
Keadaan Hellfire benar-benar terpojok. Ray seolah juga tertawa lebar seolah bangga saat dia tidak melepaskan kekuatannya dalam kurun waktu yang lama. Sehingga, Ray terus menyerang Hellfire secara brutal agar tubuhnya memerlukan waktu untuk beregenerasi kembali secara cepat.
“Menyerahlah!” Ray mengayunkan pedangnya, mengakibatkan tubuh Hellfire tersayat dan perlahan beregenerasi. Akan tetapi, Ray kembali menebasnya seolah tidak memberikan musuhnya waktu.
Apalagi posisi Ray yang seolah kebal dengan api, yang membuat Hellfire seolah jauh berada di bawahnya. Bahkan menggunakan teknik apapun, api tak akan mempan kepada Ray. Tidak heran, 99% komposisi tubuh Ray adalah sebuah tulang yang kebal terhadap api itu sendiri. Jika Ray memiliki daging itu justru akan sangat merepotkan seperti melepuh.
Dalam tebasan terakhir, Ray sanggup untuk memotong tangan Hellfire. Yang membuat Hellfire sendiri berteriak murka dan tidak bisa menerima tentang apa yang terjadi baru saja. Dengan sangat marah, dia membuat seolah tanak terbakar dan hendak menyemburkan api untuk membunuh Ray di kala dia meregenerasi tangannya.
“Apapun teknik itu. Itu tidak akan mempan kepadaku!” Ray membuang pedang tulangnya. Kemudian dia mengepalkan tangannya di saat sebuah semburan dari bawah tanah keluar seolah mengurung Ray.
Hanya saja, raja Skeleton itu keluar dari penjara api dengan mudah. Bagaikan muncul dari tirai api sambil mendaratkan sebuah pukulan tulang yang begitu keras tepat ke arah wajah Hellfire.
Jelas, Hellfire yang menerima serangan itu, dia terus menerus terdorong ke belakang hingga terdengar suara retakan tulang yang begitu nyaring. Bahkan Ray sendiri bisa mendengar bahwa tulang wajah milik Hellfire sudah hancur hingga tak menyisakan sebuah bentuk.
Dan itu benar saja, saat Hellfire tersungkur di tanah dengan Ray yang menimpanya. Wajah iblisnya seolah sudah tidak begitu ada. Digantikan dengan wajah yang remuk dan tidak berbentuk yang membuat Hellfire berteriak kesakitan.
Memang bahwa wajah Hellfire bisa beregenerasi. Hanya saja membutuhkan waktu yang lama sebelum Ray memukulnya secara berulang kali yang membuat isi kepalanya keluar. Wajahnya juga tak berbentuk yang membuat Ray sendiri tersenyum begitu lebar sebelum dia melompat ke belakang.
Wajah Hellfire terlihat sedikit beregenerasi secara perlahan. Seolah Ray memang sengaja dan memberikan makhluk itu sedikit waktu untuk bangkit. Karena Ray sendiri sedikit bosan saat pertarungannya hanyalah monoton baginya. Dan Hellfire bukanlah lawan yang begitu tangguh.
“Apakah kamu tidak bisa lebih kuat sedikit?” Ray bertanya dengan santai.
Hellfire terengah-engah, meskipun dia bisa beregenerasi sekalipun, dia terlihat begitu lemas, tubuhnya hendak roboh karena kehabisan sebuah tenaga. Pun regenerasi juga membutuhkan mana yang begitu besar sehingga regenerasinya bisa dibilang begitu sia-sia.
__ADS_1
“Aku akan mengakhiri ini. Jika aku memenggal kepalamu, atau mungkin menusuk dadamu, kamu bisa terbunuh. Aku benarkan?” Kata Ray. Dia juga menaruh pedang di atas pundak seolah bergaya sebelum dia mengakhiri sebuah pertarungan ini.
Dan saat itu juga, Leo muncul bagaikan bayangan di pundak Ray. Memperhatikan Hellfire yang seolah tidak mampu untuk bertarung lagi karena kelelahan. Leo bisa melihat bahwa mana yang dimiliki oleh Hellfire begitu tipis.
“Tahan sebentar Ray. Aku ingin mengintrogasinya sejenak.” Ucap Leo dengan sedikit menginjak pedang Ray yang ada di pundaknya agar Ray belum menghabisi makhluk yang disebut Hellfire.
Ray mengangguk, dia membiarkan tuannya untuk melontarkan beberapa pertanyaan yang mungkin tuannya sendiri butuhkan.
