
Saat ini, Leo keluar dari ruangan Hime bersama dengan Araka sendiri. Seolah Araka benar-benar menempel dengan Leo dan tidak ingin pergi kemanapun dia berada. Hal tersebut bukannya risih, tapi Leo sendiri sedikit merasa kasihan dengan Araka yang seolah baru saja kehilangan kasih sayangnya.
"Araka, kamu tertarik dengan apa?" Leo mencoba bertanya kepada Araka. Karena dia berharap bahwa Araka menyukai sesuatu seperti halnya saudara kembarnya yang menyukai dengan alkimia.
Meski Leo tidak menyangka bahwa yang menyukai Alkimia adalah Yuuki, bahkan dia sempat berpikir bahwa yang tertarik dengan Alkimia adalah Araka, dan Yuuki tertarik dengan selain alkimia seperti seni berpedang.
Araka hanya menggelengkan kepala, dia sendiri tidak tahu dia menyukai hal apa. Lagipula Araka hidup di tengah kondisi tidak mampu, dia juga kemungkinan terbesar hidup tidak akan mampu membayar untuk masuk ke dalam akademi untuk mengasah bakatnya.
Apalagi Araka dan Yuuki sendiri, mereka masih dalam level 1 awal. Yang terkadang apabila itu normal, seseorang yang berada di level 1 awal juga berada di umur yang muda yaitu sekitar 7 tahun. Hanya saja itu tergantung seberapa berbakat mereka sebenarnya.
"Mungkin kamu pernah mendengar sesuatu seperti Yuuki yang tertarik dengan alkimia setelah dia mendengar kemampuan Alkemis?" Leo kembali bertanya.
Araka menyentuh dagunya, seolah dia mengalami sebuah masa sulit untuk menemukan bakatnya. "Aku tidak memiliki bakat apapun."
"Bukan tidak memiliki, tapi kamu belum tahu." Ujar Leo. "Di sini ada banyak bakat dengan seseorang yang bisa menjadi mastermu, seperti kakak perempuan yang bersama Yuuki, dia adalah seorang alkemis, kemudian kakak perempuan yang bersama kita tadi, dia adalah seorang mage. Ada juga wanita dewasa yang bersama dengan kakak Iris tadi, dia adalah seorang defender. Jika kamu tahu, penjaga mansion ini yang bernama Shin, dia memiliki bakat Assassin."
"Sedangkan kakak?" Araka bertanya dengan ragu.
"Aku? Aku adalah seorang Swordsman atau pendekar pedang. Jadi hidupku seolah hanya bermain dengan pedang saja."
"Iya, aku ingin menjadi seorang Swordsman sama seperti kakak!"
Leo mengangkat alisnya sambil memastikan, "Benarkah? Tapi menjadi seorang Swordsman itu sedikit sulit."
Araka menggembungkan pipinya, seolah wajahnya ingin memaksa Leo untuk melatih dirinya menjadi seorang Swordsman.
Bibir Leo berkedut, dia tidak bisa berbicara apa-apa lagi setelah melihat raut wajah paksaan yang begitu menggemaskan dari wajah Araka. Sehingga, Leo sendiri tidak menolaknya dan membawanya menuju ke tempat latihan biasa miliknya.
__ADS_1
"Kita mulai dari memeragakannya. Araka, kamu bisa berdiri di depanku dan memasang sebuah kuda-kuda bagaimana posisi sebelum melakukan berpedang. Kita akan mulai dengan menggunakan sebuah pedang kayu." Leo beranjak untuk mengambil sebuah pedang kayu yang berada di atas meja.
Hanya saja, saat Leo hendak mengambilnya, pedang kayu itu perlahan melayang dan bergerak ke arah Araka. Leo sendiri sempat terkejut dan menoleh ke Araka. Namun, setelah itu bibirnya berkedut dan mengingat bahwa Araka sendiri memiliki sebuah kemampuan Telekinesis.
Araka tertawa kecil saat mempermainkan Leo. Tapi, apakah Leo marah? Jelas tidak, dia hanya sedikit terhibur saat melihat Araka bisa tersenyum dan tertawa setelah dia mengingat bahwa Araka tidak bisa tertawa selama berhari-hari setelah insiden pembunuhan orang tua Araka.
"Baik Araka, tunjukan padaku bagaimana caramu memasang kuda-kuda dan memegang pedang."
Araka menurut, kemudian apa yang dia lakukan adalah sedikit memajukan kaki kanannya dan meletakkan kaki kiri sedikit ke belakang. Kemudian, saat posisi memegang pedang, Araka tampaknya memegangnya menggunakan kedua tangannya, dalam posisi genggaman tangan kanannya berada di atas genggaman tangan kiri.
