Ahli Pedang Berdarah Dingin

Ahli Pedang Berdarah Dingin
Akhirnya selesai


__ADS_3

Leo menghela napas, dia memang masih menggunakan sebuah jubah assassin yang dia gunakan untuk menutup identitas miliknya. Selama ini, tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang perbuatan Leo yang membunuh seorang pembunuh, bahkan para budaknya sendiri.


Meskipun begitu, penemuan mayat yang diduga adalah seorang mayat pembunuh akhir-akhir ini memang ada. Tetapi tampaknya pihak kota sendiri justru merasa terbantu dengan adanya pembunuhan para pembunuh. Pihak kota juga sama sekali tidak membuat berita ini begitu serius dengan menyebarnya kepada masyarakat. Walaupun, masyarakat sendiri perlahan juga mengetahuinya.


“Hanya sedikit melepaskan rasa bosan. Jangan khawatirkan aku.” Leo berkata seolah mengabaikan mereka begitu saja.


Leo pergi ke ruang latihannya. Entah kenapa hatinya masih benar-benar sangat kacau setelah membaca masa lalu orang tersebut. Di sisi lain, dia juga masih ingin sekali untuk membunuh para pembunuh agar tidak ada lagi rasa dendam seseorang di masa depan.


Mengambil sebuah kain, Leo menutup matanya. Selama ini dia berusaha untuk berlatih agar bisa bertarung dalam kondisi menutup mata. Dia, dia sama sekali tidak ingin melihat masa lalu orang yang begitu menyedihkan hingga merusak hatinya. Hanya saja, selama dia berlatih, kemampuannya dalam bertarung sambil menutup mata benar-benar di bawah rata-rata.


Di bawah rata-rata dalam artian penilaian Leo sendiri. Sebelumnya dia pernah dilatih seperti ini oleh pak tua Gin dan dia mungkin bisa melakukannya. Hanya saja, itu tidak sebaik dalam kondisi membuka matanya.


Dia menarik pedang yang berada di punggungnya. Memasang sebuah kuda-kuda dan mencoba untuk mempraktekkan sebuah seni berpedang ke arah udara kosong. Dia melompat, berputar di udara, berputar biasa sambil membelah udara.


Akan tetapi, menurutnya itu sangat mudah untuk dilakukan. Apa yang perlu dia butuhkan sebenarnya adalah partner latihan. Hanya saja, siapa di tempat ini yang merupakan pengguna pedang selain Leo?


Iris kemudian datang di tempat latihan Leo. Entah kenapa, dia masih penasaran tentang apa yang Leo perbuat sehingga baju yang dia kenakan berbau darah yang begitu menyengat.


Jelas, Leo sendiri mendengar suara langkah kaki, hanya saja dia tidak tahu pasti siapa yang datang sehingga Leo menghadap ke arah datangnya suara langkah dengan mengangkat pedangnya.


“Tuan, kamu harus berbicara jujur. Berita terbaru mengatakan adanya sosok seorang pembunuh bagi pembunuh. Apakah itu, Anda?” Iris menatap curiga Leo.


Leo sama sekali tidak membuka penutup matanya. Hanya saja, dia menjawab, “Terkadang, aku perlu menegakkan keadilan menurutku sendiri. Mungkin cukup egois, tetapi jika kita tidak membunuh seorang pembunuh, rantai balas dendam yang mengakibatkan kelahiran para pembunuh terus muncul.”


“Menurutmu, apa yang membuat mereka menjadi seorang pembunuh? Apakah ada seseorang yang bercita-cita menjadi seorang pembunuh, Iris?” Ucap Leo sambil mengayunkan pedangnya seolah membelah udara kosong. “Keadaan yang memaksa mereka. Hanya saja, agar itu tidak menciptakan keadaan yang buruk bagi orang lain dan membuat orang lain itu seperti mereka, perlu melakukan yang seperti itu.”


“Jadi maksud Anda, pembunuh lahir dari orang yang kehilangan keluarga akibat dibunuh?” Iris bertanya.


Leo yang mendengar itu, dia membuka penutup matanya. Tampaknya Leo menyadari bahwa dirinya seperti yang dikatakan oleh Iris. Hanya saja, akhir-akhir ini dia memiliki rasa yang menusuk hati setelah membunuh. Serta, dia juga berbeda dengan pembunuh lainnya yang seolah tidak memiliki empati dan bahkan tidak ragu untuk membunuh orang yang tidak bersalah.

__ADS_1


“Kebanyakan seperti itu. Seperti, apabila aku membunuh keluargamu, dan kau melihatnya, mungkin kau akan menjadi cikal bakal pembunuh. Keadaan yang memaksamu seperti itu, dimulai dari ketika kau ingin balas dendam kepadaku. Tapi, perlahan kamu akan muncul rasa sosiopat setelah melakukan seperti itu.”


Iris menghela napas. Dia menganggap bahwa itu adalah analogi yang cukup bodoh. Siapa yang akan membalaskan dendam ketika orang tuanya terbunuh? Jelas-jelas justru dia akan merasa sangat berbahagia.


