Ada Negara Diantara Kita

Ada Negara Diantara Kita
85. ANDK


__ADS_3

Pagi hari Wulan hendak berangkat ke kantor karena ada janjian bertemu atasannya, Wulan bergegas pergi.


"Ma, aku berangkat dahulu!!"Teriak Wulan sambil berlari.


"Iya hati-hati di jalan."Kata Mama.


Wulan menuju ke kantornya, sesampainya Wulan di kantor. Wulan langsung masuk ke dalam ruangan.


"Permisi."Kata Ku.


"Iya mau ketemu dengan siapa?"Tanya Resepsionist.


"Mau ketemu sama bapak Fauzan ada."Kata Ku tersenyum.


"Baiklah tunggu sebentar."Ucapnya.


Wulan menganguk dan menunggu di lobby, setelah beberapa menit kemudian resepsionist menghampiri Wulan.


"Mba di suruh masuk saja oleh bapak Fauzan, beliau ada di ruangannya."Ucap Resepsionist.


"Terimakasih banyak mba."Kata Ku tersenyum dan melangkahkan kaki ke ruangan Fauzan.


Sampailah Wulan di depan ruangan Fauzan.


Tok...Tok...Tok... suara pintu di ketuk.


"Assalamuallaikum bang."Kata Ku.


"Waallaikumsalam masuk de."Ucap Fauzan.


Wulan masuk ke dalam ruangan.


"Silahkan duduk de."Ucap Fauzan.


"Terimakasih bang."Kata Ku.


Wulan duduk di bangku.


"Mau minum apa de?"Tanya Fauzan.


"Tidak usah repot-repot bang."Kata Ku.


"Udah tidak apa-apa, bilang aja mau minun apa?"Tanya Fauzan.


"Air mineral saja."Ucap Ku.


"Loh masa air mineral?" Tidak mau es?"Tanya Fauzan.


"Yasudah es coklat saja bang."Kata Ku.


"Oke abang pesanin."Ucap Fauzan.


Fauzan sedang memesan minuman untuk Wulan, setelah selesai pesan minuman Fauzan kembali menatap Wulan.


"Jadi kamu ke sinih mau tanya soal apa?"Tanya Fauzan.


"Aku mau tanya bang, apa betul kalau spg samsung hanya sisa 5 orang saja termasuk aku?" Lalu yang lainnya kemana?"Tanya Ku penasaran.


"Pasti kamu dapat omongan tidak enak ya, setelah keluar dari rumah sakit?"Tanya Fauzan.


"Tidak bang, aku hanya ingin tau saja."Kata Ku.


"Jangan bohong sama abang."Ucap Fauzan.


"Iya bisa di bilang seperti itu."Kata Ku.


"Itu semua bukan salah kamu kok, yang perlu kamu garis bawahi adalah bekerja dengan semangat dan giat untuk keluarga dan membahagiakan mereka."Ucap Fauzan.


"Iya sih bang, tapi aku penasaran saja apa yang membuat abang mempertimbangkan saya?" Padahal saya masuk saja jarang karena sakit."Kata Ku.


"Abang lihat kamu baik dan sungguh-sungguh dalam bekerja, serta kamu orangnya mau berusaha dan belajar. Kamu juga orangnya penurut, sabar dan mau di bilangin sama apa yang abang bilang."Ucap Fauzan.


"Yakin bang hanya itu saja?"Tanya Wulan penasaran.


"Iya dek, memangnya yang buat kamu ragu dari jawaban abang apa?"Tanya Fauzan heran.


"Tidak ada bang, aku rasa cukup dengan jawaban abang yang di berikan untuk aku."Ucap Wulan.


Wulan menghelaikan napas dan berpikir.


"Aneh kenapa hati aku bilang ada yang beda ya?" kaya bukan ini jawaban yang di bilang oleh Bang Fauzan."Batin Wulan bertanya.


"Ah sudah lah, untuk saat ini aku percaya saja."Gumam Wulan.


Fauzan menepuk bahu Wulan.


"De, malah melamun!!"Pungkas Fauzan.


"Oh maaaf bang."Kata Ku terkejut.


"Ada yang di pikirkan atau di tanyain lagi tidak?"Tanya Fauzan.


"Ada sih bang, tapi aku tidak yakin kalau abang akan jawab."Kata Ku ragu.


"Tanyakan saja."Ucap Fauzan.


"Baiklah bang, jadi menurut gosip beredar kalau spg samsung itu kena cut semua itu benar bang?"


"Itu tidak benar de, spg samsung hanya di sisakan 5 orang terbaik dan salah satunya adalah kamu."Kata Fauzan.


"Lalu mereka kenapa bisa di cut?"Tanya Wulan penasaran.


