
“Semuanya sudah berakhir. Tetapi aku penasaran dimana penduduk desa Caprae saat ini?” Leo bertanya. Baik kepada dirinya sendiri, atau mungkin orang yang mendengarnya terutama Hime yang berada di dekatnya.
Keadaan setelah ada sebuah ledakan, justru membuat kebakaran itu berhenti seketika. Bagaimana tidak? gelombang kejut yang terjadi itu seolah menerbangkan semua, bahkan puing-puing sisa kebakaran yang membuat api tersebut berhenti seketika.
Pikirnya sebelumnya bahwa Hellfire mati setelah dia meledakkan diri. Tapi ternyata, dia hanya meledakkan kulit bagian luarnya saja sebelum dia berlari untuk pergi setelah tidak mampu untuk melawan Ray seorang.
Memang bahwa kebakaran telah berhenti, dia juga tidak melihat adanya banyak korban selain puluhan pria paruh baya dan tua. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan bagi Leo, dimanakah semua penduduk Caprae?
Tapi yang paling penting penduduk desa Caprae selamat, itu adalah pikirnya. Walaupun Leo harus menaruh hormat kepada orang tua yang tampaknya rela berkorban dan mengulur waktu agar para generasi muda bisa lari dengan lebih mudah.
Andai Leo bangun lebih awal, keadaan pasti tidak sampai begini. Leo sedikit menyesal saat dia terus tertidur lelap di atas puncak hanya karena menikmati hawa tenang. Padahal di bawah adalah sebuah serangan yang terlihat sangat mengerikan.
“Tuan, beberapa penduduk desa Caprae ada di lereng gunung! Mereka tampaknya mengungsi di tempat itu.” Beberapa petualang kemudian menghadap Leo setelah sedikit memberikan sebuah hormat. Tidak, bahkan beberapa prajurit juga yang juga datang untuk memberikan sebuah hormat.
Siapa yang tidak mengenal Leo? Jelas, dia terkenal di jagat petualang kota Little Pear dan juga di lingkungan kastil walikota. Keberadaan Leo sebagai seorang petualang yang ‘diistimewakan’ oleh guild master yang tentunya petualang mulai dari perunggu sampai ke gold mengetahuinya. Selain itu, juga karena terkenal di lingkungan kastel, prajurit jelas mengetahuinya.
Sehingga tidak heran mereka memberikan sedikit rasa hormat. Walaupun leo sendiri juga merasa risih karena diperlakukan seperti itu.
“Mari kita lihat.”
Leo dan Hime bergegas untuk pergi ke lereng untuk melihat apakah desa Caprae memang ada di sana. Dengan berbekal sebuah obor api yang diberikan oleh salah satu prajurit agar Leo bisa mengecek apakah memang mereka di sana?
__ADS_1
Jika iya, itu akan menjadi sebuah berita yang baik sekaligus menegangkan kepada Leo. Berita menegangkannya adalah, lereng bukanlah sebuah medan yang cocok untuk tempat bersembunyi dari kejaran musuh. Tempat yang curam dan sangat tidak cocok untuk menjadi medan berlari apabila mereka dikejar.
Beberapa waktu Leo dan Hime naik ke lereng, diikuti oleh orang-orang dari kalangan petualang dan juga prajurit, mereka akhirnya telah melihat orang ramai di lereng lebih tepatnya di sekitar rumah Leo yang dulu.
Mereka kedinginan, menangis, dan dipenuhi oleh rasa takut yang begitu luar biasa. Apalagi kondisi dimana mereka sanggup melihat api-api melahap rumah, harta dan orang-orang tua mereka. Mereka, lebih tepatnya dari ratusan penduduk Caprae sudah tidak memiliki apa-apa lagi.
“Leo!”
Mereka berteriak, berteriak dengan sedikit lega saat Leo datang menghampirinya. Apalagi putra kepala desa, Elric, dia benar-benar menangis dan wajahnya terlihat begitu lesu.
“Terimakasih telah menyelamatkan kami. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Ayahku telah meninggal. Mereka juga membutuhkan tempat lagi. Aku, aku tidak tahu harus berbuat apa.” Elric, dia tempat lumpuh di depan Leo. Sebagai putra kepala desa, jelas dia tidak bisa berbuat banyak saat ini dan tidak bisa berbuat banyak untuk menggantikan ayahnya.
