
Leo tidak terkejut, tapi berbeda dengan Iris atau Melina yang membuka mulutnya saat melihat seorang pak tua yang sebelumnya terlihat seperti orang tua pada umumnya kini dengan mudahnya melawan para orang-orang seperti mereka.
Di sisi lain, orang tua itu bisa menghindari dengan begitu gesit serangan beberapa orang di hadapannya. Baik itu menggunakan sihir mereka atau mungkin senjata atau fisik mereka semua.
Seolah itu bukan apa-apanya bagi pak tua tersebut. hal tersebut memang pada dasarnya kekuatan pak tua yang cenderung lebih kuat dan mendominasi. Bagaimana tidak? seorang dengan level 7 ‘akhir’ jelas-jelas mampu melawan mereka seperti menendang beberapa ekor tikus saja.
Bahkan Leo sendiri sempat berpikir bahwa apakah dirinya bisa menghadapi seorang pria tua seorang diri? jelas akan merasa sangat kesulitan.
“Mundur! Aku akan melaporkan ini semua kepada tuan Morgarth!” teriak salah satu dari mereka dengan tubuh yang begitu babak belur.
Sebenarnya pak tua itu bisa saja membunuh mereka semua. Akan tetapi, pak tua itu seolah tidak ingin mengambil resiko yang jauh lebih besar meskipun bisa dibilang dirinya adalah sosok yang begitu kuat.
Juga pak tua itu benar-benar sangat berbahagia. Seperti fisiknya yang kembali pulih dari berbagai penyakit dalam dan juga dirinya yang semakin kuat. Dia berbalik badan dan menatap Leo dengan penuh senyum yang menghiasi kerutan wajahnya.
“Hahaha anak muda, aku benar-benar berterima kasih tentang ramuanmu itu. Aku bisa merasakan tubuh fisikku kembali meskipun masih sedikit kaku.”
Leo terdiam. Tapi rasanya memang benar. Jika tidak kaku, bagaimana kekuatan fisik pak tua itu? Jelas dia sangat kuat. Leo tidak bisa menyinggungnya dengan begitu mudah. Selain itu, entah kenapa dia juga teringat dengan sosok yang bernama Gin dalam hidupnya.
“Namaku adalah Jian Si. Aku sangat tertegun bertemu anak muda sepertimu yang berasal dari kota Little Pear. Ngomong-ngomong, siapa namamu anak muda?” Tanya pak tua yang menyebut dirinya dengan nama Jian Si.
Leo kemudian angkat bicara. Dengan sangat sopan. “Namaku adalah Leodric Frosch tuan. Di sampingku dengan mata biru adalah Iris, sedangkan wanita dengan kulit eksotis ini adalah Melina.”
“Tunggu, kau Leodric? Kepala desa Grievhaven?” Jian Si benar-benar sangat terkejut. Dia sedikit tidak menyangka bahwa dia bertemu dengan kepala desa Groevhaven yang mana tempat obat atau ramuan bunga Lily itu berada.
Beberapa orang yang sebelumnya melihat kekacauan ini sekalipun, mereka juga benar-benar terkejut mendengarnya. Bahkan Leodric menjadi bahan pembicaraan di tempat yang membuat Leodric merasa risih dan beranjak pergi di tempat.
__ADS_1
Lagipula, siapa yang tidak mendengar Leodric? Seolah akhir-akhir ini nama anak itu menjadi topik atau perbincangan hangat di wilayah duke selatan setelah duke selatan mengundang anak itu. Bagaimana bisa terkenal? Ya, lagi-lagi tentang wilayah yang disebut penghasil ramuan langka tentu menyanjung sosok pemilik desa tersebut yang tidak lain merupakan seorang Leodric.
“Tunggu anak muda!” Jian Si mengejar Leodric dengan biasa. Seolah tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang pria tua.
“Ada apa pak tua kau mengikutiku? Kau sudah mendapatkan ramuan itu dan kau kembali bugar.”
“Aku akan menjadi pengikutmu. Kau merupakan anak yang luar biasa! Aku akan menjadi bagian yang mungkin akan berguna untuk desamu?”
“Pak tua, kau tidak bercanda kan?! levelmu lebih tinggi dariku jauh. Seharusnya kau tidak melakukan hal yang memalukan seperti ini.”
“Tentu saja tidak! yang pertama, aku menyembunyikan levelku sehingga tidak ada seorang pun yang melihat dan menjadikan hal yang memalukan seperti ini. Yang kedua! Bagaimana mungkin aku menolak untuk mengikutimu karena kau berhasil melihat apapun yang aku sembunyikan termasuk level dan atribut ku sekalipun.” Kata Jian Si.
