
“11 tahun yang lalu, memangnya ada masalah apa tuan sehingga kelompok mereka seolah berhenti bekerja?” Bukan hanya karena perintah Leo, Melina tampaknya juga sangat penasaran mengapa kelompok organisasi Verva yang merupakan pembunuh bayaran berhenti begitu saja?
Leo sebenarnya di balik bayangan hanya bisa menggertakkan giginya. Jika kelompok tersebut bubar, jelas-jelas dia tidak bisa membalas dendam kejadian 11 tahun yang lalu. Apalagi kelompok tersebut juga bubar 11 tahun yang lalu.
Anda saja kala itu Leo mampu melihat sekilas wajah mereka, mungkin kali ini dia akan mencari pembunuh tersebut dengan sangat mudah. Sayangnya, mereka menggunakan penutup wajah ala pembunuh bayaran yang membuat Leo pasti akan merasa kesulitan. Hanya lambang yang berbentuk daun menjari saja yang Leo ingat.
“Bukankah sudah ku katakan? Mereka bubar tanpa sebab. Tapi katanya ada sebuah rumor di informasi gelap bahwa ketua kelompok tersebut seolah berhenti setelah melaksanakan tugas.” Jelas Voldegod sambil menyentuh dagunya.
“Berhenti setelah melakukan tugas?” Leo berkata kepada dirinya sendiri. Jika dia berwujud, maka tampak jelas bahwa wajahnya akan sangat serius dengan sebuah kerutan di dahinya. Ini merupakan sebuah misteri yang sangat besar yang harus dipecahkan bagi Leo.
“Mungkinkah tugas terakhir itu setelah membunuh ayah dan ibu?” Bibir Leo berkedut dia masih tidak bisa menyimpulkan apa penyebab mereka berhenti melakukan tugas.
“Terimakasih atas jawaban yang Anda berikan tuan.” Melina sedikit membungkukkan badannya dan berterimakasih.
Waktu sudah menunjukkan bahwa lima menit akan berlalu. Jika Melina tidak pergi dari sini, maka Leo akan muncul secara tiba-tiba karena dia memiliki batas durasi saat menggunakan shadow sneak ability. Jelas-jelas bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang bagus apabila dia muncul di hadapan Voldegod.
Apalagi Voldegod berada di level 6 ‘menengah’ yang sangat jauh di atas Leo yang hanya level 3 ‘menengah’. Itu bukanlah lawan yang sepadan bagi Leo. Karena apabila dia melakukan hal yang ceroboh, dia bisa dibunuh di tempat, atau yang terjadi dirinya akan dipaksa menjadi seorang budak yang akan sangat sulit untuk dilepas tentang segel perbudakan.
“Tunggu Mateo, bukankah aku memerintahkanmu untuk ‘berbaring di sampingku’?” Voldegod mengangkat alisnya. Menatap Mateo dengan penuh hawa napsu seolah hendak menerkam Mateo.
Mateo hanya bisa menelan ludah. Di sisi lain, dia tidak bisa menolak tuannya itu karena dia memiliki segel perbudakan. Sehingga apabila Voldegod tidak terima, maka Mateo akan terancam keselamatannya.
Di sisi lain pula, dia tahu bahwa waktu yang diberikan oleh Leo maksimal adalah lima menit. Hanya saja, dia juga tidak tahu, memangnya apa yang terjadi setelah lima menit?
__ADS_1
Namun, daripada dia terbunuh begitu saja, dia mengabaikan apa yang dijanjikan oleh Leo. Keselamatannya lebih baik. Meski begitu, dia tetap menundukkan wajahnya dan membatin untuk meminta maaf kepada Leo bahwa ini mungkin akan lebih dari lima menit.
Lagipula dia jelas tidak tahu, bahkan dia tidak memiliki pemikiran untuk keluar sebentar dan mengeluarkan Leo dari balik bayangan. Tidak, dia tidak memikirkan hal tersebut karena tidak tahu tentang resiko teknik milik Leo.
“Tidak tunggu, kau harus keluar terlebih dahulu setidaknya. Akh, sial aku lupa untuk tidak memberitahu dampaknya.”
