Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
83. ANDK


__ADS_3

Kini mereka sampai di rumah Wulan, mereka berdua melangkahkan kaki untuk mengetuk pintuk.


Tok...Tok...Tok... suara pintu di ketuk.


"Assalamuallaikum!!!"Teriak mereka berdua.


Di dalam rumah Wulan.


Mama sedang memasak, Wulan sedang istirahat di kamarnya karena kondisinya masih lemas dan kedua adiknya sedang bersekolah.


Di dapur Mama mendengar suara pintu di ketuk dan teriak kepada Wulan.


"Kakak, tolong bukakan pintu di depan ya. Mama sedang masak lagi tidak bisa di tinggal."Pungkas Mama.


Wulan yang mendengar suara teriakaan sang ibu itu mulai berlari menuju ke depan, sampailah Wulan di depan rumahnya.


"Iya sabar!!!"Teriak Wulan.


Kini pintu di buka, Wulan nampak kaget kalau ternyata yang datang adalah kedua temannya.


"Ayo masuk."Ajak Wulan.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah Wulan.


"Silahkan duduk."Ucap Wulan.


Mereka berdua duduk di sofa.


"Kalian berdua tumben ke sinih?"Tanya Wulan heran.


"Kami berdua mau jenguk kamu."Ucap Diki.


"Kemarin kami tidak bisa antar kamu pulang karena kita sedang bekerja."Pungkas Diki.


"Iya tak apa. Aku mengerti."Ujar Wulan.


Kemudian Dina mendekati Wulan dan memegang tanggan Wulan.


"Gimana kondisi kamu?"Tanya Dina menatap wajah Wulan yang sudah lebih baik.


"Alhamdulillah aku sudah mendingan kak."Kata Ku.


"Alhamdulillah syukur lah."Ucap Dina tersenyum.


Kemudian Wulan baru tersadar karena tamunya belum di berikan air.


"Oh iya aku lupa, sebentar ya."Kata Ku.


Kemudian Wulan meninggalkan mereka dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil air, sampailah Wulan di dapur.


Wulan menuangkan 2 gelas air minum untuk tamu, Mama menghampiri Wulan.


"Siapa yang datang kak?"Tanya Mama heran.


"Itu Dina sama pacarnya."Kata Ku.


"Yasudah antar minuman sama cemilan sanah."Ucap Mama.


Wulan hanya menganguk dan mengambil cemilan, Kemudian Wulan mengantar minuman dan makanan.


Sampailah Wulan di ruang tamu.


"Maaf ya agak lama nunggu."Kata Ku tersenyum.


"Iya tidak apa."Ucap Mereka bersamaan.


"Silahkan di minum, maaf ya cuman bisa di suguin seperti ini."Kata Ku tersenyum.


"Iya tidak perlu repot-repot kok."Kata Mereka bersamaan.


Wulan hanya tersenyum saja, kini mereka minum.


"Gimana kabar kak Umi?"Tanya Wulan penasaran.


"Umi baik-baik saja, dan ia sudah masuk bekerja. Semoga kamu sudah bisa masuk kerja."Kata Dina.


"Iya insyaallag besok aku sudah mulai masuk kerja."Ucap Wulan tersenyum.


Diki mengeluarkan kado yang di titip oleh Dika untuk di kasih kepada Wulan.


"Lan ini ada titipan dari Dika buat kamu."Ucap Diki mengeluarkan kado.


"Oh apa ini kak?"Tanya Wulan melihat sekitar kado.


"Aku tidak tau itu isinya apa, nanti kamu coba saja tanya sama Dika dan aku harap kamu nerimanya."Ucap Diki.


"Iya terimakasih kak."Ucap Wulan tersenyum.


"Sama-Sama."Kata Diki.


"Lalu Dika kemana kak?"Tanya Wulan penasaran.


"Dika sama Ibrahim sedang bertugas."Ucap Diki.


"Tugas???"Teriak Wulan heran.


"Iya mereka ada tugas untuk menjaga perbatasan negara."Kata Diki.


"Oh, lalu mereka di tugaskan dimana?"Tanya Wulan penasaran karena sebagian dari memorynya tidak ada yang ia ingat.


"Dika ke Papua selama 1 tahun, sedangkan Ibrahim menyelesaikan kembali tugas di Natuna selama 3 bulan."Ucap Diki.


Wulan hanya mengaguk dan tersenyum.


Tidak terasa waktu semakin siang hari, sinar matahari sudah terik di atas langit dan menyinari bumi.


Diki melirik ke arah Dina untuk kasih kode segera pulang ke rumah karena hari semakin siang, sedangkan Dina yang paham arti kode itu dan langsunh berpamitan.


