
“Bagaimana nona Luvria? Kau ingin bertemu dengan putrimu atau tidak? aku sama sekali tidak memiliki waktu karena sejatinya aku harus menuju ke sana. Jika kamu ingin, aku akan memberikan batu teleport ku kepadamu yang terhubung dengan Ivy atau Hime untuk menolongnya dari siasat Darian melalui manipulatif Raven.” Ucap Leo dengan mengambil sebuah batu ungu dan menunjukkannya di depan mereka.
.......
Hime tersenyum dengan begitu ramah saat dia dipersilahkan untuk duduk. Di hadapannya sendiri, terdapat seorang Viscount timur yang juga duduk seolah memasang wajah yang begitu licik.
"Tuan, Henry? Ada perlu apa tuan Henry mengundang saya?" Hime mengerutkan dahinya.
Henry menyeringai, kemudian dia angkat bicara untuk membalas perkataan Hime. "Aku menawarkan sebuah kerja sama untuk Anda, bagaimana?"
"Kerjasama apa yang Anda maksud?"
"Bagaimana jika kamu berhenti bekerja di Griefhaven dan beralih ke kota Floppa. Walikota menawarkan penawaran yang fantastis, yaitu dia akan memberimu gaji 10 koin emas setiap bulannnya." Tawar Henry.
Hime masih tersenyum, dia kemudian menggelengkan kepala menandakan dia menolak dengan lembut tawaran dari Henry. Kemudian, dia menjawab, "Maafkan aku tuan, tapi aku tidak akan keluar dari Griefhaven. Selain itu, bukankah itu diluar penawaran yang diberikan oleh Hang kemarin?"
"Ah, tapi walikota menawarkan penawaran yang fantastis. Memangnya berapa gajimu di desa Griefhaven? Jika ini setara, maka mungkin aku bisa memintakan walikota untuk menaikkannya." Henry masih menahan diri, meski dalam hatinya dia seolah ingin membunuh Hime di tempat.
"Aku? Tentu saja tidak digaji. Meski begitu aku tetap tidak ingin mengkhianati tuan Leo. Bahkan ketika tuan Leo menggajiku, aku menolaknya karena keberadaan tuan Leo seolah sudah menjadi bayaran untukku." Hime menjawabnya.
"******!" Henry berteriak dan langsung berdiri dengan sangat cepat. Dan saat itu juga, ruangan yang sebelumnya hanya beberapa orang, kini satu persatu muncul seolah hendak mengelung Hime.
"Kau tidak akan bisa lepas! Bukankah kau mencintai Leo? Aku akan membuat Leo kehilangan orang yang paling dicintainya!" Sosok yang ada di belakang Hime, tidak lain Darian, dia muncul secara tiba-tiba. Beberapa prajurit dan pengawal juga muncul dengan menodongkan tombak.
Hime ternganga, dia memasang kuda-kuda dan melihat keadaan sekitar bahwa dia akan terkepung. Meski begitu dia sama sekali tidak memiliki rasa takut sama sekali.
"Ini penawaran terakhir, jika kamu menolak, maka habislah riwayatmu!" Kata Henry dengan nada suara yang begitu tinggi.
__ADS_1
Hanya saja, Hime sempat berpikir bahwa dia pasti akan kalah. Jumlah mereka sangat banyak, terlebih levelnya yang setara dengan Hime membuat Hime sedikit pasrah.
Meskipun, dia akan berjuang kali ini.
"Bunuh dia!"
"Nature ...."
Sebuah jaring laba-laba mengikat beberapa prajurit. Dan Hime Benar-benar terkejut saat menyadari bahwa prajurit itu tercincang bagaikan daging ternak.
Hime melihat sekeliling, sebuah benda melayang secara tiba-tiba dan menyerang mereka semuanya.
Shin, muncul di belakang Hime. Diikuti dengan Yuuki dan juga Araka yang langsung bergerak ke arah Viscount Henry.
"Shin?! Yuuki Araka?!" Hime berkata dengan sangat terkejut. Masalahnya, bagaimana bisa mereka bertiga ada di tempat ini? Jelas-jelas posisi Griefhaven dan juga wilayah timur kota Little Pear benar-benar sangat jauh.
"Bagaimana bisa?"
"Ba-bagaimana bisa?" Henry berdecak kesal. Dia kemudian, mengambil sebilah pedang untuk bergerak ke arah Hime secara langsung. “Serang dia!”
Shin yang melihat itu, dia mengulurkan jaring laba-labanya. Namun, Henry mengayunkan pedangnya ke arah jaring laba-laba tersebut.
