Ahli Pedang Berdarah Dingin

Ahli Pedang Berdarah Dingin
Hutan monster


__ADS_3

“Baik, aku akan menerimanya. Selain itu, bukankah kita harus berjaga-jaga?” Leo menerimanya dengan begitu senang hati.


“Aku paham tuan, terimakasih atas kerjasamanya.”


“Tak perlu formal sebenarnya tuan.” Leo berkata sambil menggarukkan kepalanya.


“Hahaha, bagaimana mungkin aku tidak formal kepada seorang pureblood serta sosok yang dihormati oleh walikota Galen.”


Leo tidak habis pikir. Entah kenapa ternyata bahwa sebuah kehormatan diberikan kepada orang-orang tertentu. Jika mungkin dia tidak memiliki seorang pureblood dan tidak diberi kehormatan oleh walikota, jelas tidak ada yang memanggilnya dengan lebih formal.


Hanya saja, dia tidak begitu heran. Ini bukan masalah sebuah status, tapi memang etiket untuk memanggil seseorang yang dihormati agar lebih formal. Dan seharusnya ini sangatlah wajar. Dan adabnya memang begitu.


Yang salah adalah menghormati orang penting, namun juga menginjak-nginjak kalangan bawah. Setidaknya jika tidak bisa untuk membuat sebuah keformalan kepada kalangan bawah, maka seharusnya juga tidak perlu untuk menginjak-nginjak.


Terkadang seperti itulah yang dilakukan oleh para bangsawan lain.


“Aku harap Anda berhati-hati tuan, karena ini merupakan masalah yang cukup serius.” Kata Yuna menambahkan.


Keesokan harinya, Leo langsung menjalankan sebuah misi yang diberikan oleh guild master. Sebagai seorang petualang yang menjadi sangat penting keberadaannya, Leo sama sekali tidak bisa untuk menolak, dia langsung bergegas menuju ke hutan monster untuk memastikan keberadaan para goblin dan troll yang keberadaannya menjadi lebih aktif dan lagaknya menjadi semakin aneh.

__ADS_1


Beberapa petualang memang menemukannya, tapi mereka tidak diberi misi untuk masuk ke dalam secara langsung dan hanya memastikannya dari luar hutan. Sedangkan Leo, dia ditugaskan untuk memata-matai secara langsung, lebih tepatnya masuk ke dalam monster itu.


Dengan ditemani dengan Iris dan juga Melina, Leo keluar dari wilayah hutan Esves. Dan kini mulai masuk ke dalam hutan monster dari arah utara. Sedangkan Hime, dia berada di mansion karena harus memproduksi potion Lily yang dia petik dengan dibantu oleh Leo saat naik dan turun. Mungkin bukan hanya potion Lily, Hime juga mengembangkan potion lain.


Perlu diketahui, bahwa sebelumnya wilayah hutan Esves adalah wilayah yang netral dan tidak berkepemilikan siapa-siapa. Bahkan Voldegod yang hanya menempati sedikit atau sebagian dari hutan Esves, dia terlihat hanya menumpang saja. Sedangkan saat ini, setelah Leo diberikan sesuatu atau hak khusus oleh Viscount barat, wilayah hutan Esves ini menjadi hak milik Leo. Apalagi ini sudah disetujui oleh walikota. Ditambah dengan adanya abyssal Misery, semuanya menjadi milik Leo.


“Tampaknya tidak ada apa-apa saat kita masuk, hanya saja, aku sedikit merasakan energi yang cukup kuat. Kalian harus berhati-hati.” Leo memperingatkan kedua bawahannya. Selain itu, dia juga bersiap untuk menarik pedangnya.


“Aku mengerti tuan.” Jawab mereka begitu serentak.


Jika dipikir-pikir, hutan monster ini tampaknya memiliki aura yang cukup kuat apabila dibandingkan dengan hutan Esves dan yang lainnya. Bagaimana tidak? Dalam hutan ini, akan ada banyak entitas atau bahkan beberapa ras dan beberapa makhluk yang orang-orang sebut mereka monster.


Hutan monster, bisa dibilang hutan ini benar-benar sangat luas. Setidaknya hutan tersebut berukuran satu kali lipat dari kota. Leo menegaskan kembali bahwa hutan monster diapit oleh empat kota, salah satunya adalah kota Little Pear dan juga kota Silver Fox.