Selain itu, Iris sedikit mengerti. Tampaknya tuannya sedang membicarakan dirinya sendiri. Dia baru tahu bahwa tuannya, atau di masa lalu tuannya, memiliki sebuah masa lalu yang berhubungan dengan seorang pembunuh. Sehingga, tuannya benar-benar membenci seorang pembunuh.


“Iris, bisakah kamu menyerangku menggunakan sihir elemen petir?”


“Untuk apa? Jelas aku tidak ingin menyakitimu.”


“Lakukan saja, aku hanya ingin melatih sesuatu.” Ungkap Leo sambil menutup matanya menggunakan kain tersebut.


“Anda bodoh?”


“Tidak, lakukan saja. Ini perintah.”


“Bagaimana jika Anda terluka?”


Dengan ragu, Iris kemudian mengulurkan tangannya. Kemudian, dengan jantung berdebar, dia langsung mengeluarkan elemen petir tingkat rendah ke arah Leo. Bahkan saat dia mengeluarkannya, dia sedikit memejamkan matanya.


Leo bisa mendengar, dan merasakannya. Serta dia juga berhasil menganalisa kecepatan elemen petir milik Iris selama ini. Sehingga, saat serangan itu datang, Leo langsung mengayunkan pedangnya sehingga membuat elemen petir milik Iris terbelah dan melebur di udara kosong.


“Lakukan secara terus menerus.”


Iris yang sempat terkejut karena tebasana Leo, kini dia hampir muntah darah saat Leo memerintahkannya lagi secara terus menerus. Hanya saja, dia hanya bisa menuruti permintaan Leo dan langsung mengulurkan kedua tangannya untuk mengeluarkan bola elemen petir ke arah Leo secara berulang kali.


Leo bisa merasakannya, dengan kekuatan tangan dan ayunan, dia terus menerus memecah serangan elemen petir milik Leo. Kecepatan tangannya benar-benar seolah meninggalkan sebuah jejak saat dia menebas seluruh serangan yang Iris berikan.


Kemudian, saat serangan itu berakhir, tangan Leo sedikit keram karena dia harus menyamai kecepatan petir menggunakan kedua tangannya. Menghela napas lega, Leo membuka penutup matanya secara perlahan-lahan.

__ADS_1


“Lain kali serang aku seperti kau ingin membunuhku.” 


 


......


Keesokan harinya.


Di dasar jurang, di sekitarnya terdapat beberapa obor. Memperlihatkan ribuan tanaman bunga Lily yang hidup liar. Hanya saja, pemandangan yang cukup mengerikan adalah para mayat atau lebih tepatnya tulang belulang yang berserakan begitu saja.


Mungkin jika walikota berada di sini sendirian, jelas dia pasti akan merasa merinding dan ngeri. Untung saja di dasar jurang ini benar-benar sangat ramai seperti para prajurit yang menemani walikota, ada juga Leo dan juga Hime, serta beberapa pekerja yang akan bekerja di bawah Leo.


“Ternyata memang benar bahwa ada bunga lily di dasar jurang ini.” Walikota Galen angkat bicara. Dia menyentuh dagunya dan berbicara begitu puas saat melihat harta yang ditemukan seperti ini. “Hanya saja, apakah tidak masalah para pekerja ini? mereka mungkin akan ketakutan secara terus menerus saat melihat tulang belulang ini?”


Leo mengayunkan tangannya, beberapa tulang seketika berkumpul menjadi satu dan membentuk sebuah entitas skeleton hidup yang berdiri di depannya. Hanya saja setelah itu, Leo langsung memukul skeleton itu hingga hancur.


“Jangan khawatir, mereka hanya mayat yang ratusan bahkan ribuan tahun berada di sini.” Leo berkata demikian.


“Ne-necromancer?” Walikota Galen terkejut.


Leo menggelengkan kepala. “Bukan. Aku sama sekali tidak bisa membuat pasukan mayat hidup yang siap bertarung.”


Kemampuan itu, hanya sekedar teknik yang ada pada bakat shadow revenants. Kemampuan atribut setelah di evolusi oleh dewi Lumina itu sendiri.


Walikota Galen hanya menghela napas. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa sosok di depannya bukanlah sosok yang diremehkan dengan begitu mudah. Apalagi Leo sudah berada di level 5 ‘Menengah’ dalam beberapa bulan ini yang membuat dia sangat takjub dengan perkembangan Leo yang begitu cepat.


“Jadi mereka sudah bisa bekerja kan?” Walikota bertanya.


“Mungkin saja, setelah mereka membawa keranjang penuh serbuk sari dan beberapa wadah air langit yang diangkut menggunakan kereta kuda, bahan-bahan tersebut akan dibawa ke mansion untuk di oleh oleh Hime. Pengolahan menjadi potion dibutuhkan hingga waktu selama 48 jam alias 2 hari penuh.” Leo menjelaskan. Dia bisa melihat Hime dengan begitu senang mengajari beberapa pekerja untuk memetik serbuk sari.

__ADS_1


“Tampaknya menjadi seorang alkemis merupakan pekerjaan yang begitu merepotkan bukan?” Walikota tersenyum.


 


__ADS_2