu sambil menunggu kereta datang, Wulan mengeluarkan ponselnya agar tidak bosan menunggu di sanah.


"Apa sebaiknya aku kirim pesan ya sama Ibrahim dan Dika atas hadiah yang mereka kasih?"Tanya Wulan berpikir.


"Iya sebaiknya aku kirim pesan saja deh, dan sambil menunggu mereka balasannya apa."Ujar Wulan.


Wulan Kirim pesan kepada Ibrahim.


"Assalamuallaikum mas, selamat pagi maaf mengangu waktunya. Aku cuman mau bilang terimakasih atas kado yang kamu kasih di rumah aku tadi malam."


"Sudah selesai aku kirim pesan kepada Ibrahim."Ujar Wulan menghelaikan nafas.


Kini tibalah Wulan kirim pesan kepada Dika.


Wulan mengetik pesan kepada Dika.


"Apa aku kirim pesan sama Dika ya, tapi nanti takut di baca sama Umi."Ucap Wulan menghapus pesannya.


"Aaaahhhh!!!"Teriak Wulan sambil mengacak rambutnya.


Sontak membuat di sekitar tempat Wulan menunggu pada menengok ke arah Wulan yang berteriak.


"Waduh mereka pada kenapa itu melihat aku seperti itu?"Tanya Wulan heran.


"Apa karena tadi aku teriak ya?"Gumam Wulan menatap ke arah mereka.


Wulan menarik napas panjang dan meminta maaf kepada semua yang berada di sanah.


"Maaf ya bapak dan ibu."Ucap Wulan tersenyum dan meminta maaf karena sudah berteriak.


Mereka semua meninggalkan dan bubar dari Wulan, tidak lama kemudian kereta api datang Wulan langsung menaiki kereta karena waktu sudah mepet lagi.


Wulan duduk di dalam kereta sambil stasiun dimana Wulan berhenti dan segera ke kantor, namun pas Wulan duduk ternyata di sebelah Wulan adalah mas-mas yang waktu itu sudah membantu Wulan membeli kartu kereta api.


"Kamu."Ucap Wulan kaget dan menunjuk ke arahnya.


"Loh kita ketemu lagi di sinih dan satu gerbong kereta dan duduk bersampingan."Ujar Irwan.


"Mau kemana mas?"Tanya Wulan.


"Mau kerja, kamu mau ke kantor juga?"Tanya Irwan.


"Iya mas."Ujar Wulan.


"Oh iya kita belum kenalan, kenalin nama aku Irwan."Ujar Irwan tersenyum.


"Salam kenal mas, nama aku Wulan."Kata Ku membalas senyumnya.


"Salam kenal Wulan."Ujar Irwan.


Wulan hanya menganguk saja dan tersenyum, kini tibalah Wulan sudah sampai di stasiun dimana tempat Wulan turun.


"Stasiun berikutnya adalah stasiun Juanda, mohon kepada para penumpang untuk memeriksa barang bawaan anda dan berhati-hati pada saat melangkah turun."Ucap Cs kereta api.


Wulan yang mendengar pemberitahuan itu hendak bersiap-siap turun.


"Maaf ya mas, sepertinya aku duluan ya."Kata Ku melambaikan tanggan.


"Iya hati-hati di jalan."Ujar Irwan.


Wulan turun dari stasiun dan menuju ke kantornya, kini Wulan sudah sampai di kantor Wulan.


"Huh, akhirnya sampai juga."Ucap Wulan menghelaikan napas.


"Baru datang ?"Tanya Devi melirik ke arah Wulan.


"Iya kak."Kata ku tersenyum.

__ADS_1


"Yasudah sanah pakai lipstik pucat itu muka kamu, cepat dandan nanti trainer datang.


"Iya teh."Kata Ku mengeluarkan alat make up.


Devi yang sedari tadi melihat Wulan dandan dan menatap ke arah tanggan Wulan.