"Mereka di cut karena beberapa faktor de, gosip itu salah jadi tidak perlu di dengar oleh kamu. Yang utama adalah kamu giat bekerja dan jaga kondisi kesehatan kamu."Ucap Fauzan.


"Kalau boleh tau faktor apa saja bang?"Tanya Wulan penasaran.


"1. dilihat dari absensi kehadiran, 2. pencapaian penjualan setiap bulan, 3. dilihat dari banyaknya Izin, 4.dilihat dari semangatnya bekerja dan nurut apa yang di bilang sama abang, 5.tidak punya masalah di toko baik internal maupun eksternal."Ucap Fauzan.


"Oh jadi seperti itu bang."Kata Ku tersenyum.


"Iya de, kalau tidak ada yang mau di tanyakan lagi. Sekarang lebih baik balik ke toko."Ucap Fauzan.


"Iya bang, saya permisi dahulu."Kata Ku.


Fauzan hanya menganguk dan tersenyum, kini Wulan pergi meninggalkan ruangan Fauzan dan kembali ke toko.


Beberapa menit kemudian sampailah Wulan di toko, ia menaruh tasnya ke dalam laci, seperti biasa banyak gosip beredar mengenai Wulan.


Desas desus gosip itu mulai seperti lalat yang berdengung di telingga Wulan, namun tidak Wulan hiraukan karena menurut dia tidak penting. Yang lebih utama adalah bekerja dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras dengan apa yang ia capai.


Wulan melakukan pekerjaannya dengan teliti dan menawarkan kepada customer setiap masuk ke dalam tokonya, sama sekali tidak hiraukan gosip apa pun yang menimpanya.


"Alhamdulillah hari ini jualan banyak."Batin Wulan tersenyum.


Hari semakin gelap, tanda akan masuk malam. Angin yang berhembus ke arah Wulan membuat sejuk di hirup.


Wulan mulai mengirim laporan penjualan kepada Fauzan sebelum ia sampai di rumah, namun salah satu toko sebelah datang dan bertanya sama Wulan.


"Mba kok cantik-cantik pakai pelet sih?"Tanyanya menatap Wulan sinis.


"Maksud mba siapa ya?" Terus mba berbicara sama siapa?" Tanya Wulan karena di toko ada dia dan Ratna.

__ADS_1


"Iya sama kamu lah, masa sama Ratna."Ucapnya kesal.


"Oh sama aku, maaf aku kira sama Ratna. Habisnya kamu tanyanya tidak jelas di tunjukan kepada siapa."Kata Ku.


"Siapa lagi yang sedang di gosipin heboh di mall ini kalau bukan kamu mba."Ucapnya dengan nada keras.


"Memangnya aku di gosipin sama siapa dan gosipnya apa?"Tanya Wulan heran.


"Alah jangan pura-pura sok suci dan baik."Katanya kesal.


"Loh aku tidak tau mba, dan aku hanya nanya sama kamu. Kenapa jadi malah kamu yang kesal?"Tanya Wulan heran.


"Ah sudahlah, capek aku kalau ngomong sama kamu berbelit-belit."Ucapnya emosi dan kesal.


"Yasudah pergi sanah, siapa juga yang mau ngobrol sama kamu."Kata Ku.


Ia pun pergi meninggalkan toko Wulan, dan kembali ke tokonya. Sedangkan Wulan hanya geleng-geleng kepala melihat raut wajahnya yang kesal.


"Aneh itu orang, mau gosip dan menjatuhkan orang tapi dia sendirir kesal dengan pertanyaan aku."Batin Wulan.


Kemudian Ratna menghampiri Wulan.


"Lan tadi kenapa dia kesal seperti itu sama kamu?"Tanya Ratna melihat wanita itu pergi dari toko.


"Tidak tau aku mba, aku tanya baik-baik siapa orang yang sudah fitnah aku sama dia. Eh dia sendiri yang kesal seperti itu."Kata Ku mengangkat kedua tanggan.


"Oh seperti itu."Ucap Ratna.


"Yasudah kita kerja lagi mba, habis itu kita pulang."Ucap Wulan.


Kini mereka berdua kembali bekerja, Diki dari jauh melihat kejadian tadi langsung kasih kabar kepada Ibrahim sebelum jemput Dina.


"Aku harus melapor ini."Gumam Diki.


Diki mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik pesan kepada Ibrahim, namun sebelum pesan di ketik tanda panggilan telpon dari Dina ia mulai mengangkat dan kembali jemput Dina.


"Hallo dimana kak?"


"Iya sebentar lagi sampai, masih di jalan."


"Yasudah aku tunggu."


"Iya tunggu saja."


Diki pun pergi menuju dimana Dina bekerja, sampailah Diki di mall tempat Dina bekerja.


"Maaf aku terlambat, tadi ada yang harus aku kerjakan dahulu."Ungkap Diki.


