Ahli Pedang Berdarah Dingin

Ahli Pedang Berdarah Dingin
Mencari udara segar


__ADS_3

Keesokan harinya, Leo membuka matanya perlahan saat hari menunjukkan bahwa ini memang benar-benar sudah pagi. Tapi sebelum itu, dia melihat disampingnya terdapat Melina yang tidur dengan begitu nyenyak dan terlihat lebih bahagia dari biasanya.


“Melina ternyata tidak terlalu buruk.” Pikirnya. Masalahnya dia benar-benar sangat was-was saat malam kemarin akan menjadi malam yang penuh .... menjengkelkan bagi Leo karena sebelumnya dia tidak ingin melakukan sesuatu yang tidak-tidak terlebih dahulu.


Namun, saat itu juga, Melina terbangun. Menatap Leo yang juga menatap dirinya yang membuat Melina sendiri tersipu malu dan menutup wajahnya menggunakan tangan.


Sedangkan Leo, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak begitu peduli. Dia harus berbenah diri dan ingin melakukan aktivitas lain seperti berjalan-jalan di wilayah ini sebelum beberapa Tristan datang dan menjelaskan semuanya. Selain itu, juga masih ada sekitar 2 hari lagi sebelum dirinya menuju ke kastil Duke.


Leo bangun dari tempatnya, dan langsung membuka pintu. Dan siapa sangka secara kebetulan, Iris berada di depannya dengan posisi mengangkat tangan seolah hendak mengetuk pintu.


“Iris, apa yang kau ....”


“Apa yang Anda lakukan!”


“Aku baru saja bangun tidur.” Ujar Leo. Namun, setelah itu dia paham apa yang dimaksud oleh Iris. Sehingga dia menghela napas dan berkata. “Aku tidak melakukan apa-apa dengan Melina. Ah, lupakan itu, ayo kita mencari udara segar.”


.....


“Tuan Baron Nate, izinkan kami untuk mencari udara segar dan berjalan-jalan di wilayah ini?”


“Ah ya, tentu saja. Tapi, apakah kalian tidak ingin sarapan terlebih dahulu?” Tanya Baron Nate yang mana sebelumnya Leo tidak sengaja bertemu dengannya di kastil ini.


Ucapan baron Nate saat itu juga langsung memicu reaksi para bawahan Baron Nate secara langsung. Sehingga, mereka semua berkata, “Tunggu tuan, tetapi mereka masih dalam isolasi sebelum tuan Tristan kembali datang!”


Baron Nate menjawab, “Tidak perlu khawatir. Aku percaya bahwa mereka adalah tamu undangan Duke. Aku yang akan bertanggung jawab dengan itu semua.”


“Tapi tuan ....”


“Jangan khawatir.” Potong Baron Nate.


“Terimakasih atas kebaikan Anda tuan. Tetapi, kami akan mencari sarapan sendiri. Sehingga tidak akan merepotkan Anda.” Kata Leo dengan sedikit membungkukkan badannya dan memberikan hormat.

__ADS_1


“Ah ya, tentu saja. Hanya saja, berhati-hatilah. Karena mungkin ada beberapa orang yang kurang ajar. Apalagi posisimu membawa dua wanita cantik.”


Leo melirik ke arah Iris dan Melina yang sedikit malu atas pujian dari baron Nate. Tapi bukan itu yang dia pikirkan, melainkan dia memikirkan bahwa dia seharusnya tidak mempermasalahkan tentang hal itu atau seperti yang dikatakan oleh baron Nate. Dirinya kuat, Melina juga, apalagi Iris, sehingga kemungkinan terbesar tidak ada yang berani dengan dirinya.


“Kami bisa menjaga diri tuan.”


.......


Selang beberapa lama, mereka bertiga akhirnya berjalan-jalan ke wilayah ini. Tampaknya, posisi wilayah ini benar-benar mirip pusat kota walaupun posisinya berada di pinggiran kota. Dalam artian, merata dan tidak ada desa-desa yang berada di pinggir kota.


Tempat juga ramai seperti banyak para petualang yang menggunakan gelang tag emas, dan itu kebayakakan. Selain itu, Leo juga seolah bisa melihat beberapa pedagang yang ada di wilayah ini seperti pedagang artefak, pedang dan yang lainnya.


“Sebaiknya kita mencari sarapan terlebih dahulu. Bukankah begitu?” Ucap Leo sambil bertanya kepada dua wanita yang ada di belakangnya.


“Jika tuan ingin, maka aku juga mengiyakan saja.” Kata Iris.


“Aku pun.”


