
Menit, jam mulai berlalu, Leo membuka matanya dan menguap kantuk yang sedikit berat. Wajahnya dipenuhi oleh sebuah ketenangan saat dia mencoba untuk menenangkan pikiran untuk sementara waktu di atas puncak gunung ini.
Yang dia perhatikan, tampaknya dia tertidur selama setengah hari, hingga kini merupakan waktu malam yang membuat ketenangan yang begitu mendalam di dalam dirinya. Apalagi kondisi di atas puncak begitu sejuk yang membuatnya ingin bersandar di pohon dan tertidur lagi.
Namun, di sisi lain, bibir Leo sedikit berkedut saat melihat Hime juga tertidur di padang rumput di sekitaran pohon tersebut. Walaupun, kondisi malam juga gelap, tetapi Leo melihat dengan jelas bahwa Hime tertidur dengan begitu nyaman. Karena posisi bulan separuh yang mendekati purnama begitu benderang.
Hanya saja .... Leo sedikit merasa aneh ketika dia menatap ke depan, seolah cahaya merah menyebar di langit desa Caprae. Maka tidak heran posisi Leo bisa melihat keberadaan sekitar dengan sedikit jelas.
“Apa yang terjadi?”
Leo yang penasaran, dia berjalan perlahan setelah dia berdiri dengan malas, menyipitkan matanya dan memandang ke arah langit berwarna merah di malam hari itu dengan penuh tanda tanya.
Tapi, rasa penasaran itu seketika hilang, matanya terbelalak saat melihat sebuah kepulan asap yang begitu besar. Kobaran api juga bagaikan naga yang melahap seluruh desa, lebih tepatnya kondisi desa benar-benar terbakar hebat.
Leo menjadi terkejut dan begitu panik, kondisi api seolah sudah begitu membesar yang mengartikan bahwa posisi kebakaran terjadi beberapa menit yang lalu. Pun, saat ini juga beberapa penyihir air datang mencoba untuk menghentikan api itu. Hanya saja, saat ini ada yang aneh saat Leo melihat pertarungan di antara kebakaran yang melahap desa Caprae.
Dengan sedikit panik, Leo kembali ke belakang, dia langsung membangunkan Hime tanpa berpikir apa-apa.
“Hime! Hime! Bangun! Ada serangan!” Ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Hime dengan sedikit kasar.
Tentu Hime terbangun, namun dia juga terkejut saat melihat bahwa Leo berlagak panik yang membuat Hime bangun dari tidurnya juga ikut panik. Pikirnya sebelumnya bahwa Leo membangunkannya karena panik adalah karena kondisi sudah malam, dan Leo ingin kembali ke mansionnya. Hanya saja, entah kenapa Leo berjalan ke pinggir jurang dan melihat kejadian yang mengerikan.
Secara cepat, Leo menciptakan dua elang bayang agar dia dan Hime bisa datang ke arah kebakaran tersebut. Apalagi posisi kebakaran yang sangat hebat, yang membuat Hime menutup mulutnya dan hampir terkejut begitu saja setelah melihat kejadian itu.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Leo naik ke entitasnya, begitupun dengan Hime yang naik ke entitas Leo yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan hewan aslinya.
......
“Menghancurkan desa? Tampaknya benar-benar sangat mudah. Klienku tampaknya juga membayarku dengan harga yang cukup tinggi.” Kata seorang wanita dengan gelak tawa yang begitu keras. “Dan, aku akan menculik beberapa anak kecil yang bersembunyi di sini agar nona Luvria bangga denganku. Hahaha!”
Di hadapannya, ada beberapa petualang yang terengah-engah, posisi mereka sedikit merasakan sebuah dilema yang berat saat melawan wanita yang ada di hadapannya. meskipun wanita tersebut berada di level 5 menengah, dan para petualang juga sama, para petualang itu tidak bisa bertarung dengan begitu seimbang.
“Sialan, dia lawan yang tangguh meskipun dia adalah seorang perempuan.” Petualang satu, dia mengangkat pedangnya meskipun ada luka yang berat di tubuhnya. “Meskipun atribut sihirnya adalah api, dan aku adalah elemen air, tapi dia menjadi lawan yang berat.
Wanita itu tertawa cekakakan wajahnya begitu sombong dan menganggap bahwa para petualang itu benar-benar sangat lemah. Juga, wanita itu juga melepaskan sebuah cemeti api secara terus menerus ke arah mereka yang membuat mereka sendiri merasa sangat kesulitan.
