
Pembangunan berlangsung begitu cepat, hingga kini, setelah dua bulan lamanya, proyek milik Leo tampaknya sudah rampung. Kondisi bidang miring atau jalan yang digunakan untuk menuju dasar abyssal misery sudah siap untuk digunakan untuk setidaknya kereta bisa turun dan memanen serbuk sari dari bunga Lily.
Beberapa bulan itu, siapa yang berpikir bahwa berita-berita menarik telah sirna. Orang-orang telah melupakannya seperti kejadian percobaan pembunuhan walikota Galen, dan juga pembantaian keluarga Viscount selatan.
Di sisi lain, berita tentang penyerangan yang ada di hutan monster atau kemunculan para goblin dan troll yang lebih intensif, sebenarnya berita itu hanya sebagian yang tahu. Bahkan hanya masyarakat Viscount barat yang mengetahui berita ini. Sedangkan masyarakat di kota lain, jelas mereka sama sekali tidak mengetahui berita apa yang terjadi sebenarnya.
“Aku tahu kau sendiri memiliki sebuah pengalaman yang begitu buruk. Tapi kau menjadi penjahat dan pembunuh orang-orang adalah sesuatu yang tidak bisa untuk dimaafkan.”
Di sebuah lembah, dengan beberapa mayat orang-orang dalam kondisi tak utuh, berdiri seseorang yang memegang sebuah pedang dengan menggunakan pakaian bak assassin. Penutup wajah alias topeng, serta menggunakan penutup kepala yang terlihat bahwa orang itu sama sekali tidak menunjukkan siapa dia sebenarnya.
Dia berdiri di tepi tebing, mencengkram leher seseorang yang penuh darah dengan kedua tangan yang sudah menghilang. Wajahnya terlihat seputih kertas, entah itu karena dia kehabisan darah, atau mungkin karena ketakutan bahwa hidupnya akan berakhir begitu saja.
“Keadaan yang memaksamu menjadi seperti ini kan? aku mengerti, kau hidup dalam keterpurukan, kemudian kamu balas dendam dengan seseorang yang merusak hidupmu. Namun, setelah itu kau membunuh orang-orang karena hawa napsu setelah merasakan nikmatnya membunuh orang yang benci.” Dia berbicara pada mangsanya yang ada di genggaman tangannya, sebelum, dia membuka tangannya hingga membuat mangsanya itu terjatuh ke bawah tebing dengan sebuah teriakan yang semakin menghilang.
Orang itu memasukkan kembali pedangnya, menghadap ke belakang dan melihat beberapa mayat yang merupakan rekan dari orang yang jatuh di jurang tebing tersebut. Dia merasa bersalah? Jelas tidak, dia hanya pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak apapun.
“Setidaknya dengan cara begini, kejahatan akan hilang. Tidak menutup kemungkinan keluarga dari korban yang mereka bunuh juga akan menjadi penjahat dan melakukan sebuah balas dendam.” Batinnya. “Daripada di mansion tidak melakukan apa-apa, menunggu proyek selesai juga membosankan.”
__ADS_1
Orang itu menghela napas, sambil membuka topengnya secara perlahan, memperlihatkan sosok bermata biru bagaikan bagaikan lautan, dan rambut putihnya yang juga sedikit menyembur. Kemudian luka bakar di dahinya juga terlihat yang menunjukkan bahwa dia adalah Leo.
Selama dua bulan lamanya, Leo benar-benar tidak tahu harus berbuat apa selain menunggu proyek itu jadi. Kemudian, Leo memiliki ide yang cukup gila yaitu membunuh seorang pembunuh bayaran, kelompok pembunuh yang mungkin jauh lebih lemah darinya. Hal tersebut dia lakukan agar tidak ada lagi sosok yang kehilangan seseorang akibat terbunuh.
Hanya saja, setelah Leo membunuh para pembunuh, entah kenapa hati Leo selalu tertusuk. Keadaan mata batin milik Ray yang seolah semakin muncul di pikiran Leo, dan menjadi kemampuan milik Leo membuat dia juga semakin stress.