"Iya tidak apa-apa aku paham."Kata Dina.


"Terimakasih, ayo kita pulang."Ucap Diki sambil bergandeng tanggan.


Mereka berdua kembali ke kosan, Wulan sedang bekerja itu tiba-tiba mendapat pesan dari Irwan kalau mamanya mau telpon kepada Wulan.


"Assalamuallaikum Lan, kamu sudah pulang belum?"


"Waallaikumsalam kak, belum sebentar lagi akan pulang. Ada apa?"


"Ibuku mau ngobrol sama kamu."


"Oh baiklah kak, aku bisa kok."


"Yasudah nanti kabarin ya kalau kamu tidak sibuk."


"Iya siap."


Wulan menutup ponselnya dan segera pulang ke rumah karena hari sudah sangat malam.


"Iya hati-hati di jalan, terimakasih atas hari ini."Ucap Ratna.


"Iya sama-sama."Kata Ku.


Kini Wulan meninggalkan toko dan kembali ke rumah, beberapa menit kemudian Wulan sampai di rumah.


Wulan masuk ke dalam kamar dan bergegas mandi, namun ternyata ponsel Wulan berdering.


Kring...Kring...Kring...


Di rumah Irwan sedang menunggu jawaban dari Wulan tidak ada respon sama sekali.


"Gimana di angkat tidak?"Tanya Ibu.


"Belum bu, mungkin sedang di jalan."Ucap Irwan.


"Yasudah nanti lagi telponnya."Kata Ibu.


Irwan hanya menganguk saja dan menutup telponnya.


Di rumah Wulan sudah selesai dari mandi dan bersih-bersih kini Wulan mengecek telponnya, ternyata ada panggilan tidak terjawab dari Irwan.


"Astagfirullohalazim aku lupa."Kata Ku sambil menepuk jidat sambil melihat telponnya.


Kemudian Wulan kembali telpon Irwan.


Kring...Kring...Kring...


Irwan mengangkat telpon.


"Assalamuallaikum kak, maaf baru telpon tadi lagi di jalan dan baru sampai di rumah. Ada apa ya?"Tanya Ku.


"Waaallaikumsalam iya tidak apa-apa, itu ibu mau ngobrol sama kamu dari tadi nunggu kamu."Ucap Irwan.


"Ibu, ini Wulan udah telpon tu!!!"Teriak Irwan.


Ibu berlari dan berbincang sama Wulan.


"Hallo Lan apa kabar?"Tanya Ibu.


"Alhamdulillah kabar aku baik bu, bagaimana kabar ibu?"Tanya Ku tersenyum.


"Alhamdulillah Kabar ibu juga baik nak."Ucap Ibu.


"Alhamdulillah bu, aku senang dengarnya semoga ibu selalu sehat terus."Kata Ku tersenyum.


"Terimakasih cantik, oh iya gimana perkembangan kamu sama anak ibu?"Tanya Ibu.


Seketika Wulan terdiam mematung, Irwan yang mendengar suara ibunya yang gercep (gerak cepat) menanyakan perkembangan mereka berdua langsung terdiam dan menghampiri Ibu.


"Ibu apa sih ngomong seperti itu sama Wulan?" Malu aku bu."Ucap Irwan muka seperti kepiting rebus.


Wulan yang mendengar Irwan tersipu malu itu dan mulai tersenyum, Wulan sedang berpikir.


"Apa iya Irwan punya perasaan sama aku?"Tanya Wulan di dalam hati.


Kemudian Ibu menanyakan kembali kepada Wulan.


"Nak kenapa diam saja?"Tanya Ibu.


"Oh iya bu, aku sama Irwan perkembangannya baik."Kata Ku.


"Alhamdulillah ibu senang dengarnya, terus kapan kalian menikah?"Tanya Ibu dengan antusias dan spontan.

__ADS_1


Wulan yang mendengar langsung terkejut.


"Apa menikah bu???"Tanya Wulan terkejut.


"Iya sayang nunggu apa lagi kalian sudah sama-sama dewasa dan cukup umur, anak ibu juga sudah mapan dan punya pekerjaan tetap."Kata Ibu.


"Tapi bu, aku masih kuliah. Apakah Irwan mau nunggu aku selesai kuliah dahulu baru menikah?"Tanya Wulan.


"Loh memangnya kenapa kalau menikah dahulu dan sambil kuliah?"Tanya Ibu heran.


"Aku mau di undangannya ada nama gelar bu."Kata Ku.


"Coba ibu tanya sama anaknya."Ucap Ibu.


Ibu kemudian menghampiri Irwan.


"De kamu mau tidak menikah sama Wulan?"Tanya Ibu spontan.


Irwan yang mendengar langsung terkejut.


"Coba tanya sama Wulan mau tidak sama aku."Ucap Irwan.