Hanya saja, beberapa saat setelah pertarungan kembali mereka berdua, sebuah akar menjalar mengikat wanita tersebut, sebelum akar yang menjalar tersebut terbakar habis karena sang wanita tersebut.
Wanita itu menoleh ke belakang karena penasaran siapa yang sebenarnya melancarkan sebuah serangan seperti itu.
Buug!
Saat itu juga, sebuah pukulan tungkak mendarat pada pundak wanita itu. Menjadikan sebuah serangan yang begitu mendadak membuat dia terkejut sangat berat. Apalagi, dia mengalami sebuah rasa sakit yang begitu luar biasa seolah dia mengalami patah pundak dengan begitu berat.
Merasa, bagaikan besi puluhan ton tertimpa di pundaknya. Jelas, wanita itu tersungkur di tanah dengan kondisi tangan kanan yang loyo dan tidak merasakan apa-apa selain merasakan rasa sakit dan nyeri yang begitu berat. Bahkan saat digerakkan sekalipun, dia sama sekali tidak bisa melakukannya.
“Arrgghh!” teriakan terdengar dari wanita sepertinya.
__ADS_1
Apalagi bersamaan dengan itu juga, Leo yang baru saja mendarat dengan sedikit cekungan tanah langsung menginjak kaki wanita itu hingga terdengar suara retakan tulang. Jelas, dia bisa mendengar suara wanita yang seolah menyelingi suara kebakaran.
Keadaan yang sedikit penuh asap, Leo sedikit menyipitkan matanya untuk menghilangkan rasa perih. Namun dia masih bisa melihat karena posisi asap yang naik ke atas langit.
“Katakan sejujurnya siapa yang menyuruhmu?” Leo berkata dengan sedikit dingin sambil menginjak dengan begitu keras sehingga membuat wanita itu seolah mengeluarkan seluruh suaranya.
Bahkan bersamaan dengan itu juga, wanita tersebut juga mengulurkan tangan kirinya untuk menyerang Leo. Hanya saja, Leo langsung menarik pedang dan langsung menebas tangan wanita di hadapannya. Seolah Leo sendiri tidak memberikan sebuah kesempatan bagi wanita itu menyerang.
Leo mungkin tidak membunuhnya secara cepat. Namun apa yang dia lakukan adalah mengumpulkan sebuah informasi yang begitu banyak. Apalagi tidak sengaja dia mendengar bahwa ini ada hubungannya dengan Luvria.
“Meski kau membunuhku, aku tidak akan memberitahumu! Argghh!” Dia berteriak sambil melihat darah yang mengucur di lengan kirinya. Sehingga bisa dibilang dia sama sekali tidak memiliki fungsi pada kedua tangannya. Berlari pun juga rasanya tidak mungkin karena tulang kakinya yang retak karena ditimpa kaki Leo yang begitu keras.
“Benarkah?”
Kaki Leo yang perlahan tepat pada kaki wanita itu, kini berpindah di tempat tulang rusuknya. Sehingga mengakibatkan suara tulang rusuk yang retak juga perlahan terdengar.
Lagi-lagi wanita itu berteriak, bahkan dia merasakan sebah rasa sakit yang begitu luar biasa dan merasakan bahwa seluruh tubuhnya hancur.
“Jika kamu tidak menjawab, maka tulang rusukmu sendiri akan menusuk organ dalammu.” Leo menegaskan kembali dengan sebuah tatapan tajam.
Bagi wanita itu, Leo seolah merupakan monster yang begitu mengerikan. Apalagi aura kegelapan yang begitu pekat keluar dengan sangat kental. Apalagi dia juga tidak menyangka bahwa tulang milik Leo benar-benar sangat kuat, sekuat baja bahkan menurutnya ini lebih keras.
“Tidak!”
__ADS_1
Seketika seluruh tubuh wanita itu diselimuti sebuah api yang begitu besar. Bahkan Leo harus mundur beberapa langkah kebelakang untuk menghindari sebuah kejadian itu. Namun, dia juga mengerutkan dahinya saat wanita tersebut tertawa begitu lebar.
“Aku, aku tidak akan menyerah! aku adalah objek ketiga dari percobaan nona Luvria. Aku tidak akan kalah darimu!”