"Widih cicin baru ini."Ucap Devi melirik ke arah tanggan Devi.


"Udah lama ini, cuman jarang di pakai."Kata Ku sambil memakai lipstik.


"Tapi kok aku tidak tau ya kamu ada cincin."Ucap Devi heran.


"Mau pakai lipstik juga tidak teh, lipstik kamu sudah luntur itu."Ucap Wulan mengalihkan pembicaraan Devi.


"Seriusan kamu?"Tanya Devi sambil merampas kaca di tanggan Wulan.


"Oh iya kamu benar Lan, lipstik aku sudah mulai luntur. Aku minta saja deh punya kamu ya."Ucap Devi memakai alat make up Wulan.


"Itu kan apa yang aku bilang tadi teh."Ucap Wulan tersenyum.


"Ah kamu paling bisa mengalihkan pembicaraan saja."Ucap Devi memakai lipstik.


Wulan hanya tersenyum saja ke arah Devi.


"Alhamdulillah Devi tidak curiga dan memikirkan hal macam-macam."Batin Wulan.


"Kamu kenapa melamun seperti itu?"Tanya Devi heran.


"Bukan apa-apa kok teh."Kata Ku tersenyum.


"Menurut aku cicin kamu bagus di pakai di jari kamu yang mungil itu."Ucap Devi sambil menatap tanggan Wulan dan kasih alat make up Wulan.


"Masa sih teh?"Tanya Wulan tersenyum.


"Iya, terimakasih ya atas lipstiknya."Ucap Devi.


Kini trainer tiba di ruangan, dan mereka memulai untuk training hari ini. Mereka semua mendengar arahan yang di sampaikan oleh trainer tentang produk baru.


Di kapal.


"Semoga saja Wulan suka sama kado dari aku dan langsung memakainya."Batin Ibrahim tersenyum.


Datanglah Dika dan Diki menuju ke arah Ibrahim.


"Kamu kenapa senyam senyum sendiri pagi-pagi?"Tanya Dika heran.


"Oh ini mah, aku tau dia habis dapat hadiah dari Wulan."Ucap Diki meledek Ibrahim.


"Hadiah apa ?"Tanya Dika curiga.


"Hadiah selamat pagi."Ujar Diki meledek Ibrahim.


Dika hanya tersenyum saja dengan ucapan Diki.


"Alhamdulillah bukan hadiah yang tidak-tidak."Batin Dika menghelaikan napas.


"Terus kamu melamun apa?"Tanya Mereka berdua sambil menaikan satu alisnya.


Tibalah ponsel Ibrahim bergetar tanda pesan masuk dari Wulan, Ibrahim langsung membuka pesannya itu.


"Akhirnya kamu kirim pesan juga."Gumam Ibrahim.


Namun Ibrahim tidak sadar di lihat oleh kedua sahabatnya isi pesan dari Wulan, dan kedua sahabatnya langsung mengoda Ibrahim.


"Cie cie benar kan apa kata aku tadi sang pujaan hatinya mengirim pesan pagi hari."Ujar Diki melirik ke arah Ibrahim.


"Oh jadi kalian berdua sedari tadi mengintip pesan aku."Kata Ibrahim menaruh tanggannya di dagu.


"Kami berdua tidak sengaja sih melihat pesannya."Ujar mereka kompak menjawab.


"Alah kalian berdua paling bisa ngeles saja."Ujar Ibrahim meninggalkan mereka berdua.


"Mau ke mana?"Tanya Mereka berdua.


"Mau seduh kopi dulu."Ucap Ibrahim pergi begitu saja.


Ibrahim langsung membalas pesan kepada Wulan.


"Waallaikumsalam Lan, pagi Lan maaf baru di balas tadi ada teman aku yang rese melihat isi pesan dari kamu. Sama-Sama semoga kamu suka sama pemberian aku itu.


