Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
51.ANDK


__ADS_3

Hari demi hari waktu berjalan dengan cepat tidak terasa sudah 2 minggu berlalu, Ibrahim tidak ada kabar sama sekali di sanah. Wulan selalu berpikir positif dengan keadaan dan pasrah sama Allah. Karena nomor telpon Ibrahim tidak aktif.


3 hari terakhir Ibrahim kasih kabar kalau dia lagi ada tugas di sanah, kemungkinan tidak ada sinyal.


Di toko


Dari tadi pagi sampai siang hari Wulan hanya melamun di toko, entah kemana pikirannya itu. Raganya di toko tapi pikiran dan hatinya kemana-mana.


"Kemana ini orang tidak kasih kabar?"Batin Wulan bertanya.


"Ah sudahlah mungkin emang dia lagi jauh tidak ada sinyal dan charger di sanah."Gumam Wulan.


"Aku tidak boleh punya pikiran negatif."Batin Wulan gelisah.


Wulan masih melamun di toko itu, datanglah Teteh bos dekatin Wulan melamun.


"Neng!!!"Ucap Teteh sambil kagetin Wulan.


"Astagfirullohalazim Teteh."Kata Wulan terkejut sambil mengelus dada.


"Mikirin apa sih ?"Tanya Teteh penasaran.


"Bukan apa-apa Teh."Ujar Ku tersenyum.


"Yakin?"Tanya Teteh menegaskan.


"Iya Teh."Kata Ku sambil peluk Teteh.


"Yasudah semangat ya."Ucap Teteh.


"Iya Teh, semangat."Ujar Wulan mengangkat tanggannya sambil emoticon semangat.


Hari berlaru dengan cepat tidak terasa sudah sore hari. Wulan pun bergegas ke masjid sambil menunggu Adzan untuk shalat berjamah di sanah. Adzan berkumandang, dan Wulan melaksanakan shalat. Setelah selesai berdoa dan melaksanakan kewajibannya ia kembali ke bawah untuk bergegas pulang. Namun ternyata di toko tidak ada orang, mau tidak mau akhirnya Wulan harus lembur kerjanya.


"Sepertinya aku tidak bisa pulang tepat waktu deh."Batin Wulan menghelaikan nafas


Kini Wulan berjaga dengan Nana berdua.


"Gimana sudah sembuh kamu Lan?"Tanya Nana.


"Sudah mba."Kata Ku.


"Aku lihatin , dari tadi pagi sampai sore kamu melamun terus ya?"Tanya Nana.


"Oh, emangnya aku seperti orang melamun ya?"Tanya Wulan heran.


"Iya, terus aku dengar juga kamu di tegor oleh Teteh ya tadi. Teteh bilang apa sama kamu?"Tanya Nana.


"Oh , Teteh hanya bilang semangat aja."Kata Ku.


"Ada masalah apa sih?"Tanya Nana.


"Tidak ada masalah apa-apa kok, perasaan kalian saja."Ujar Wulan senyum simpul.


"Kamu mau aku kenalin cowo tidak ?"Tanya Nana.


"Tidak mba, aku sudah punya pacar."Ucap Wulan tersenyum.


"Serius tidak mau Lan?"Tanya Nana.


"Iya serius Mba."Ujar Wulan.


Mereka sedang asyik ngobrol tiba-tiba ponsel Wulan berbunyi tanda pangilan dari Ibrahim.


"Eh sebentar mba, aku angkat telpon dulu."Ucap Wulan dengan senyum lebar semringah.


Nana hanya menganguk dan Wulan mengangkat telponnya jauh dari Nana.


"Assalamuallaikum mas."Ucap Wulan tersenyum penuh bahagia.


"Iya Waalaikumsalam."Ucapnya.


"Kamu gimana di sanah?" Sehat?"Tanya Wulan dengan berbagai pertanyaan di isi kepalanya.


"Iya sehat."Ucap Ibrahim penuh dengan kepanikan.


"Kamu ada apa mas?"Kok kaya kepanikan?" Tanya Wulan.


"Itu Lan, mantan suami Kakak aku membawa Kriting pergi dari rumah dan kakak aku jatuh pingsan."Ucap Ibrahim dengan panik.


"Apa???"Ucap Wulan kaget.


"Gimana ceritanya Mas?"Tanya Wulan penasaran.


"Aku juga tidak tau, selama di sinih aku jarang pegang ponsel jadi tidak tau kabar dari orang rumah."Kata Ibrahim.


"Terus kamu dapat info ini dari siapa?"Tanya Wulan curiga.