Kemampuan Lord of Eye. Entah kenapa, setelah dia terkena evolusi dari dewi Lumina, yang sebelumnya dia memiliki dua atribut sihir dan diubah menjadi satu yaitu menjadi Shadow Revenants, dia juga menjadi memiliki kemampuan yang Ray miliki, yaitu Lord of eye.
Kemampuan yang mungkin bisa melihat semua statistik lawannya. Mulai dari level yang disembunyikan, kemudian atribut dan tekniknya. Bahkan yang membuat Leo sebenarnya tidak nyaman, kemampuan itu bisa membuat Leo membaca masa lalu mereka. benar-benar sangat ironi.
Dari semua pembunuh yang Leo bunuh, Leo bisa mengerti apa penyebab mereka menjadi sosok yang memiliki jiwa kekerasan dan sosiopat. Keadaan seperti mereka yang berasal dari keluarga yang hancur, kehilangan sosok yang dicintai, serta pengkhianatan. Beberapa faktor juga karena masa lalu mereka hancur karena keluarga terdekat mereka terbunuh.
Leo menjadi sosok yang berdarah dingin dan tidak peduli lagi. Apa yang paling penting dan dia harapkan adalah, tidak ada seseorang yang kehilangan seperti dirinya.
Sebenarnya, selain dia membunuh mereka, Leo juga hendak mencari tahu tentang Verva Orde lebih dalam. Walaupun beberapa korban yang Leo bunuh, mereka sama sekali tidak mengetahui apa itu Verva Orde yang menyatakan bahwa mereka itu berada di dunia gelap baru-baru ini.
Meskipun, pada akhirnya Leo mendapatkan informasi sedikit, bahwa Verva Orde merupakan organisasi pembunuh berskala luas. Artinya mencangkup kerajaan atau kekaisaran lainnya selain kerajaan Mazzary.
__ADS_1
Tetapi Leo masih belum puas. Jadi, rencana agar dia bisa lebih dekat dengan setidaknya duke atau lebih baik pangeran harus tetap dijalankan. Atau mungkin, Leo bisa mencari sosok yang bernama Guy atau Raven yang kemungkinan jauh lebih mengetahuinya.
Berbicara dengan mereka, pergerakan Stealth Brigade tidak terlihat sejauh ini. Membuat keadaan Southern Duchy jauh lebih aman, atau lebih tepatnya kota Little Pear yang seolah menjadi tergat Guy dan juga Raven. Namun, Leo masih tidak tahu apakah Luvria juga bergerak? Masalahnya Leo sama sekali tidak tahu tentang berita kehilangan anak akhir-akhir ini.
Leo kembali pulang ke mansionnya, dia bisa melihat ladang yang dikelola juga semakin tumbuh, kandang dengan beberapa ternak betina yang memiliki perut yang besar alias bunting. Melihat pemandangan itu, Leo jauh lebih lega dibandingkan dengan sebelumnya.
Orang bilang, sosiopat atau seorang pembunuh akan memiliki rasa yang menyenangkan saat mereka membunuh alias kehilangan rasa empati lagi. Tapi berbeda dengan Leo yang berdarah dingin dan seolah haus darah, setelah membunuh entah kenapa hatinya benar-benar sangat kacau.
Saat Leo masuk, seperti biasa Melina, Iris dan Hime datang menghampirinya, memberikan secercah senyuman yang membuat Leo jauh lebih lega.
“Tuan, kau tampaknya sudah begitu lelah. Padahal besok akan ada beberapa bekerja yang kita rekrut untuk mengangkut serbuk sari dan air langit dari abyssal misery.” Hime berbicara.
“Aku mengerti, dan bagaimana dengan para pengelola ladang yang kamu ajari untuk membudidayakan lily matahari?” Tanya Leo kembali.
“Mereka sudah ahli, jadi jangan khawatir tuan. Beberapa pekerja yang ku rekrut juga sudah ku ajari tentang bagaimana cara untuk memanen serbuk sari.” Hime tersenyum puas.
“Bagus Hime. Aku cukup puas.” Leo mengangguk tanpa memberikan ekspresi apapun. Sebelum dia pergi.
__ADS_1
“Tuan, kau bau darah?” Iris mengerutkan dahinya.