Ahli Pedang Berdarah Dingin

Ahli Pedang Berdarah Dingin
Pertarungan Ahli Pedang


__ADS_3

Leo terpojok, dia harus menerima serangan berturut-turut dari Guy yang terlihat sangat lihai dalam memainkan sebuah pedang.


“Menyerahlah.” Guy berkata dengan sedikit malas. “Kau bukan tandingan Stealth Brigade.”


Para Troll dan Goblin yang terus berjalan, mereka tampaknya menghindari pertarungan tersebut seolah mereka berada di bawah kendali Guy. Sedangkan Iris, dia terus mengeluarkan sambaran petir untuk menyerang Goblin terlebih dahulu yang berada di belakang Troll.


Pertarungan Leo dan Guy seolah berada di tengah-tengah lautan Goblin. Leo terus terang seperti merasa dikepung para monster yang sangat banyak.


Napas Leo terengah-engah, lawannya jauh lebih sulit dibandingkan dengan dia melawan pak tua Gin. Ya, dia mengakuinya bahwa kekuatan pedang Guy jauh lebih besar dibandingkan Gin itu sendiri.


Untungnya Guy sendiri terlihat hormat pertarungan. Dia hanya memerintahkan goblin dan Troll untuk terus berjalan tanpa mengganggu Leo sedikitpun. Itu jelas membuat Leo merasa terhina karena Guy tidak bisa serius.


Ini hanya sekedar bakat external Guy saja. Ya, Guy juga seorang pendekar pedang yang memiliki beberapa teknik seni berpedang yang lebih efisien dibandingkan dengan Leo.


Kali ini Leo terus maju dan menyerang, kemudian mundur sejenak. Tampaknya itu juga sangat sulit, kemampuan pedang Guy jauh lebih cepat yang membuat Leo tidak bisa untuk melukainya.


“Kau bukan lawanku, kau tahu!”


Usai berkata demikian, Guy tertawa dengan sangat lebar. Wajahnya seolah begitu senang saat dia diizinkan bertarung oleh tuan Haroldten untuk membantu Raven setelah beberapa tahun. Sehingga kebahagiaan terukir di wajahnya.


Flashback ....


“Hei Raven, beri aku tugas! Ku mohon Raven. Tuan Haroldten sudah membebaskanku dari hukuman. Bukankah kau suka bermain politik?” Guy terlihat begitu senang. Meskipun perawakannya terlihat begitu kasar dan garang, siapa yang berpikir bahwa Guy adalah seorang yang sangat aktif dan pengganggu.


“Aku malas bermain politik kau tahu!? Setelah kejadian aku melawan pangeran Theo sialan itu, aku cukup malas. Agh, selain itu, aku tidak menyangka bahwa tuan Haroldten mengizinkanmu untuk bebas lagi.” Raven berbicara dengan wajah yang begitu datar. Dia berjalan seolah ingin menjauhi Guy itu.


Guy tetap mengikutinya, cara berjalannya juga seperti anak kecil. “Raven, ayolah!”

__ADS_1


“Bukankah kamu lebih baik membantu Luvria untuk tentang percobaan extremnya. Atau mungkin kamu bisa menolong Kael yang berada di balik penjara.” Raven melambaikan tangannya.


“Luvria benar-benar wanita yang membosankan. Dia hanya terus bermain dengan anak-anak yang membuat aku merasa bosan. Lagipula, aku cukup ngeri saat anak kecil dipaksa diubah menjadi entitas Lizardman. Mengendalikannya saja aku sangat malas.” Guy berkata sambil menghela napas.


Raven berhenti seketika, kemudian dia menatap Guy dengan perasaan senang tanpa dia menunjukkan ekspresi senangnya. “Aku lupa, atributmu Entitas Mastery dan Sword Gravity kan? tidak, lupakan tentang Sword Gravity, aku hanya perlu Entitas Masterymu untuk menghancurkan kota. Selain itu, aku mendengar bahwa anak yang bernama Leo itu menemukan harta karun di jurang kesengsaraan, jadi aku akan merebutnya.”


“Tidak! Tunggu, bukankah yang ku dengar itu merupakan proyek walikota Galen?” Guy bertanya dengan penasaran.


“Kau bodoh. Walikota Galen berterimakasih kepada Leo dengan membuatkan bidang miring menuju dasar jurang kesengsaraan. Selain itu, jika aku berhasil menguasai jurang itu, bukankah aku bisa menguasai ekonomi? Tidak, aku tidak akan turun tangan secara langsung untuk menguasai ekonomi dengan sedikit politik. Maksudku jika kamu bertemu anak yang bernama Leodric, jangan bunuh dia, kita harus membuatnya tunduk di depanku.” Raven tersenyum licik.