"Dari teman rumah, dia kasih video itu ke aku. Dan aku baru buka videonya sekarang."Kata Ibrahim sedih.


"Yasudah mas, kamu jangan khawatir dulu. Buang nafas dulu, terus istigfar jangan emosi dan pikirkan hal baik aja mas. Siapa tau sekarang Kriting sudah di rumah dan tidak apa-apa."Ucap Wulan menenangkan.


"Gimana aku tidak panik sayang, ponakan aku tersayang di bawa sama bapaknya itu. Tidak tau bawanya kemana, aku takut kalau terjadi apa-apa sama Kriting."Kata Ibrahim panik.


"Insyaallah tidak terjadi apa-apa mas, tidak mungkinkan seorang ayah mau celakakan anaknya sendiri."Ucap Wulan tersenyum.


Ibrahim narik nafas dan meredakan amarahnya, lalu Ibrahim sedikit lega dari amarahnya.


"Kamu sudah ketemu sama Dika belum?"Tanya Ibrahim.


"Ketemu Dika buat apa?"Tanya Wulan heran.


"Loh memangnya Dika tidak kasih tau kamu."Ucap Ibrahim.


"Kasih tau apa ?" Terus kasih apa?" Tanya Wulan bingung.


"Burungku si Red sudah di kasih sama kamu belum?"Tanya Ibrahim.


"Burung apa sih ?"Tanya Wulan bingung.


"Itu loh Burung aku dari kapal yang berwarna Hitam tapi aku kasih namanya Red, sudah di kasih belum sama Dika?"Tanya Ibrahim dengan emosi, sambil mengerutkan dahi.


"Loh memangnya kamu melihara hewan peliharaan di kapal?"Tanya Wulan.


"Iya."Ujarnya.


"Sejak kapan?"Tanya Wulan penasaran.

__ADS_1


"5 bulan yang lalu, sebelum berlayar."Katanya.


"Dika belum kasih apa pun sama aku mas, aku juga baru tau kalau kamu melihara hewan peliharaan."Ucap Ku.


"Yasudah nanti aku telpon Dika dulu deh buat kasih ke kamu, terus kamu rawat RED supaya tidak mati. Soalnya kalau aku tinggal di kapal yang ada mati tidak terawat dan terurus."Kata Ibrahim.


"Tapi aku tidak tau cara merawat RED mas."Kata Ku dengan nada melas.


"Nanti aku kasih tau cara rawatnya."Ucapnya sedikit maksa.


"Memangnya sepenting itu RED buat kamu?"Tanya Wulan curiga.


"Bukan begitu, soalnya itu hadiah dari atasan aku."Ujarnya.


"Hadiah???"Hadiah apa?"Tanya Wulan.


"Ada lah pokoknya, sudah ya aku sibuk. Nanti lagi aku telponnya."Kata Ibrahim mematikan.


Tut...Tut...Tut... ponsel pun mati.


"Belum juga selesai ngomong sudah di matikan saja, kebiasaan ini orang."Ucap Wulan kesal.


Wulan kembali ke dalam toko untuk berjaga, tidak terasa waktu semakin malam dan kini Wulan kembali ke rumahnya. Namun sebelum pulang Wulan dapat telpon dari nomor tidak di kenal.


Kring...Kring...Kring...


Wulan melihat telponnya dengan nomor tidak di kenal, Wulan hanya mengabaikannya dan menunggu pesanan ojol itu. Lagi-Lagi nomor itu bunyi, Wulan penasaran dan mengangkat telponnya.


Tidak ada jawaban dari mulut Wulan. Wulan hanya diam sambil orang otu berbicara.


"Aku lebih baik tidak usah berbicara dahulu saja. Takut kalau ternyata itu adalah orang jahat gimana."Gumam Wulan.


"Loh kok tidak ada suaranya sih."Ucap Dika kesal.


Dika mematikan telponnya dan menelpon ulang Wulan sambil menyetir.


"Tu kan mati, itu pasti orang iseng."Batin Wulan menghelaikan nafas.


Namun ponsel Wulan berdering lagi.


Kring...Kring...Kring...


"Ah nomor ini lagi yang nelpon."Ucap Wulan melihat ponselnya dengan kaget.


Wulan mengangkatnya tanpa bersuara lagi, namun kali ini Dika yang memulai ucapannya.


"Assalamuallaikum Wulan, ini aku Dika."Kata Dika.


"Waalaikumsalam kak Dika ada apa ya?"Tanya Wulan.


"Kamu sekarang ada dimana?"Tanya Dika.


"Di depan mall ini, lagi nunggu ojol mau pulang. Ada apa ya?"Tanya Wulan melihat sekitar.


