
“Tetapi sebelum itu, bukankah kita harus mengujinya terlebih dahulu tuan?” Melina bertanya memastikan.
Leo mengangguk, pastinya dia harus menguji coba potion ini terlebih dahulu. Hanya saja, dimana dia harus mencobanya? Siapa yang akan menjadi kelinci percobaan? Tidak mungkin dia harus menunggu seseorang atau budaknya untuk sakit terlebih dahulu. Atau mungkin melukainya bagaikan tikus percobaan? Jelas itu tidak begitu manusiawi.
Melihat tuannya yang tampaknya begitu bingung bagaimana dia harus menguji potion ini, tiba-tiba Melina memiliki ide yang cukup gila. Bahkan ini tidak dipikirkan oleh pikiran Leo sama sekali, atau mungkin Leo sama sekali tidak berpikir sampai seperti itu.
Memangnya apa yang dia lakukan? Tiba-tiba Melina yang berdiri di samping Leo, dia menarik pedang yang ada di belakang punggung Leo dengan sangat cepat. Bahkan Leo sempat tidak menyadari perbuatannya saat itu.
Namun, saat Leo merasakan bahwa Melina menarik pedang milik Leo sendiri, seketika itu juga, Leo langsung melompat ke samping karena dia memiliki pikiran yang tidak-tidak seperti Melina akan melukai Leo.
Tampaknya itu masih sangat jauh dari pikiran Leo sendiri. Siapa yang berpikir bahwa Melina langsung menusuk dada kiri bagian atas miliknya hingga menembus bagian belakangnya? Jelas itu membuat Leo membuka matanya lebar-lebar, sedangkan Hime syok dan menutup mulutnya karena melihat apa yang dilakukan oleh Melina.
Melina langsung mencabut pedang milik Leo. Darah mengucur dengan sangat deras dan tak terkendali. Tetapi Melina hanya tersenyum sambil memandang ke arah Leo yang kaget setengah mati.
“Bodoh!” Leo berteriak dengan penuh amarah. Pikirnya Melina benar-benar sangat sembrono yang mungkin tidak bisa untuk dimaafkan. Tetapi, Leo tidak berpikir tentang perbuatan Melina lebih panjang, pasalnya Melina hanya diam saja dan tidak membuat reaksi seperti mencari sebuah kain untuk membalut lukanya.
“Nona, kau!” Hime juga sangat panik, secara refleks, dia juga mengambil kain untuk menghentikan pendarahan yang begitu hebat. Dia juga mencoba untuk melemparkan potion itu kepada Leo dikala dia benar-benar sangat panik.
Leo menangkap potion tersebut, dan kemudian dia meminumkannya kepada Melina yang hanya bodoh dan tidak peduli bahwa dirinya benar-benar terluka. Bersamaan itu juga, Hime juga mendapatkan kain yang kemudian dia ikutkan pada dada Melina agar darah tidak keluar lagi.
Perlahan, Melina meneguknya tanpa tersisa, dia juga menjilat sisa yang ada di ujung bibirnya agar tidak menyisakan sesuatu yang sia-sia.
__ADS_1
Meski begitu, mereka bertiga juga tidak tahu apakah potionnya akan berhasil atau tidak. Lagipula potion ini juga belum dijelaskan secara terperinci oleh Hime ataupun Ray untuk mengobati luka dalam atau luka luar. Jelas bahwa ini tindakan ceroboh yang tidak bisa untuk dimaafkan.
Kejadian yang tak begitu terduga, seketika asap keluar melalui celah kain yang menutupi luka Melina. Mereka bertiga jelas juga terkejut, apalagi ini adalah kali pertamanya mereka melihat yang seperti ini. Sedangkan Hime, dia juga baru mengetahuinya karena sebelumnya, dia belajar dari master tentang bunga Lily hanya sekedar teori sahaja.
“Ini berhasil! Aku sudah tidak merasakan rasa sakit kembali. Sungguh!”
Kurang percaya dengan ucapan Melina, Leo membuka kain yang membalut tubuh Melina yang terluka. Namun, saat membukanya, dia benar-benar cukup terkejut saat luka di dada Melina tiba-tiba menutup meskipun di sekitar bekas luka itu terdapat noda darah.