Ibrahim menaruh ponselnya dan menikmati secangkir kopi sambil menikmati anggin laut yang sejuk dan pemandangan laut yang indah.


"Kamu seperti Laut, luas dan cantik tapi tidak bisa di miliki."Batin Ibrahim menatap laut yang begitu cantik.


Dika yang sedari tadi menatap Ibrahim yang sedang menatap laut sambil melamun itu.


"Sampai kapan kamu akan menyakiti Wulan seperti itu?"Batin Dika bertanya.


"Jika kamu mau melepaskan Wulan, biar aku saja yang membahagiakannya dan menjaga dia dengan baik serta membuat dia tersenyum."Batin Dika menatapnya.


Diki yang melihat kedua sahabatnya sedang melamun itu dan langsung menghampiri kedua sahabatnya.


"Kamu sedang menatap Ibrahim seperti itu kenapa sih?"Tanya Diki heran sambil menepuk bahu Dika.


"Oh ini, aku sedang melihat Ibrahim kasihan dia sedang banyak pikiran."Kata Dika melihat Ibrahim.


"Iya aku juga berpikir seperti itu."Ucap Diki menarik napas panjang.


"Yasudah kita sama-sama doakan saja yang terbaik buat dia."Ucap Dika.


Dika dan Diki masuk ke dalam ruangan dan meninggalkan Ibrahim yang sedang melamun.


Di rumah Ningsih.


"Aku harus mulai dari Wulan dahulu."Ucap Ningsih.

__ADS_1


"Aku ajak Wulan saja untuk ketemuan hari ini."Ujar Ningsih berpikir.


Ningsih langsung mengirim pesan kepada Wulan.


"Assalamuallaikum Lan, ini aku Ningsih maaf kalau ganggu waktu kamu. Aku mau ajak kamu untuk bertemu hari ini bisa tidak?"


"Aku sudah selesai mengirim pesan kepada Wulan, tinggal nunggu balasan dari Wulan."Kata Ku tersenyum.


"Sekarang aku kirim pesan kepada Rahayu."Ucap Ningsih.


Ningsih mengirim pesan kepada Rahayu.


Assalamuallaikum ayu, ini aku Ningsih yang sewaktu acara tahlilan di rumah Ibrahim. Kamu masih ingat kan?" maaf kalau ganggu waktu kamu. Aku mau ajak kamu untuk bertemu hari ini bisa tidak?"


"Akhirnya aku sudah selesai kirim pesan kepada mereka berdua."Ucap Ningsih.


Ningsih menaruh ponselnya di atas meja dan segera mandi, Ningsih mandi dan tiba-tiba ponselnya bergetar tanda pesan masuk.


"Loh ini ada pesan masuk dari siapa ya ?"Tanya Ayu.


Ayu membuka pesannya.


"Oh jadi ternyata dari Ningsih, tapi dia dapat nomor aku dari siapa ya?"Tanya Ayu heran.


"Aku balas saja deh pesannya."Ucap Ayu.


Ayu memulai untuk mengetik pesan Ningsih untuk segera di balas.


Ayu membalas pesan Ningsih.


"Waaalaikumsalam mba, salam kenal ya. Mohon maaf mba hari ini aku tidak bisa untuk bertemu sama mba, karena posisi aku sedang shift malam. Kamu dapat nomor saya dari siapa ya?"


"Sudah selesai aku membalasnya, sekarang aku kembali bekerja."Ucap Ayu.


Beberapa menit kemudian Ningsih sudah mandi dan mengecek ponselnya kembali, ternyata sudah di balas oleh Ayu.


Ningsih mengambil ponselnya dan melihat isi pesan yang ternyata di balas oleh Ayu.


"Yes akhirnya di balas juga, tapi dia tidak bisa hari ini."Ucap Ningsih melihat ponselnya.


"Apa aku tanya saja ya dia liburnya hari apa?"Tanya Ningsih menaruh tanggannya di dagu.