"Kamu jangan kemana-kemana tunggu di sanah saja, aku lagi jalan menuju ke sanah buat anter kamu pulang."Ujar Dika.


"Tidak usah Kak, Wulan sudah pesan ojol."Kata ku menolaknya.


"Bisa di batalin tidak ojolnya?"Tanya Dika.


"Aku tadi di telpon sama Ibrahim, buat anter burung kesayangannya si RED buat di rawat sama kamu. Terus dia juga minta anter kamu pulang kerja sampai ke rumah kamu dengan selamat."Kata Dika.


"Yang benar kak?"Tanya Wulan.


"Iya ngapain aku bohong, lagi pula ini sudah malam tidak baik buat wanita naik ojol dan bawa binatang peliharan malam-malam."Kata Dika.


"Tidak apa kak, Wulan bisa kok bawanya."Kata Wulan.


"Tolong lah Lan, kali ini nurut saja sama aku ya. Aku dapat amanah dari pacar kamu masa kamu malah menolaknya. Aku janji deh tidak macem-macem dan antar kamu pulang ke rumah dengan selamat."Kata Dika meyakinkan Wulan.


"Aduh aku harus gimana ya?"Batin Wulan bimbang.


"Aku takut di antar oleh pria asing."Gumam Wulan.


"Wulan gimana?"Tanya Dika


"Oh iya kak."Ujar Wulan dari lamunannya.


"Yey kamu malah melamun aku tanya juga."Kata Dika kesal.


"Baiklah kak, aku mau." Ucap Ku.


Telpon di matikan Wulan dan Wulan membatalkan pesanan ojolnya katanya sudah mau sampai tapi belum sampai-sampai juga, Wulan menunggu Dika datang. Namun dapat notifikasi dari aplikasinya bahwa Wulan sudah diantar oleh ojol ke rumahnya. Wulan hanya kaget melihat pesanan ia pesan sudah selesai.


"Apa sudah selesai?" Padahal aku aja belum di jemput sama bapak ojol."Ucap Wulan kaget sambil menghelaikan nafasnya.


Kini tibalah Dika datang dan menemui Wulan.


Tin...Tin...Tin... suara klakson mobil.


"Wulan!!!"Teriak Dika dari dalam mobil.


"Iya."Ucap Wulan sambil berlari menuju Dika dan melihat sekitar kalau nanti ada yang gosipin Wulan berjalan dengan om-om di malam hari.


Wulan sampailah di dalam mobil.


"Kamu kenapa tadi melihat kiri dan kanan dahulu?"Tanya Dika heran.


"Aku takut ada yang gosipin aku yang tidak-tidak saja, apa lagi ini sudah sangat malam. Tidak baik buat wanita pulang di jemput pakai mobil seperti ini dengan seorang laki-laki bukan mukrimnya."Ujar Wulan.


"Iya-iya maaf deh."Kata Dika sedikit tertawa.


"Bagus lah kalau tau."Kata Wulan sinis.


"Kenapa duduknya di belakang gitu?"Tanya Dika heran.


"Sudah aku bilang tadi, kita itu bukan mukrim jadi tidak baik duduk bersebelahan dan menghindari fitnah serta gosip miring."Ucap Wulan kesal.


"Loh memangnya kamu kalau sama Ibrahim duduknya seperti ini juga?"Tanya Dika meledek Wulan.


"Iisshhh, kenapa kamu banyak omong kak. Itu bukan urusan kamu."Ujar Wulan melirik sinis.


"Yasudah aku jalan deh, dari pada lihat muka kamu seperti itu."Kata Dika sambil kembali nyetir mobil.


Mereka hanya diam-diam saja di sepanjang jalan tidak berkata apa pun.


"Eeehhhhmmm."Dika berdehem.

__ADS_1


"Kenapa kak?"Tanya Wulan.


"Aku seperti tukang ojek kamu yang antar kamu pulang saja."Kata Dika.


"Iya memang seperti itu kan."Kata Wulan menaikan alisnya.


"Hahahaha kamu lucu Lan."Kata Dika tertawa keras.


Wulan hanya melirik tidak menjawab apa pun dan Wulan hanya melihat pemandangan di dalam mobil saja.


"Sudah makan belum Lan?"Tanya Dika mencairkan suasana agar tidak sunyi.


"Mau ngapain tanya segala."Kata Ku sinis.


"Yaelah cuman nanya aja kok tidak lebih, jawabannya jangan seperti itu lah."Ucap Dika.


"Iya."Kata Ku.


"Iya iya, aku tidak tanya lagi sama kamu deh. Kita langsung pulang saja."Ucap Dika tersenyum.