Dan yang jelas, Leo sebenarnya tidak menolak atau menyia-nyiakan kesempatan berlian seperti ini. Jelas ini akan memperkuat kekuatan nya apabila dia berhasil menemukan seluruh anggota verva orde. Jadi, dia bahagia dalam hatinya dan berkata. “Ah tentu saja pak tua, hanya saja, bisakah kau ke gerbang dalam kurun waktu setidaknya lima hari? Karena setelah ini aku harus menuju ke kastil duke dengan hanya membawa dua orang saja.”
“Tentu saja anak muda, aku tidak menolaknya. Sampai jumpa lagi.” Jian si berbalik badan dan melambaikan tangannya sebelum dia pergi dan juga tersenyum.
Tapi itu juga ada manfaat tersendiri. Leo seolah mendapatkan seorang pengikut yang benar-benar sangat kuat dan tidak bisa diremehkan dengan begitu mudah. Tampaknya memang dibalik sesuatu yang merugikan pasti ada manfaat lainnya.
“Tampaknya kita akan mendapatkan masalah besar nantinya. Itu jelas.”
“Tuan tenang saja, kami berdua akan melindungi tuan bagaimanapun caranya. Meskipun harus mengorbankan diri kami sendiri.” Ucap Melina mengikuti kemana perginya Leo.
“Ah ya, lupakan itu semua. Bukankah kalian lapar? Dan belum sempat makan tadi? kita akan mencari tempat paling sederhana. Setidaknya itu tidak ada seseorang dari kalangan atas yang sedang makan.” Ucap Leo.
Di kota Floppa. Hime sedikit tertunduk dengan wajah yang tersenyum lebar saat menyadari bahwa kedua tangannya baru saja bersih dari darah. Ya benar, dia dan juga Luvria baru saja melakukan sebuah pembunuhan tadi malam di sebuah tempat yang merupakan tempat tinggal Hime sebelumnya.
__ADS_1
Entah kenapa ada rasa bahagia tersendiri setelah membunuh seseorang. Padahal, dia sebelumnya begitu memiliki rasa bersalah yang begitu besar setelah membunuh siapapun. Tapi hari ini?
“Bagaimana? Apakah kamu merasa puas?”
“Aku, aku benar-benar sangat puas. Apakah ini yang tuan rasakan setelah membunuh seseorang? Seolah ada kebahagiaan tersendiri?”
“Tidak! tuanmu atau Leo itu berdarah dingin. Dia tidak memiliki rasa apa-apa setelah membunuh seseorang. Tidak merasa bersalah ataupun merasa bahagia. Dia melakukannya seperti membunuh seekor serangga.” Luvria menjelaskan.
Hime mengerti.
Namun bukan ini yang dia bahas. Posisi siang hari ini bukan lagi di tempat kediamannya. Melainkan di sebuah paviliun yang tidak lain atau tidak bukan adalah .... Guru Hime yang merupakan seorang alkemis terampil.
Paviliun ini sama sekali tidak ada penjaga. Hanya saja, guru Hime kemungkinan akan keluar dari paviliun apabila ada seseorang dengan niat yang begitu jahat.
Dan saat itu juga .... pintu paviliun terbuka, seorang wanita dengan kipas keluar melompat ke arah Luvria.
Luvria membuka matanya, dia langsung melompat ke belakang saat seorang wanita melesat ke arahnya bagaikan peluru angin yang benar-benar sangat cepat.
Akan tetapi, kecepatan keduanya benar-benar sama. Sehingga Luvria hanya menyilangkan tangannya untuk menahan tendangan dari wanita tersebut.
Sama-sama dengan level 7. Jelas mereka sama-sama kuat. Terlebih saat beradu benturan seperti itu, keluar sebuah gelombang kejut yang membuat Hime sedikit terlempar ke belakang.
Dan kemudian, wanita itu berbalik badan ke belakang, meletakkan kipasnya dan mengeluarkan sebuah busur panah air beserta panah air yang melesat ke arah Luvria. Namun saat itu juga, akar menjalar keluar membentuk sebuah perisai yang saat itu juga menyerang wanita yang baru saja menyerang Luvria.
Wanita tersebut bisa menghindar dengan begitu mudah. Dan bahkan langsung berdiri di samping Hime yang benar-benar terkejut tentang, mengapa gurunya menyerang ibunya? Padahal ibunya sama sekali tidak memiliki niat jahat.
__ADS_1
“Hmm, sudah kuduga. Akhirnya kau menemukan ibu kandungmu Hime?” Tanya wanita tersebut di samping Hime.