Leo melihatnya dengan seksama, bahkan dia sempat mengerutkan dahinya untuk melihat posisi yang dipasang oleh Araka.
“Kau, bagaimana kamu bisa tahu?”
“Kakak saat bertarung dengan orang-orang tadi, aku sempat melihatnya.” Araka menjelaskan.
Araka menurut, kemudian dia sedikit membuat jarak pada kakinya. Kemudian, dia kembali menatap Leo setelah itu.
“Kamu hanya perlu mengayunkan pedangmu selama beberapa kali.”
Araka kembali menurut, kemudian dia mengayunkan pedang kayu yang dia pegang selama beberapa kali untuk menunjukkannya kepada Leo. Namun, dia sedikit kesulitan, karena posisinya tidak seimbang yang membuat dia hampir terjatuh. Apalagi pedang kayu yang dia pegang sedikit lebih berat saat diayunkan begitu saja.
Leo kemudian berdiri di samping Araka. Apa yang dia perlu lakukan adalah mempraktekannya dengan memasang kuda-kuda dan juga cara memegang pedang. Kemudian, dia hanya perlu menunjukkan bagaimana cara mengayunkan pedang yang benar.
“Jangan terlalu cepat-cepat, kamu harus mengayunkannya secara perlahan-lahan terlebih dahulu. Itu juga digunakan untuk melatih sendi agar lebih lentur saat mengayunkan pedang.” Ujar Leo. “Jika kamu sudah merasa nyaman, kamu bisa mempercepat irama perlahan-lahan, kemudian kamu bisa mengulanginya lagi. Usahakan posisi kaki bertahan agar kamu bisa menjaga keseimbangan dengan benar.”
“Ini sedikit sulit. Karena pedang kayu saat diayunkan, seolah bebannya bertambah dan semakin berat.” Araka sedikit cemberut.
__ADS_1
“Itu karena setelah kamu mengayunkannya, posisi ujung pedang menatap ke bawah secara langsung. Apa yang perlu kamu lakukan, saat kamu mengayunkan pedang, usahakan posisi mata pedang atau ujung pedang tetap berada di atas. Alias posisi miring ke atas.”
“Ehmm.”
Araka mencoba berulang-ulang kali seperti apa yang diinstruksikan oleh Leo. Secara perlahan tetapi dia mengikuti irama ayunan dengan begitu mudah, sehingga dia bisa menikmati tentang mengayunkan pedang secara sempurna.
“Aku benar?”
“Tentu saja, jika kamu berlatih secara terus menerus, kamu akan terbiasa dengan begitu mudah.”
Tetapi, Leo sendiri berpikir. Atribut Gemini dan telekinesis sungguh jauh dari apa yang namanya dari seni berpedang. Terkadang seseorang akan mengasah bakat externalnya sesuai dengan atribut yang dia miliki seperti Leo yang memiliki bakat berpedang, dia juga melakukannya karena memiliki atribut bayangan.
Sehingga dengan atribut bayangan, dia juga bisa menggunakan beberapa teknik bayangan untuk pedangnya secara akurat seperti Shadow Sword. Hanya saja, Leo tidak tahu bagaimana cara Araka mengolahnya jika dia tetap memaksakan untuk menjadi seorang Swordsman.
“Araka tunggu.” Tahan Leo sebelum dia berbicara kepada Araka kembali. “Bisakah kamu mencoba untuk mengirim pesan lewat telepati kepada Yuuki untuk segera datang ke sini?”
Araka sontak terkejut dan menghentikan ayunan pedangnya setelah Leo tahu bahwa dia memiliki sebuah kemampuan yaitu menghubungi saudara kembarnya melewati sebuah pikiran. Bukannya takut, Araka semakin menjadi mengidolakan Leo lebih berat karena menganggap bahwa Leo adalah orang hebat. Sehingga, Araka tersenyum kecil dan mengangguk.
“Yuuki, bisakah kamu menemuiku?” Araka mengirim pesan kepada Yuuki melewati kemampuan telepatinya.
“Tidak, aku sedang belajar dengan kakak Hime, Araka. Aku sedang melakukan proses pembuatan potion bunga Lily.”
“Tetapi kak Leo yang memintamu.”
Leo bisa melihat bahwa Araka terdiam dan tahu jelas di pandangan Leo bahwa Arakan sedang melakukan sebuah telepati. Apa yang Leo pikirkan saat ini adalah memanggil keduanya agar bisa melihat bagaimana tentang kemampuan mereka berdua.
Walaupun Yuuki sendiri lebih menyukai Alkimia, namun Leo tetap akan mengesampingkan Alkimia bagi Yuuki dan mengasah atributnya menjadi lebih baik. Namun, dia tidak mengartikan bahwa Leo mencegah Yuuki untuk belajar Alkimia.
__ADS_1