Ahli Pedang Berdarah Dingin

Ahli Pedang Berdarah Dingin
Meyakinkan Leo


__ADS_3

Usai mendengar itu, tatapan Leo benar-benar sangat sinis. Dia menatap Hang dengan cukup serius yang membuat Hang menelan ludah secara kasar dan sangat merinding diperbuatnya.


“Berikan Alasan mengapa dia harus pergi sendirian?” Tanya Leo.


“Ah, bukankah Anda harus mengunjungi duke? Lantas siapa yang akan me ....”


“Tidak! aku memiliki banyak bawahan di sini. Itu adalah alasan yang begitu klasik.”


Hang mencoba untuk sedikit tenang, kemudian dia membuka mulutnya walaupun dia berpikir sebentar harus berbicara apa. “Ada beberapa alasan, seperti viscount yang ingin berbicara empat mata, serta kuota undangan hanya untuk alkemis Anda. Bagaimana tidak? viscount itu orangnya begitu temperamen, dia selalu mengundang seseorang secara mandiri dan tidak diharuskan untuk membawa siapa-siapa, atau yang terjadi alkemis Anda tidak akan disambut secara baik.”


Leo menghela napas, kemudian dia menatap Araka yang berdiri. “Araka, bisakah kamu pergi ke tempat Hime? Panggil dia menuju ke sini.”


“Baik.” Jawab Araka sambil mengangguk dan juga bergerak di tempat.


Semua orang yang ada di tempat itu, baik itu Iris, Melina, bahkan utusan Duke sekalipun, tampaknya sedikit mengerutkan dahinya. Undangan dari viscount timur benar-benar terlihat seperti main-main. Apalagi viscount timur menyuruh utusan yang terlihat begitu buruk dalam berhadapan dengan seseorang. Seolah tidak memiliki rasa hormat sekalipun.


“Alasan yang tidak begitu masuk akal sama sekali. Tuan, aku harap kau tidak memiliki niatan yang begitu buruk kan?” Tristan berkata.


“Ah, kalian semua benar-benar menaruh curiga. Undangan alkemis milik tuan Leo ini sama sekali tidak main-main. Di sisi lain, melalui viscount timur itu sendiri, bahkan kota Floppa akan membeli barang mentah dengan harga yang sangat mahal. Maka dari itu, ini membutuhkan diskusi antara alkemis Anda.”


“Baik-baik, aku tahu. Sekarang yang perlu kulakukan hanyalah menunggu kedatangan Hime, apakah dia mau atau tidak.”


......


Beberapa menit kemudian, Hime datang dengan wajah yang begitu bingung. Dia kemudian menghadap Leo dan juga para tamunya seolah akan berbicara sesuatu yang begitu serius dengannya.


“Tuan, ada apa kau memanggilku?” Tanya Hime.


“Apakah kau ingin menerima undangan dari viscount timur? Dan jika beruntung, viscount timur sendiri akan mengajakmu jalan-jalan ke kota Floppa, kota alkemis.” Ujar Leo memberitahu.

__ADS_1


Mendengar pernyataan dari Leo, Hime melengkingkan mulutnya. Dia benar-benar tertarik dengan undangan tersebut, apalagi setelah dia mendapatkan undangan dari viscount timur, dia akan menuju kota Floppa.


Hanya saja, kota Floppa sendiri merupakan rumahnya terdahulu. Kondisi dimana dia mendapatkan perlakuan yang cukup buruk dari orang tuanya. Namun, yang dia inginkan saat dia menuju kota Floppa, adalah bertemu dengan master yang selama ini mengajarkan sebuah keterampilan alkemis. Jadi, Hime benar-benar tertarik dengan undangan tersebut, juga karena ingin bertemu dengan masternya yang mana dia belum mengucapkan salam perpisahan.


Melihat wajah ceria dari Hime, kemudian Leo melanjutkan ucapannya. “Hanya saja, undangan ini hanya tertuju padamu. Kamu diperintahkan untuk datang tanpa membawa orang. Selain itu, aku juga akan memenuhi undangan Duke.”


“Itu tidak masalah tuan. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”


“Baik tuan Hang, alkemisku akan datang dan memenuhi undanganmu. Dan, sesuai dengan ucapanmu, ada sebuah jemputan, jika tidak, Hime tidak akan datang.” Ucap Leo dengan begitu serius.


“Aku mengerti tuan. Terimakasih atas kebaikan Anda. Jika memang begitu, aku undur diri terlebih dahulu.” Hang berdiri dari tempatnya. Kemudian, dia membungkukkan badannya dan beranjak pergi menuju keluar sendirian.


Melihat tingkah Hang. Jelas bahwa Tristan tersenyum begitu kecut. Sikap Hang tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang begitu penting atau lebih tepatnya adalah utusan dari seorang Viscount. Terlebih, wajahnya sedikit cemberut saat Leo menerima undangan itu.


“Tuan, mengapa kamu menerima undangan itu. Apakah Anda tidak ....”


“Aku mengerti, jelas aku tidak akan membiarkan Hime sendirian. Shin, bisakah kamu mengikuti Hime dalam diam untuk esok. Serta, kamu juga bisa mengajak Yuuki serta Araka.”