Di sisi lain, Darian yang penuh dengan kebencian, dia juga mengangkat pedangnya untuk melawan mereka.
Sebanyak ini, sebenarnya Shin Yuuki dan juga Araka sedikit merasa kesulitan. Untung saja Hime juga tidak tinggal diam, dia mengeluarkan akar dari lantai untuk menjerat mereka dan menyerang mereka.
Sayangnya Henry dan juga Darian benar-benar sangat kuat. Dia terus mengayunkan pedangnya. Ditambah, beberapa pasukan yang dikeluarkan Henry dari luar benar-benar sangat banyak, sehingga membuat Hime sendiri merasa terpojok diperbuatnya.
Tidak menunggu lama, Yuuki melemparkan sebuah Phantasma ke arah Henry. Ditambah dengan Araka yang bergerak ke samping Henry untuk melawan dia.
__ADS_1
Serangan Henry tampaknya bisa menyerang kembali Araka, Henry terlalu kuat bagi Yuuki ataupun Araka, sehingga membuat Araka sendiri harus beradu pedang dengan Henry. Apalagi kondisi pedang Araka langsung patah saat Henry menebasnya.
Araka mundur sejenak, dan saat itu juga Phantasma pecah dan mengenai tubuh Henry. Tidak membuang beberapa kesempatan, Araka tahu pasti Henry mengalami rasa pusing yang begitu berat, ilusi juga akan terbentuk pada pandangan Henry sehingga apa yang dia lakukan oleh Araka adalah meloncat ke arah Henry dengan mengayunkan pedang miliknya.
Memang, Araka dan Yuuki mengetahui batasan mereka. Mereka tahu bahwa Henry memiliki level yang lebih tinggi dari mereka. Sehingga kemampuan berpedang dan pergerangan dari Yuuki dan juga Araka pasti akan dianggap sepele bagi Henry. Namun, dia tidak selalu mengandalkan sebuah pertarungan, mengingat percakapan dari kakak mereka bahwa kemampuan berpikir juga sangat penting. Apalagi kemampuan telekinesis yang memperkuat kombinasi mereka.
Itulah yang membuat mereka berhasil setidaknya untuk melukai Henry dengan phantasma. Dan Araka juga berhasil bergerak sejauh ini untuk melukai Henry dari belakang.
Henry sempat terkejut, dia langsung merasa sangat pusing. Beberapa detik kemudian, dia melihat Yuuki dan Araka benar-benar sangat banyak. Bahkan dia sempat tidak tahu bahwa Araka yang asli ada di belakang mereka.
"Tuan Henry, berhati-hati!"
Darian berteriak, dia kali ini mencoba untuk melawan Shin dan juga Hime.
Buuumm!
Seketika sebuah ledakan besar tercipta di sekitar mereka, seorang wanita paruh dengan rambut hijau muda muncul dan memukul wajah Darian secara langsung dengan penuh emosi.
Di sisi lain, kemunculan wanita itu membuat Araka sedikit terlempar ke belakang. Mungkin tidak hanya Araka, melainkan orang-orang yang berada di radius kemunculan wanita itu yang diikuti oleh pupil mata mereka yang membesar.
Selain itu, akar yang keluar dari bawah tanah, muncul dengan sangat besar menjerat Darian dan juga Henry secara langsung. Tidak berhenti begitu saja, Hime yang sebelumnya melawan para prajurit, prajurit itu juga terikat akar oleh wanita tersebut.
"Apakah ini ilusi? Dihadapanku adalah Luvria?" Henry mengerutkan dahinya. Dia sedikit yakin bahwa sosok Yuuki dan Araka yang banyak adalah sebuah ilusi, namun dengan munculnya Luvria secara langsung, membuat dirinya harus meyakinkan bahwa ini adalah sebuah ilusi.
"No-nona Lu-luvria? Mengapa kau menyerangku?" Darian berdebar kencang saat dia mencoba untuk bangkit saat dirinya diikat, serta dia melihat bahwa Luvria berwajah sangat mengerikan.
"Luvria?" Baik Shin, Hime dan si kembar, mereka bertanya secara bersamaan.
"Hime, Yuuki Araka, kalian larilah!" Kata Shin sambil mengulurkan tangannya dan bersiap untuk melawan Luvria.
__ADS_1
Namun, Luvria sendiri tidak peduli. Dia berbalik badan dan menatap Hime dengan begitu serius. Dan .... Ya, mata Luvria terbuka, pupil matanya membesar saat dia melihat sosok Hime bagaikan putrinya yang diculik belasan tahun yang lalu. Sangat mirip.
"Ivy?"