“Kami mencarimu Leo, kami mencarimu di tempat ini untuk mencari perlindungan. Hanya saja, kami terjebak di sini karena tidak menemukanmu. Rasanya turun juga tidak mungkin karena kondisi sudah terbakar.” Salah satu dari mereka angkat bicara.
Leo terdiam. Ya, ini adalah salahnya. Tapi dia tidak menyalahkan dirinya sepenuhnya karena mereka terlalu bergantung kepada Leo hanya karena Leo menjadi sosok terkenal dan kuat di wilayah kota bagian Barat dan juga Selatan.
Tempat juga sudah terbakar habis, seolah juga menjadi kuburan mayat di reruntuhan yang telah menjadi abu. Mereka tidak mungkin menempati tempat itu lagi.
Leo menghela napas, dia memikirkan sebuah ide, sebuah ide yang cukup ekstrem untuk dilakukan. Hanya saja, apakah ini akan berhasil atau tidak? tapi yang pasti tujuan utamanya adalah belas kasihan, apalagi mereka adalah sosok sosial masyarakat yang sangat dekat dengan Leo dan tidak lebih dari itu.
Sehingga, dia berkata, “Jika kalian mau, kalian bisa tinggal di wilayah hutan Esves. Tapi ....” Leo berkata dengan sedikit ragu. “Aku tidak bisa menanggung pembangunannya. Kalian bisa membangun rumah kalian sendiri dengan ketentuan luas tanah yang sama. Dan kalian yang membangunnya sendiri, kemudian setelah itu kalian akan membangunkan sebuah ekonomi tersendiri.”
__ADS_1
“Lebih tepatnya Anda akan membuat sebuah desa baru di wilayah hutan Esves?” Mata Hime sedikit berbinar mendengarnya. Kapan lagi, dia memiliki seorang tuan yang akan mengurus sebuah desa>
Leo sebenarnya sedikit keberatan, tapi mau bagaimana lagi. Leo juga tidak ingin membiarkan seorang anak dan juga wanita berlalu lalang seolah tidak memiliki kehidupan yang kemungkinan terbesar mereka hanya akan menjadi seorang budak hina yang hanya digunakan bahan kotor oleh para bangsawan itu sendiri.
Elric berbinar, sebagai seorang putra kepala desa, dia langsung bersujud di depan Leo, diikuti oleh seluruh penduduk desa Caprae yang tersisa. Mereka sama sekali tidak keberatan meskipun Leo tidak bisa membantu secara materi karena mereka pasti bisa bekerja sama untuk membangun sendiri.
“Ya, ya, kami benar-benar berterima kasih kepadamu Leo. Tidak, maksudku kepala desa yang baru.” Kata Elric dengan sepenuh hati.
Pernyataan bahwa Leo menjadi seorang kepala desa yang baru keluar dari mulut Leo, membuat mereka tersenyum dan berosark dibalik sebuah kesedihan yang mendalam dan mempercayai seorang pemimpin untuk mereka semua.
Leo menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. Dia sedikit tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Hanya saja, dia tidak bisa menolak dan sedikit berkata. “Baiklah jika memang begitu, namun, aku memerlukan desa yang baru yang berada di wilayah hutan Esves. Kalian semua, bangunlah!”
Mereka semua bangun setelah bersujud di hadapan Leo dan kembali berdiri. Meskipun, mereka sendiri sempat bersemangat dan sangat penasaran tentang nama desa baru yang dicetuskan.
Leo menghela napas sebelum dia berpikir dan berkata, “Nama desa di wilayah hutan Esves adalah, desa Griefhaven.”
Griefhaven, mendengar namanya, mereka benar-benar begitu antusias. Beberapa petualang yang berdiri di belakang Leo, serta prajurit, mereka bertepuk tangan saat Leo memberikan sebuah perlindungan di bawah air mata mereka setelah mereka sendiri mengalami sebuah kehancuran yang begitu besar.
“Tapi sebelum itu. Kita harus menguburkan mereka. Meskipun tempat ini sudah tidak layak pakai, tapi setidaknya kita jadikan bekas desa Caprae menjadi sebuah pemakaman yang layak bagi mereka yang sudah tiada.” Leo berkata.
Mereka mengangguk dengan setuju untuk menguburkan orang-orang di tanah desa Caprae.
__ADS_1