"Kalau begitu kita pamit pulang dahulu ya Lan."Ucap Mereka bersamaan.


"Oh iya kak, terimakasih sudah mau jenguk aku."Kata Ku.


Kini mereka berdua pergi meninggalkan rumah Wulan, untuk kembali ke kosannya.


Wulan masuk ke dalam rumah, namun tiba-tiba suara ponsel Wulan berbunyi. Wulan berlari menuju ke kemar untuk menjawab telpon.


Kring...Kring...Kring... suara ponsel Wulan berbunyi.


"Hallo."Kata Ku.


"Wulan gimana keadaan kamu?"Tanya Fauzan.


"Alhamdulillah bang sudah membaik, aku baru saja pulang dari rumah sakit."Kata Ku.


"Alhamdulillah kalau begitu, nanti abang dan kawan-kawan akan jenguk ke rumah kamu."Ucap Fauzan.


"Terimakasih bang, sudah mau perhatian dan peduli sama Wulan."Ucap Ku.

__ADS_1


"Iya sama-sama, nanti setelah pulang kerja kita ke sanah ya."Kata Fauzan.


"Iya bang Wulan tunggu."Kata Ku.


"Yasudah itu saja ya Lan. Assalamuallaikum."Ucap Fauzan.


"Waaallaikumsalam bang."Kata Ku.


Kini telpon di matikan, Wulan menaruh ponselnya dan membuka kado dari Dika.


"Apa ya kira-kira isinya?"Tanya Wulan heran sambil melihat kiri dan kanan kotak.


Wulan membuka kado itu, lalu Mama yang melihat anaknya sedang membuka kado dan menghampiri Wulan.


"Kado dari siapa kak?"Tanya Mama penasaran.


"Loh sejak kapan Mama ada di dalam kamar kak?"Tanya Wulan terkejut.


"Tadi kak, soalnya pintu kamu terbuka lebar seperti itu."Ucap Mama.


"Dari Dika ma."Kata Ku.


Dan selesailah Wulan membuka kado, dan isinya adalah sebuah kalung emas liontin.


Wulan yang melihat isi kaget di buatnya.


"Kalung???"Teriak Wulan penasaran.


"Coba Mama lihat kak?"Tanya Mama.


Wulan kasih kalung itu.


"Masyaallah kak, ini kalung emas asli dan ada suratnya lagi."Pungkas Mama.


"Masa sih ma?"Tanya Wulan heran.


"Iya kak, sinih Mama pakaikan di leher kamu."Ucap Mama.


Wulan menganguk dan membaca surat kalung itu, ternyata emang betul itu adalah kalung sunguhan.


"Maksud Dika kasih aku kalung apa ya?"Tanya Wulan heran.


"Mungkin kado ulang tahun kamu sebentar lagi."Kata Mama.


"Tapi ulang tahun aku masih 2 bln lagi ma."Ucap Wulan.


"Iya mungkin dia kasihnya sekarang kak, karena dia tidak bisa ketemu kamu karena tugas."Kata Mama keceplosan.


"Jadi Mama tau kalau Dika tugas?"Tanya Wulan terkejut.


"Iya Mama tidak sengaja mendengar ucapan kamu sama teman kamu tadi."Kata Mama.


"Oh seperti itu ma."Kata Ku.


"Yasudah kamu istirahat saja ya, Mama mau keluar dahulu."Ucap Mama.


Wulan hanya menganguk saja, sang ibu keluar dari kamar Wulan.


"Ada yang aneh sama Mama."Batin Wulan.


Wulan memperhatikan kado pemberian Dika dan cincin dari pemberian Ibrahim, ia masih bingung bukan kepala karena kedua tentara itu kasih kado kepada Wulan sebuah perhiasan yang maknanya kalau diartikam adalah untuk mengikat perempuan.


"Maksud dari mereka berdua kasih aku kado perhiasan apa ya?"Tanya Wulan di dalam hati.


"Terus mereka berdua sama-sama bertugas dan di tempatkan berbeda."Batin Wulan sambil tiduran.


Wulan bangun dari tidurnya dan mengambil ponselnya untuk kirim pesan kepada Dika.


"Assalamuallaikum kak, terimakasih atas kadonya dan aku suka."


Wulan menaruh kembali ponselnya, Wulan memejamkan matanya dan teringat akan kejadian sebelumnya namun nampak terlihat samar-samar .


"Peristiwa apa ini."Batin Ku.


"Kenapa samar-samar semua, dan aku tidak bisa mengigat satu apa pun."Gumam Wulan.


"Suara apa itu?"Tanya Wulan di dalam hatinya.