"Oke."Kata Ku tersenyum lebar.


Mereka tidak menjawab apa pun dan focus masing-masing, namun Dika melihat dari kaca mobil ke arah Wulan.


"Ternyata aslinya kamu cantik sekali, sayang kamu sudah menjadi pacar dari temanku."Gumam Dika tersenyum.


Wulan yang sedari tadi memperhatikan Dika melirik ke arahnya lewat kaca mobil.


"Si Dika ngapain tu senyum-senyum segala."Batin Wulan.


"Tidak mungkinkan dia melihat Ku?"Batin Wulan bertanya.


"Tidak mungkin juga kan kalau dia suka sama aku?"Gumam Wulan memainkan tanggannya di bangku.


"Eeehhhmmm."Wulan berdehem.


"Iya ada apa Lan?"Tanya Dika.


"Mata anda masih sehat pak?"Tanya Ku.


"Iya masih, memangnya kenapa?"Tanya Dika heran.


"Bagus kalau masih sehat, focus saja bawa mobilnya dan lihat kedepan saja. Tidak usah tengak tengok segala."Kata Wulan kesal.


"Oh iya maaf."Kata Dika malu.


Di setiap perjalanan menuju rumah Wulan, mereka hanya berantem terus tidak hentinya. Kini mereka sampai di rumah Wulan.


"Rumah aku di sebelah sanah kak."Kata Ku sambil menujuk arah rumahnya.


Dika hanya menganguk dan berjalan ke sanah. Kini mereka sampai di rumah Wulan.


"Ini kak, rumah aku."Ucap Ku.


Dika memganguk dan membuka bagasi mobil untuk mengambil sarang burung serta perlengkapannya itu. Dika menghampiri Wulan.


"Ini burung serta perlengkapannya, di rawat baik-baik ya. Sampai Tuannya kembali harus sehat dan bersih."Kata Dika mengingatkan Wulan.


"Iya Aku tau kok. Terimakasih Kak."Ucap Wulan tersenyum.


"Iya sama-sama, aku pulang dulu ya."Ucap Dika.


Wulan hanya menganguk saja, Dika meninggalkan rumah Wulan dengan mobilnya. Wulan kembali ke dalam rumah sambil bawa sarang burung dan perlengkapannya.


Tok...Tok...Tok... pintu di ketuk


"Assalamuallaikum."Ucap Wulan.


"Waallaikumsalam. Itu kamu bawa apa kak?"Tanya Mama.


"Ini sarang burung Ma."Kata Ku.


"Punya siapa itu?"Tanya Mama heran.


"Punya Ibrahim."Ucap Ku.


"Bukannya dia lagi berlayar?"Tanya Mama bingung.


"Iya Ma, cuman tadi yang kasih temannya sama aku."Ujar Ku menjelaskan.


"Oh seperti itu, terus suruh kamu rawatnya?"Tanya Mama.


"Iya Ma, aku di suruh rawat si RED."Kata Ku sambil menunjuk ke arahnya.


"Oh jadi namanya Red."Kata Mama.


"Yasudah taruh saja di sanah, kamu kembali tidur ya."Kata Mama sambil menunjuk ke meja.


"Baik Ma."Kata Ku sambil menaruh Red di ruang tamu dan segera kembali ke dalam kamar.


Wulan berjalan ke ruang tamu dan menaruh Red di sanah dan berjalan ke kamarnya. Kini Wulan sudah sampai di kamarnya. Wulan mengirim pesan kepada Ibrahim kalau si Red sudah ada di tanggannya.


Visual RED



"Assalamuallaikum mas, aku cuman mau kasih kabar bahwa si RED kesayangan kamu sudah ada di aku."Kata Ku.


"Waallaikumsalam, yasudah kamu rawat baik-baik ya. Jangan sampai mati."Kata Ibrahim.


"Iya mas, insyaallah tidak akan mati."Kata Ku.


"Terus yang tadi antar kamu bawa si Red ke rumah kamu siapa?"Tanya Ibrahim.


"Teman kamu mas, katanya di suruh sama kamu buat anterin aku."Ujar Ku menjelaskan.


"Iya memang aku suruh buat anter kamu pulang ke rumah juga, soalnya kalau bawah sarang burung itu berat naik ojol."Ucapnya.


"Iya mas."Kata Ku.


"Yasudah kamu lebih baik tidur dahulu ya, hari sudah sangat malam."Kata Ibrahim.


"Iya mas, aku tidur dahulu."Kata Ku.


Tidak lama kemudian telpon pun mati, Wulan menaruh telponnya di samping tempat tidur dan segera tidur.


Bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2