Sekuat apapun Leo berkata, jelas bahwa ucapannya tidak akan terdengar. Dia sudah bergabung menjadi bayangan yang tidak bisa melakukan apapun selain mengamati, mendengar dan mencium.
Tanpa berpikir panjang, Melina duduk bersama dengan dua wanita yang setengah telanjang bersama dengan Voldegod. Hal seperti ini mungkin sudah biasa baginya yang membuat dia tidak terlalu gemetar. Dia juga sudah mengerti bahwa dirinya akan diapakan nantinya.
“Tuan, semua tubuhku ada di tanganmu. Budak yang hina ini siap untuk melayani Anda.”
“Bukankah aku bilang untuk berbaring?” Voldegod yang melihat itu, dia langsung mencekik Melina dan membantingnya di atas kasur secara kasar. Hal tersebut sebenarnya membuat Melina ingin berteriak dengan sangat keras.
“Arkhhhh!!”
Dan .... Leo tidak bisa menahan batasnya, tubuhnya seketika muncul di tengah-tengah sebuah permainan Voldegod dengan para budaknya secara nyata. Napasnya terengah-engah karena dia sangat kesulitan untuk bertahan tetap di balik bayangan Melina.
Keberadaan Leo, jelas hal tersebut menjadi pusat perhatian Voldegod, apalagi Leo yang muncul di samping Melina dalam kondisi hampir terbaring karena cukup kesulitan untuk menahan sebuah teknik.
“Le .... Leodric?” Melina yang melihat hal tersebut, dia hanya bisa berkata dengan lirih dan menutup mulutnya. Dia tidak percaya bahwa Leo keluar dari tengah-tengah permainan yang seharusnya tidak Leo lakukan.
“Anjing siapa yang berani menyusup ke dalam kamarku!? Dan berani mengganggu permainanku?”
__ADS_1
Jelas, wajah Voldegod tampak murka dengan keberadaan Leo. Lagipula, siapa yang tidak marah ketika ada seseorang yang muncul di tengah-tengah permainan mereka? Voldegod yang tidak terima, dia langsung mendorong tangannya dan hendak membanting Leo di lantai karena melakukan perbuatan lancang.
“Lancang kau! sampah level 3 sepertimu berani untuk menyusup? Kau bagaikan seekor siput yang masuk ke dalam kandang naga!” Voldegod berteriak, hingga seisi kamar miliknya bergetar dengan sangat hebat.
Leo menggertakkan giginya, seketika tubuhnya berpindah tempat di depan pintu saat Voldegod hendak menyerangnya secara tiba-tiba. Untungnya, dia mampu bergerak dengan sangat cepat dengan menggunakan kemampuan bayangannya.
Hanya saja, di saat seperti itu, tubuhnya melemah. Bahkan mananya belum pulih setelah bertarung berat dengan Mateo. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya menyerang Voldegod dengan sisa kekuatan milik Leo sendiri.
Meski begitu, Leo tetap menarik pedang di selongsongnya untuk berjaga-jaga sambil menarik gagang pintu untuk lari. Tidak ada waktu untuk mengurus seseorang yang memiliki level jauh di atasnya. Jelas bahwa dia tidak akan bisa selamat jika dengan berani berdiri di tempat dan mengangkat pedang secara vertikal.
“Mateo!”
“Defensive Fire Wall!”
Saat Leo membuka pintu, di depannya muncul sebuah kobaran api yang membentuk sebuah dinding tebal hingga dia melompat ke belakang untuk menghindari serangan tersebut. Leo membuka matanya dan menatap Melina karena ini adalah perbuatan Melina.
Meski begitu, dia tetap berpositif pikir bahwa Melina tidak bisa mengelak dari jeratan Voldegod. Sehingga dia tahu persis bahwa Melina hanya sekedar terpaksa. Apalagi Leo mampu melihat dari raut wajah Melina yang seolah ingin menolak.
“Mau kemana kau anjing sialan!”
Voldegod melompat dari atas kasurnya menuju hadapan Leo. Terlihat dengan sangat jelas bahwa wajahnya dipenuhi oleh amarah dan haus darah seolah hendak membunuh Leo.
“Flame Sword Imago!”
__ADS_1