"Kenapa banyak sekali orang dan air mata di sanah."Gumam Wulan.


Wulan membuka matanya.


"Ah ternyata tadi hanya mimpi, syukur alhamdulillah kalau terjadi benaran aku tidak akan sangup."Batin Wulan menghelaikan napas sambil memejamkan mata.


Wulan mengucak matanya dan melihat sekitar kamarnya sudah banyak teman-temannya itu, Wulan terkejut melihat teman-temannya sudah datang menjenguk.


"Oh kalian sudah datang."Kata Ku.


"Maaf kami membangunkan kamu yang sedang tertidur pulas."Ucap Fauzan.


"Tak apa bang, aku saja yang tidurnya udah kaya kebo tidak mendengar suara apa pun."Kata Ku tersenyum malu.


"Bagaimana keadaan kamu?"Tanya Fauzan.


"Apakah masih sakit?"Tanya Devi.


"Alhamdulillah aku sudah mendingan, besok aku rencana mau check up ke rumah sakit dan habis itu baru masuk kerja."Kata Ku.


"Alhamdulillah abang sedang mendengarnya."Ucap Fauzan.


"Semoga lekas sembuh Lan."Ucap Devi serta Fazar memeluk Wulan.


"Terimakasih kalian sudah mau jenguk."Kata Ku tersenyum.


Mereka bertiga sedang berpelukan akan kerinduan sahabatnya yang sudah lama tidak masuk kerja karena sakit, setelah selesai menjenguk Wulan mereka bertiga kembali ke rumah masing-masing.


"Kami pamit ya Lan."Ucap Mereka bersamaan.


"Iya hati-hati di jalan, terimakasih banyak sudah jenguk."Kata Ku.


"Kalau besok masih pusing, tidak apa-apa tidak masuk Lan jangan di paksa yang ada nanti kamu malah tambah droup."Ucap Fauzan.


"Baik bang."Kata Ku.


"Semoga lekas sembuh beb."Ucap Fazar tersenyum.


"Terimakasih bang."Kata Ku tersenyum.


"Semoga lekas sembuh Lan."Ucap Devi memeluk Wulan sambil cipika cipiki.


"Terimakasih kak Devi."Kata Ku.


Kini mereka pergi meninggalkan rumah Wulan, Wulan kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Apa sudah di balas belum ya sama Dika?"Tanya Wulan.


"Apa aku coba hubungi dia saja deh."Kata Ku.

__ADS_1


Wulan mengambil ponselnya dan mencoba hubungi Dika, namun nomornya tidak aktif dan berada di luar jangkauan.


"Kenapa nomornya tidak aktif dan berada di luar jangkauan ya?"Tanya Wulan di dalam hati.


"Apa di sanah tidak ada signal?"Tanya Wulan heran.


"Atau di sanah tidak ada charger untuk mengecas ponselnya yang lowbet?"Tanya Wulan heran.


"Ah sudah lah yang penting sudah kirim pesan, nanti kalau ponselnya kembali nyala akan masuk."Kata Ku.


Wulan kemudian kirim pesan kepada Ibrahim, namun Wulan terkejut kalau kontaknya sudah berubah dari pakai foto menjadi tidak pakai foto.


"Loh kenapa kontaknya berubah?" Kenapa tidak bisa di hubungi?" Kenapa aku cari di sosial medianya tidak ada namanya?" Apa aku di blokir olehnya?" Tapi apa salah aku?" Tanya Wulan di dalam kepalanya yang membuat Wulan bingung akan kesalahan Wulan apa, setau Wulan hubungan mereka baik-baik saja tidak ada konflik apa pun.


"Aneh kedua orang itu pergi tugas secara tiba-tiba dan bersamaan, terus kontaknya tidak aktif."Ucap Wulan.


Wulan menaruh ponselnya dan segera beristirahat karena besok dia harus check up sebelum bekerja.


Pagi hari sinar matahari sudah menyinari kamar Wulan, Wulan bangun dan bersiap-siap untuk check up di rumah sakit. Setelah selesai Wulan bersiap-siap dia langsung menuju ke ruang tamu sambil menunggu Mama.


"Ma ayo nanti terlambat!!!"Teriak Wulan.


"Iya tunggu sebentar."Kata Mama.


Wulan menunggu di ruang tamu, beberapa menit kemudian Mama selesai ia langsung menuju ke rumah sakit. Sampailah mereka di rumah sakit.


Mereka berdua nunggu giliran di pangil namanya.


"Kamu gimana kak masih pusing?"Tanya Mama khawatir.


"Sudah tidak pusing ma."Kata Ku.