Pikirnya bahwa, dia tidak perlu menguasai Abyssal Misery yang tumbuh subur dengan liar. Hanya saja, dia harus menguasai Leo atau membuat Leo tunduk agar abyssal misery miliknya. Namun, Leo akan tetap memiliki Abyssal Misery, akan tetapi dia hanya bertugas sebagai pengelolanya saja dan semua hasilnya akan menjadi milik Raven.


Walaupun menghancurkan kota juga perlu. Untuk menyelamatkan seseorang yang begitu banyak, keperluan potion penyembuhan yang berbahan dasar tersebut pasti akan sangat mahal. Leo akan mengolahnya dan menjualnya, kemudian hasilnya akan dimiliki oleh Raven.


Itulah yang dipikirkan oleh Raven.


“Ini masih politik, tapi bedanya ini rasa Strawberry.” Raven menatap serius Guy.


“Apakah tidak ada cara lain selain menghancurkan kota Raven?” Guy tersenyum sambil menggarukkan kepalanya.


“Sekarang pergilah, bukankah kamu ingin tenar sepertiku, Luvria dan juga Kael? Di hutan monster terdapat entitas goblin dan troll. Kamu bisa menggerakkan mereka semua.” Raven berkata sambil mendorong Guy untuk pergi.


“Jika itu berjumlah puluhan maka tidak masalah. Tapi menghancurkan kota butuh ribuan goblin dan troll, Raven!” Balas Guy sambil menahan kakinya agar tidak terdorong oleh Raven itu sendiri.


“Kau hanya perlu mengendalikan setiap kepala suku goblin dan troll bodoh!. Karena bawahan selalu menuruti apapun yang dilakukan oleh kepala suku itu sendiri.” Ungkap Raven sambil terus berusaha untuk membuat Guy melakukan apa yang diperintahkannya.


Flashback Off.

__ADS_1


Pertarungan terus terjadi dengan begitu sengit. Membuat Leo sebenarnya kalang kabut. Dia melirik ke belakang dan tidak mampu untuk melihat dimana Iris berada. Dia cukup frustasi, tampaknya para goblin sudah mulai masuk ke dalam desa dan sudah memulai penyerangan.


Leo tidak menyerah, sambil melawan Guy, dia melibas habis goblin yang ada di sekitarnya. Meskipun itu membuat Guy lebih mendapatkan banyak celah karena Leo memilih untuk mengurangi para goblin itu sendiri.


Kemudian, Guy bergerak ke arah Leo sambil mengayunkan pedangnya. Sedangkan Leo yang menyadari itu, dia berusaha untuk bergerak ke arah samping. Tetapi tebasan pedang milik Guy sanggup untuk menggores pipinya.


Sambil bertarung, Guy berkata. “Ayolah, padahal aku tidak berniat membunuhmu kau tahu? Aku hanya perlu menghancurkan kota meskipun aku sedikit malas melakukannya.”


“Cih, kenapa kau bisa berkata seperti itu?” Leo mundur sambil mengusap darah yang ada di pipinya.


“Raven yang menyuruhnya.” Guy  tersenyum lebar. Kemudian dia mengayunkan pedangnya secara vertikal untuk menyerang Leo secara beruntun lagi.


“Raven? Dia menyuruhmu untuk menghancurkan kota dan tidak membunuhku? Mengapa dia bisa tahu tentangku?” Leo mengerutkan dahinya dan berpikir sejenak.


Pikiran berat Leo membuat dia memberikan celah. Lebih tepatnya dia merasa lengah yang membuat Guy langsung bergerak ke arah samping Leo untuk mendorong pedangnya dengan sangat cepat.


Leo yang cepat menyadarinya, dia memposisikan pedangnya secara vertikal. Hanya saja, siapa yang berpikir bahwa dorongan pedang milik Guy meleset dan hanya menggores pedang milik Leo hingga mengeluarkan percikan api yang begitu menyala.


Kemudian, pedang yang meleset itu menggores punggung milik Leo hingga mengucurkan sebuah darah segar yang langsung membasahi bajunya sendiri.


“Aaagh!” Leo mengeluarkan suara erangan dengan begitu lirih, sebelum dia melompat ke depan dengan luka yang tidak bisa dianggap enteng begitu saja. Dia juga menggertakkan giginya karena lawannya benar-benar sangat kuat dalam bermain sebuah pedang.


Tidak berhenti begitu saja, Leo berbalik badan dan berguling di udara untuk menghindari tebasan yang diberikan lagi oleh Guy yang kesekian kalinya.


“Hebat!” Guy kemudian berkata demikian. Dia mengerakkan pedangnya lagi untuk mengikuti kemana perginya Leo yang bergerak.


 

__ADS_1


__ADS_2