“Apa alasan utamamu menyerang desa ini? tidak mungkin kan kau hanya ingin menculik anak-anak? Itu sangat rentan karena jika kamu membakar desa ini, anak-anak akan terbakar dan kau tidak akan membawanya.”
“Seseorang yang membayar. Ya! Tapi demi privasi, aku tidak akan memberitahukannya.” Hellfire berkata dengan begitu lemas. Walaupun ada sedikit penekanan yang ada pada kalimat tersebut yang seolah dia masih terusulut oleh sebuah api.
“Klien, ya?” Leo berpikir sejenak dengan menyentuh dagunya. “Apa mungkin ini merupakan ulah kepala prajurit itu? Seharusnya dia masih menyimpan kebencian karena sosok dari desa Caprae membunuh anaknya? Mungkinkah aku seharusnya menyelesaikannya secara baik-baik?”
Meski begitu, Hellfire sungguh terkejut saat menatap lawannya yang seolah tahu itu semua. Bahkan Hellfire sendiri kesulitan untuk menjawab apa karena tatapan mata dari Leo seolah tidak bisa dibohongi lagi. Sehingga Hellfire hanya mengangguk dengan sedikit linglung.
“Dimana dia? Dimana dia? Aku ingin berbicara baik-baik dengannya. Apakah dengan menyuruhmu untuk menghancurkan desa Caprae, dia akan puas? Tidak! desa Caprae berisikan orang yang tak bersalah yang tidak tahu apa-apa. Memukul rata adalah tindakan yang konyol. Bawa aku kepadanya!”
Seketika itu juga, Hellfire tertawa dengan begitu lebar. Ray yang mencurigainya, dia menciptakan pedang lagi di tangan kirinya yang kemudian dia lempar pada mulut Hellfire. Sehingga Hellfire terseret ke belakang dengan sebuah pedang tulang yang menancap pada mulutnya.
“Aku dengar juga, kau merupakan objek ketiga dari Luvria. Jika kamu menuruti permintaanku, maka aku akan melepaskanmu dari sebuah kekangan.” Leo memberikan sebuah penawaran.
Namun, Hellfire sama sekali tidak menjawab. Apa yang dia lakukan adalah mencabut pedang yang tertancap pada mulutnya yang kemudian melompat ke arah Leo dan juga Ray dengan sangat cepat.
__ADS_1
Itupun, tubuhnya seolah menjadi katai merah seolah-olah akan meledak.
“Bodoh! Bodoh! Aku akan membunuhmu! Aku akan mengakhiri ini!”
Saat tepat berada di depan Leo, Leo sebenarnya juga melompat untuk memberikan ruang agar Ray bisa menebaskan pedangnya. Hanya saja, ukuran Hellfire seolah membludak dengan cepat, sebelum berubah menjadi sangat besar dan pada akhirnya ....
"Flame Burst!"
Bumm!
Ledakan yang amat besar terjadi di tempat ini, mengakibatkan sebuah gelombang kejut yang sangat besar bahkan langsung menghentikan sebuah kebakaran yang melahap desa Caprae. Puluhan petualang yang datang, bersamaan dengan para prajurit kota yang tampaknya juga datang tadi saat pertarungan Ray, mereka terlempar ke belakang karena terkena sebuah radius ledakan.
“Tuaan!”
Tak terkecuali Hime yang juga terdorong ke belakang meskipun kondisinya benar-benar sangat jauh dari sebuah pertarungan. Dan, jelas, dia gemetar saat melihat bahwa Leo berada paling dekat dengan ledakan yang dilakukan oleh Hellfire, yang membuat dia benar-benar sangat panik dan gemetar.
Apalagi, dia sempat melihat adanya sebuah kawah yang cukup besar, yang mengartikan bahwa ledakan itu juga sangat besar.
Hanya saja, beberapa detik kemudian, sebuah siluet bayangan muncul di depan Hime, memunculkan sosok yang tidak lain merupakan Leo yang baru saja bergerak secepat bayangan untuk menghindari ledakan tersebut.
“Dia mati bunuh diri?” Leo bertanya sambil mengerutkan dahinya.
“Itu hanya pengalihan, dia lari.” Jawab Ray yang ada di dalam tubuh Leo.
__ADS_1
Memang, dalam sepersekian detik sebelum terjadinya sebuah ledakan, Leo langsung menarik kembali Ray dengan sangat cepat untuk menghindari kejadian yang fatal bagi Ray itu sendiri.