“Aku mengerti, jelas seorang lelaki tidak akan membiarkan barang berharganya keluar sendirian. Dan, aku juga ingin undur diri tuan. Dua hari lagi, beberapa orang dari Ducchy akan datang untuk menjemput Anda.” Kata Tristan dengan sedikit membungkukkan badannya.


“Tentu saja, aku akan mengantarkan Anda menuju gerbang. Atau mungkin aku bisa menemani Anda jalan-jalan di desa ini.” Leo menjawabnya dengan ramah.


Tristan tidak begitu keberatan, dia mengangguk dan mempersilahkan Leo untuk memimpin dan menemaninya berkeliling-keliling desa ini.


Melina dan Iris sebenarnya ingin mengikuti Leo, tapi Leo melambaikan tangannya dan menolaknya. Sehingga, Melina dan Iris mengangguk dan segera pergi begitu saja.


Sambil mengelilingi desa, Tristan benar-benar sangat takjub dengan keadaan desa yang tertata begitu rapi. Semua orang tertawa dan terlihat sangat makmur yang menunjukkan bahwa desa ini memiliki perekonomian yang begitu baik. bahkan Tristan sendiri sempat membaca sebuah perkamen, bahwa desa ini hanya butuh waktu selama dua bulan agar berdiri sebaik ini.


“Apakah mereka hanya bekerja dengan pekerjaan yang memiliki hubungan dengan bunga Lily?” Tanya Tristan dengan sangat heran.

__ADS_1


“Tidak juga sebenarnya. Ada juga mereka yang bekerja sebagai seorang peternak, kemudian ada juga yang berladang. Pedagang yang menuju kota juga banyak. Yang membuat desa ini seimbang.” Tutur Leo.


“Sayangnya kemampuan berternak tidak sebagus dengan desa sebelah, yaitu Ciradar.” Sambungnya.


“Ini sudah sangat baik! Setiap desa memiliki bidang yang menonjol tersendiri. Tunggu, apakah Anda hanya mengembngkan potion penyembuhan yaitu bunga Lily saja?” Tanya Tristan.


“Jelas tidak, untuk berjaga-jaga apabila ramuan bunga Lily berproduksi terlalu banyak dan tidak lagi langka. Sehingga kami mengembangkan ramuan lainnya, akan tetapi aku benar-benar bingung mencari alkemis di mana. Posisi alkemisku juga tidak memiliki banyak waktu. Selama 4 hari dia bekerja dengan keras, sedangkan 3 hari aku suruh untuk beristirahat. Jelas, dia bukan robot.”


“Anda benar-benar sangat baik tuan. Benar-benar mencerminkan kepala desa pada umumnya.” Puji Tristan.


Leo kemudian membalas, “Tuan Tristan terlalu memuji. Jika bukan bantuan dari para bawahanku, apa jadinya aku? Kemungkinan aku benar-benar kalang kabut karena aku sendiri tidak memiliki pengalaman untuk menjadi seorang pemimpin.”


“Ah tuan, mungkin sampai di sini saja. Aku benar-benar ingin pamit terlebih dahulu dan akan kembali menuju Duke. Emm, apakah Anda tahu sebuah fakta? Jarak daru Ducchy dan kota ini memerlukan waktu setidaknya tiga hari. Sehingga, orang-orang yang menjemput Anda sebenarnya sudah berangkat kemarin.”


“Eh? Tunggu sebentar, bagaimana jika ternyata aku menolak?”Leo bertanya sambil mengerutkan dahinya dia juga berjalan ke arah gerbang


“Pastinya kami tahu bahwa Anda tidak akan menolak bertemu dengan Duke. Jadi, kami benar-benar optimis. Selain itu, jika Anda memang menolaknya, yang pasti aku akan berpapasan dengan mereka dan menyuruh mereka kembali. Ya, untung saja Anda menerima undangan ini dengan lapang dada.” Balas Tristan.


Sesampainya di gerbang, Tristan benar-benar menaruh hormat kepada Leo. Akan tetapi, sebelum dia naik ke kereta kuda miliknya, dia memberikan dua buah batu yang menyala warna ungu yang membuat Leo berdecak kagum.


“Apa ini tuan?”


“Hanya sekedar batu teleportasi. Sebagai misalnya aku membawa satu batu ini, kemudian Anda memegang batu yang kedua, sejauh jarak pun bisa jika aku ingin berteleportasi kepada Anda. Begitupun sebaliknya. Selama masih membawa batu ini.”


“Lantas mengapa Anda memberikan kedua batu ini tuan Tristan?” Leo kembali bertanya dengan wajah penuh misteri.


“Tidak apa-apa. Kemungkinan berguna untuk Anda dan juga bawahan Anda. Sudahlah, aku pamit terlebih dahulu.” Balas Tristan dengan nak ke dalam kereta kudanya.


Leo mengangguk tanpa memberikan ekspresi apapun. Serta dia juga menjawab beberapa patah kata kepada Tristan. “Terimakasih tuan Tristan, selain itu, hati-hati di jalan.”

__ADS_1


 


__ADS_2