Terlebih bahwa goblin meskipun lemah, dia benar-benar sangatlah licik. Berbeda dengan troll, meskipun terlihat bodoh, tetapi troll sangat mematikan karena memiliki kulit yang tebal. Belum lagi di hutan ini juga ada monster lain seperti Orc dan yang lainnya. Setidaknya hanyalah monster tingkat rendah dan tidak sampai seperti Dragon, Undead dan monster tingkat tinggi lainnya.


“Bagaimana kita menyelidikinya? Hutan ini terlalu luas. Lagipula bagaimana bisa para petualang melihat beberapa goblin yang lebih aktif? Padahal keberadaan monster seperti mereka jauh berada di dalam.” Melina mengerutkan dahinya dan juga berkata.


“Justru itu, para petualang melihat dari luar hutan, itu artinya para goblin dan troll seperti yang mereka lihat tidak beraktivitas di dalam. Melainkan hampir di luar hutan dan besar kemungkinan akan keluar dari hutan. Itulah yang dimaksud dari aktivitas yang lebih aktif dari para monster karena mereka bisa jadi bergerak keluar.” Iris menjawab pertanyaan dari Melina sebelum Leo menjawabnya,

__ADS_1


“Apakah tiga kota lainnya tidak tahu hal ini? aktivitas para monster yang hampir menyentuh bagian luar hanya terjadi di wilayah kota Little Pear, bukankah ini terlihat sangat aneh?” Melina masih bertanya.


Leo kemudian menjawab, “Itulah mengapa aku ditugaskan untuk menyelidiki ini tentang mengapa mereka aktif di sekitar perbatasan. Jika tidak diselidiki, maka ini akan mengancam kota Little Pear, apalagi wilayah Ciradar, Caprae dan desa dekatnya.”


“Dan proyek tuan Leo dan nona Hime akan gagal jika begitu. Tuan Leo pasti tidak akan membiarkannya.” Iris mengacungkan tangannya.


Di saat itu juga, Leo sempat merasakan sebuah aura yang cukup kuat saat dia semakin masuk ke dalam hutan. Dia tidak yakin bahwa ini adalah aura milik beberapa goblin atau troll, tapi dia merasa, ini aura milik monster tersebut sangatlah banyak tidak seperti yang dia bayangkan.


Yang benar saja, saat dia semakin masuk ke dalam hutan, dia bisa melihat aktivitas goblin yang seolah sedang beraktivitas layaknya manusia. Hanya saja, mereka beraktivitas layaknya akan perang. Sebagai misalnya, mereka mengasah sebuah tombak yang mereka gunakan, kemudian memperkuat zirah tipis yang mereka gunakan. Aktivitas yang mendekati perbatasan ini, tampaknya tidak begitu wajar.


Jelas, Leo, Iris dan Melina bersembunyi dari balik semak-semak memperhatikan belasan makhluk hijau tersebut. Tubuh mereka sepertinya juga sama seperti manusia pada umumnya, hanya saja terlihat sangat kurus. Tidak, ciri fisik mereka memang seperti itu tidak peduli mereka makan banyak atau tidak.


“Tuan, mereka ....” Melina berbisik.


“Aku paham.” Potong Leo. “Aktivitas mereka seperti bersiap untuk menyerang. Hanya saja, mereka hanya ada belasan saja?” Leo mengerutkan dahinya. Pikirnya, apa yang akan diserang oleh goblin berjumlah belasan itu.


Leo semakin menarik pedangnya, kemudian, dia berbalik badan dan menebaskan pedangnya ke arah depan. Melihat seekor goblin yang akan mengayunkan sebuah pedang yang bercabang.


Melina yang juga menyadarinya, dia juga melompat ke belakang. Begitupun dengan Iris yang langsung mengeluarkan sebuah sambaran petir untuk menyerang goblin itu dalam sekali serang.

__ADS_1


Kejadian tersebut, membuat keberadaan mereka terkuat. Para goblin langsung menatap mereka dan mengangkat senjata mereka masing-masing. Kemudian, mereka langsung bergerak ke arah Leo, Iris dan juga Melina tanpa ragu sedikitpun.


“Serang manusia itu!”  


__ADS_2