"Yasudah habis dari sinih kamu makan dan minum obat, baru kamu masuk kerja."Ucap Mama.


Wulan hanya menganguk dan tersenyum, kini nama Wulan di pangil.


"Atas nama Wulandari."Ucap Suster.


"Saya sus."Kata Wulan.


Wulan mengikuti suster dan masuk ke ruangan dokter.


"Permisi dok."Kata Ku tersenyum.


"Silahkan duduk de."Ucap Dokter.


Wulan langsung duduk di depan dokter.


"Bagaimana kondisi kamu?" Apakah ada yang sakit?" Atau apakah masih pusing?" Tanya Dokter.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja dok, cuman kalau pusing sedikit-sedikit dok."Kata Ku.


"Di bagian mana kamu pusing?"Tanya Dokter.


"Di kepala Dok, rasanya sakit sekali."Kata Ku.


"Apa yang membuat kamu pusing?"Tanya Dokter.


"Aku bermimpi buruk dok, terus mimpi itu seolah-olah mengigatkan aku akan suatu hal. Tapi aku tidak mengigat satu apa pun yang terjadi dan mimpi itu terlihat buram dan samar-samar."Ucap Ku.


"Seberapa sering kamu bermimpi?"Tanya Dokter.


"Sering dok, rasanya sakit sekali habis minpi itu."Kata Ku.


"Kalau saya boleh tau, kamu mimpi apa?"Tanya Dokter.


"Saya bermimpi suatu peristiwa Suatu peristiwa dimana ada air mata dan kekacauan."Kata Ku.


"Apa kamu lihat dengan jelas mimpi itu?"Tanya Dokter.


"Tidak dok, mereka terlihat buram dan samar-samar."Kata Ku.


"Baiklah, kamu bisa tunggu di luar dahulu. Saya mau bilang sama ibu kamu."Ucap Dokter.


"Baik dok."Kata Ku pergi meninggalkan dokter dan memangil mama.


Wulan keluar ruangan dan menghampiri Mama.


"Apa kata dokter?"Tanya Mama.


"Mama di suruh masuk ke dalam ruangannya."Ucap Ku.


"Yasudah kamu tunggu di sinih."Kata Mama.


Wulan menganguk dan Mama masuk ke dalam ruangannya.


"Permisi dok."Ucap Mama.


"Iya, silahkan duduk."Kata Dokter.


"Ada apa dengan putri saya dok?"Tanya Mama heran.


"Jadi beginih bu, Wulan kepalanya masih sakit dan ia mengigat kejadian di dalam mimpinya yang aneh."Ucap Dokter.


"Aneh bagaimana dokter?"Tanya Mama heran.


"Iya mengalami mimpi buruk, ia akan mengigat suatu peristiwa namun ia sendiri tidak mengigat apa pun di dalam mimpinya dan nampak buram."Ucap Dokter.


"Kalau saya boleh tau, anak saya mimpi apa dok?"Tanya Mama penasaran.


"Suatu peristiwa dimana ada air mata dan kekacauan."Ucap Dokter.


"Apa???"Teriak Mama sambil menutup mulutnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi bu?"Tanya dokter.


"Sebetulnya sebelum Wulan sakit, ia nampak ribut dengan pacarnya. Wulan di tinggal nikah oleh pacarnya Dok, namun saya sebagai orang tua belum bisa kasih tau ke anak saya karena takut membuat Wulan droup."Ucap Mama.


"Kasihan sekali Wulan, yasudah bu saya harap ibu bisa menjaga Wulan dan tidak menyuruh Wulan untuk banyak berpikir terlalu keras. Karena nanti yang ada akan berakibat fatal di kondisi badan Wulan."Ucap Dokter.


"Baik dok, saya akan bilang sama Wulan tidak akan banyak berpikir terlalu keras."Kata Mama.


"Yasudah itu saja bu yang saya mau sampaikan."Kata Dokter.


"Terimakasih banyak ya dok."Ucap Mama.


"Sama-Sama, kalau besok Wulan masih seperti ini saya sarankan untuk kembali check up selama 2bln."Ucap Dokter.


"Baik dok, saya permisi dahulu."Kata Mama.


Mama pergi meninggalkan ruangan dokter dan menghampiri Wulan.


"Bagaimana ma?"Tanya Wulan penasaran.


"Alhamdulillah kondisi kamu baik-baik saja."Ucap Mama.


"Alhamdulillah, ayo mama kita pulang."Pungkas Wulan.

__ADS_1


Mama hanya menganguk saja, kini mereka berdua pulang ke rumah untuk bersiap-siap Wulan kembali kerja.


__ADS_2