Leo melihat keadaan sekitar sambil berjalan seperti ini. Mencari sebuah kedai dimana tidak ramai atau mungkin tidak sepi pula. Hal tersebut akan membuat Leo merasa nyaman begitupun wanita yang ada di sampingnya.


“Emm, aku mencium aroma yang begitu sedap dari tempat itu.”


“Tuan tidak salah memilih tempat. Aku juga mencium aroma yang menggugah selera." Ungkap Iris.


Ketika Leo masuk, entah kenapa tiba-tiba dirinya menjadi sebuah pusat perhatian. Bagaimana tidak, Leo yang memiliki paras yang mungkin bisa memikat para wanita yang melihatnya. Di sisi lain, para pria benar-benar terpesona dengan kecantikan Melina dan Iris bak dewi yang masuk ke dalam kedai ini.


Hanya saja, banyak yang iri dengan keadaan itu seolah ingin menyingkirkan Leo dan juga ingin mendekati Melina dan juga Iris.


“Nona, bisakah Anda memberikan makanan yang populer di sini?”


“Tentu saja tuan. Ada lagi?” Tanya penjaga kasir itu dengan sopan.

__ADS_1


“Iris, Melina, kau ingin apa?”


“Aku sama seperti Anda tuan. Iris pun juga begitu.” Jawab Melina. “Jadi, tiga makanan nona. Tidak perlu waktu lama.”


Penjaga kasir itu tersenyum ramah dan juga mengangguk. Meski dia juga sedikit terpana saat menatap Leo. Namun langsung terdiam saat mendapat tatapan sinis dari Iris dan juga Melina.


“Semuanya satu perak tuan.” Kata wanita itu.


Leo kemudian merogoh sakunya dan memberikan satu koin perak kepada wanita tersebut, sebelum mereka bertiga mencari tempat duduk yang kosong.


“Beruntungnya dia mendapatkan dua wanita dengan level tinggi.”


“Tapi itu sepadan dengan dia yang memiliki paras yang tidak terlalu buruk.”


“Ah, andaikan dua wanita itu menjadi milikku. Lagipula, bukankah aku tidak seburuk pria itu?”


“Sebaiknya kamu mengambil cermin.”


“Benarkah? Pria itu masih terlalu muda. lihat gelang tagnya yang berwarna coklat yang menandakan bahwa dia adalah petualang pemula.”


Masih menjadi pusat perhatian, bahkan menjadi bahan perbincangan, Leo sebenarnya merasa benar-benar sangat risih. Bahkan Leo ingin membungkam mulut mereka saat ini juga saat mereka mencoba membahas yang tidak-tidak.


“Bisakah aku bergabung? Tuan?”


Tiba-tiba, saat itu juga, seorang pria yang mungkin umurnya belasan tahun lebih tua dari Leo dengan level yang mungkin setara dengan Leo muncul di samping Leo. Meminta izin untuk duduk di dekat Leo seolah dia ingin mengganggu ketenangan Leo itu sendiri.


Siapa yang berpikir bahwa Leo mengizinkan? Dia merasa tidak nyaman. Kemudian, secara blak-blak an, dia berkata, “Tidak.” Secara terus terang. Tidak peduli gelang tag orang itu berwarna emas atau semacamnya. Lagipula, dari luar level mereka hanya setara. Tapi belum lagi jika diadu, jelas Leo lah pemenangnya.


Penolakan itu jelas-jelas membuat beberapa orang disekitar hendak menahan tawa. Akan tetapi, mereka semua tahu bahwa anak itu merupakan anak salah satu saudagar kaya di wilayah ini. Jelas, mereka ingin sekali tertawa hanya saja takut dengan kecaman oleh orang yang memiliki sebuah kedudukan.


“Beri aku alasan yang masuk akal, mengapa aku tidak boleh bergabung? Apa kamu tidak tahu aku? Semua orang tunduk denganku.” Kata pria itu dengan wajah yang terangkat angkuh.

__ADS_1


Leo kemudian menjawab, “Masih ada banyak tempat, kamu bisa duduk dimana saja. Dan, aku ingin bertanya balik. Berikan alasan yang tepat mengapa kamu ingin bergabung? Jika kau hanya ingin menggoda dua wanita di hadapanku, maaf saja jika aku menolakmu secara mentah-mentah.”


Tatapan Leo tanpa ekspresi membuat orang itu sebenarnya begitu jengkel. Kemudian, orang itu membalik sebuah meja yang berada di hadapan Leo dengan penuh emosi. Hal tersebut jelas membuat Iris, Melina langsung maju, namun dicegah oleh Leo terlebih dahulu.


__ADS_2