Hime yang ada di belakang juga merasakan hal yang sama. Dia melihat bahwa luka di punggung Melina juga menutup seolah tidak pernah terluka lagi. Tetapi Hime kurang yakin, dia menyentuh bukas luka itu menggunakan jarinya, memikirkan bahwa itu hanyalah sebuah kulit saja tanpa ada daging di dalamnya.
“Ini serius! Lukanya benar-benar sembuh.” Ucap Hime.
Sembuh atau tidak sembuh, wajah Leo benar-benar sinis saat menatap Melina. Auranya juga sedikit bocor yang memberikan isyarat kepada Melina bahwa tindakan itu tidak dapat dimaafkan.
Meski Leo dapat menatap Melina bahwa itu adalah bukti pengabdiannya, sebuah bukti bahwa Melina rela terluka untuk tuannya, tetapi bagi Leo itu adalah tindakan yang begitu sembrono.
Tanpa sepatah katapun, Melina terdiam dan menelan ludahnya secara kasar. Selain itu, dia juga langsung mengembalikan pedang yang dia pegang kepada Leo. Dia juga mengeluarkan ucapan yang sedikit gugup. “Maafkan aku tuan, aku sungguh menyesal.”
Meski dalam ucapan Melina dia menunjukkan sebuah kesedihan, Sebenarnya dalam hatinya ada sebuah kebahagiaan yang tak tercurahkan. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa tuannya, Leo benar-benar peduli kepadanya meskipun hanya sekedar menggunakan sebuah isyarat.
Kemudian, Melina menatap Leo dengan sedikit menggoda. “Sebagai permintaan maafku, Anda bisa melakukan sesuatu yang Voldegod lakukan kepadaku.”
__ADS_1
Leo membuang mukanya dan memasukkan pedangnya kembali.
“Aku masih ilegal bodoh! Jangan berpikiran aneh-aneh. Segera persiapkan diri kalian besok. Hime, jangan dengarkan sesuatu dari Melina yang juga sangat menyesatkan. Kamu juga masih Ilegal kau tahu?”
“Aku mengerti tuan, aku tidak akan mendengarkan perkataan sesat dari nona Melina.”
Leo pergi, setidaknya dia sedikit tenang karena dia sudah memperingatkan Hime. Melina benar-benar berbahaya, apa yang dia takutkan adalah menggoda Leo yang masih berumur 16 tahun. Atau lebih parahnya lagi seperti mengajari Hime yang tidak-tidak.
Atau lebih parahnya lagi seperti mengajari Hime yang tidak-tidak.
“Huuh, menurutmu kamu akan kuajari tentang sesuatu yang tidak-tidak? Jelas tidak, karena tuan Leo milikku. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya.” Protes Melina kepada Hime disaat Leo tidak berada di tempat.
“Bersaing secara sehat ok? Aku yakin tuan Leo memilih wanita sepantarannya, daripada beberapa tahun lebih tua dari dia nona Melina. Lagipula aku masih .... ups, aku tidak bermaksud, maafkan aku. ” Hime tiba-tiba juga tersenyum kepada Melina.
“Sialan kau!”
.....
Keesokan harinya, Leo yang menginap di mansionnya, kini bersiap untuk pergi ke alun-alun untuk menghadiri sebuah festival. Di belakang mereka, terdapat Hime dan juga Melina yang masing-masing dari mereka membawa tas tertutup dengan 2 potion lily. Itu artinya, mereka berdua hanya membawa 4 potion saja. Sedangkan 4 lainnya, Leo meninggalkannya karena itu dibuat untuk berjaga-jaga.
“Shin, kami pergi dulu. Jaga mansion ini.”
__ADS_1
“Siap tuan! Aku mengerti. Jangan khawatir tentang mansionnya.” Shin bertekuk lutut di hadapan Leo dan berkata dengan tegas.
Melihat sikap Shin, Leo menjadi yakin. Kemudian, dia langsung berangkat dengan berjalan kaki menuju alun-alun kota. Diikuti oleh Hime dan juga Melina dengan perasaan yang begitu senang karena selain untuk mengikuti tuannya, mereka juga perlu sebuah hiburan.