Ningsih mengirim pesan kepada Ayu.


"Maaf baru balas Ayu, gimana kita ketemunya kalau kamu libur saja. Aku dapat nomor kamu dari kak Rahma dan aku ada sesuatu yang mau aku sampaikan kepada kamu soal Ibrahim."


Suara ponsel Ayu bergetar tanda pesan masuk.


"Eh di balas sama Ningsih."Ujar Ayu mentap ponselnya.


"Dia masih ingin mengajak aku buat ketemuan lagi, apa sebaiknya aku kasih tau saja sama Ibrahim ya kalau Ningsih mau ajak aku ketemuan."Ucap Ayu berpikir.


"Tapi dari tadi pagi sampai sekarang Ibrahim tidak ada kabarnya, kemana ini anaknya?"Tanya Ayu heran.


"Apa sebaiknya aku hubungi Ibrahim saja deh, nanti aja aku balasnya nunggu ada solusi dari dia."Ucap Ayu.


Ayu hanya membaca pesan Ningsih dan menghubungi Ibrahim.


Kring...Kring...Kring...


"Kok tidak diangkat ya?"Tanya Ayu heran.


"Apa dia sedang berjaga atau dia belum banggun tidur ya ?"Tanya Ayu heran.


"Ah lebih baik aku kembali bekerja saja deh, nanti saja aku balasnya setelah aku sampai di rumah."Ucap Ayu.


Ayu menaruh ponselnya di atas meja dan kembali bekerja.


Ningsih sedari tadi sedang menunggu balasan dari Ayu itu tidak kunjung balas hanya membaca pesannya saja.


"Huh kesal deh, kenapa kamu hanya membaca saja sih tanpa menjawab."Ucap Ningsih emosi.


"Kalau emang tidak mau di balas tidak usah di baca saja."Ujar Ningsih kesal.


"Ini lagi Wulan kemana kenapa ponselnya hanya ceklis satu saja."Ucap Ningsih semakin kesal.


"Apa dia sedang kerja ya?"Tanya Ningsih berpikir.


"Apa nanti aku ke tempat Wulan kerja saja ya, biar enak ngobrolnya karena kalau bikin janji sama dia suka tidak bisa terus dan lagi pula dia selalu nolak untuk diajal ketemu. Kalau aku langsung datang ke sanah pasti dia tidak bisa menolaknya lagi."Ucap Ningsih tersenyum jahat.


Ningsih menaruh ponselnya di atas meja dan mulai persiapan suatu rencana untuk balas dendam.


Di kantor Wulan kerja.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga hari ini trainingnya."Ucap Wulan.


"Iya alhamdulillah ya Lan."Kata Devi tersenyum ke arah Wulan.


Wulan hanya tersenyum dan menatap Devi.


"Lan kamu hari ini bareng saja ke tokonya sama aku, hari ini aku bawa mobil ke sinih."Ujar Devi.


"Tumben kamu bawa mobil teh?"Tanya Wulan heran.


"Iya kemarin mobil aku masuk bengkel, jadi aku di kasih pinjam mobil pacar aku dan aku di suruh bawanya karena kasihan kalau lihat aku naik ojek."Ucap Devi.


"Tidak usah teh aku takut ngerepotin."Ucap Wulan.


"Tidak kok, lagi pula kita searah ini kan dan lagi pula kalau kamu naik kereta mau sampai di toko jam berapa coba."Ujar Devi.


"Yaudah deh aku ikut kamu saja."Ucap Wulan tersenyum.


"Nah gitu dong, tapi kita cari makanan dahulu ya sebelum kita pergi ke toko."Ucap Devi.


"Iya teh."Kata Ku.

__ADS_1


Mereka berdua menuju ke parkiran, kini mereka berdua perdi meninggalkan kantor dan hendak kembali ke toko.


Bersambung,,,


__ADS_2