"Semoga Wulan memberikan jawaban yang pas untuk ibu, karena aku tidak mau terburu-buru dan gegabah."Batin Irwan.


"Kata Wulan, kamu mau tidak nunggu dia selesai kuliah?"Tanya Ibu.


"Karena dia mau selesaikan kuliah dahulu, dia mau nama dia di undangannya ada nama gelarnya."Ucap Ibu.


"Yasudah terserah ibu saja, aku ikuti apa kata ibu."Ucap Irwan.


"Nah gitu dong, itu baru anak ibu."Ucap Ibu mengancungkan kedua jempolnya.


Irwan hanya tersenyum simpul dan geleng-geleng kepala, Wulan yang dengar ucapan ibu dan anak itu hanya tersenyum-tersenyum saja. Wulan tidak tau itu perasaan apa dan masih berat perasaannya kepada Ibrahim.


"Semoga dapat segera di kasih petunjuk."Batin Ku.


Kemudian Ibu kembali ngobrol sama Wulan.


"Wulan, anak ibu mau sama kamu."Kata Ibu dengan semangat.


"Iya bu terimakasih, aku senang dengarnya."Ucap Ku.


"Yasudah itu saja yang ibu mau bilang, kamu panjut ngobrolnya sama Irwan ya."Kata Ibu.


"Iya bu."Kata Ku.


Kemudian Ibu kasih ponselnya kepada Irwan.


"De ini ponselnya ibu kasih sama kamu, kamu ngobrol tang serius sama Wulan ya."Ucap Ibu.


"Ibu yakin kamu pasti bisa menaklukan hati wanita."Kata Ibu menepuk bahu Irwan.


Irwan kembali berbincang dengan Wulan.


"Maafkan perkataan ibu saya ya Lan, jangan di masukin hati perkataannya jika belum siap."Kata Irwan.


"Iya tidak apa kak, aku paham kok."Kata Ku.


"Yasudah itu saja ya, besok lagi telponnya karena sudah malam dan kamu capek mau istirahat. Assalamuallaikum."Ujar Irwan.


"Iya kak, waaallaikumsalam."Kata Ku.


Setelah selesai menelpon Wulan kembali untuk tidur, namun ternyata banyak pesan masuk dari Dika. Wulan yang terkejut dengan pesan dari Dika karena Dika ganti nomor telpon.


Isi pesan Dika


"Assalamuallaikum de sudah sampai di rumah?"


"Kok tidak di balas?"


"Kenapa aku telpon sibuk terus?"


"Maaf kalau sudah ganggu waktunya, jika sudah tidak sibuk di balas ya."


Wulan hanya melotot melihat pesan sebegitu banyaknya.


"Kenapa Dika banyak sekali kirim pesan?"Tanya Wulan di dalam hati.


"Kenapa Ibrahim tidak sama sekali kirim pesan sama aku, padahal jelas-jelas aku pacarnya. Kemana itu anak ya?"Tanya Wulan di dalam hati heran.


Kemudian Wulan balas pesan Dika karena tidak enakan.


"Waaallaikumsalam kak, maaf baru balas tadi sedang di omelin sama atasan akibat tidak jualan. Ada apa ya kak?"Tanya Wulan.


Kemudian hitungan detik Dika buka pesannya dan langsung video call, Wulan seketika terkejut dan di angkatnya.


Setelah Wulan angkat telpon dari Dika, ternyata Dika di sanah kurus dan nampak hitam. Membuat mata Wulan melotot dan kaget.


"Hallo ada apa kak?"


"Gimana kabar kamu?"


"Alhamdulillah baik, kakak gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah sama baik juga."


"Alhamdulillah senang dengarnya."


"Tadi kamu kenapa bisa di omelin sama atasan?"


"Biasa aku tidak jualan."


"Memangnya di sanah sepi?"


"Iya sepi kak, beli dong kak."


"Iya jauh kalau beli aku."


"Iya iya aku bercanda kak."


"Kamu mukanya pucat sekali?" Habis sakit atau sedang sakit?"


"Masa sih kak?" Sepertinya aku biasa-biasa saja."


"Iya serius, muka kamu pucat itu."


"Aku baik-baik saja kak, kakak gimana betah tidak tugas di sanah?"


"Betah tidak betah de, mau gimana lagi harus di jalanin."


"Yang semangat ya kak jaganya."


"Iya terimakasih sudah di semangatin."


"Sama-Sama, sudah dulu ya kak. Aku mau tidur dulu besok lagi."


"Iya maaf kalau sudah ganggu waktunya."


"Iya tidak apa-apa, assalamuallaikum."


"Waaallaikumsalam."

__ADS_1


Wulan tersenyum dan mematikan ponselnya, Wulan kemudian menaruh ponselnya di atas kasur dan tertidur.


__ADS_2